BUDAYA UNTUK KEMANUSIAAN

HUMBANG PENGHASIL TERBAIK HAMINJON

Agustus 8, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kampung halaman

HUMBANG PENGHASIL TERBAIK HAMINJON Marhaminjon

Ketika Yesus lahir di Betlehem ada tiga orang majus dari timur datang membawa persembahan. Mereka sampai ke sana berkat tuntunan bintang-bintang. Persembahan mereka terdiri dari emas, mur (damar yang harum), dan kemenyan. Tak ada kisah-kisah para rasul yang menyebutkan dari mana kemenyan itu diambil. Hanya para penulis sejarah yang mengatakan kemenyan berasal dari Tapanuli dengan pintu masuknya pelabuhan Barus. Para pelaut dari Persia (sekarang Iran) yang membawa kemenyaan itu ke dunia luar. Dan jadilah kemenyan sebagai perangkat pengharum upacara keagamaan. Kemenyan Tanah Batak sudah lama dikenal, diperkirakan sejak pelabuhan Barus mulai aktif sebagai pintu masuk dunia ke Tanalui, yaitu di abad ke-13.

Kemenyaan dalam bahasa Batak disebut haminjon, semantara dunia ilmu pengetahuan menyebutnya Styrax Benzoin. Selain di Tapanuli dia hanya ditemukan di Muangthai, Kamboja, dan Vietnam. Muangthai juga disebut orang Siam, karena itu getah yang harum itu dikenal pula dengan nama “Siam Benzoin.” Wilayah Humbang-Hasundutan di Tanah Batak dipuja sebagai sumber haminjon berkualitas terbaik. Sigarang-garang adalah salah satu huta hamijon di wilayah Dolok Sanggul.

Haminjon merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat Humbang-Hasundutan. Sekitar 65 persen warga hidup dari haminjon. Saat ini diperkirakan ada sekitar 16.283 ha lahan yang menjadi sumber kemenyan. Penghasil kemenyan utama adalah Kecamatan Dolok Sanggul, Onan Ganjang, Parlilitan, dan Pakkat, Sijamapolang, Pollung. Tahun 60-an terbentuk organisasi yang khusus mengurusi komoditas ini, Persatuan Pengusaha Kemenyan Indonesia (PERPEKI) berpusat di Dolok Sanggul. Dan pada tahun 1978 berdiri asosiasi Perkumpulan Pedagang/Pengusaha Kemenyan Tapanuli Utara (The North Tapanuli Benzoin Traders Association — BENTRAS).

Bagi parhaminjon, masalah utama yang mereka hadapi adalah soal harga, apalagi sekarang banyak pohon haminjon yang dibabat. Hutan sumber kemenyan telah dimasuki kegiatan Toba Pulp Lestari, pabrik bubur kertas, yang dianggap masyarakat sebagai sumber kerusakan lingkungan. Aktivitas industri itu merambah ke kawasan tangkapan Aek (sungai) Simonggo, yakni Aek Nauli, Simarombun, Pulo, dan Lae Kirta.

Keempat kawasan ini adalah daerah perladangan kemenyan. Saat ini hutan kemenyaan telah ditebangi Toba Pulp Lestari. Perusahaan yang tak henti-hentinya didemonstrasi masyarakat itu memiliki hutan konsesi yang merambah ke wilayah Humbang-Hasundutan, seluas 103.000 ha.
Gota ni haminjon

Gota ni haminjon (getah kemenyan) mengandung asam balsamat yang wangi, maka bias dijadikan parfum dan wangi-wangian serta bias dijadikan minyak untuk ritus-ritus agama. Bau dari wangian haminjon sangat mencolok; itu sebabnya perusahan-perusahan parfum dunia menjadikan haminjan menjadi bahan bakunya. Data menunjukkan, tahun 1990 produsen haminjon utama dari Tapanuli di Indonesia dengan luas tanaman kira-kira 22.670 hektar dan produksi getah sekira 2.000 ton per.

Di Humbang-Hasundutan, selain tanahnya yang cocok ditanami haminjon, sebagaimana haminjon dapat tumbuh dan subur pada areal berketinggian 500 hingga 2.000 meter diatas permukaan laut (dpl). Humbang Hasundutan sendiri sebagai habitat terbaik haminjon pada ketinggian 1.200 hingga 1.500 dpl. Misalnya, di Aeknauli, kecamatan Pollung misalnya haminjon walau baru berusia mudah sudah menghasilkan getah 0,1 kg per sekali panen (6 bulan), itu artinya kontur tanah sesuai dengan pohon keminyaan.

Umumnya kemenyan tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian 900-1200 meter di atas permukaan laut, bersuhu antara 28-30 derajat Celsius di tanah podsolik merah kuning dan latosol. Keasaman tanah antara 5,5 hingga 6,5 dengan kemiringan tanah maksimal 25 derajat.
Keminyaan Setara Emas

Kemenyan menjadi komoditas andalan daerah jauh di bawah kopi dan karet, bahkan sekitar 65 persen keluarga (33.702) hidup dari pohon kemenyan. Keminyan mampu hidup hingga lebih dari 100 tahun.
“Mamiaro hamijon non butuh do kesabaran, Alana ikkon sabar do merawat. Merawat pohon kemenyan itu butuh kesabaran, sebab harus sabar untuk merawat kemiyaan,” ujar J Simanullang, 51 tahun. Salah satu parhaminjon di Sigarang-garang saat ditemui TAPIAN.

Proses pertama adalah maninge adalah cukilan pertama pada batang pohon akan menghasilkan getah berwarna putih. Getahnya ini baru bisa diambil sekitar tiga bulan kemudian itulah disebut mangaluak atau mengambil hasil getah keminyaan. Sebelum manige pertama adalah mangarambas yaitu membersihkan tumbuhan yang ada di sekitar batang pohon yang kira-kira 2 meter.

Alat-alat dalam para parhaminjon adalah agat berbetuk pisau kecil bulat digunakan untuk mengambil getah haminjon. Getah itu menempel di kulit pohon sehingga untuk memanen petani harus mencongkel kulit batang kemenyan. Getah putih yang disebut sidukapi adalah getah yang paling besar dari hamijon dan paling mahal. Dari bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut tahir biasanya dipanen dua-tiga bulan setelah memanen sidukapi harganya lebih murah.

Biasanya dalam manige ada ritus berdoa dibawa pohon dengan membawa lemak daging babi, kemudian sebelum maninge terlebih dahulu semua peralatan siolesi daging babi. Ada ritus para parhaminjon membuat kue itak gurgur, kue yang terbuat dari campuran tepung beras, gula merah, dan parutan kelapa. Kue itu dikunyah lalu disemburkan ke batang pohon kemenyan yang hendak disadap. Lalu mulailah manguris atau membersihkan pohon. Di Humbang-Hasundutan, Haminjon menjadi salah satu komiditi andalan.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Dolok Sanggul

METODE KAMPANYE YANG RAMAH LINGKUNGAN

Juni 22, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

METODE KAMPANYE YANG RAMAH LINGKUNGANgurgurma
Oleh Gurgur Manurung
Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2009, hampir di semua wilayah, khususnya perkotaan dijejali oleh spanduk, baliho, brosur dan lain sebagainya. Berbagai macam cara dilakukan para Calin Legislatif (Caleg) dan Calon Presiden (Capres) untuk mempromosikan diri. Meminjam istilah Jusuf Kalla bahwa para politisi kita senang membuat fotonya nebeng di pinggir jalan. Mereka mempromosikan diri dengan mengabaikan aturan.
Hampir tidak ada politisi kita yang berkampanye dengan mempertimbangkan keindahan, dan masa depan lingkungan. Mereka hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tanpa meyadari bahwa kita hidup di bumi yang teramat terbatas. Hampir semua partai politik dan politisi melakukan kampanye dengan cara menambah beban lingkungan. Anehnya, para incumbent pun ikut-ikutan. Bagaimana mungkin eksekutif dapat menertibkan kampanye yang serampangan jika eksekutif juga ikut melakukannya?. Sejatinya, jika ingin populer, mereka dapat belajar dari Al-Gore yang amat popular di se-antero bumi karena membeberkan fakta-fakta kehancuran bumi. Inilah bukti, bahwa di negeri ini terlalu senang dengan politik pencitraan.
Jikalau melihat kota Jakarta yang begitu sesak, ditambah lagi penempelan spanduk, baliho, brosur, dan foto-foto yang menghiraukan aturan, apa yang diharapkan dari mereka?. Jikalau dalam kampanye saja mereka menghiraukan kepentingan publik, apakah mungkin mereka setelah terpilih akan memikirkan publik?. Rasanya, tidak. Mengapa mereka ingin menjadi pejabat publik dengan menyesakkan publik dengan baliho, spanduk, brosur, foto-foto?. Apa sesungguhnya yang dibutuhkan rakyat?. Apa sesungguhnya yang mampu menyentuh hati rakyat?. Bagaimana seharusnya tanggungjawab partai dan politisi terhadap masa depan bangsa dan bumi dalam konteks pemanasan global yang telah mengancam umat manusia di kolong langit ini?. Lagipula, amat menyakitkan jika kalimat-kalimat yang dituliskan melukai hati rakyat.
Sebagai contoh misalnya, iklan di Jl.Gatot Subroto Jakarta foto Menteri Pemuda dan Olahraga Adhiaksa Dault terpampang bersama Presiden SBY dan Wapres JK. Di bawah ketiga orang itu tertulis agar rakyat membudayakan olahraga. Lalu, muncul pertanyaan, dimanakah rakyat Jakarta berolahraga?. Jangankan tempat berolahraga, tempat rekreasi ibu hamil dan anak-anak usia dini untuk bermainpun tidak ada. Tidakkah iklan intu menyakiti rakyat Jakarta yang tidak memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan hak rakyat?. Inilah iklan pencitraan yang irasional.
Jikalau eksekutif bekerja untuk membangun pencitraan dengan cara menghabiskan uang Negara, partai politik dan politisi melakukan berbagai cara untuk mencari biaya kampanye, warisan apa yang kita tinggalkan bagi masa depan bangsa ini?. Jika ini yang terjadi, maka bangsa ini makin lama makin bangkrut. Bangsa ini akan hancur berkeping-keping. Sebab, metode kampanye yang menyebarkan spanduk dan brosur-brosur secara serampangan jika dilakukan 44 partai maka kota semakin sesak. Pemborosan terjadi dimana-mana. Politisi yang tidak terpilih jatuh miskin dan politisi yang menjadi anggota legislatif akan cnderung mengganti biaya kampanye dengan berbagai cara.
Secara rasional, objektif dan realistis sejatinya partai politik dan politisi harus menyentuh rakyat sesuai kebutuhannya. Kebutuhan rakyat tentu berbeda-beda. Kebutuhan rakyat miskin yang terutama adalah kebutuhan pokok dan perhatian. Perhatian dalam bentuk pembinaan. Mereka akan tersentuh jika para politisi memperjuangkan keadilan bagi mereka. Sebaliknya, eksekutif tidak perlu beriklan ria di media cetak dan elektronik apabila rakyat memperoleh haknya. Jika rakyat merasa mendapat haknya, untuk apa eksekutif memasang iklan dengan harga mahal?. Tidakkah mereka secara otomatis akan didukung kembali?. Pencitraan diri dengan mengabaikan hak-hak rakyat mengakibatkan incumbent secara otomatis ditinggalkan rakyat. Ketika rakyat ditinggalkan incumbent merupakan kesempatan emas bagi partai politik baru untuk menyentuh rakyat dengan metode yang mencerahkan rakyat. Sejatinya, kampanye tujuannnya adalah mencerahkan rakyat, bukan membodohi rakyat untuk meraih kekuasaan.

Kampanye yang ramah lingkungan

→ Tinggalkan KomentarKategori: Artikel

Situ Gintung dan Dosa-Dosa Perencanaan Kota

Mei 19, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

PRIEST/STD/ CD BOOKLET

Situ Gintung dan Dosa-Dosa Perencanaan Kota

Seorang bapak yang usianya sudah setengah baya berkata: “Kalau yang tinggal dekat tanggul, semuanya memang sudah pada ngungsi malam itu. Tapi, yang tinggal di seberang masjid ini yang kena semua. Apalagi kejadiannya subuh, pas semua pada shalat.”
Ya, bapak itu menceritakan ganasnya luapan air bah dari tanggul yang menerjang permukiman penduduk di Kampung Poncol. Kampung yang lokasinya di bawah tanggul Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Memang kerusakan terparah menerjang warga yang tinggal di Kampung Poncol ini, tepatnya di RT 02, RT 03, RT 04, yang masuk administrasi RW 08. Kampung Poncol tinggal menjadi puing-puing sejarah. Bapak itu kebetulan rumahnya juga berada di sekitar daerah yang terkena dampak paling parah, namun dia cukup beruntung karena rumahnya berlokasi lebih tinggi dari yang lain. Dia sendiri, katanya, merinding saat melihat air bah itu mengalir deras menghabisi semua permukiman, saat fajar belum lagi menyingsing.

Tanggul Situ Gintung jebol…. Tak jauh dan tak kurang ibarat serangan fajar. Mengejutkan banyak orang. Saat semua masih berharap dapat menikmati sejuknya embun di pagi yang cerah. Tiba-tiba tanggal dua puluh tujuh, sekitar pukul lima dini hari itu, tanggul “terkupas” dan jebol, menggelontorkan ribuan liter air. Air bah menerjang dan menyapu bersih semua yang menghadangnya. Permukiman menjadi puing, kolam pemancingan menjadi endapan lumpur, tiang listrik miring dan pabrik tahu sudah tidak kelihatan jejaknya. Semua rata dengan tanah bercampur dengan lumpur. Yang tersisa hanya sebuah pohon dan masjid, yang terlihat masih kokoh berdiri tegak. Masjid Nurul Iman menjadi saksi kedahsyatan air bah itu.

Banyak orang teringat bila keganasan air bah Situ Gintung, tak ubahnya bencana Tsunami yang dialami manusia dan alam di sepanjang pesisir barat Aceh tahun 2004. Tsunami kecil, kata beberapa pihak menjulukinya. Memang, tak salah. Bayangkan saja kerusakan yang ditimbulkan hingga mecapai sekitar 10 hektar yang tidak hanya meluluhlantahkan puluhan rumah, tapi juga sarana seperti sekolah, puskesmas, pasar dan termasuk memutuskan jaringan listrik. Bahkan perumahan-perumahan elit yang dibuat oleh pengembang, yang sering mengumbar janji tidak akan terkena banjir, juga terkena dampaknya. Perumahan elit Bukit Pratama dan Cirendeu Permai, yang terletak jauh di bagian utara tanggul Situ Gintung, juga menanggungkan akibatnya.
Jatuhnya korban jiwa juga sangat banyak. Pada hari pertama saja, dalam upaya evakuasi sudah ditemukan 65 orang korban tewas, 98 hilang, dan 52 luka-luka. Angka yang akan terus bertambah seiring belum baiknya kondisi cuaca dan lapangan ketika tim SAR bergerak.

Hingga laporan ini disusun korban yang jatuh hampir mencapai seratus orang. Dan bila kita sedang berada di atas puing-puing rumah di Kampung Poncol, maka mungkin saja kita sedang berdiri di atas sejumlah mayat-mayat yang masih belum ditemukan, mayat yang masih berada beberapa meter di dalam tanah dan “berselimutkan” lumpur. Sampai detik ini pun tim SAR (Search and Rescue) terus-menerus menyusuri aliran air sungai yang masuk dan keluar dari tanggul Situ Gintung, dari Sungai Pesanggrahan sampai ke daerah Tanah Kusir.

Tata (R)uang
Sejak H plus 1 pasca jebolnya tanggul buatan Belanda itu, banyak warga yang berduyun-duyun datang, terutama ke bagian tanggul dan ke permukiman yang lokasi kerusakannya paling parah, Kampung Poncol. Permukiman yang langsung bersebelahan dengan tanggul, yang ketinggiannya berada 10m di bawah tanggul. Banyak yang penasaran, berbekal empati, ingin melihat secara langsung. Tak berlebihan untuk mengatakan keinginan tersebut sebagai dampak pemberitaan oleh banyak media massa. Akibatnya, kemacetan pun terjadi di sepanjang jalan Juanda, jalan raya yang berada di depan pintu masuk gang menuju ke permukiman dekat tanggul Situ Gintung. Meskipun beberapa pintu masuk yang berupa jalan dan gang lain sudah ditutupi, tapi tetap saja hari itu bisa dikatakan sebagai pekan yang penuh sesak, yang tak seperti biasanya.

Situ Gintung adalah bencana nasional, juga diibaratkan Tsunami kecil. Itu sudah pasti, dan Indonesia pun kembali berduka. Hingga para petinggi di republik ini pun datang ke lokasi. Tapi, masih banyak pihak yang lebih memaklumi ini akibat dari perubahan cuaca yang drastis. Lebih merupakan force majeure atau musibah kata mereka, terutama kata para pejabat pemerintaha daerah.

Lantas beberapa kalangan juga lebih melafalkan “ayat-ayat sucinya” bahwa ini memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Tolong kawan, simpan dulu khotbah-khotbah itu. Memang, semua yang berjalan di muka bumi ini jelas kehendak Sang Kuasa, tapi jangan pula disamakan bencana ini dengan bencana Tsunami di Aceh. Tsunami di Aceh jelas merupakan fenomena kekuatan alam yang maha dahsyat. Sedangkan Situ Gintung jelas-jelas merupakan kelalaian dan kecerobohan manusia, dampak dari perencanaan dan pembangunan kota yang semakin tidak terkendali. Saat tata ruang hanya dikalkusi dengan pendekatan uang semata. Tak lebih dan tak kurang. Dari Tata (R)uang menjadi Tata Uang. Hingga lahan konservasi kota pun menjadi “tumbal” dari kebijakan dan perencanaan kota, sengaja maupun tidak sengaja.

Memang, sebelum jebolnya tanggul, terjadi perubahan cuaca yang cukup drastis. Dua hari sebelum pecahnya tanggul, turun hujan deras disertai angin, bahkan hujan disertai butiran-butiran es, yang mengakibatkan penuhnya air di dalam tanggul Situ Gintung. Tapi, apakah hanya karena dua hari yang disertai perubahan cuaca yang sangat drastis itu maka tanggul jebol, tanggul yang telah berusia 75 tahun buatan Belanda itu. Apakah selama ini tidak ada tanda-tanda akan jebolnya tanggul?

Kabarnya, tanggal 10 Juli 2008 pernah dilakukan pertemuan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane mengenai rencana rehabilitasi Situ Gintung dan pengembalian fungsinya sebagai tempat penampung air. Dan di saat itu pun warga sekitar sudah menyampaikan keluhan dan kekhawatiran mengenai kondisi tanggul. Tanggul ini sebenarnya sudah sampai pada early warning( system) berupa peringatan keras kalau air di tanggul sudah hampir mencapai ketinggian sekitar 44m di atas permukaan laut. Jadi peringatan dini sudah ada, pelaporan dari warga juga sudah. Jadi siapa yang salah? Meskipun ini bukan saat yang tepat untuk mencari kambing hitam.

Ada batasnya
Sejatinya, tanggul Situ Gintung, tanggul buatan Belanda tahun 1933 ini, pada awalnya difungsikan sebagai sarana penyediaan air bagi keberlangsungan produksi pertanian. Sebagai sarana irigasi bagi para petani, termasuk menjaga kecukupan pasokan air bila kemarau panjang datang menghantui. Namun, lambat laun lahan pertanian telah berubah dan dikonversi semua menjadi permukiman. Terjadi alih fungsi lahan secara pelan-pelan. Seiring pergerakan metropolis Jakarta yang para penduduknya semakin berlarian tunggang-langgang ke daerah pinggir kota. Muncullah kebangkitan kota yang baru, termasuk di Ciputat, dan kota Tangerang. Permukiman pun memaksa dan mengambil alih pada lahan yang seharusnya dijadikan sebagai area konservasi dan ruang terbuka yang hijau, seperti yang terdapat di kawasan Situ Gintung.

Situ Gintung jelas diperuntukan sebagai ruang terbuka hijau dan area konservasi kota, tapi nyatanya mobilitas penduduk dengan progresif mengepung kawasan ini. Bahkan tanggul yang semula seluas 31 hektar menyusut hingga 21,4 hektar. Terjadi pendangkalan, meskipun katanya perawatan tanggul terakhir telah dilakukan tahun 2008. Akhirnya, Situ Gintung yang berkapasitas 2,1 juta m3 ini pun tak tahan lagi dan jebol. Sudah jelas pula bila Situ Gintung ini seharusnya tetap menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang termaktub dalam aturan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Menurut aturan RDTR wilayah terbagi dalam zona-zona peruntukan ruang — mana ruang yang memang diperbolehkan untuk mendirikan bangunan. Semua ada batasannya. Tapi faktanya, terdapat permukiman padat di sekeliling tanggul, bahkan lokasinya berada jauh di bawah tanggul.

Bagaimana mungkin Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bisa diberikan untuk menempati lokasi itu. Dan bukankah IMB ini juga menjadi kewenangan dari pemerintah daerah yang juga menetapkan Situ Gintung sebagai RTH dan area konservasi. Ternyata rencana kota juga tidak konsisten dan terpadu. Perencanaan kota akhirnya memakan korban, Kampung Poncol menjadi korban dari tata uang. Tragis. Tapi, tengoklah di reruntuhan puing-puing Kampung Poncol sekarang, kampung yang hilang, banyak bendera partai yang bersliweran yang mencoba menawarkan bantuan sekaligus mencitrakan partainya sebagai partai yang peduli rakyat. Ibarat pepatah, berdiri di atas penderitaan orang lain. Di lain pihak, setelah peristiwa ini terjadi semua instansi saling melempar tanggung jawab dan “tiarap,” pada tidak mau disalahkan. Tapi satu yang pasti bila ini sejatinya adalah kegagalan dari para perencana kota. *** Chris Poerba

→ Tinggalkan KomentarKategori: Berita

Developmentalisme

Mei 19, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Developmentalisme
Oleh:M. Dawam Rahardjo
Senin, 18 Mei 2009 | 13:32 WIBdawam_rahardjo

TEMPO Interaktif, Jakarta: Developmentalisme adalah kemistri ideologis antara kepentingan negara industri maju dan kepentingan elite politik negara dunia ketiga. Istilah ini tepat untuk menggambarkan realitas obyektif haluan ekonomi negara dunia ketiga ketimbang neoliberalisme, yang lebih kompleks pengertiannya. Neoliberalisme juga mencerminkan kepentingan sepihak negara industri maju, khususnya Amerika Serikat, dalam mempertahankan hegemoni ekonominya.

Mula-mula developmentalisme adalah salah satu teori pembangunan, yang berkembang menjadi ideologi. Demikian tinjauan ulang Tony Smith, pada 1985, setelah teori pembangunan internasional diketahui keberhasilan dan kegagalannya. Ideologi ini timbul dan berkembang menurut versi negara industri maju dan negara dunia ketiga.

Di Amerika, teori ini berkembang dari doktrin Four Points Program yang dilancarkan Presiden Harry S. Truman pada 1949, sebagai landasan politik luar negerinya. Program itu mencakup kerja sama internasional lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemulihan ekonomi akibat kerusakan Eropa dari Perang Dunia II, pertahanan negara-negara Dunia Bebas dari ancaman agresi yang bermuara pada pembentukan pakta-pakta militer, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemajuan bangsa-bangsa.

Developmentalisme merupakan kelanjutan program pemulihan ekonomi dunia ketiga. Motif utamanya adalah membendung pengaruh komunisme di negara dunia ketiga yang cenderung memilih bentuk lain sosialisme. Asumsinya, sumber penyebaran komunisme adalah kemiskinan. Karena itu, penangkal penyebaran komunisme adalah pembangunan ekonomi yang mampu menghapus kemiskinan. Sedangkan di dunia ketiga lahir nasionalisme ekonomi sebagai kelanjutan nasionalisme politik sesudah merdeka dari penjajahan.

Nasionalisme ekonomi mengambil berbagai bentuk, terutama industrialisasi. Dari negara-negara Amerika Latin, melalui Raul Prebisch, lahir gagasan industrialisasi substitusi impor yang bertujuan mengganti barang-barang impor dengan produksi domestik. Perekonomian nasional bisa bebas dari ketergantungan pada luar negeri. Program ini sesungguhnya merugikan negara industri maju yang telah mengekspor barang konsumsi ke negara-negara bekas jajahan.

Teori pembangunan internasional mendukung elite politik dunia ketiga ke jenjang kekuasaan. Syaratnya, mereka harus bisa menyukseskan pertumbuhan ekonomi di negara masing-masing sekaligus memberikan kesempatan untuk memanfaatkan sumber daya internasional, terutama modal finansial. Menurut teori itu juga, keberhasilan pembangunan adalah sumber legitimasi bagi elite politik untuk memerintah. Sehingga elite politik berhak atas legitimasi politik, de facto maupun de jure, berupa klaim keberhasilan pembangunan ekonomi. Ini merupakan insentif bagi elite politik negara dunia ketiga untuk mengikuti haluan developmentalisme.

Di Indonesia, teori pembangunan internasional mulai dicoba oleh beberapa kabinet yang dipimpin elite politik Masyumi-PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan Katolik, yang antikomunis dan didukung elite militer. Di masa Orde Baru, developmentalisme dijalankan oleh koalisi militer-intelektual-pengusaha.

Kritik terhadap developmentalisme datang dari haluan kiri dan kanan. Dari sisi kiri, developmentalisme dikritik karena menguatkan ketergantungan dunia ketiga terhadap Amerika dan negara maju lainnya. Bahkan perekonomian nasional makin didominasi modal asing. Sedangkan dari sisi kanan, developmentalisme dinilai telah melahirkan pemerintahan otoriter, bahkan akhir-akhir ini melahirkan rezim antikapitalis dan prososialis, seperti di Kuba, Venezuela, Ekuador, Bolivia, dan Argentina—kendati penyebaran komunisme telah berhenti. Dengan kata lain, developmentalisme telah melahirkan musuh-musuh baru dalam konteks melawan neoliberalisme.

Komunisme sebagai musuh telah digantikan rezim-rezim antidemokrasi. Namun yang kurang disadari adalah developmentalisme telah melahirkan musuh-musuh baru yang lebih cerdas. Kritik yang cerdas dan inovatif ini muncul dari kapitalisme sendiri, yang telah diramalkan Joseph Schumpeter, pemula teori ”Economic Development” dan pengagum dinamika kapitalisme.

Di Indonesia, developmentalisme masih tetap bertahan. Ini tampak dalam klaim-klaim keberhasilan pembangunan oleh partai-partai politik yang berkuasa, khususnya Demokrat, Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera. Klaim keberhasilan itu di antaranya pengendalian inflasi dan penjagaan stabilitas moneter, tercapainya swasembada beras, peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui bantuan langsung tunai kepada penduduk miskin, peningkatan anggaran pendidikan dan pelayanan kesehatan masyarakat, peningkatan angka ekspor, serta pertumbuhan ekonomi di tengah krisis keuangan global. Padahal keberhasilan di bidang politik sebenarnya tak kalah penting, terutama dalam menjaga negara kesatuan, mereformasi organisasi militer tanpa menimbulkan masalah, serta menyelesaikan masalah konflik horizontal di Aceh, Ambon, Poso, dan Sampit.

Developmentalisme agaknya masih akan bertahan sebagai ideologi pembangunan elite politik. Pertama, kalangan ilmuwan dan cendekiawan masih menerima ukuran dan kriteria keberhasilan pembangunan yang berkisar pada konsep pertumbuhan ekonomi, seperti diwariskan oleh rezim Orde Baru yang telah menegakkan haluan developmentalisme dengan cukup kokoh. Kedua, masyarakat, dengan tingkat kecerdasannya, kini bisa menerima klaim-klaim keberhasilan itu. Terbukti dari kemenangan (versi hitung cepat) Partai Demokrat dalam perolehan suara pemilu legislatif. Ketiga, perekonomian Indonesia masih memikul sindrom ketergantungan pada asing yang dikuasai Amerika dan, karena itu, akan tetap memasang teknokrat-teknokrat yang tak menentang neoliberalisme dalam pemerintahan.

Jadi, developmentalisme akan tetap bertahan selama ada persepsi tentang kemistri antara kepentingan negara maju, terutama Amerika, dan elite politik Indonesia. Sungguhpun begitu, developmentalisme, sebagai ideologi elite yang berkuasa dewasa ini, bisa dan sudah tampak tanda-tandanya akan menjadi sumber kritik untuk mengalahkan the incumbent dalam pemilu presiden Juli mendatang. Kritik itu misalnya mengarah ke gejala utang luar negeri yang ternyata meningkat, program bantuan tunai yang dinilai populis tapi tidak mendidik dan tak mendorong swadaya masyarakat, atau ketergantungan terhadap modal asing, yang semuanya merupakan elemen pokok developmentalisme tapi dinilai tidak prorakyat.

M. Dawam Rahardjo, Ketua Dewan Pakar International NGO Forum on Indonesian Development

→ Tinggalkan KomentarKategori: Agama

Kacang Sihobuk dan ‘Konser Belanga’

Mei 19, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kancang Sihobuk
Kacang Sihobuk dan ‘Konser Belanga’

Haji Danarto, seniman kelahiran Sragen (Jawa Tengah) pernah bertelepon dari Jakarta untuk dibelikan kacang Sihobuk. Kabarnya juga mantan Presiden Gus Dur mengakui perbedaan rasa kacang Sihobuk dengan kacang-kacang lainnya. Meskipun kelihatannya belum resmi dan terbatas, kacang Sihobuk dapat “ditemukan” di beberapa tempat di kota Medan dan Pematang Siantar.
Tempat-tempat tersebut mungkin sengaja tidak menjejerkan kacang-kacang Sihobuk seperti di kios-kios yang terdapat di kota Tarutung. Kalau kita berkunjung ke Tarutung, kios-kios penjual kacang Siohobuk dengan kemasan plastik dan khas ditemukan di depan toko-toko atau loket mobil antar kota. Banyak pemesan dari luar negeri, seperti Malaysia, yang sering memesan melalui agen yang punya hubungan langsung dengan pembuatnya di kota Tarutung.
Sekarang, masalahnya bukan lagi siapa yang menjual kacang Sihobuk ke mana-mana. Namun, mari kita kembali ke soal rasanya. Tanpa mencicipi kacang Sihobuk tak mungkin muncul perasaan tertentu atas perbedaannya dengan kacang-kacang lain yang dijual di toko roti atau super market. Pernah turis dari Belanda terkagum-kagum dengan rasa kacang Sihobuk setelah mencicipinya langsung di sebuah tempat pembuatannya. Rasa kacang Sihobuk diungkapkan dapat mengundang ketagihan dan membuat lidah bergoyang. Semakin meresap di bagian mulut, geligi pun seperti tak merasa bertarung melumat sebanyak yang kita mau. Rasanya tidak seperti kacang yang mengandalkan keasinan atau kemanisan. Kedua rasa itu seperti muncul secara alami yang muncul karena tahap-tahap pembuatannya. Nampaknya juga ada proses reduksi kimiawi dari rasa manis kacang dan proses pembuatannya. Meskipun terjadi proses reduksi, rasa Sihobuk tetap mengundang penasaran. Kenapa seenak itu? Sering orang tertanya-tanya.
Gongseng pasir
Dalam bentuk kemasan plastik, Sihobuk dapat dibeli dengan variasi harga dari limaribu rupiah sampai tigapuluh ribu rupiah. Ada juga yang bisa dibeli per kaleng dengan harga Rp 100.000-an. Harga-harga tersebut tidak perlu dipermasalahkan karena Sihobuk lebih masuk ke hukum selera daripada hukum mahal murah. Selera menikmati Sihobuk pasti kembali ke soal rasanya. Bagaimana rasa itu bisa muncul? Mari kita melihat proses pembuatannya.
Jenis kacang Sihobuk adalah kacang tanah terpilih dan berkulit tebal. Sengaja dipilih ketebalan kulit agar waktu memasaknya tidak gampang gosong. Kabarnya, kacang-kacang yang kulitnya tipis bisa cepat gosong, padahal isi atau bijinya belum masak. Kacang pilihan berkulit tebal itu mula-mula direndam selama satu malam di dalam wadah yang ditutupi dengan kain atau karung goni. Kemudian digonseng bersama pasir sesuai dengan porsi kacang yang direndam semalaman. Kalau porsi tiga kaleng maka dua atau tiga muk pasir dibutuhkan. Proses pemasakannya bisa sampai dua jam dengan nyala api yang tetap terkontrol. Sebelum dimasak, kacang yang direndam itu tentu ditiriskan terlebih dulu.
Ada yang menggongseng kacang dan pasir itu dengan menggunakan belanga besi dan mengandalkan kayu api. Berat belanga besi itu bisa mencapai 10 kilogram, ketebalan 1 cm, dan diameter mencapai setengah meter. Belanga tersebut biasa dipesan dari tukang besi di kota Medan. Selama proses di dalam belanga si tukang masak harus menggongseng dengan sendoknya secara stabil. Gerakan tidak boleh berhenti sampai selama setengah menit agar pasir dapat menularkan panasnya dengan rata pada kacang. Jadi, kacang menyerap api dan dua unsur besi dan tanah (pasir). Mendengar bunyi gongsengan dari jauh bisa seperti mendengar orang mengocok semen bangunan. Kelihatannya para tukang masak kacang Sihobuk cukup mandi keringat dengan cara itu. Untuk efektivitas dan efisiensinya, ada yang menggunakan tong yang bisa diputar-putar dengan menggunakan kompor gas. Kelihatannya, yang terakhir dianggap sebagai perkembangan baru. Namun, cara yang manapun tidak selalu memastikan rasa garing sang kacang.
Anda mau terjun langsung ke tempat pembuatan kacang Sihobuk, pergilah ke Tarutung, ibukota kabupaten Tapanuli Utara. Tempat-tempat pembuatan, pengemasan, dan penjualannya menyebar di sejumlah tempat, seperti Silangkitang, Peanajagar, Pardangguran, Hutabarat, Ugan, dan tentu di desa awalnya bernama Sihobuk. Desa Sihobuk terletak kira-kira 1,5 km dari Tarutung di lintasan jalan ke arah Sibolga. Dulu, setiap melewati desa Sihobuk “konser belanga” itu akan terdengar sejak subuh. Namun, setelah longsoran gunung di atasnya menimpa desa itu, nama Sihobuk pun semakin menyebar ke mana-mana. Beberapa keluarga, atau mereka yang kembali ke desa Sihobuk, sudah tidak lagi memproduksi dan menjual kudapan internasional itu. Dan sejarah perkacangan tidak akan pernah lupa merekalah pengemban asal mula kacang Sihobuk. *** Thompson Hs

→ Tinggalkan KomentarKategori: Berita

Mangain, Politisasi atau Bisnis?

Mei 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

oleh Hotman J. Lumbangaol

Batak sejati pasti membubuhkan marga di belakang namanya. Selama masih mengaku orang Batak, marga menjadi harta penting, dan indentitas baginya. Semenjak lahir, hingga meninggal, marga telah melekat bagi seorang Batak. Ketika bertemu seseorang di mana pun ungkapan pertama adalah ”jolo sinungkun marga asa binoto partuturan,” tanya dulu marga supaya paham bertutur bahasa.

Dengan adanya marga, konsep Dalihan na Tolu ”dongan tubu, hula-hula, boru,” baru jelas dan berlaku. Marga memberikan ruang untuk saling terikat, dan tidak mudah dicerai-beraikan. Mengatur hubungan darah dan perkawinan memperkuat hubungan dalam kehidupan sehari-hari.

Marga, asal-muasal dari nenek-moyang, merupakan kelompok kekerabatan Batak menurut garis keturunan yang diwarisi secara turun-temurun. Kapan mulai terdapat struktur marga di kalangan orang Batak? Tidak diketahui pasti. Yang jelas, sejak nenek-moyang orang Batak, marga sudah ada, seperti yang ditulis Bungaran Antonius Simanjuntak dalam bukunya, ”Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba.”

Marga baru muncul apabila lebih dari sepuluh ”sundut” atau generasi yang menggunakan marga tersebut. Sekarang ini terdapat sekitar 400 marga. Marga pecah karena ada monompas-bongbong,” karena ada yang menghancurkan tembok larangan. Misalnya, marga Marbun dulunya satu marga. Tetapi, karena sudah kawin-mengawinkan maka pecah menjadi tiga marga, yaitu Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbagaol. Namun, marga Marbun dipersatukan oleh ”Toga,” atau persatuan marga.

Mangain

Dalam budaya Batak ada mangain yang berarti memberikan marga kepada boru atau mangain anak. Mangain terjadi saat pernikahan, karena salah satu pasangan belum menjadi Batak, karena itu perlu diberikan satu marga. Marga diberikan kepadanya supaya dia bisa mengikuti dan diterima dalam budaya Batak. Ada perumpamaan Batak yang menyebut ”Asa dos nangkokna dos nang tuatna. Molo hita manjalo adat, laos hita do manggarar adat i. Hot pe jabu i, ala hot margulang-gulang, Manang sian dia pe bere i mangalap boru, Sai hot do i boru ni Tulang, Sinuan bulu sibahen na las, Sinuan partuturan sibahen na gabe jala horas.” (Harus serupa naik dan turun. Jika kita menerima adat, dan kitalah yang membayar adat itu. Rumah teguh karena kuat pondasinya, dari mana pun calon menantu ”bere” selalu menikahi putri paman. Ditanam bambu untuk menghangatkan badan, ditanam tutur agar menjadi kelimpahan dan sejahtera.)

Apabila terjadi perkawinan antar-suku atau antar bangsa, biasanya diadakan upacara pemberian marga kepada pasangan tersebut. Jika si wanita dari suku bangsa lain, maka marga yang diberikan kepadanya adalah marga ibunda si laki-laki. Jika pasangan laki-laki yang berasal dari suku bangsa lain, maka diberikan marga amang boru, suami dari saudara perempuan bapaknya.

Seremoni pemberian marga diikuti pemotongan kerbau, sementara dagingnya dibagi-bagi kepada semua undangan sebagai “jambar.” Pemberian marga ini dilakukan dalam sidang adat. Inilah salah satu contoh keluwesan sekaligus egosentris adat istiadat.

Mamampehon Marga

Selain mangain, ada mamampehon marga, yang intinya sama. Mamampehon marga diteliti secara mendalam. Ketika pada zaman dahulu sering terjadi perang antar huta, kadang-kadang penduduk huta yang dikalahkan dinyatakan masuk menjadi anggota marga raja huta yang menang perang. Selain itu, pemilikan marga dapat juga dilakukan dengan memohon kepada raja huta. Cara ini dilakukan oleh pendatang yang bukan bermarga (raja huta), tetapi sudah menjadi warga tetap dari huta (kampung) yang bersangkutan. Pemberian marga dapat pula berlangsung berdasarkan prakarsa raja huta, untuk menganugerahkan marga kepada seseorang atas jasa-jasa-nya yang luar biasa kepada masyarakat.

Adalah Edward M Bruner, seorang peneliti antropologi dari Amerika Serikat. Saat melakukan penelitian di Desa Meat, Balige, Kabupaten Toba-Samosir (1957-1958) bersama istrinya, menunggangi ” mamampehon marga,” agar dia diterima masyarakat dan penelitiannya berhasil. Mantan bupati Tapanuli Utara SM Simandjuntak yang memberikan marga Simanjuntak pada istri Bruner, yang bernama Elaine C. Bruner. Karena pemberian marga itu, maka Bruner berhak tinggal di kampung Simanjuntak. Proses ini disebut sebagai ”sonduk hela.”

Demikian pula pemberian marga pada Prof Dr Susan Rodgers, mahaguru sosiologi dan antropologi dari Amerika Serikat. Pemberian marga Siregar di daerah Sipirok pada tahun tujuh puluhan itu tenyata sangat mengesankan bagi dia, terbukti dengan pencantuman marga Siregar dalam tulisan-tulisan ilmiahnya.

Tahun 1981, di Desa Tanobato, Mandailing, Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, juga diberi marga Nasution dan gelar Sutan Iskandar Muda oleh masyarakat Mandailing. Pemberian marga tersebut terkait perannya memajukan pendidikan di Mandailing, dengan membangun SMA Negeri Tanobato di bekas ”Kweek school voor Inlandsche Onderwijzers,” yang didirikan Willem Iskander pada tahun 1862.

Nasorang Magodang

Pemberian marga juga dapat dijadikan sebagai perekat hubungan. Nasorang magodang, yang berarti lahir setelah besar, sebutan bagi orang yang menerima limpahan marga.

Pemberian marga ”sorang magodang” diberikan kepada Bupati Tulangbawang, Lampung, Abdurrachman Sarbini, yaitu marga Simatupang. Istrinya, Sri Adiati Rachman, diberi marga Nainggolan. Pemberian marga tersebut karena kedekatan sang bupati dengan marga Simatupang sejak kecil.

Tahun 2000, saat Luhut Panjaitan menjabat menteri, dia mengangkat dua orang Amerika untuk menerima marga Panjaitan. Merekaa dalah Steve Green, Duta Besar Amerika Serikat untuk Singapura, dan Robert Gelbart, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia. Penobatan berlangsung di Huta Simargala, Desa Hutanamora, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba-Samosir.

Steve Green Panjaitan menjadi anak keempat dan Robert Panjaitan anak ketiga. Mereka disebut sebagai anak ”nasoroang magodang” dari Ompu Sipaulina Panjaitan boru Naiborhu, ibu dari Luhut Panjaitan. Sehingga Luhut Panjaitan yang dulu lima bersaudara sekarang menjadi tujuh bersaudara. Luhut anak pertama, Timbo Panjaitan anak kedua, Dr Kartini Panjaitan anak kelima, Doris Panjaitan anak keenam, Ruth Panjaitan anak ketujuh. Upacara adat diawalai ziarah ke makam Raja Bonar Panjaitan gelar Ompu Paulina, almarhum ayah mereka.

Di Tanah Karo, tahun 2008, Adhyaksa Dault, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora), diberikan marga Sembiring Brahmana oleh pemangku adat pada sebuah acara di Berastagi, Kabupaten Tanah Karo. Pemberian marga kepada sang menteri ditandai dengan pemasangan “bulang-bulang” (pakaian adat) oleh “kalambubu” (orang yang dituakan) dengan iringan tarian adat. Tetapi, di balik pemberian marga itu orang bisa tebak. Adhyaksa Dault dari Partai PKS sementara presiden PKS adalah Tifatul Sembiring. Ada udang dibalik batu.

Mendulang suara

Ada pula, Rahmat Shah, seorang pengusaha dan calon anggota DPD dari Sumatera Utara. Dia mendapatkan gelar dan marga Lubis dari tokoh adat di Mandiling Natal, yakni gelar Mangaraja Halomoan Lubis, yang berarti sebagai orang yang penuh kasih sayang terhadap sesama dan orang yang mampu  menjalin silaturahmi dengan kaum kerabat. Pemberian marga dan gelar ini dihadiri masyarakat dari 38 desa di Kecamatan Kota Nopan, Kabupaten Mandailing Natal, sekaligus bertepatan dilangsungkannya acara peletakan batu pertama pembangunan mesjid Al Huda di Desa Hutapungkut Tonga, Kecamatan Kota Nopan. Penabalan marga yang diberikan kepad H Rahmat ini bisa diprediksi untuk mendulang suara saat mencalonkan diri sebagai calon anggota DPD Sumatera Utara.

Di awal tahun 60-an, Harry Tjan Silalahi, nama aslinya Tjan Tjoen Hok, mendapat marga Silalahi. Pemberian marga itu adalah karena persahabatannya dengan Albertus Bolas Silalahi, ketua Partai Katolik Tapanuli Utara, dan Tjan Tjoen Hok adalah sekretaris jenderal Pengurus Pusat Partai Katolik. Adik Albertus hilang entah ke mana. Harry Tjan dianggap sebagai pengganti saudaranya yang hilang itu. Saudara itu dianggap telah kembali dan diberi marga Silalahi. Dia dianggap keluarga penuh Silalahi yang mempunyai orangtua, kakak, adik, keponakan, juga sawah dan ladang. Kini, kedua anak Harry juga diberi nama dengan marga Silalahi.

Dalam dunia bisnis pemberian marga juga terjadi. Termasuk dalam bisnis multi-level seperti CNI. Alex Iskandar Wirayadi, etnis Tionghoa, yang mendapat julukan Crown Agency Manager (CAM), tingkat karier paling tinggi di bisnis ini mendapat marga Lumbanbatu.

Pemberian marga Silaban diterima oleh Syamsul Arifin, gubernur Sumatera Utara, karena dia yang pernah hidup morat-marit menjadi makmur setelah dia diberi marga itu. Malah bisa menjadi gubernur.

Pemberian marga sebenarnya bukanlah masalah baru. Karena sejak puluhan tahun yang lalu hal ini telah dilakukan orang Batak, antara lain pemberian marga Harahap kepada Prof Mr Hazairin yang telah lama bermukim di Tapanuli Selatan. Dia dianggap berjasa kepada masyarakat setempat.  Pemberian marga ini dilakukan dalam upacara adat kebesaran oleh Raja Panusunan Bulung Hutaimbaru, Daulat Raja Gorga Alamsyah, pada tahun 1925.

Sekarang ini pemberian marga berbau politik. Sesungguhnya pemberian marga tidak boleh, karena marga berhubungan dengan darah. Ditambah sikap egosentris orang Batak untuk memberi marga adalah mengambarkan orang Batak masih mengangap suku lain di luar Batak tidak baik.

Narsisme

Mula Harahap, seorang tokoh penerbit nasional, punya sikap yang berbeda. Dia keberatan pemberian marga mangain ini dilatari perkawinan di luar orang-orang Batak. Buktinya, walau menikah dengan wanita Ambon, dia tetap tidak memberikan marga kepada istrinya itu. Alasannya, istrinya sudah punya marga.

Mangain, ” ” nasorang magodang, ” ”mamampehon marga” perlu dipertanyakan. Apa motivasi pemberian marga itu? Marga tidak hanya sekedar tanda yang bisa digonta-ganti. Dia tak bisa dibeli, dan tak boleh diberikan dengan sembarangan.

Pemberian marga kepada mereka yang non-Batak, yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan antar-etnis, adalah penyimpangan budaya. Sebab mangain sebenarnya hanya diberikan kepada salah satu pasangan non-Batak yang menikah dengan orang Batak.

Sayang, pemberian marga sekarang ini sudah menjadi bagian dari ”strategi” politik dan bisnis dari mereka yang memberi dan menerima. Jadi, buat apa pemberian marga itu dilakukan? Apakah hanya karena sekedar pertemananan atau ada politik di sana. Pemberian marga telah menjadi alat dagang, dan alat politik. Sebuah narsisme yang merendahkan derajat Ompu Si Jolo Jolo Tubu. ***

Ket: telah diterbitkan di majalah TAPIAN edisi Mei, 2009menual1

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Bakkara Destinasi Klasik

April 30, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bakkara terletak di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Manjae ‘mekar’ melalui UU Nomor 9 Tahun 2003. Daerah kaya—walaupun berbukit diantaranya Bakkara adalah tanah eden dalam tanda petik. Di Bakkara tanahnya subur, bawang merah, bawang putih bisah tumbuh di atas tanah berbatuan. Dari sudut geografis Humbahas berada di tengah-tengah Sumatera Utara dan diapit empat Kabupaten: Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara.

Pontensi wisata budaya adalah: Istana Singamangaraja di Aek Si Pangolu (pemberi hidup) sekaligus tempat permandian Sisingamangaraja—Anda bisa memanjakan badan dengan mandi ditempat ini. Maka sesuai dengan rencana pemda daerah ini akan menjadi tujuan wisata paforit yang tersirat dengan sejarah klasik Batak Toba. Selain danau Toba—Anda juga mengelilingi Danau Toba bisa dengan menyewa kapal untuk menikmati alam di sekitar Danau Toba. Karena, Danau Toba sendiri juga dimiliki oleh Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun dengan pinggir Harangaol Tomok. Kabupaten Toba Samosir meliputi pinggir Balige dan Parapat. Kabupaten Tapanuli utara meliputi Muara, Kabupaten Humbang Hasundutan Bakkara.

Humbahas pada jaman penjajahan Belanda sudah termasuk ‘Onderafling Hookfdvlakte van Toba’ Daerah kabupaten. Namun pada tahun 1950 dilebur kembali masuk otoritas Tapanuli Utara. Humbahas berada dalam ketinggian anatar 600-2.075 meter di atas permukaan laut. Beriklim 17-29 derat celsius pada malam hari. Maka, tak heran jika di daerah ini tidur tidak bisa hanya memakai selimut, namum harus marbulusan. Marbulusan adalah membunggkus diri dari tikar. Wilayah yang dihuni 152,017 jiwa dengan luas wilayah 2.335,33 km.

Begitu kita sampai di daerah Siborong-borong. Lima kilometer dari tempat tersebut Anda akan melihat gaharu yang menyambut,”Selamat datang di Kabupaten Humbang Hasundutan” di daerah Nagasaribu. Daerah yang erat kaitanya dengan mitos Tao Sipinggan (mirik piring) dan Tao Silosung lesung. 20 km berikutnya—sebelah Timur ada petunjuk jalan ke Bakkara kecamatan Bukti Raja. Di Bakkara—kita akan menemukan banyak pemandangan indah. Oleh-oleh yang paling lazim diburuh wisatawan adalah Mangga Muara, rasanya enak dan sangat manis.

Selain itu Huta Ginjang terkenal dengan panatapan (tempat memantau semacam mercusuar) menjadi salah satu tempat klasik di sekitar Bakkara. Huta Ginjang yang artinya dataran tinggi, mirip seperti gunung, berada sekitar 200 meter diatas permukaan air Danau Toba. Disini udaranya segar selain bisa istirahat dan memandangi Danau Toba sepuasnya Anda juga dapat minum Kopi Arabusta dari Paranginan atau makan lappet (kue yang ditumbuk dari beras dicampur gula merah. Di Huta Ginjang Udaranya sepoi-sepoi. Bukit-nya berada sekitar 34,92 % luas Tapanuli Utara berupa lahan berbukit ke bawah, nampak juga rumah-rumah penduduk. Anda juga bisa melihat pemancar TVRI di dekat bekas Pilar Panatapan dibangun Belanda. Pilar Panatapan dibuat dari besi baja dengan tinggi 12 meter dan lebar 2 meter persegi, persis seperti mercusuar. Dipakai Belanda untuk mengamati musuh.

Damar sendiri diperkirakan dibawa para pedagang Persia yang sekarang disebut negara Iran, ke pantai barat Sumatera. Diperkirakan damar sudah ada sejak abad VII. Damar pada masa itu menjadi barang yang mahal sekaligus diincar para pedagang Tionghoa (Tiongkok) India, dan para pedagang dari Timur Tengah.

Data Haminjon di Dolok Sanggul

No

Kecamatan

TBM

TM

TTM

Jumlah

Total Produksi (ton)

Produksi tivitas (Ha/Kg)

1

Pakkat

3,5

30,5

4

38

97

279,7

2

Onanganjang

80

1,083

9

1,172

263,7

241,5

3

Pakkat

61

1,133

723,5

1918

489,6

263,4

4

Pollung

6

344

98

448

96,12

217,3

5

Parlilitan

3,5

1.184

378

1.565.5

402,7

257,7

Barus dikenal oleh bangsa Arab dengan nama Fansur (bhs:Batak). `Dalam temuan

prasasti yang dibaca K.A Nikanta Sasti seorang arkeologi, itu terdapat angka tahun 1088 M– menurut penafsiran Sasti, prasasti tersebut berasal dari sebuah serikat dongeng Tamil’ (merchant gold)—mereka datang berdagang ke wilayah Barus pada abad XI, prasasti Lobotua bisa jadi berasal masa “sedini”

Sejarah Tapanuli

Politik de vide et invera barang kali segaja digulirkan Belanda untuk mengro-goti persatuan orang Batak. Meskipun pedagang Eropa pada awal abad XVIII kadang-kala berhasil membeli kapur barus dan miyan secara langsung di Barus, bhs Toba) Tapian-Nauli yang berarti mata air yang jernih, air yang sejuk. Politisasi pemberian keresidenan di Tapanuli dengan pusat Sibolga bukan di Barus ini juga menjadi pertanyaan. Penjajah mengobok-obok Tapanuli. Tapanuli kembali dibagi kembali tiga wilayah. Wilayah Pertama, keresidenan Tapanuli Tengah di Sibolga atau Siboga—menjadi salah satu bagaiannya. Kedua, Tapanuli Selatan meliputi wilayah pesisir, ibukota Mandailing, Batak Angkola. Ketiga, Tapanuli Utara daerah yang diprediksi kuat untuk memjadi Provinsi Tapanuli—yang rencanakan ibukota di Siborong-borong.

Sosio-antopologi bahwa suku Batak terdiri dari Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Angkola, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak (Dairi), ditambah Batak pesisir Melayu dan Nias. Toba Holbung mencakup Kabupaten Tobasa, Kabupaten Samosir. Toba Humbang melikupi wilayah Siborong-borong dan Kabupaten Humbahas, Dolok Sanggul. Dan, Toba Habinsaran melikupi wilayah Tarutung dan Sibolga. Jadi, menurut penulis Provinsi Tapanuli kurung tepat, seharusnya Provinsi Batak yang lebih akomodatif dan familiar.*** Hojot Marluga

Singa

dari

Bakkara

Sejak Raja Sisingamangaraja pulang belajar dari Aceh ke Bakkara 1871 dan kemudian ditabalkan menjadi Raja Batak 1875. Raja Sisingamangarajab XII berperang mengusir Belanda yang telah melakukan penindasan sejak (1875-1907). Ia seorang tokoh pantang menyerah dan menjalin rasa persaudaraan pada semua eknis di Sumatera. Dan memperjuangkan kemerdekaan di Tanah Batak yang merupakan refleksi semangat pahlawan nasionalisme-nya yang gigih. Karena itu, dalam mengenang jasanya , Pemda Humbahas pada 17 Juni mengadakan perhelatan 100 Tahun Wafatnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII–disamping mendirikan prasasti berisi nama-nama panglima Aceh yang turut membantu Raja Sisingamangaraja Perang Batak.

Rangkaiaan kegiatan itu, Pergelaran Malam budaya 24 Mei di Tiara Convention Medan. Kedua, seminar nasional 26 Mei 26 Mei di Hotel Danau Toba Int. Tapak tilas 4-15 Juni 2007 mulai dari Bakkara hingga ke Balige Kabupaten Tobasa. Keempat, penanaman 10 ribu pohon di sembilan Kabupaten/Kota. Kelima, Pementasan opera Batak Srikandi Boru Lopian di sembilan kabupaten/kota. Keenam, Taptu atau malam renungan dan Upacara Nasional di Makam Raja Sisingangaraja XII Soposurung Balige.

Lopian Boru Hasian: Lopian adalah putri kesayangan Raja Sisingamangaraja XII dari istrinya yang ke-3 Boru Sagala. Lopian lahir (1889) ketika puncak pergolakan Perang Batak dipimpin ayahnya sendiri. Lopian lahir di pengusian Tanah Kalasan, Negeri Sionomhudon (Bhs; Pakpak Siennemkodin), Palilitan, Humbang Hasundutan—sesudah pengusian sebelumnya dari Lintong Nihuta sampai ke Tele berbatasan dengan Dairi Pakpak. Perang Batak mulai muncul Sejak Raja Sisingamangaraja pulang belajar dari Aceh ke Bakkara 1871 dan kemudian ditabalkan menjadi Raja Batak 1875.

Lopian meninggal ketika perang segit dengan Belanda berada di Sitapongan gua di pingir sungai kecil—Sibulbulon yang menjadi markas Sisingamangara XII namun musibah naas itu hari Senin 17 Juni 1907.

Sisingamangara martonggo (berjanji dalam ritual) mengabdi bagi semua Bangso Batak, kerajaannya, Keluarganya, bahkan seluruh kehidupannya.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Amir: Nasionalis atau Komunis?

April 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh : Hotman J Lumban Gaol*)

Revolusi telah memakan anaknya sendiri. Amir Syarifuddin Harahap (1907-1948), mantan Perdana Menteri ke-2 Indonesia ini menjadi korban revolusi yang turut dia perjuangkan. Dia, meninggal tragis, 19 Desember 1948.

Tak banyak literatur dan informasi menyimpan data tentang putra Mandailing ini. Itu sebabnya, Amir Syarifuddin, tidak banyak yang tahu, jarang diangkat media. Informasi tentang pesohor ini selalu dibragus. Satu fakta, tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem yang dilauncing di STT Jakarta di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat yang berjudul “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Tidak berapa lama, buku itu di-sweeping masa pemerintahan Soeharto karena dianggap merusak sejarah Indonesia.

Buku biografi tentang Amir Syarifuddin Harahap sesat. Padahal, dialah salah seorang bapak pendiri bangsa dalam memperjuangkan eksistensi NKRI. Padahal, penghargaanya tidak pernah dihargai Negara yang diperjuangkannya. Di pusara, gundukan makamnya, terlulis nisan tanpa nama, di Desa Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah. Tidak seperti sejawatnya, Soekarno, Hatta dan Syharier menerima penghargaan berupa bintang Jasa. Dihargai sebagai pahlawan, dan dikubur di makam yang terhormat.

Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya , STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk: “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin. Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang. Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti, acara dimoderatori Fadjroel Rahman, aktivis.

Pejuang Pembebasan

Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; “Ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut”.

Pada September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah. Tahun 1931, Amir terlibat mendirikan partai Indonesia (Partindo).

Amir juga mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuang itu pun makin mekar saat bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin, dan Amir aktif pada diskusi Politik Indonesia bersama Muhammad Husni Thamrin.

Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Di tengah gelombang-gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini membongkar jaringan, organisasi anti fasisme Jepang yang dimotori Amir. Kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat, teman-teman satu pergerakan.

Ketika menjabat Menteri Pertahanan, Amir tidak sependapat terhadap kebijakan Hatta karena pengurangan jumlah tentara, dari 400 ribu menjadi 60 ribu tentara. Menurutnya, layaknya tentara, satu banding tiga, satu tentara untuk menjaga tiga orang penduduk.

Di Kabinet Sjahrier pada tanggal 12 Maret 1946, Amir Sjarifuddin diangkat menjadi Menteri Pertahanan dari Partai Sosialis, dikemudian hari berafiliasi dengan Komunis. Tan Malaka dan Kelompok Persatuan Perjuangan menculik Perdana Menteri Sjahrier. Dari sana dia menjadi perdana menteri.

Dalam Persetujuan Renville, Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia. Kabinet Amir Sjarifuddin mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis.

Kageriaan itu. Peristiwa pemberontakan Madium tahun 1948 yang memilukan itu, disebut dilakukan PKI atas restu dari Amir Syarifuddin. Walau tidak pernah terbukti.

Sepeninggalnya; keluarganya dihina. Anak-anaknya mendapat diskriminasi. Untuk makan saja waktu itu keluarga ini harus terlunta-luntah. Salah satu anaknya, Helena, saat ini bekerja di Sekolah Johnny Andrean, mengatakan, masa sepeninggalan sang ayah, hidup mereka terlantar. Kini, atas bantuan lembaga swadaya masyarakat, Omnes Unum Sint Institut, dan Komisi Hak Asazi Manusia membantu perizinan pembangunan makam tanpa nama itu diperbaiki.

Inilah sejarah. Indikasi keterlibatanya pada pemberontakan PKI di Madiun masih samar. Dieksekusi tanpa pernah diadili. Divonis tanpa terbukti salahnya dimana. Ahli sejarahwan, Aswi Warman Adam menulis, sepanjang hidupnya, Amir hidup dari kamp ke kamp. Perjuanganya tidak pernah dihitung.

Pengkotbah

Amir belia lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas, bernama Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949), mantan jaksa di Medan. Sementara ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak yang telah membaur dengan masyarakat Melayu di Deli. Zaman itu, saat Belanda membuka perkebunan besar-besaran di Deli, banyak orang Batak eksodus ke daerah ini. Maka, kalau itu ada istilah “Kampak bukan sembarang kampak. Kampak pembela kayu. Batak bukan sembarang Batak. Batak masuk Melayu”.

Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS semacam Sekolah Dasar di Medan tahun (1914-1921). Sementara, tahun 1926 atas undangan sepupunya, T.S.G. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (dewan) belajar di kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah disana.

Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, kemudian hari menjadi embrio Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Di sana, dua sepupu itu menumpang di rumah seorang guru pemeluk Kristen Calvinis bernama Dirk Smink. Kristen Calvinisme adalah aliran gereja dari spirit bapak Gereja, John Calvin (1509-1564).

Amir Syarifuddin yang dulunya berasal dari keluarga Muslim, berpindah agama menjadi Kristen. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh. Tiap hari Minggu turut berkotbah. Kotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Penggaliannya terhadap Injil sangat mendalam. Itu sebabnya, detik-detik terkhir hidupnya, dia menggengam Alkitab.***

*)Penulis adalah penggiat budaya Batak

→ Tinggalkan KomentarKategori: Tokoh

Membudayakan Etos Kerja

Maret 23, 2009 · 1 Komentar

Survei dari Independent Survey Research menyebutkan, ruang kerja yang sempit dapat mengurangi produktivitas kerja. Seseorang dalam memutuskan mau bekerja karena tempat kerja yang bagus 13% responden dari 54% yang diteliti mengatakan akan menandatangani kontrak kerja, karena merasa nyaman melihat tempat kerja.

Ini hanya sebuah data penting untuk dipertimbangkan bagi lembaga atau institusi yang ingin mempekerjakan orang-orang yang ber-etos kerja yang produktif, memiliki sumber daya manusia yang hebat, atau karyawan yang produktif. Sedangkan manusia dengan etos kerja yang bagus tidak membutuhkan penelitian tadai. Tidak perlu mood bekerja, yang penting bekerja dengan etos.

Kata budaya berasal dari asal kata buddhi dan dhayah diambil dari bahasa Sansekerta. Buddhi berarti budi (moral)sedangkan dhayah berarti akal (nalar). Lalu Kebudayaan tambahan dari kata bantu awalan dan akhiran, yaitu ke dan an mengambarkan kata kerja. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut juga culture, dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa juga diartikan sebagai mengolah tanah atau bertani, culture juga kadang diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya manusia. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

Menurut Selo Soemardjan bapak sosolog Indonesia mengatakan, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Artinya, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, kesenian, moral, hukum, adat istiadat. Maka, dari definisi tersebut, dapat diperoleh gambaran mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu kebiasaan yang melekat. Wujud kebudayaan lewat sistem sosial, misalnya budaya kerja menjadi etos, kebiasaan yang berinteraksi dengan manusia lainnya menurut kesepakatan bersama dalam bekerja. Tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan manusia dan aktivitas sehari-hari.

Kata etos berasal dari kata Yunani yang berarti spirit, samadengan cara bertindak (bekerja) yang beradat. Etos mengambarkan semangat, roh dari hubungan manusia dengan manusia. Dalam kata etos ada spirit kerja, dalam sejarah ke-Kristenan ia berproses menjadi budaya. Mulanya diterapkan kaum puritan, kaum yang menerapkan semangat mempertahankan kemurnian. Etos mengambarkan semangat, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam dunia kerja, semangat kerja diartikan sebagai sumbu dari sumber daya yang sesungguhnya. Kualitas sumber daya manusia tersebut muncul lewat proses, dan etos kerja harus menjadi budaya dalam menunjang kemajuaan untuk hidup yang lebih baik.

Saat ini, semangat kerja tersebut dalam masyarakat cenderung dianggap hanya bentuk keserakahan mengejar keuntungan. Ada aliran orang yang setuju bahwa tidak mesti kerja keras untuk mendapatkan hasil. Sesuatu yang salah. Absurd. Hal yang harus dihilangkan dari pikiran setiap orang. Bekerja seolah-olah besok mati, berharap seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Kerja keras bukan kutukan.

Konon ada pemikiran yang salah bekerja cukup untuk hari ini saja. Ini jelas salah, dan bertentangan dengan Injil dalam perspektif iman Kristen. Dalam etos kerja, semangat kerja Kristen tentu tidak mengharamkan pengejaran keuntungan ekonomi. Upah yang layak, tidak berlebihan tetapi tidak kekurangan. Namun, semuanya harus didapatkan lewat pekerjaan yang rasional.

Dunia kerja saat ini perlu adanya ruang moralitas, sebagai energi positif dalam bekerja. Jika ditarik benang merah, menelusuri asal-usul etos kerja, pengejaran keuntungan ekonomi, asal dikerjakan dengan kesungguhan dan kerja keras maka tidak pernah orang yang bekerja keras miskin.

Semangat bekerja pun, dalam kearifan budaya mengakui bahwa bekerja untuk survive tidak melanggar kontrad. Perspektif Kristen bekerja didorong oleh panggilan jiwa. Dalam pelayanan semua orang harus bekerja keras untuk mendapatkan kebutuhan dan pelayanan sebagai tanggung jawab manusia. Tidak ada kesuksesan tanpa keringat, dan tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras.

Orang yang bekerja keras umumnya sehat, sebab tubuhnya begerak. Sebab, organ tubuh manusia dicipta sedemikian rupa untuk tetap bekerja. Artinya, setiap orang yang sudah dewasa harus bekerja dan punya job sebagai bagaian dari natur alamiah.

Beranjak dari hal tersebut, etos kerja Kristen telah mempengaruhi dunia kerja di seluruh aspek manusia. Etos kerja Kristen dari ajaran Calvinisme menolak setiap orang, menggunakan uang demi kemewahan pribadi meskipun untuk membelikan ornamen keagamaan. Namun jika hasil didapatkan lewat proses panjang, dengan bekerja keras, maka itu menjadi anugerah yang perlu disyukuri.

Calvinisme melihat kerja bukan hanya sekedar, bekerja adalah panggilan pelayanan. Bekerja bukan untuk kaya. Namun kaum konservatif yang apatis melihat (orang yang tidak berhasil), ukuran dunia dipandang sebagai gabungan dari kemalasan dan tanda bahwa Tuhan tidak memberkatiNya. Memang malas sudah pasti dosa, namun bagaimana orang rajin yang tidak berhasil dalam kehidupan duniawi? Apakah bisa masuk kategori dosa atau tidak diberkati Tuhan? Nah, buku kecil ini mencoba menjawab itu. Sesungguhnya paradigma Kristen memandang bekerja keras memang bukan hanya sekedar materi, tetapi aktualisasi diri sebagai umat kepunyaanNya.

Pepatah Inggris mengatakan “if it sounds too good to be true, it usually is” yang berarti, apabila sesuatu kelihatannya sulit untuk dipercayai, biasanya hal tersebut mungkin hanya tipuan. Sukses adalah perjuangan dan proses panjang, ada etos/spirit kerja mendorong tiap-tiap orang sukses. Namun, perlu dicatat bahwa spirit kerja Kristen menegaskan bahwa gagasan-gagasan mempengaruhi perkembangan tatanan umat manusia. Kerja keras termasuk rasionalisme dalam upaya-upaya ilmiah. Gabungan antara observasi dan sistematik rasional terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi.

Buku ini adalah pengamatan bertahun-tahun penulis. Dan beberapa kali artikel tersebut dimuat di beberapa media. Akhirnya epilog dari beberapa kali penulis melakukan pembinaan tentang “kerja kreatif dan etos kerja” pada pemuda-pemuda Marbun di Bekasi juga mendorong menulis buku ini.

Untuk itu penulis tidak lupa mengucapkan syukur ‘Puji Tuhan’ atas diperkenankannya penulis menyelesaikan buku ini. Dan tentu semua orang yang terlibat dalam membantu terselesaikan buku kecil ini.

Kepada istriku, Welmi Marlini Siburian, thanks atas kritiknya dan tanggung jawabnya sebagai istri merawat dan mendidik anak kita, Stephen Heber Fernando, sumber inspirasiku yang selalu membuat penulis tegar dan bergairah mengapai harapan untuk hidup yang lebih baik.

Akhirul kalam buku ini kupersembahkan pada setiap insan-insan yang mau berjuang dalam menegakkan semangat kerja, melalui proses, meninggalkan budaya instant dan menjijikkan sukses karbitan, tetapi orang yang bekerja keras dalam mengapai tujuan hidupnya dengan sungguh-sungguh. Bravo. Untuk orang-orang yang bekerja keras bukan untuk sekedar makan, tetapi mengerti bahwa bekerja adalah bagian hidup manusia.

Bekasi, 1 Maret 2008

Hotman Jonathan Lumbangaol, STh

→ 1 CommentKategori: Budaya

Info Buku

Maret 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

palestina

Judul buku: Jalan-jalan di Palestina: Catatan atas  Negeri yang Menghilang

Penulis: Raja Shehadeh

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 237

Tahun: 2008

Agresi militer Israel ke Jalur Gaza, yang telah menelan korban ribuan orang. Cerita yang sebenarnya adalah sudah puluhan tahun lalu terjadi, Palestina dan Yahudi berselisih. Buku ini adalah salah satu cerita perjalanan, Raja Shehadeh,  dalam kurun waktu 28 tahun di perbukitan  sekitar Ramallah, Jerusalem, dan Laut Mati. Selain menceritakan  keindahan alam  Palestina, Raja juga mengisahkan interaksi antara  masyarakat Palestina  dengan para pemukim Yahudi, serta berbagai konflik yang berakar pada  masalah pendudukan  tanah Palestina oleh  orang-orang Israel. Buku ini bukan membahas sentimen ras dan agama. Tetapi, bagaimana penulis bertekad melawan  melalui jalur hukum kasus-kasus pendudukan tanah Palestina  yang dilakukan   lewat  berbagai macam cara oleh Israel. Raja Shehadeh mengembara mulai  1978 hingga 2006. Meski tak ada   cerita atau laporan  hasil pengamatan seputar  perlawanan rakyat Palestina, yang lebih dikenal dengan istilah intifadah, namun kehadiran buku ini  menyegarkan kembali  ingatan pembacanya  akan   tanah Palestina,  yang kini dihuni penduduk asli dan para pemukim Yahudi, serta berbagai konflik yang terjadi di antara mereka.

Judul: 20 cerpen Indonesia terbaik, 2008

Penyunting: Pena Kencana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 215

Tahun: 2008

Seperti judulnya sudah tentu ditulis 20 orang penulis cerpen. Pengantarnya ditulis Budi Darma, penulis ”Olenka”. Salah satu cerita yang menarik adalah ”Tiurmaida” dalam bahasa Batak artinya ”terang melihat” ditulis Hasal Al Banna, yang diterbitkan KOMPAS 3 Juni 2007, lalu. Setting cerita adalah mengisahkan seorang wanita yang berusaha melawan nasib. Tetapi pada akhir cerita menadi kebahagiahan, karena akhirnya memperoleh tempat persinggahan. Kisahnya, anak mereka meninggal pada usia dua tahun, Marsius, sang suami, tak mampun menanggung kepedihan hatinya, akhirnya menjadi gila dan menggangu warga. Tiurmaida istrinya harus memasung Marsius di rumah, dan kini dia sendiri yang harus mencari nafkah sebagai kuli batu. Memang kelihatanya penulis sengaja membuat senting cerita, memiliki nama tokoh Batak.

Judul: Politik lingkungan: pengelolaan hutan masa Orde Baru dan reformasi

Penulis: Herman Hidayat

PenerbiT: Yayasan Obor Indonesia

Halaman: 337

Tahun: 2008

Buku ini menyoroti bagaimana politik Orde Baru mengelola kekayaan alam, terutama hutan. Walau hutan termasuk kekayaan yang bisa diperbaharui, namun kenyataannya sekarang hutan di Indonesia mengalami degradasi yang sangat serius dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini selain karena jumlah penduduk yang mengandalkan hutan sebagai sumber penghidupan terus meningkat dari tahun ke tahun, juga terutama karena pemerintah secara sadar telah mengeksploitasi sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan dan devisa negara. Dari sisi pembangunan ekonomi, eksploitasi sumber daya hutan yang dilakukan pemerintah telah memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Melalui kebijakan pemberian konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH), atau konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) pemerintah mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatkan pendapatan dan devisa negara, menyerap tenaga kerja, menggerakan roda perekonomian dan meningkatkan pendapatan asli daerah.

Judul: Barus Seribu Tahun yang Lalu Seri Terjemahan Arkeologi

Penulis: Claude Guillot

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Halaman: 352

Tahun: 2008

Barus di abad ke-6 hingga ke-13 adalah kota yang terkenal di seluruh Asia. Pernah menjadi salah satu pusat pelabuhan yang paling sibuk, karena menjadi tujuan pedagang dari Gurat, India, Persia, Timur Tengah. Barus terkenal dengan kapur barus dan keminyaan (haminjon). Barus yang terletak wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Namun, sayang kota ini seakan hilang dalam sejarah Indonesia. Tahun 1995, sebuah program penelitian arkeologi dari Prancis menggali situs Lobu Tua diwilay Barus, menghasilkan temuan: tembikar dari Asia Selatan, keramik Cina, tembikar asal Timur Tengah, kendi dengan bahan halus, tembikar lokal, kaca, manik-manik, logam, mata uang dan emas, batu dan batu bata. Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa Lobu Tua (Barus) pernah menjadi tempat perdagangan asing pada pertengahan abad ke-9. Ada indikasi temuan itu dibawa para pedagang India Selatan atau Sri Langka. Di samping membahas sejarah Barus, situs Lobu Tua, buku ini juga membahas epigrafi Islam yang ada di Barus.

Judul: Perspektif baru penulisan sejarah Indonesia

Penulis: Danny Schechter,dkk

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Halaman: 446

Tahun: 2008

Menulis sejarah, terutama sejarah nasional, bukan sekadar kegiatan intelektual atau akademis, tetapi juga kegiatan yang bermakna politis. Hal ini karena sejarah dianggap sebagai dasar kesadaran bangsa yang fungsinya untuk memperkokoh identitas nasional atau kolektif. Buku ini berusaha untuk mengangkat historiografi yang reflektif tidak saja untuk menguji secara kritis metodologi sejarah, tetapi juga menguji dan merumuskan kembali berbagai klaim kebenaran dan melihat bagaimana hal ini merupakan hasil dinamika sejarah. Melalui berbagai tema yang selama ini sering dianggap umum diketahui maupun berdasarkan berbagai bentuk sumber sejarah yang sebelumnya jarang digunakan, kumpulan tulisan ini berusaha memberi sumbangan lain untuk penulisan dan pemahaman sejarah Indonesia.

Judu: Buku Pintar Calon Anggota dan Anggota Legislatif

Penulis: Markus Gunawan, SH, MKn

Penerbit: VisiMedia

Halaman: 205

Buku ini sebagai acuan bagai para caleg untuk memetakan kuota pemilih. Memiliki kepengurusan di dua per tiga jumlah provinsi. Memiliki kepengurusan di dua per tiga jumlah kabupaten/kota di provinsi. Persyaratan Bakal Calon Bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota harus memenuhi persyaratan berikut. 1. Warga negara Indonesia. Kelengkapan Administrasi Kelengkapan administrasi bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dibuktikan dengan hal-hal berikut.

Judul: Negara dan korupsi: pemikiran Mochtar Lubis atas negara, manusia Indonesia, dan perilaku politik

Penulis: DR Mansyur Semma

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Halaman: 365

Tahun: 2008

Sejarah peradapan manusia dalam mendirikan satu wilayah selalu dilatarbelakangi ingin mencari hidup bersama. Contoh, pembukaan wilayah baru, perjuampaan penduduk asli dan pendatang ber-asimilasi, dan akan selalu mencari titik temu, persingungan untuk hidup bersama. Dalam buku ini, pendirian negara pun tidak jauh dari hal itu. Mulanya sekelompok orang yang ingin mendirikan perkumpulan, group atau organisasi politik atau berdasarkan kategori wilayah teretorial. Lahirkan negara, dasar dari sebuah pemahaman membangun hidup bersama. Penulis menerangkan bahwa akar kata negara berasal dari bahasa Italia lo stato. Baru di abad ke-15 di Eropa kata ini berkembang; Inggris menyebut state, Belanda menyebut staat, dan Prancis menyebut etat. Sementara kata korupsi dalam buku ini adalah menerakan akar dari korupsi itu sendiri. Korupsi adalah penyimpangan dalam kehidupan sosial, budaya, dan kenegaraan. Bahwa korupsi pertama adalah korupsi moral. Korupsi moral merujuk pada berbagai berbagai konsitusi yang sudah melenceng, hingga pengelola negara, tidak lagi dipimpin hukum.***Hotman J Lumban Gaol

→ Tinggalkan KomentarKategori: Budaya

Tidak Bekerja! Jangan Makan

Maret 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Oleh: Hojot Marluga

Ada sebuah cerita, di suatu desa ada seorang pemuda kaya yang malas bekerja karena memiliki warisan. Hidupnya tak karuan, berleha-leha. Si pemuda tiap hari menertawakan orang lain yang rajin bekerja. Baginya tanpa kerja keras pun ia sudah kaya raya, sebab ia punya harta. Sementara itu, di desa tersebut ada juga seorang pemuda miskin yang saban hari bekerja keras.

Suatu hari, desa tersebut terkena musibah, ada suku lain datang menjajah dan menjarah mereka. Semua isi desa isi habis diobrak-abrik termasuk harta warisan pemuda kaya tadi. Melihat itu, orang kaya itu shock dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bingung karena ia tidak pernah bekerja. Namun, pemuda si miskin tadi justru tidak tertekan akan musibah itu—sebab ia terbiasa bekerja keras dan melatih diri. Nah, apa pesan cerita tersebut? Mengapa banyak tenaga produktif (pemuda) menggangur?

Dalam Alkitab (PL) dijelaskan, jangan mencuri. Tetapi pengertian mencuri hanya sebatas jangan mengambil milik orang lain. Ketika seseorang menerima gaji buta, termasuk kategori mencuri. Alkitab berkata “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Hal tersebut merupakan ajaran Alkitab.

Bisa disimpulkan, berarti mestinya harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang bisa dicapai semasa hidup. Tidak ada sukses tanpa kerja keras. Semangat tersebut merujuk pada Kejadian 2:15 “Tuhan Allah mengambil … untuk mengusahakan dan memelihara taman itu,” dan kalau kita bandingkan dengan Kej 3:17-19, “… dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.”

Dari sisi ekonomi, pengelolaan rumah tangga mengandung beberapa prinsip yaitu, Allah bekerja dan menginginkan manusia yang diciptakanNya menurut gambar dan rupa Allah, bekerja. Allah menggambil rupa (inkarnasi) adalah Allah menunjukkan contoh bekerja. Sehingga jika ada orang berpangku tangan (tidak bekerja) karena menggangur seharusnya ia malu terhadap Tuhan.

Jika dirunut dari sebuah cerita, Tuhan mencipta manusia bukan sejak dunia jatuh dalam dosa, namun sejak dunia berada dalam kemurnian–kebenaran untuk mengelola dan memelihara taman Firdaus. Berarti sejak semula tidak ada natur apapun yang tidak menyetujui manusia harus bekerja. Manusia harus bekerja, tidak ada istilah menggangur. Dan ketika manusia tidak bekerja maka Ia sedang melanggar natur kita sendiri.

Sekarang semangat kerja itu mulai terkikis, ini terus dikikis. Berlahan terus jumlah tenaga kerja yang produktif menggangur makin banyak tiap tahun. Seolah-olah kita boleh terus dipermudah bahkan kalau mungkin tidak perlu bekerja, tetapi mendapatkan sesuatu. Terjadi kesalahan efek, teknologi dipermasalkan. Padahal, teknologi kita dapat mengerjakan lebih banyak hal. Kemampuan serta ketrampilan yang hanya dapat dikerjakan manusia sebagai mahkluk yang lebih tinggi daripada sekedar robot.

Seorang Filsuf Garfield mengatakan, figur yang sengaja disodorkan sebagai isme hedonisme (kesenangan duniawi) terletak pada masa muda. Filosofi hedonistik dengan slogan dan penampilannya yang menggambarkan kemalasan kerja.

Pandangan Kristen yang dipakai Tuhan bekerja di tengah dunia secara tepat. Bagaimana umat Tuhan menularkan prinsip dan etos kerja disekeliling-nya? Cara kerja yang tepat, diajarkan Firman adalah yang membawa pada paradigma baru. Bahwa bekerja bukan hanya sekedar untuk makan minum. Tetapi bekerja adalah panggilan natur manusia. Panggilan pelayanan manusia pada Tuhan-Nya.

Padangan iman Kristen mengajarkan semangat kerja, manusia menerima natur bekerja. Dalam Alkitab dikatakan mengusahakan dan memelihara taman dan itu dijalankan secara seimbang. Hal itu sesuai dengan prinsip dasar ekonomi (oikos-nomos) yaitu bagaimana kita diberi akal budi dan kemampuan, dipanggil oleh Tuhan menjadi pengelola yang ada pada manusia.

Manusia diberi kuasa mengelola tetapi harus bertanggung jawab terhadap pemberi otoritas itu yaitu Tuhan. Sehingga ketika bekerja ada beban moral, bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan. Ini harus menjadi acuan agar umat Tuhan sadar bahwa bekerja bukan untuk sekedar materi, tetapi sebagai bagian dari pelayanan itu sendiri.

Itu sebabnya Paulus mengingatkan, “Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna tertulis dalam (II Tes 3:11). Dan ditambahkan juga, “ jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Kata-kata ini sangat tegas, orang yang tidak empunyai pekerjaan tidak boleh makan. Lalu makan apa kalau tidak punya pekerjaan? Jawabannya jelas semua orang punya kemampuan mengolah alam, menciptakan pekerjaan pada dirinya sendiri.

Maka pengertian ini mendorong setiap orang yang telah dewasa mengerti bagaimana berdaya guna. Kata iklan, bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Etika kerja yang sejati, kepercayaan (truth) panggilan kerja Kristen sebagai pelayanan. Sebagai umat pilihan bukan hanya sekedar semangat kerja keras tetapi dalam Efesus 4 menulis, melakukan pekerjaan baik, berarti pekerjaan itu harus mencapai kualitas. Yang meneguhkan manusia, baik bekerja di bidang apapun–seolah-olah berkerja untuk Tuhan.

Karena itu kalau pemuda Kristen bekerja, namun tidak dapat menjadi garam di dalam pekerjaannya, maka, jika seorang pekerja Keriten tidak bisa menjadi garam, garam itu telah hambar ia tinggal dibuang saja. Umat Tuhan harus berpikir apa yang Tuhan percayakan kepada setiap orang harusnya berbagi kasih pada sesama. Baik otak, kemampuan, kesempatan, harta dan segala sesuatu adalah dari Tuhan. Memang tidak mudah mengubah sesuatu; termasuk paradigma yang sudah mengakar, semisal bekerja adalah untuk kaya raya.

Untuk mengeser jadwal bangun pagi pun sulit, artinya mengubah sesuatu perlu ada pengorbanan. Jelas tidak mudah mendorong dan mengubah konsep yang sudah bertahun-tahun melekat menjadi kebiasaan dalam bekerja. Maka jika ada kemauan yang keras, semangat (etos) itu mengubah pemikiran tersebut, berproses dari satu langkah demi satu langkah. (step by step). Mengubah cara pikir, gaya hidup, kerja, studi, hidup pelayanan dan seluruh inti utama dari kerja bisa menjadi lurus kembali.

Jika diurai, satu-persatu, disiplin intinya terletak pada kemampuan mengelola waktu. Kemudian disiplin mentrasformasi menjadi motivasi bekerja, merupakan konsep etos kerja yang memberikan spirit untuk tetap mengerjakan apa yang dapat dikerjakan hari ini. Sebab besok sudah terlambat.

Selanjutnya adalah persuasif—kemampuan mengkomunikasikan sesuatu, menjadi disiplin. Karena itu umat Tuhan harus mampu bersaing. Artinya, manusia yang punya etos kerja terlihat dari kreatif memadukan sebuah perjalanan impian dengan nyata. Misalnya, seorang yang berimajinasi sebagai seorang intertain (penghibur), seseorang harus mensosiasikan diri menghibur penonton di atas pentas. Tidak berhenti disitu ia harus mau terus tekun berlatih untuk mendorong menjadi penghibur sejati. Namun tak ada guna jika hanya menghayal tanpa dibarengi dengann reaksi kerja keras.

Semangat orang kreatif, dampak dari kerja keras menjadikan pikiran menjadi sumbu semua kreasi untuk mengapai hasil yang lebih baik. Dan imajinasi (jiwa) masih tetap berlaku dan berguna. Soal semangat berusaha keras akan mendorong kemampuan otak, otak hubungannya kreativitas. Sebab dengan pikiran manusia mampu menampung tigapuluh milliar bit informasi per detik.

Merujuk ahli fisika Albert Estein mengatakan, otak bisa jutaan kali lebih jitu mengirim sinyal daripada kemampuan komputer. Ia buktikan, dalam penelitiannya pun Albert Estaein hanya mengunakan pikirannya satu persen, sembilanpuluh sembilan persen lagi adalah kerja keras. Kata Shiro Honda, 99 persen adalah keringan dan hanya 1 persen imajinasi. Nah yang mana kita percaya, yang jelas bekerja keras adalah bagian dari temuan dari dua tokoh ini.

Untuk berhasil dalam setiap bidang pekerjaan, seseorang perlu memiliki akselerasi kreatif dan imajinatif. Akselerasi keduanya akan menghasilkan insan produktif, berdedikasi dan profesional, dengan akselerasi menyadarkan personal, mengerti tugas yang dikerjakan sebagai tanggung jawab moral. Karena dengan demikian, pemilik etos kerja yang tinggi akan bekerja melebihi panggilan tugas.

Artinya umat Tuhan yang bekerja sesuai argo, bekerja sesuai dengan gaji, adalah karakter kerja yang tidak profesional. Dan tidak mengerti etos kerja. Sebab lebih baik bekerja sungguh-sungguh dan memberikan keuntungan pada orang lain dari pada bekerja setengah-setengah hanya tidak berdampak pada orang lain.

Memunculkan krativitas-kreativitas baru tersebut dari imajinasi yang liar. Yaitu, imajinasinya harus dikontrol, dirawat, diasuh persis seperti seorang bayi. Dengan begitu orang yang sungguh-sungguh dengan bekerja keras, ia semisal raksasa tidur yang terbangun dari dalam dirinya. Jika pemuda ingin kualitas diri, arif bijaksana dapat berselancar dalam multi-perubahan, intinya sederhana, menyatukan hati dan pikiran yaitu imajinasi dan kreatif. Ketika orang bekerja dengan fokus, menyatukan diri pikiran dan hari. Tepatnya menyatukan semangat kerja disiplin pribadi dan semnagat moral yang tinggi, akan membuahkan hasil.

Artinya kesempatan akan datang, orang yang mau dengan sungguh akan berhasil mengujudkan cita-citanya saat kesempatan itu hadir. Yang ngeri adalah ketika kesempatan datang, pribadi kita belum terasa, karena semangat kerja yang loyo. Maka kesempatan itu hilang.

Hal itulah yang mengujudkan etos kerja Kristen, mendorong setiap orang bekerja kreatif setiap tiap hari, memanfaatkan waktu yang ada, selagi ada waktu persiapkan diri. Sebab waktu tidak berputar, waktu terus berjalan, hanya pengatur waktu (jam) yang berputar. Jadi membudayakan etos kerja, berarti menyiapkan diri dalam waktu yang masih ada, sebab besok mungkin terlambat.***

*) Penulis adalah wartawan, tinggal di Bekasi

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Bekerja Untuk Siapa?

Maret 23, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bekerja Untuk Siapa?bekerja

Oleh Hojot Marluga

Agama Kristen selalu mengajarkan bekerja adalah panggilan. Kesalehan dan kemakmuran, atau mendikotomikan ibadah yang sakral dan kerja yang profan. Jika meninjau dunia kerja dari perspektif teologi Kristen mengatakan, seseorang tidak boleh mengapdi untuk dua tuhan. Alkitab jelas mengajarkan bekerja untuk siapa? Jika ia mengabdi untuk mamon (materialime), ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Dalam alkitab Mamon disebut uang (harta). Jadi, untuk berkenan pada Tuhan, seseorang harus menolak dunia dengan segenap harta, kekuasaan, dan kemuliaannya. Jadi, umat harus memilih salah satu, berkenan pada Tuhan atau berkenan pada dunia. Akibatnya, umat yang ingin hidup benar dan saleh kemudian tertinggal dari derap kemajuan dunia. Lebih parah lagi, kaum saleh ini kemudian (bisa) terjebak dalam jenis keberagamaan yang campur aduk dengan elemen magis yang penuh takhayul, bidah, dan khurafat. Makin jauhlah umat demikian tertinggal.

Di pihak lain terdapat elite agama, misalnya di Eropa pada zaman Martin Luther, atau di Iran seperti yang digambarkan Sukidi, bersekutu erat dengan kaum penguasa, bahkan menjadi penguasa itu sendiri, bergelimang dengan keduniawian sambil atas nama konservatisme mengekang gerak dan aspirasi umat yang ingin bebas mengecap kemajuan, membuat keluruhan umat tertinggal dari modernitas yang umumnya dimotori oleh sains, teknologi, bisnis, investasi, dan manajemen terkini. Sesungguhnya dua hal itulah yang ditentang kemudian diperbarui oleh para reformis di Eropa, Iran, dan Indonesia. Pokok persoalannya, bagaimana mengharmoniskan iman dan rasionalitas, kesetiaan pada kitab suci dan aspirasi kemajuan, kesalehan dan kemodernan. Sederhananya, bagaimana berkenan pada Tuhan dan berkenan pada dunia.

Semangat kerja yang harus dimiliki orang Kristen adalah hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Sebab, Allah adalah Allah yang bekerja. Allah yang berkarya dan karyaNya sangat indah, bisa dinikmati. Manusia diciptakan Tuhan, manusia seogianya berkarya dan menghasilkan karya yang indah.

Etos Manusia Unggul

Ir Ciputra, Bos kelompok usaha properti dan real estate Ciputra ini. Sebenarnya, pria kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah itu terlahir pada 24 Agustus. Dalam buku bertitle The Ciputra’s Way; Praktik Terbaik menjadi Enterpreneur Sejati.
Menurut Ciputra, Indonesia memerlukan banyak enterpreneur baru. Dia berharap, kehadiran wirausaha baru menjadi solusi atas sejumlah persoalan, terutama di bidang sosial-ekonomi dan ketenagakerjaan. “Indonesia saat ini kekurangan orang yang kreatif. Para menteri banyak yang kurang kreatif, kurang daya cipta.

Ciputra mengaku sebagai seorang entrepreneur lebih banyak bermodalkan “dahi” (otak) daripada dana. Dia menyadari pentingnya dukungan dari penyandang dana, pemilik tanah, pemberi izin, dan pembeli. Mereka kerap membiayai dan membeli propertinya meski masih dalam bentuk gambar. Ciputra sangat peduli soal sumber daya manusia. Dan mendirikan lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Ciputra merupakan orang yang berkemampuan mewujudkan keinginannya. Itulah etos kerja. Bahkan sebelum orang lain memikirkannya, membuktikan bahwa dirinya memiliki kapasitas tersebut.

Keberhasilan Ciputra adalah make things happen. Misalnya, Ciputra menggunakan sumber air sungai Brantas untuk memenuhi kebutuhan Citra Raya. Grup Ciputra telah mengembangkan kawasan itu seluas 600 ha dengan sejumlah 8.000 residensial dan lapangan golf bertaraf internasional. Pada 2003, Citra Raya memosisikan dirinya sebagai The Singapore of Surabaya.

Kini pohon Bisnisnya berkembang, berkat kreatifitas itu pula Ciputra melahirkan tiga grup bisnis properti. Ketiga perusahaan itu adalah Pembangunan Jaya, Metropolitan Development, dan Ciputra Development. Ciputra melahirkan banyak proyek raksasa dan masuk kategori pelopor. Proyek Senen, misalnya merupakan pusat perbelanjaan moderen pertama di Tanah Air.

Taman Impian Jaya Ancol kini menjadi pusat rekreasi favorit. Itu merupakan pusat rekreasi terbesar pertama di tanah air dan masuk 10 besar di dunia. Taman itu telah memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk menirunya.

Andrias Harefa, terinpirasi menulis buku “The Ciputra Way Andrias pun memetik banyak pengalaman menarik, ketika mewawancarai Pak Ci sebagai bahan penulisan buku. Saat itu pak Ci meminta kliping proyek properti di Dubai, Uni Emirat Arab. Berpuluh puluh lembar kliping koran digelar di lantai. Pak Ci menjelaskan proyek properti yang akan dibangun oleh Ciputra harus seperti di Dubai.

Ciputra adalah contoh nyata seorang penganut ‘Etos Kristen’ wirausaha sejati. Dalam usianya ke-75, ia tetap aktif dalam menjalankan bisnis. Ia rajin datang ke kantor dengan semangat dan gembira, berdiskusi, dan memecahkan masalah bersama rekan-rekan sekantor.

Etos yang diterapkan oel orang-orang hebat itu ibarat semangat batu baterei Alkaline, kecil namun tak pernah berhenti berjuang. Demikan pula daya tahan orang-orang yang memiliki etos kerja yang kuat, menghimpun energi tambahan pada semangat kerja yang telaten.

Untuk menjaga dan mengembangkan semangat kerja, mereka bekerja dengan kesabaran yang terus terjaga dan mengembangkan etos kerjanya. Sebab tanpa kegairahan dalam melakukan pekerjaan, seseorang tidak akan dapat meraih sukses.

Maka, untuk membangun etos kerja yang terus menerus stabil, kita perlu mencintai pekerjaan yang sedang digeluti. Bagaimana pekerjaan mengairahkan? Intinya adalah fokus pada pekerjaan. Seperti Stephen Tong berjuang dan mengumuli pelayanannya; menghasilkan kotbah-kotbah yang bermutu dan buku-buku yang bermutu pula demi menunjang aktivitasnya. Meskipun jantungnya sudah delapan kali diberikan ring, ia tetap berjuang untuk mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Hal yang sama dalam bekerja di tempat apapun! Jika bekerja dengan kesenangan yang tulus, niscaya akan mengasilakan hasil yang bermutu pula.

Masalahnya, dunia dipenuhi orang-orang yang tidak bekerja dengan tulus, barangkali bisa bekerja aut-autan karena memang pekerjaan tersebut tidak disenangi. Ada pula orang yang ke tempat kerja, kantor, tetapi tidak mengerjakan apa-apa. Jika tidak menemukan keasikan dalam bekerja bisa akan menghambat pengembangan diri. Jika bekerja dengan terpaksa, bekerja semuanya terasa hambar, menguras energi tanpa hasil.

Menyenangi pekerjaan yang tidak disukai memang tidak menyenangkan. Menjadi penyapu jalanan atau tukang pinggul misalanya, adalah pekerjaan yang tidak enak bagi sebagian orang. Memang pasir bukan mutiara, tetapi tahukah kita bahwa mutiara adalah pasir yang masuk ke dalam kerang yang dibungkus lama, sehingga menghasilkan mutiara. Artinya, pekerjan yang dianggap hina sebagian orang belum tentu itu kebenaran. Lewat proses itu pengalaman menjadi hikmat. Hikmat menjadi kebijaksanaan, menjadi keariafan menjadi kemuliaan.

Maka, elemen utama yang penting dalam membangun semangat kerja, yang menyenangkan orang-orang yang berkerja bersama dengan kita. Kemudian berusaha yang dapat dilakukan di tengah-tengah rutinitas pekerjaan Anda. Biasanya orang bekerja keras itu terlihat dari waktunya lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Bekerja dengan totalitas artinya memberikan semua yang Anda memiliki untuk mencapai keberhasilan atas pekerjaan yang Anda lakukan. Uanga berkerja untuk orang yang berkerja rajian. Bejamin Franklin mengatakan, orang-orang yang berpendapat bahwa uang melakukan apa saja kemungkina besar akan melakukan apa saja untuk memperoleh uang. Orang yang terbiasa bekerja dengan keras tidak takut bekerja apapun. Yang pasti, ia tahu bekerja bukan untuk uang, tetapi menemukan diri.***

→ Tinggalkan KomentarKategori: Budaya

Keterkaitan Uli Kozok dengan Sastra Batak

Maret 20, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kompas/Khaerudin Uli Kozok

/ Senin, 22 September 2008 | 20:53 WIB

Oleh Khaerudin dan Agnes Rita Sulistyawati

Keinginan untuk melihat dunia, mempertemukan Uli Kozok dengan Indonesia. Selepas menamatkan sekolah menengah atas, Ketua Departemen Bahasa Indonesia Universitas Hawaii di Honolulu, Amerika Serikat, ini awalnya hanya ingin mengunjungi kerabatnya di Australia. “Di peta saya lihat Indonesia, saya putuskan singgah di negara ini,” ujar Uli yang cintanya pada Indonesia berawal dari kebetulan. Saat mengunjungi Medan tahun 1981, teman seperjalanan Uli sakit.

Dia menunda pergi ke Australia dan memutuskan tinggal sementara di Medan. Selama itu Uli mengisi waktu dengan belajar bahasa dan budaya setempat. Sekembalinya dari Indonesia, Uli yang saat itu belajar arkeologi di Universitas Hamburg menghadiri simposium tentang kebudayaan dan bahasa di Sumatera Utara yang dihadiri pakar dari Jerman dan negara lain. Sejak itu ia tertarik mempelajari budaya dan bahasa Batak.

“Menemani teman seperjalanan yang sakit, itu kebetulan saya yang pertama. Awalnya saya tertarik bahasa Karo, kemudian saya belajar bahasa Toba, Angkola-Mandailing, dan Pakpak. Lalu, saya putuskan untuk belajar pada Jurusan Bahasa dan Budaya Austronesia,” ujarnya. Guru pertama Uli, Profesor Reiner Carle, filolog yang ahli bahasa Batak. Secara kebetulan Uli mendapat beasiswa Pemerintah Jerman, DAAD (Deutsche Akademischer Austauschdienst) tahun 1983-1985 untuk menjadi mahasiswa tamu di jurusan Sastra Daerah Universitas Sumatera Utara (USU). Saat itu Uli menilai kondisi perkuliahan Jurusan Sastra Daerah USU sangat memprihatinkan.

“Praktis saya enggak dapat apa-apa selama belajar. Banyak mahasiswa dan dosen yang kurang paham naskah Batak,” katanya. Menurut Uli, kelangkaan sumber naskah Batak di Medan dan kota lain di Sumut yang menyebabkan kondisi tersebut. “Koleksi naskah Batak di Jerman hampir 600, di Belanda jumlahnya ribuan, sedangkan di Indonesia mungkin hanya 200-an,” kata Uli. Bahasa dan budaya Karo, yang menjadi awal ketertarikan Uli, dia teruskan dengan meneliti bilangbilang, puisi percintaan masyarakat Karo yang ditulis pada bambu. Ada sekitar 125 naskah dari sekitar 20 koleksi bilangbilang di seluruh dunia.

Ia terjemahkan puisi itu dalam bahasa Jerman dan dianalisis dalam kaitan fungsi aksara pada masyarakat Karo. “Bilangbilang itu ditulis bukan untuk dibaca karena sangat kecil hurufnya. Tetapi, hampir semua masyarakat Karo yang mengerti tentang bilangbilang pasti tahu apa yang tertulis di dalamnya,” ujar Uli. Disertasi tentang bilangbilang mengantar Uli meraih gelar Master Artium di Universitas Hamburg tahun 1989. Pada tahun itu pula ia menikahi teman kuliah semasa di USU, Febrina Marisa. Huruf Batak di komputer Uli melanjutkan studi doktoral dengan tema sama, puisi percintaan pada masyarakat Batak. Kali ini tak hanya bilangbilang dari Karo, tetapi ditambah andung dari Mandailing. Masa saat ia mengambil studi doktoral ini, menurut Uli, adalah masa paling sengsara dalam hidupnya. “Saya tidak punya pekerjaan, sementara harus menghidupi istri dan membiayai kuliah doktoral,” katanya.

Pada saat itulah ibu angkatnya, Hildegard Peters, memperkenalkan Uli dengan Pater Matthaus, pastor yang juga kolektor lukisan. Ibu angkatnya adalah pelukis, yang karyanya dibeli Pater Matthaus. “Salah satu karya ibu angkat itu lukisan saya saat masih kecil. Sebelum bertemu Pater Matthaus, saya dapat surat dari beliau. Dalam surat itu disertakan uang 500 DM.” Uang itu digunakan Uli menyambung hidup selama menekuni naskah Batak di perpustakaan KITLV Universitas Leiden, Belanda. Ia kadang terpaksa menumpang makan kepada mahasiswa asal Indonesia, Ema Nababan.

Gelar doktor diraihnya tahun 1993. Setahun kemudian surat lamaran Uli untuk mengajar Bahasa Indonesia di Universitas Auckland, Selandia Baru, diterima. Itu pun kebetulan karena dosen utamanya, seorang Belanda, langsung menerima dia sebagai asisten. Tahun 1998 Uli bertemu Michael Everson, ahli linguistik sekaligus desainer jenis huruf (font) untuk komputer dan media digital.

Michael meminta Uli membuat software agar aksara Batak bisa ditulis dalam sebuah komputer. Ia lalu meneliti berbagai naskah dan pustaka Batak. Dari empat jenis aksara Batak, yakni Mandailing, Toba, Pakpak, dan Karo, ia lalu membuat varian yang paling umum dari keempatnya. Dengan software itu, orang yang tak mengerti aksara Batak bisa menulis menggunakan huruf Batak di komputer. Penelusuran yang ia lakukan dari sejarah dan penyebaran aksara Batak mempertemukan Uli dengan naskah tua Melayu yang ditulis dengan huruf dari rumpun yang sama, surat (huruf) Pascapalawa. Surat Pascapalawa atau dikenal sebagai aksara Kawi ada hampir di seluruh Sumatera, mulai dari Lampung, Rejang-Lebong, Kerinci, Minangkabau, hingga Mandailing. Lebih lanjut, penelusuran ini mempertemukannya dengan Kitab Undang-undang Tanjung Tanah, naskah Melayu tertua.

Naskah ini ditemukan Petrus Voorhoeve, pegawai bahasa zaman Belanda pada 1941. Naskah Melayu tertua itu sempat menghilang puluhan tahun sebelum ditemukan kembali tahun 2002. Naskah itu sempat mengalami masa perang Belanda-Jepang, perang revolusi merebut kemerdekaan, sampai gempa bumi. Namun, kondisinya tetap seperti yang digambarkan Voorhoeve ketika Uli menemukannya di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. “Waktu itu saya sedang meneliti paleografi aksara surat di Sumatera,” tutur Uli dalam dialog dengan peserta Ekspedisi Pamalayu di Kanagarian Siguntur Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat, akhir Desember 2007. Ia mengungkapkan, penulis naskah Tanjung Tanah adalah Dipati Kuja Ali, petinggi Kerajaan Malayu. Penulisan naskah itu diperkirakan saat Adityawarman memerintah Kerajaan Malayu atau sekitar abad XIV.

Nama perkampungan Secara umum, naskah Tanjung Tanah berisi undang-undang yang mengatur kehidupan sehari-hari warga Kerinci serta denda yang dijatuhkan kepada pelanggar. Ukuran denda masa itu bervariasi, mulai dari kupang, mas, tahil, hingga kati. Tanjung Tanah adalah namasebuah perkampungan di Kerinci. Ditunjang dengan hawa yang memadai, sebab Tanjung Tanah terletak 800 meter di atas permukaan laut, naskah ini bertahan hingga ratusan tahun. “Waktu itu, tahun 2002, saya sudah menduga naskah ini dibuat sekitar abad XIV,” katanya. Sebagian besar pakar aksara dan sejarawan yang ditemui Uli meragukan pendapatnya. Mereka berprinsip tak ada naskah sebelum abad XV. Setahun setelah naskah ditemukan, ia kembali mendatangi pemilik naskah. Ia bermaksud meminta sedikit sampel kertas naskah untuk diuji di laboratorium. Dari pemeriksaan di Rafter Radiocarbon Laboratory, Wellington, Selandia Baru, diperkirakan naskah itu berusia lebih dari 600 tahun. Voorhoeve pun menduga naskah ini ditulis sebelum agama Islam sampai ke pelosok Melayu. “Saya memperkirakan naskah ditulis pada masa kejayaan Adityawarman, sekitar tahun 1345-1377,” ujarnya.

Aksara yang digunakan dalam naskah Tanjung Tanah juga unik karena tak menggunakan aksara Palawa, tetapi Pascapalawa. Dari penelitian Tokyo Restoration & Conservation Center, Oktober 2004, diperkirakan Sumatera sudah memproduksi kertas berbahan baku batang pohon Daluang (Broussonetia papyrifera Vent).

BIODATA

* Nama : Uli (Ulrich) Kozok * Lahir: Hildesheim, Jerman, 26 Mei 1959 * Istri: Febrina Marissa * Anak : – Nina Handayani Kozok (16) – Aike Kowika Kozok (4) * Pendidikan: – Ulrichsgymnasium (SMU) di Norden, 1979 – MA Jurusan Bahasa dan Sastra Austronesia, Universitas Hamburg, Jerman, 1989 – Selama kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Austronesia, ia juga kuliah di Jurusan Arkeologi Universitas Hamburg – PhD Jurusan Bahasa dan Sastra Austronesia Universitas Hamburg, 1994, predikat magna cum laude * Pekerjaan: – 1988-1989 Dosen Luar Biasa Universitas Negeri Medan (dulu IKIP Medan) – 1990-1991 Dosen Tamu Universitas Sumatera Utara – 1993 Dosen Tamu di Carl V Ossietzky-University, Oldenburg, Jerman – 1994-2001 Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia School of Asian Studies Universitas Auckland, Selandia Baru – 2001-sekarang Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Hawaii di Manoa, AS – 2005-sekarang Ketua Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia School of Language and Literature University of Hawaii di Manoa * Publikasi: – Warisan Leluhur, Sastra Lama dan Aksara Batak, Kepustakaan Populer Gramedia 1999 – Naskah Tanjung Tanah, Naskah Melayu Tertua, Yayasan Obor, 2007 – On Reading The Not to be Read, artikel dalam buletin KITLV – The Seals of The Sisingamangaraja, Journal of South East Asian Studies, National University Singapore * Aktivitas lain: Menggelar kursus bahasa Indonesia melalui situs www.bahasa.net/o nline dan www.laulima.hawaii.edu Sumber : KOMPAS

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

Fenomena Ponari dan Mistik Agama

Maret 6, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar


Oleh Hotman J Lumban Gaol, S.Th

Berita yang paling menghebohkan sekaligus mengundang banyak kontroversi akhir-akhir ini adalah fenomena Ponari. Bocah cilik, 9 tahun, asal Jombang Jawa Timur itu bak pesohor sebagai ”dukun cilik”. Kemampuannya mengobati penyakit lewat sebuah batu yang dicelupkan ke dalam air.

Fenomena Ponari, mengingatkan saya tahun 2001 pada peristiwa ”penampakan Jesus” di Kramat V, Jakarta. Umat Kristen di Jakarta gempar karena isu tersebut. Yang terjadi sebenarnya gambar wajah, lebih tepatnya siluit seorang berambut panjang.

Semua orang berbondong-bondong dari semua penjuru termasuk dari luar kota memadati Jalan Kramat V untuk melihat ”siluit” itu, sebagian orang datang untuk meminta kesembuhan. Kenyataanya tidak ada yang sembuh. Hanya segelintir orang diuntungkan, ada pendeta mengabadikan peristiwa ”penampakan” direkam dalam kepingan VCD, dan sang pendeta kotbah ditengah-tengah ribuan orang itu. VCD-nya laku keras bak kacang goreng.

Fenomena Ponari sebenarnya tidak tunggal. Jauh sebelumnya banyak cerita seperti itu. Ambil contoh, di Bekasi, beberapa waktu lalu, kasus yang sama dilakukan Ustad Haryono, melalui air minum dan minyak kelapa yang sudah didoakan, dan penyakit ditransfer ke binatang. Dasar penyembuhannya adalah agama, sebenarnya sugesti karena kepercayaan pasien. Dari gambaran diatas, terlihat jelas, bahwa masyarakat kita hanya fanatik beragama, tetapi tidak mempunyai pondasi pemahaman iman yang benar.

Peristiwa Ponari dan ”penampakan” di Kramat V adalah gambaran, mistik masih bercokol dalam pikiran masyarakat kita. Maka, perlu rasionalitas dalam menilai setiap peristiwa. Agama harus memberikan ruang pada nalar, mempertanyakan segala sesuatu, dan mengujinya. Karena masalah kesembuhan itu tidak melulu dari Tuhan, bisa jadi dari setan. Alkitab dengan tegas mengatakan: ”Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku” (Yes 45:5).

Agama Kebatinan, Mistik

Mistik dianut aliran kebatinan. Tahun 1951, Kementerian Agama Republik Indonesia memetakan daftar agama kebatinan, di luar lima agama resmi. Terdapat 73 agama kebatinan. Tahun 1959, ada ”Kongres Kebatinan” dihadiri 142 organisasi kebatinan. Dan, tidak sampai 10 tahun kemudian, tahun 1965 aliran kebatinan menjadi 149 aliran.

Tahun 1970, bertambah menjadi 151. Tahun 1972 meningkat menjadi 644, dan dipetakan melalui wilayah. Wilayah Jawa Tengah 149 aliran, Jawa Timur 105 aliran, Sumatera 95 aliran, Jawa Barat 39 aliran, Yogya 20 aliran. Belum termasuk Kalimantan, Irian Jaya dan Sulawesi. Sekarang? Tidak ada data yang pasti, jelas pasti lebih banyak.

Mistik berarti hal-hal gaib yang tidak terjangkau akal manusia, tetapi ada dan nyata. Sementara para antroplog dan sosiolog menyebut mistik sebagai sub-sistem yang ada pada hampir semua sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia dalam mengalami dan merasakan kehadiran Tuhan. Sementara pemahaman kebatianan adalah: Kepercayaan pada yang gaip, tercerabut dari nilai-nilai iman. Gaib tidak jauh dari perdukunan, klenik atau magic itu sendiri.

Tahun 1970 di Amerika Serikat didengungkan ”Faith Development” oleh psikolog agama, James W Fowler. Salah satu jasanya adalah upaya secara implisit menjelaskan hubungan kompleks antara psikologi dan teologia dalam satu pandangan ilmiah yang koheren. Istilah ”Faith Development” satu teori yang menguraikan tahap-tahap perkembangan kepercayaan.

Menurut Fowler, kepercayaan adalah proses dinamika eksitensial dan daya traformasi yang paling hakiki dalam kehidupan manusia. Berdasarkan hal tersebut, Flower memandang kepercayaan iman sebagai proses pertualangan untuk menemukan makna ekstensial.

Dasar teorinya adalah mewawancara 500 orang dari tahun 1972-1984) sari usia 4 tahun hingga 88 tahun. Dari kelompok Protestan, Katolik, Yahudi, pria dan wanita, dan sejumlah orang yang merasa tidak memiliki agama, alias ateis. Fowler menyimpulkan: ”…kepercayaan, iman meliputi upaya didamaikan seseorang untuk menciptakan cerita dan makna, bahwa tiap manusia terlibat dalam upaya tersebut.”

Tambahnya lagi, bahwa kepercayaan itu punya tahap-tahap kepercayaan: Pertama, kepercayaan intuitif yang hanya mengunakan instuisi dalam menanggapi setiap peristiwa. Lalu, kepercayaan imajinatif pemahaman kepercayaan yang cenderung imajinasi. Selanjutnya, tahap konvensional dilanjutkan kepercayaan yang lebih mandiri, baru akhirnya sampai pada kepercayaan yang betul-betul matang. Namun, kenyataannya kedewasaan fisik tidak serta merta selalu mengikuti kedewasaan iman dalam merenungkan keberadaan Allah.

Jhon Calvin mengatakan, ”Kesadaran dasar akan Allah itu sebagai sesuatu perasaan tentang ilahi”. Seorang teolog Amerika Hodge (1797-1879) berbicara tentang keyakinan universal pada manusia bahwa, ”Ada oknum yang menjadi tumpuan mereka dan mereka bertanggungjawab kepada-Nya.”

Fenomena ”Ponari” kepercayaan kebatinan dan keyakinan akan mistik masih mengakar dalam budaya kita. Menunjukkan tidak percaya pada Tuhan. Itu terlihat dari percampuran antara agama formal dengan hal-hal yang mistik. Hampir semua agama formal memiliki budaya mistik, dari Hindu, Budha, Kristen, Islam. Sinkritisme agama masih bercampur baur, belum luntur dari pengalaman religi kita. Seperti duri dalam daging.

Jika pengetahuan agama hanya sekedar identitas, maka hal-hal mistis akan selalu ada, berlahan umat tercerabut dari akarnya. Iman sekedar asumsi-asumsi saja. Beragama hanya sebagi simbol, kebudayaan, fanatik beragama tetapi masih dibalut mistisme yang kuat.

Saya setuju, Allah hadir dalam setiap peristiwa, itu sebabnya Tuhan disebut Allah yang imanent yang hadir, dan maha hadir. Allah juga bisa memberikan setiap medium dan peristiwa tentang kehadiran-Nya. Namun, untuk merasakan kehadiran Tuhan dalam peristiwa hidup pada setiap orang, dan dibutuhkan sikap iman dalam menguji segala sesuatu. ”Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1Tes 5:21).

Pertanyaan adalah: Apakah peristiwa Ponari dan penampakan itu sudah mengalami tahapan ujian, termasuk dalam meminta kesembuhan. Jika belum, berarti menimpang dari kebenaran, itu hanya mistik, klenik, tidak perlu dipercayai dan harus dihilangkan.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Agama

Inspirasi

Maret 2, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Zuckerberg, Si Pembuat Facebook

KOMPAS, Sabtu, 28 Februari 2009 | 00:09 WIB

Joice Tauris Santi dan Simon Saragih

Lebih dari seratus juta warga dunia kini keranjingan dengan jaringan sosial di dunia maya, Facebook.com. Lewat situs ini pengguna dapat memperluas pertemanan lintas benua, bahkan kembali ”bertemu” dengan kawan-kawan atau pacar lama yang tidak terlihat lagi seusai perpisahan sekolah. Presiden AS Barack Hussein Obama bahkan memanfaatkan situs ini sebagai salah satu cara untuk meraih dukungan dalam Pemilihan Presiden AS, tahun lalu.

Inilah buah karya Mark Elliot Zuckerberg, seorang keturunan Yahudi AS, salah satu dari tiga pendiri Facebook. Mengapa Facebook melejit? Pakar teknologi informasi, Dr Linda M Gallant, Asisten Profesor dari Emerson College, Boston, memberi penjelasan, ”Situs internet umumnya menyajikan informasi dan para penjelajahnya hanya menerima apa adanya. Sekarang ini para penjelajah ingin berpartisipasi sebagai pengisi situs.

Facebook memenuhi hasrat itu.” Mengapa Facebook mengejar My Space, situs jaringan sosial terbesar pertama di dunia sebelum April 2008? Keadaan bahkan sudah berubah, Facebook tidak lagi nomor dua sebagaimana ditulis di situs Techcrunch. Situs Mashable (The Social Media Guide) menyatakan, desain Facebook lebih enak dilihat dan dijelajahi serta menawarkan hal-hal yang lebih riil. Sebagai contoh, Facebook menawarkan orang lain yang kira-kira Anda kenal untuk di-add (ditambahkan) jadi teman.

My Space juga menyodori Anda beberapa teman, tetapi termasuk menyodori orang-orang dari negeri antah berantah menjadi teman. Apa pun latar belakang kemajuan Facebook, nama Zuckerberg sudah melejit ke seluruh dunia seperti meteor. Banyak pengguna Facebook yang merupakan orang-orang elite dunia. Facebook juga menjadi sarana komunikasi para karyawan Toyota, Ernst & Young, dan perusahaan kaliber dunia lainnya.


/* <![CDATA[ */
edCanvas = document.getElementById('content');
/* ]]> */

Word count: 775 Nask

Siapa Zuckerberg? Dia adalah pemuda berusia 25 tahun dan masih singel, perancang teknologi informasi sekaligus pemuda berjiwa wiraswasta. Saat belajar di Harvard University pada tahun 2004, dia menciptakan Facebook bersama kawannya, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes.

Hughes kemudian direkrut Obama saat masih menjadi calon presiden untuk membuat situs barackobama.com. Di Facebook, Zuckerberg bertanggung jawab untuk urusan garis kebijakan umum dan penyusunan strategi perusahaan yang kini menjadi rebutan para pemasang iklan dan para investor. Zuckerberg telah mendapat julukan sebagai ”salah satu orang yang paling berpengaruh pada tahun 2008” versi majalah Time.

Pada Forum Ekonomi Davos 2009, Zuckerberg termasuk dalam daftar pemimpin muda karena prestasi dan komitmen terhadap masyarakat serta berpotensi menyumbangkan ide untuk membentuk tatanan dunia baru. Pemuda itu tampil dalam sesi ”Pengalaman Digital Mendatang” pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Peserta lain yang hadir antara lain Chad Hurley (YouTube), Craig Mundie (Microsoft), Shananu Narayen (Adobe), Hamid Akhvan (T-Mobile), dan Eric Clemmons (Wharton). Salah satu poin menarik yang diberikan Zuckerberg adalah bahwa lebih dari 100 juta orang secara aktif menggunakan aplikasi bergerak pada Facebook. iPhone Facebook saja telah memiliki 5 juta pengguna aktif bulanan dan Blackberry untuk Facebook memiliki 3,25 juta pengguna aktif bulanan.

Kiprah Zuckerberg lewat Facebook melesat seperti roket. Pada Februari 2004 ketika Zuckerberg meluncurkan program itu, para siswa di AS langsung membuka akun di Facebook dan dari mulut ke mulut menyebar hingga merambah ke sekolah dan universitas lain. Zuckerberg dan timnya pun kemudian pindah ke Palo Alto, California, dan mulai merangkul investor, seperti pendiri PayPal, Peter Thiel, dan pendiri Napster, Sean Parker.

Pada Agustus 2005 Zuckerberg secara resmi menamakan perusahaannya Facebook. Setelah berhasil mengumpulkan modal 12,7 juta dollar AS, dia mengembangkan perusahaan ke level berikutnya. Situs itu secara bertahap dan konsisten terus memperluas jaringan. Saat ini ada lebih dari 175 juta pengguna aktif dengan berbagai fasilitas yang ada di situs itu.

Facebook kini menjadi situs keempat yang paling sering dikunjungi di dunia. ”Pencuri” Tentu saja sukses Zuckerberg dibarengi dengan kontroversi. Beberapa teman sekolahnya menuduh dia mencuri ide ConnectU untuk Facebook. Namun, gugatan soal itu ditepis pengadilan. Dia menyebabkan kehebohan karena dianggap ”menjual” data-data pribadi pemilik akun, tanpa menghargai privasi. Pada tahun 2006 Zuckerberg mencengangkan dunia karena menampik tawaran Yahoo untuk membeli Facebook seharga 1 miliar dollar AS (atau sekitar Rp 12 triliun).

Setahun kemudian, Microsoft membeli 1,6 persen saham Facebook seharga 240 juta dollar AS. Kini nilai ekonomi Facebook ditaksir sebesar 15 miliar dollar AS. Zuckerberg yang lahir dari keluarga dokter yang kaya memiliki 20 persen saham di Facebook senilai 3 miliar dollar AS. Majalah Forbes mendeklarasikan Zuckerberg sebagai miliuner ”self made” termuda di planet ini. Namun, jangan tanyakan perihal kehidupan pribadinya, tidak banyak yang diketahui.

Maklum, ketika di SMA pun dia sudah berkutat dengan urusan komputer. Ketika itu dia ingin membantu jaringan yang dimiliki ayahnya untuk dipertemukan lewat dunia maya. Kebiasaan ini terus melekat dan dia lupa belajar. Karena urusan komputer dan teknologi informasi inilah dia drop-out dari Harvard.

Entah iseng atau tidak, Facebook kini kebanjiran uang. ”Mengherankan juga, begitu banyak tawaran datang,” kata Zuckerberg kepada Techcrunch pada 7 Desember 2008. Tidak banyak kalimat lain dari Zuckerberg selain ambisinya terus membuat Facebook senyaman mungkin untuk jadi alat penyatu warga dunia. ”Bukankah kami memiliki situs, yang membuat Anda merasa lebih enak menggunakannya?” ujar Zuckerber. Hmmm…. Zuckerberg, iya deh!

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

MEMAHAMI KEBUDAYAAN

Februari 25, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

sumber: http://grelovejogja.wordpress.com/2007/04/17/fenomena-konsep-kebudayaan-indonesia/

MEMAHAMI KEBUDAYAAN

Kebudayaan atau culture adalah keseluruhan pemikiran dan benda yang dibuat atau diciptakan oleh manusia dalam perkembangan sejarahnya. Ruth Benedict melihat kebudayaan sebagai pola pikir dan berbuat yang terlihat dalam kehidupan sekelompok manusia dan yang membedakannya dengan kelompok lain. Para ahli umumnya sepakat bahwa kebudayaan adalah perilaku dan penyesuaian diri manusia berdasarkan hal-hal yang dipelajari/learning behavior (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ;1999).

Kebudayaan sifatnya bermacam-macam, akan tetapi oleh karena semuanya adalah buah adab (keluhuran budi), maka semua kebudayaan selalu bersifat tertib, indah berfaedah, luhur, memberi rasa damai, senang, bahagia, dan sebagainya. Sifat kebudayaan menjadi tanda dan ukuran tentang rendah-tingginya keadaban dari masing-masing bangsa (Dewantara; 1994).

Kebudayaan dapat dibagi menjadi 3 macam dilihat dari keadaan jenis-jenisnya: * Hidup-kebatinan manusia, yaitu yang menimbulkan tertib damainya hidup masyarakat dengan adapt-istiadatnya yang halus dan indah; tertib damainya pemerintahan negeri; tertib damainya agama atau ilmu kebatinan dan kesusilaan. * Angan-angan manusia, yaitu yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa, kesusasteraan dan kesusilaan. * Kepandaian manusia, yaitu yang menimbulkan macam-macam kepandaian tentang perusahaan tanah, perniagaan, kerajinan, pelayaran, hubungan lalu-lintas, kesenian yang berjenis-jenis; semuanya bersifat indah (Dewantara; 1994). Ki Hajar Dewantara mendefinisikan kebudayaan sebagai kemenangan atau hasil perjuangan hidup, yakni perjuangannya terhadap 2 kekuatan yang kuat dan abadi, alam dan zaman.

Kebudayaan tidak pernah mempunyai bentuk yang abadi, tetapi terus menerus berganti-gantinya alam dan zaman. (Dewantara; 1994). KEBUDAYAAN NASIONAL Kebudayaan Nasional Indonesia adalah segala puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan yang bernilai di seluruh kepulauan, baik yang lama maupun yang ciptaan baru, yang berjiwa nasional (Dewantara; 1994). Kebudayaan Nasional Indonesia secara hakiki terdiri dari semua budaya yang terdapat dalam wilayah Republik Indonesia. Tanpa budaya-budaya itu tak ada Kebudayaan Nasional. Itu tidak berarti Kebudayaan Nasional sekadar penjumlahan semua budaya lokal di seantero Nusantara. Kebudayan Nasional merupakan realitas, karena kesatuan nasional merupakan realitas.

Kebudayaan Nasional akan mantap apabila di satu pihak budaya-budaya Nusantara asli tetap mantap, dan di lain pihak kehidupan nasional dapat dihayati sebagai bermakna oleh seluruh warga masyarakat Indonesia (Suseno; 1992). Dalam pasal 32 UUD 1945 dinyatakan, “Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi-daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia, terhitung sebagai Kebudayaan Bangsa. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia” (Atmadja, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).

AKAR KEBUDAYAAN INDONESIA

Berikut ini akan penulis kutipkan mengenai sejarah nenek moyang bangsa Indonesia dari tulisan Mochtar Lubis pada tahun 1986 dalam pidato kebudayaannya yang berjudul “Situasi Akar Budaya Kita”. Nenek moyang kita adalah bahagian dari arus perpindahan manusia yang bergerak di zaman lampau yang telah hilang sebagai hilangnya bayangan wayang dari layar sejarah, bergerak dari bagian Timur Eropa Tengah dan bagian Utara wilayah Balkan sekitar laut Hitam ke arah timur, mencapai Asia, masuk ke Tiongkok. Dan di Tiongkok arus perpindahan ini bercabang-cabang ke utara, timur dan selatan. Arus selatan mencapai daerah Yunan, sedang bagian timur mencapai laut Indo Cina. Di sinilah tempat lahirnya budaya asal Indonesia.

Manusia-manusia yang berpindah dan bergerak ke Asia dari Eropa Tengah dan Wilayah Balkan itu adalah orang Tharacia, Iliria, Cimeria, Kakusia, dan mungkin termasuk orang Teuton, yang memulai perpindahan mereka di abad ke-9 hingga abad ke-8 sebelum nabi Isa. Mereka membawa keahlian membuat besi dan perunggu. Nenek moyang orang Indonesia yang telah berada terlebih dahulu dari mereka di daerah Dongson ini telah mengembangkan seni monumental tanpa banyak ornamentik yang dekoratif. Dari pendatang-pendatang baru ini mereka mengambil alih, menerima, dan mencernakan seni ornamentik pendatang-pendatang dari barat ini. Tidak saja dalam ornamentik, akan tetapi juga dalam hiasan tenunan (amat banyak persamaan antara hiasan tenun Indonesia dan Balkan umpamanya), dan juga dalam musik dan nyayian. Jaap Kunst, seorang ahli musik, juga ahli musik Indonesia mengindentifikasikan persamaan nyayian rakyat di pulau Flores dengan nyanyian rakyat di bagian timur Yugoslavia (Balkan). Kebudayaan Dongson menunjukkan lebih banyak persamaan dan kaitan dengan budaya Eropa dibanding budaya Cina. Nenek moyang Dongson inilah yang bergerak ke selatan, dan kemudian mencapai Nusantara.

Di Nusantara hampir tidak ada perpisahan antara zaman perunggu dan zaman besi. Hal ini sama juga terjadi di Indo Cina. Dalam penggalian situs-situs purbakala, perunggu dan besi selalu ditemukan bersama-sama. Hulu pisau dongson banyak berbentuk manusia, seperti keris Majapahit. Bentuk hulu pisau yang serupa juga ditemukan di Holstein (Jerman), Denmark, dan di Kauskasus. Tetapi, sebelum nenek moyang dari Dongson turun ke Nusantara, kelompok-kelompok manusia lain telah terlebih dahulu datang. Selama zaman es terakhir, kurang lebih 15.000 tahun sebelum Masehi, sejarah bumi Nusantara menunjukkan bahwa sebagian besar Nusantara bagian barat menyatu dengan daratan Asia Tenggara, Jawa, Sumatera, Kalimantan dan wilayah yang kini laut Jawa. Ketika es berakhir, permukaan laut naik kembali, dan terbentuklah gugusan pulau-pulau seperti yang kita kenal kini.

Sejarah bumi Nusantara telah berpengaruh besar pada perkembangan manusia Melayu-Polinesia. Mereka menjadi bangsa maritim, yang kurang lebih 1000 tahun sebelum nabi Isa megarungi Samudera Hindia. Manuskrip tua Hebrew dari masa akhir 2000 dan permulaan 1000 sebelum tahun Nabi Isa telah menyebut perdagangan kulit manis dari berbagai tempat sepanjang pantai timur Afrika. Sebuah naskah Arab dari abad ke 13 menceritakan masuknya orang Melayu-Polinesia ke belahan barat Samudera Hindia. Naskah itu mengatakan bahwa di masa mundurnya Kerajaan Fira’un di Mesir, tempat yang bernama Aden, yang menguasai jalan masuk ke laut Merah (yang masa itu merupakan tempat penduduk nelayan), telah direbut oleh orang Qumr (Melayu-Polinesia) yang datang dengan armada yang terdiri dari perahu-perahu yang memakai cadik. Mereka mengusir penduduk setempat, membangun berbagai monumen dan memilihara hubungan langsung dengan pulau Madagaskar dan Asia Tenggara. Para ahli sejarah menyebutkan hal itu mungkin terjadi di masa Nabi Isa masih hidup. Untuk masa yang cukup lama orang Melayu-Polinesia menguasai pelayaran dan perdagangan lewat Samudera Hindia dari Asia Tenggara ke pintu Laut Merah, sepanjang pantai timur Afrika dan Pulau Madagaskar. Dalam melakukan ini, mereka juga telah membawa berbagai kekayaan budaya ke Madagaskar dan Afrika. Di Madagaskar mereka telah menetap di belahan barat pulau itu. Hingga kini masih terlihat berbagai persamaan kata antara bahasa Madagaskar dan bahasa suku Manyaan di Kalimantan. Ke timur, nenek moyang Melayu-Polinesia ini berlayar jauh ke pedalaman pasifik, menetap di berbagai kepulauan, dan mereka paling ke timur mencapai Easter Island, pulau terjauh ke timur dari Nusantara. Jelaslah bahwa budaya bangsa kita berakar jauh ke zaman prasejarah, ke masa silam yang begitu jauhnya, hingga telah lenyap dari ingatan bangsa kita. Jelas pula bahwa kita telah mewarisi budaya dunia yang ada di masa itu, di samping nenek moyang kita telah memberi pula sumbangan pada budaya-budaya bangsa lain di seberang Samudera Hindia, serta menciptakan berbagai budaya di Madagaskar, dan di kepulauan-kepulauan Samudera Pasifik. Mengingat ini kembali, apakah kita kini, sebagai pewaris langsung dari mereka, harus merasa gentar menghadapi abad ke 21 dan seterusnya? Seharusnya tidak! Kita harus berani memeriksa diri secara cermat. Apa kekurangan-kekurangan kita kini, hingga kita tidak memiliki kemampuan, keberanian dan daya cipta untuk berbuat yang besar-besar bagi bangsa kita dan umat manusia hari ini? Proses melalui zaman Mesolitik mencapai zaman Neolitik mungkin terjadi kurang lebih 3500-2500 tahun sebelum Nabi Isa. Ketika itu mereka mulai tinggal bersama dalam komunitas-komunitas kecil dan mulai mengembangkan pertanian dan sistem pengairan. Di zaman ini berkembang akar budaya musyawarah Indonesia, karena di kala itu belum ada kepala dan raja, dan semuanya masih dimusyawarahkan oleh semua anggota komunitas, dipimpin oleh orang-orang yang lebih tua. Wanita ikut bermusyawarah, dan anak-anak boleh hadir dan ikut mendengar. Di suku Sakudei di pulau Mentawai, seorang peneliti Swiss melaporkan bahwa dia masih menemukan tradisi musyawarah yang lama itu. Akar budaya kita juga tumbuh dalam kepercayaan bahwa segala yang ada di bumi memiliki ”ruh-ruh” sendiri. Ruh manusia adalah saudaranya, yang dapat melepaskan diri dari dalam badan seseorang, dan ruh itu dapat mengalami bencana dalam petualangannya di luar tubuh kita, yang dapat mengakibatkan yang punya tubuh jatuh sakit atau mati. Manusia harus berbaik-baik dalam hubungannya dengan dunia roh ini. Selanjutnya nenek moyang kita di masa Megalitik itu memiliki konsep hubungan dan pertentangan antara dunia atas dan dunia bawah.

Dalam upacara-upacara khusus, mereka membangun megalith-megalith dengan tujuan melindungi ruh dari bahaya-bahaya yang datang dari dunia bawah, untuk menjadi penghubung antara yang hidup dan yang telah mati, dan untuk mengabadikan kekuatan-kekuatan magis mereka yang membangun megalith-megalith tersebut, atau untuk siapa batu-batu itu dibangun. Megalith-megalith dibangun untuk memperkuat kesuburan manusia, ternak dan apa yang mereka tanam, dan dengan demikian memperbesar kekayaan generasi-generasi yang akan datang. Kebudayaan Megalitik ini kemudian dimasuki oleh budaya Dongson yang membawa teknologi perunggu dan besi, dan memberikan nafas dan kekuatan serta daya cipta baru pada kelompok-kelompok budaya di Nusantara. Diperkirakan pula bahwa budaya Dongson membawa teknologi bertanam padi di sawah. Teknologi padi sawah mendorong komunitas-komunitas kecil untuk lebih berintegrasi mengembangkan dan memilihara sistem pengairan, koordinasi bertanam serempak pada waktu yang sama.

Dalam proses sejarah, teknologi padi sawah ini telah mendorong proses integrasi masyarakat-masyarakat desa Indonesia yang hingga kini tumpuan kehidupan terbesar bangsa kita. Ia juga erat hubungannya dengan irama iklim, datang musim kering dan musim hujan, yang mempengaruhi pola kehidupan di Indonesia. Musim panen merupakan musim perkawinan umpamanya. Pemujaan nenek moyang merupakan salah satu akar budaya bangsa Indonesia. Pandangan kosmik mengenai kontradiksi antara dunia bawah dan dunia atas tercermin dalam organisasi sosial berbagai suku bangsa kita; garis ibu dan garis ayah, hubungann dasar antara dua suku yang saling mengambil laki-laki dan perempuan dari dua suku untuk perkawinan, membuat tiada satu suku lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Setiap suku bergantian menduduki tempat yang superior dan tempat di bawah. Struktur tradisi kesukuan ini merupakan sebuah mekanisme ke arah demokrasi, yang seandainya kita pandai mengembangkannya dapat merupakan kekuatan untuk tradisi demokrasi bangsa kita. Datangnya agama Budha, Hindu dan Islam, bangkitnya feodalisme, lalu datang orang Eropa membawa penindasan penjajah, dan agama Nasrani, lalu lewat pendidikan Barat masuk pula ilmu pengetahuan modern dan tekonologi modern telah mendorong berbagai proses kemasyarakatan, politik, ekonomi, dan budaya, yang akhirnya membawa manusia Indonesia pada keadaan hari ini. Akar budaya lama jadi layu dan terlupakan, meskipun ada diantaranya tanpa kita sadari masih berada terlena di bawah sadar kita.

Bangkitnya feodalisme di Indonesia dengan lahirnya berbagai kerajaan besar dan kecil telah mengubah hubungan antara kekuasaan dan manusia atau anggota masyarakat. Penjajahan Belanda menggunakan sistem menguasai dan memerintah melalui kelas bangsawan atau feodal lama Indonesia telah meneruskan tradisi feodal berlangsung terus dalam masyarakat kita. Malahan setelah Indonesia merdeka, hubungan-hubungan diwarnai nilai-nilai feodalisme masih berlangsung terus, hingga sering kita mengatakan bahwa kita kini menghadapi neo-feodalisme dalam bentuk-bentuk baru. Semua pendidikan modern, falsafah Barat dan Timur, ideologi-ideologi yang datang dari Barat mengenai manusia dan masyarakat. Agama Islam dan Nasrani yang jadi lapis terakhir di atas kepercayaan-kepercayaan lama dan nilai-nilai akar budaya kita, oleh daya sinkritisme manusia Indonesia, semuanya diterima dalam dirinya tanpa banyak konflik dalam jiwa dan diri kita.

Sesuatu terjadi dalam diri kita, hingga secara budaya tidak mampu memisahkan yang satu dari yang lain: mana yang takhyul, mana yang ilmiah, mana yang bayangan, mana yang kenyataan, mana yang mimpi dan mana dunia nyata. Malahan banyak orang kini membuat ilmu dan teknologi jadi takhyul dalam arti, orang percaya bahwa ilmu dan teknologi dapat menyelesaikan semua masalah manusia di dunia. Dan ada yang berbuat sebaliknya. Kita jadi tidak tajam lagi membedakan mana yang batil dan mana yang halal. Karena itu beramai-ramai dan penuh kebahagiaan kita melakukan korupsi besar-besaran, dan tidak merasa bersalah sama sekali (Lubis, dalam ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999). KEBUDAYAN BARAT DI INDONESIA Proses akulturasi di Indonesia tampaknya beralir secara simpang siur, dipercepat oleh usul-usul radikal, dihambat oleh aliran kolot, tersesat dalam ideologi-ideologi, tetapi pada dasarnya dilihat arah induk yang lurus: ”the things of humanity all humanity enjoys”. Terdapatlah arus pokok yang dengan spontan menerima unsur-unsur kebudayaan internasional yang jelas menguntungkan secara positif. Akan tetapi pada refleksi dan dalam usaha merumuskannya kerap kali timbul reaksi, karena kategori berpikir belum mendamaikan diri dengan suasana baru atau penataran asing.

Taraf-taraf akulturasi dengan kebudayaan Barat pada permulaan masih dapat diperbedakan, kemudian menjadi overlapping satu kepada yang lain sampai pluralitas, taraf, tingkat dan aliran timbul yang serentak. Kebudayaan Barat mempengaruhi masyarakat Indonesia, lapis demi lapis, makin lama makin luas lagi dalam (Bakker; 1984). Apakah kebudayaan Barat modern semua buruk dan akan mengerogoti Kebudayaan Nasional yang kita gagas? Oleh karena itu, kita perlu merumuskan definisi yang jelas tentang Kebudayaan Barat Modern. Frans Magnis Suseno dalam bukunya ”Filsafat Kebudayan Politik”, membedakan tiga macam Kebudayaan Barat Modern: a. Kebudayaan Teknologi Modern Pertama kita harus membedakan antara Kebudayan Barat Modern dan Kebudayaan Teknologis Modern. Kebudayaan Teknologis Modern merupakan anak Kebudayaan Barat. Akan tetapi, meskipun Kebudayaan Teknologis Modern jelas sekali ikut menentukan wujud Kebudayaan Barat, anak itu sudah menjadi dewasa dan sekarang memperoleh semakin banyak masukan non-Barat, misalnya dari Jepang.

Kebudayaan Tekonologis Modern merupakan sesuatu yang kompleks. Penyataan-penyataan simplistik, begitu pula penilaian-penilaian hitam putih hanya akan menunjukkan kekurangcanggihan pikiran. Kebudayaan itu kelihatan bukan hanya dalam sains dan teknologi, melainkan dalam kedudukan dominan yang diambil oleh hasil-hasil sains dan teknologi dalam hidup masyarakat: media komunikasi, sarana mobilitas fisik dan angkutan, segala macam peralatan rumah tangga serta persenjataan modern. Hampir semua produk kebutuhan hidup sehari-hari sudah melibatkan teknologi modern dalam pembuatannya. Kebudayaan Teknologis Modern itu kontradiktif. Dalam arti tertentu dia bebas nilai, netral. Bisa dipakai atau tidak. Pemakaiannya tidak mempunyai implikasi ideologis atau keagamaan. Seorang Sekularis dan Ateis, Kristen Liberal, Budhis, Islam Modernis atau Islam Fundamentalis, bahkan segala macam aliran New Age dan para normal dapat dan mau memakainya, tanpa mengkompromikan keyakinan atau kepercayaan mereka masing-masing. Kebudayaan Teknologis Modern secara mencolok bersifat instumental. b. Kebudayaan Modern Tiruan Dari kebudayaan Teknologis Modern perlu dibedakan sesuatu yang mau saya sebut sebagai Kebudayaan Modern Tiruan. Kebudayaan Modern Tiruan itu terwujud dalam lingkungan yang tampaknya mencerminkan kegemerlapan teknologi tinggi dan kemodernan, tetapi sebenarnya hanya mencakup pemilikan simbol-simbol lahiriah saja, misalnya kebudayaan lapangan terbang internasional, kebudayaan supermarket (mall), dan kebudayaan Kentucky Fried Chicken (KFC).

Di lapangan terbang internasional orang dikelilingi oleh hasil teknologi tinggi, ia bergerak dalam dunia buatan: tangga berjalan, duty free shop dengan tawaran hal-hal yang kelihatan mentereng dan modern, meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan, suasana non-real kabin pesawat terbang; semuanya artifisial, semuanya di seluruh dunia sama, tak ada hubungan batin. Kebudayaan Modern Tiruan hidup dari ilusi, bahwa asal orang bersentuhan dengan hasil-hasil teknologi modern, ia menjadi manusia modern. Padahal dunia artifisial itu tidak menyumbangkan sesuatu apapun terhadap identitas kita. Identitas kita malahan semakin kosong karena kita semakin membiarkan diri dikemudikan. Selera kita, kelakuan kita, pilihan pakaian, rasa kagum dan penilaian kita semakin dimanipulasi, semakin kita tidak memiliki diri sendiri. Itulah sebabnya kebudayaan ini tidak nyata, melainkan tiruan, blasteran. Anak Kebudayaan Modern Tiruan ini adalah Konsumerisme: orang ketagihan membeli, bukan karena ia membutuhkan, atau ingin menikmati apa yang dibeli, melainkan demi membelinya sendiri. Kebudayaan Modern Blateran ini, bahkan membuat kita kehilangan kemampuan untuk menikmati sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Konsumerisme berarti kita ingin memiliki sesuatu, akan tetapi kita semakin tidak mampu lagi menikmatinya. Orang makan di KFC bukan karena ayam di situ lebih enak rasanya, melainkan karena fast food dianggap gayanya manusia yang trendy, dan trendy adalah modern. c. Kebudayaan-Kebudayaan Barat Kita keliru apabila budaya blastern kita samakan dengan Kebudayaan Barat Modern. Kebudayaan Blastern itu memang produk Kebudayaan Barat, tetapi bukan hatinya, bukan pusatnya dan bukan kunci vitalitasnya. Ia mengancam Kebudayaan Barat, seperti ia mengancam identitas kebudayaan lain, akan tetapi ia belum mencaploknya. Italia, Perancis, spayol, Jerman, bahkan barangkali juga Amerika Serikat masih mempertahankan kebudayaan khas mereka masing-masing. Meskipun di mana-mana orang minum Coca Cola, kebudayaan itu belum menjadi Kebudayaan Coca Cola. Orang yang sekadar tersenggol sedikit dengan kebudayaan Barat palsu itu, dengan demikian belum mesti menjadi orang modern. Ia juga belum akan mengerti bagaimana orang Barat menilai, apa cita-citanya tentang pergaulan, apa selera estetik dan cita rasanya, apakah keyakinan-keyakinan moral dan religiusnya, apakah paham tanggung jawabnya (Suseno; 1992).

SITUASI BUDAYA INDONESIA

Dalam pemaparan tentang akar budaya di atas tadi telah kita ketahui bahwa nenek moyang kita adalah nenek moyang yang tangguh dan bangsa ini telah mampu melakukan akulturasi secara positif sehingga kita bisa mengintegrasikan kebudayaan luar untuk meningkatkan budaya sendiri. Namun kita harus melihat secara riil bagaimanakah keadaan budaya kita hari ini. Sajiman Surjohadiprojo dalam pidato kebudayaannya di tahun 1986 menyampaikan tentang persoalah kita hari ini, yaitu kurang kuatnya kemampuan mengeluarkan energi pada manusia Indonesia.

Hal ini mengakibatkan kurang adanya daya tindak atau kemampuan berbuat. Rencana konsep yang baik, hasil dari otak cerdas, tinggal dan rencana dan konsep belaka karena kurang mampu untuk merealisasikannya. Akibat lainnya adalah pada disiplin dan pengendalikan diri. Lemahnya disiplin bukan karena kurang kesadaran terhadap ketentuan dan peraturan yang berlaku, melainkan karena kurang mampu untuk membawakan diri masing-masing menetapi peraturan dan ketentuan yang berlaku. Kurangnya kemampuan mnegeluarkan energi juga berakibat pada besarnya ketergantungan pada orang lain. Kemandirian sukar ditemukan dan mempunyai dampak dalam segala aspek kehidupan termasuk kepemimpinan dan tanggung jawab. Menurut beliau kelemahan ini merupakan Kelemahan Kebudayaan. Artinya, perbaikan dari keadaan lemah itu hanya dapat dicapai melalui pendekatan budaya. Pemecahannya harus melalui pendidikan dalam arti luas dan Nation and Character Building (Surjohadiprodjo, dalam ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).

Mochtar Lubis juga dalam kesempatan yang sama saat Temu Budaya tahun 1986, menyampaikan bahwa kondisi budaya kita hari ini ditandai secara dominan oleh ciri: 1. Kontradiksi gawat antara asumsi dan pretensi moral budaya Pancasila dengan kenyataan. 2. Kemunafikan. 3. Lemahnya kreativitas. 4. Etos kerja brengsek. 5. Neo-Feodalisme. 6. Budaya malu telah sirna ( Lubis, 1999).

TANTANGAN KEBUDAYAAN INDONESIA

1. Kebudayaan Modern Tiruan Tantangan yang sungguh-sungguh mengancam kita adalah Kebudayaan Modern Tiruan. Dia mengancam justru karena tidak sejati, tidak substansial. Yang ditawarkan adalah semu. Kebudayaan itu membuat kita menjadi manusia plastik, manusia tanpa kepribadian, manusia terasing, manusia kosong, manusia latah. Kebudayaan Blasteran Modern bagaikan drakula: ia mentereng, mempunyai daya tarik luar biasa, ia lama kelamaan meyedot pandangan asli kita tentang nilai, tentang dasar harga diri, tentang status.

Ia menawarkan kemewahan-kemewahan yang dulu bahkan tidak dapat kita impikan. Ia menjanjikan kepenuhan hidup, kemantapan diri, asal kita mau berhenti berpikir sendiri, berhenti membuat kita kehilangan penilaian kita sendiri. Akhirnya kita kehabisan darah , kehabisan identitas. Kebudayaan modern tiruan membuat kita lepas dari kebudayaan tradisional kita sendiri, sekaligus juga tidak menyentuh kebudayaan teknologis modern sungguhan (Suseno;1992)

2. Bagaimana Memberi Makan, Sandang, dan Rumah Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa, budaya adalah perjuangan manusia dalam mengatasi masalah alam dan zaman. Permasalahan yang paling mendasar bagi manusia adalah masalah makan, pakaian dan perumahan. Ketika orang kekurangan gizi bagaimana ia akan mendapat orang yang cerdas. Ketika kebutuhan pokok saja tidak terpenuhi bagaimana orang akan berpikir maju dan menciptakan teknologi yang hebat. Jangankan untuk itu, permasalahan pemenuhan kebutuhan kita sangat mempengaruhi pola hubungan di antara manusia. Orang rela mencuri bahkan membunuh agar ia bisa makan sesuap nasi. Sehingga, kelalaian dalam hal ini bukan hanya berdampak pada kemiskinan, kelaparan, kematian, akan tetapi akan berpengaruh dalam tatanan budaya-sosial masyarakat.

3. Masalah Pendidikan yang Tepat Pendidikan masih menjadi permasalahan yang menjadi perhatian serius jika bangsa ini ingin dipandang dalam percaturan dunia. Ada fenomena yang menarik terkait dengan hal ini, yaitu mengenai kolaborasi kebudayaan dengan pendidikan, dalam artian bagaimana sistem pendidikan yang ada mengintrinsikkan kebudayaan di dalamnya. Dimana ada suatu kebudayaan yang menjadi spirit dari sistem pendidikan yang kita terapkan.

4. Mengejar Kemajuan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Problem ini beranjak ketika kita sampai saat ini masih menjadi konsumen atas produk-produk teknologi dari negara luar. Situasi keilmiahan kita belum berkembang dengan baik dan belum didukung oleh iklim yang kondusif bagi para ilmuan untuk melakukan penelitian dan penciptaan produk-produk, teknologi baru. Jika kita tetap mengandalkan impor produk dari luar negeri, maka kita akan terus terbelakang. Oleh karena itu, hal ini tantangan bagi kita untuk mengejar ketertinggalan iptek dari negara-negara maju.

5. Kondisi Alam Global Beberapa waktu yang lalu di halaman depan harian Kompas tanggal 12 April 2007, ada berita menarik mengenai keadaan bumi hari ini, ’Pemanasan Global, Jutaan Orang akan Teracam”. Pemanasan global akan memberi dampak negatif yang nyata bagi kehidupan ratusan juta warga di dunia. Demikianlah antara lain isi laporan kedua PBB yang sudah dipublikasikan tahun 2007. Laporan pertama berisikan bukti ilmiah perubahan iklim, sedangkan laporan ketiga akan membeberkan tindakan untuk menanganinya. Laporan para pakar yang tergabung dalam Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) dibeberkan dalam jumpa pers secara serentak di berbagai belahan dunia, Selasa (10/04/2007). Laporan setebal 1.572 halaman itu ditulis dan dikaji 441 anggota IPCC. Salah satu dampak pemanasan global adalah meningkatnya suhu permukaan bumi sepanjang lima tahun mendatang. Hal itu akan mengakibatkan gunung es di Amerika Latin mencair. Dampak lanjutannya adalah kegagalan panen, yang hingga tahun 2050 mengakibatkan 130 juta penduduk dunia, terutama di Asia, kelaparan. Pertanian gandum di Afrika juga akan mengalami hal yang sama. Laporan itu menggarisbawahi dampak pemanasan global berupa meningkatnya permukaan laut, lenyapnya beberapa spesies dan bencana nasional yang makin meningkat. Disebutkan, 30% garis pantai di dunia akan lenyap pada 2080. Lapisan es di kutub mencair hingga terjadi aliran air di kutub utara. Hal itu akan mengakibatkan terusan Panama terbenam. Naiknya suhu memicu topan yang lebih dasyat hingga mempengaruhi wilayah pantai yang selama ini aman dari gangguan badai. Banyak tempat yang kini kering makin kering, sebaliknya berbagai tempat basah akan semakin basah. Kesenjangan distribusi air secara alami ini akan berpotensi meningkatkan ketegangan dalam pemanfaaatan air untuk kepentingan industri, pertanian dan penduduk. Asia menjadi bagian dari bumi yang akan paling parah. Perubahan iklim yang tak terdeteksi akan menjadi bencana lingkungan dan ekonomi, dan buntutnya adalah tragedi kemanusiaan. Laporan itu mengingatkan, setiap kenaikan suhu udara 2 derajat celsius, antara lain akan menurunkan produksi pertanian di Cina dan Bangladesh hingga 30 persen hingga 2050. Kelangkaan air meningkat di India seiring dengan menurunya lapisan es di Pegunungan Himalaya. Sekitar 100 juta warga pesisir di Asia pemukimannya tergenang karena peningkatan permukaan laut setinggi antara 1 milimeter hingga 3 milimeter setiap tahun. Saat ini, pemanasan global sudah terasa dengan terjadinya kematian dan punahnya spesies di Afrika dan Asia (Kompas, Kamis 12 April 2007). MENUJU PERADABAN INDONESIA Untuk membuat formulasi kebudayaan yang khas dan bisa menjawab tantangan zaman ke depan bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu adanya suatu kebersamaan dan peran serta setiap warga negara ini. Para pemikir dan ilmuan harus bekerja secara keras untuk membuat suatu konsep yang jelas dalam pencapaian ini.

Tujuan nasional perjuangan bangsa Indonesia adalah menciptakan masayarakat yang adil dan makmur. Perjuangan menuju peradaban Indonesia yang ideal membutuhkan waktu dan perjuangan. Pengakuan sebagai salah satu peradaban dunia harus memiliki beberapa syarat. Syarat-syarat itu dapat kita lihat dari perwujudan peradaban di dunia sejak permulaan sejarah manusia. Nampaknya, kehidupan satu masyarakat diakui sebagai satu peradaban kalau menunjukkan kehidupan lahiriah yang maju, dan kemajuan itu cukup menonjol dari kehidupan lahiriah masyarakat lain (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ;1999). Kehidupan lahiriah yang maju itu merupakan hasil dari penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlaku di zamannya. Bahkan dalam masyarakat itu terjadi perkembangan berupa penemuan dan inovasi dalam iptek. Sebagai hasil penguasaan iptek dapat dimajukan produksi pertanian dan kesejahteraan petani. Hal yang sama berlaku bagi produksi di lautan dan kesejahteraan para nelayan dan pelaut. Industrialisasi mengalami perkembangan yang tinggi dengan menghasilkan berbagi macam barang yang disukai di dalam dan luar negeri.

Berbagai prasaran, yaitu penghasil energi listrik, aneka ragam komunikasi, keadaan jalan darat, perhubungan darat, laut dan udara, semuanya dalam kondisi yang sesuai dengan perkembangan iptek internasional mutakhir. Kesejahtreaan merata di antara seluruh anggota masyarakat. Dan kalau ada rakyat yang miskin, maka itu merupakan minoritas kecil. Ini memungkinkan rakyat menyekolahkan anak-anaknya dengan baik, dan prasarana pendidikan tersedia dengan kualitas dan kuantitas yang memadai. Standar hidup yang tinggi dalam masyarakat memungkinkan bagian besar produksi pertanian dan isdustri dipasarkan dalam masyarakat sendiri, sehingga ketergantungan pada masyarakat luar tidak terlampau besar (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ; 1999). Kondisi itu mendukung berkembangnya seni dan sastra yang kreatif. Berbagai kesenian mengalami kemajuan dan dilakukan penduduk dalam jumlah besar. Kesusasteraan menghasilkan buku dan hasil tulisan lain, yang banyak jumlahnya dan variasinya, serta terbeli oleh mayoritas masyarakat.

Arsitektur menghasilkan rumah-rumah tempat tinggal, gedung-gedung pemerintahan, tempat-tempat ibadah yang indah, tapi juga kokoh dan tahan lama (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ; 1999). Kondisi sosial cukup mantap dengan menunjukkan kehidupan keluarga yang sehat dan kokoh, kurang adanya pengangguran dan tidak ada kelaparan. Mungkin krimanalitas tidak dapat ditiadakan seratus persen, tetapi jumlah amat sedikit dan terkontrol. Akan tetapi peradaban tidak hanya memerlukan kehidupan lahiriah yang maju dan menonjol, juga perlu ada kehidupan rohaniah yang mantap dan merata (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ; 1999). Kehidupan beragama dilakukan oleh penduduk dengan penuh keimanan dan ketaqwaan. Dan kerukunan antar berbagai agama berjalan baik. Orang tidak menjalankan ketentuan agama hanya sebagai ritual belaka, tetapi mempunyai dampak nyata dalam kehidupan yang bermoral dan disiplin tinggi.

Maka ada kemampuan kendali diri yang cukup kuat. Itulah yang turut menyemarakkan kehidupan demokrasi yang mewujudkan kedaulatan rakyat. Dalam berbagai profesi, etik dijunjung tinggi tanpa mengurangi dinamika yang diperlukan masyarakat pada zaman itu (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ; 1999). Persatuan bangsa terpelihara dengan baik, tanpa mengurangi hak dan kemampuan setiap unsur bangsa mengembangkan dirinya secara lahiriah dan batiniah. Adanya prasarana yang baik dalam berbagai bidang turut mendukung persatuan bangsa. Akan tetapi yang lebih penting adalah kesadaran tentang hubungan harmonis antara bagian dan keseluruhan (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ; 1999).

Hubungan luar negeri dengan bangsa-bangsa lain diselenggarakan dengan baik untuk membina perdamain dunia dan kesejahteraan umat manusia. Khususnya dengan lingkungan Asia Tenggara ada hubungan erat dan harmonis. Terhadap bangsa-bangsa yang tergolong miskin dan terbelakang dapat diadakan bantuan lahiriah dan batiniah yang mengusahakan kemajuan mereka (Sajidiman, dalam “Pembebasan Budaya-Budaya Kita” ; 1999).

EPILOG

Dipahami bahwa kebudayaan merupakan respon positif manusia terhadap situasi dan kondisi yang terjadi di sekitarnya. Selain itu, budaya merupakan manifestasi dari aspek manusia yang multi-dimensional. Segala teori kebudayaan terlalu lamban untuk memahami keseharian manusia yang bergerak cepat. Manusia tidak sekedar merajut makna lewat kerja,melainkan komunikasi inter-subjektif dengan simbol-simbol.

Manusia sehari-hari adalah manusia yang bercakap, merenung dan mamaknai. Kebudayaan adalah festival kemajemukkan dimensi manusia dan menolak segala bentuk reduksionisme. Manusia bukan semata-mata makhluk ekonomi yang melulu berfokus pada bagaimana bertahan hidup. Ruang refleksi yang tertutup oleh determinasi kerja dibukakan secara kultural. Kebudayaan adalah lokus dimana manusia bukan sekedar pedagang dan pembeli, melainkan makhluk multi-dimensi. Setiap dimensi dalam dirinya memiliki hak yang sama untuk diutarakan ( Adian, dalam Kompas 14 April 2007;14)

Terkait dengan formulasi kebudayaan Indonesia, merupakan suatu keharusan kita untuk lebih menyelami karakteristik manusia-manusia Indonesia yang telah terbentuk sekian lama semenjak periode sebelum masehi. Dan juga harus mempertimbangkan faktor alam yang melingkarinya. Sehingga, kita tidak terpaku dan larut dalam arus kebudayaan global hari ini, yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa kita. Mudah-mudahan cita-cita menuju peradaban Indonesia yang maju bukanlah sekedar mimpi belaka!.

DAFTAR PUSTAKA

* BUKU Bakker, JWM. 1999. ”Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar”. Penerbit Kanisius; Yogyakarta. Dewantara, Ki Hajar. 1994. ”Kebudayaan”. Penerbit Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa; Yogyakarta. Sarjono. Agus R (Editor). 1999. ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita”. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama; Jakarta. Suseno, Franz Magnis. 1992. ”Filsafat Kebudayaan Politik”. Penerbit Gramedia Pustaka Utama; Jakarta.

* KORAN Adian, Donny Gahral. ”Manusia Multi-Dimensi di Keseharian”. Dalam Kompas Edisi Sabtu 14 April 2007. PT Kompas Media Nusantara; Jakarta. Editor. ”Pemanasan Global, Jutaan Orang Akan Terancam”. Dalam Kompas Edisi 12 April 2007. PT Kompas Media Nusantara; Jakarta.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Budaya

Resensi Buku

Februari 19, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar



MODAL BER-APOLOGETIK!

Judul : Yesus Tidak Bangkit?; menyingkap rekayasa Yesus historis dan makam Talpiot
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta

Penulis : Adji A. Sutama

Tahun : 2007, cetakan pertama
Halaman : xi + 295 halaman, 21 cm

Harga : Rp. 45.000

Beberapa waktu lalu, kita dikejutkan tentang penemuan Jacobovici, seorang arkeolog yang mengatakan Makam Talpiot adalah makam keluarga Yesus Nazaret (hal ix). Sesuatu yang menohok, yang sebelumnya haram untuk diobok-obok. Para tokoh-tokoh gereja menyebutnya, dia sengaja mengaburkan sejarah. Demikian pulan James D. Tabor yang mendukung penuh pendapat tersebut. Tabor terlalu utopis, berimajiner, menafsirkan sesuatu dengan angan-angan.

Buku ini mengkaji anggapan yang meragukan kebangkitan Yesus secara sistematis sebagai pegangan apologetik (pembelaan iman) untuk menolong umat mengerti duduk perkara sebenarnya. Iman kepada Kristus yang dibangkitkan dari kematian sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah premise bagi keyakinan-keyakinan selanjutnya seperti yang dikatakan Andar Ismail, penulis seri ”Seri Selamat” itu.

Sebuah studi untuk menyingkapi rekayasa Yesus historis dan makam Talpiot ditulis Adji A. Sutama alumni STT Duta Wacana tahun 1986. Namun, kekuatan Adji dalam buku ini terletak pada penggunaan sumber-sumber lisan, semacam penelitian kecil.

Merujuk pada hasil riset mendalam dari buku-buku kontroversi tentang Yesus, baik di dalam maupun luar negeri, Adji tampaknya cukup berhasil mengantarkan hasilnya ke khalayak dengan eksperimen yang masih langka dilakukan.

Buku ini lumayan bagus, tidak saja karena bahasanya yang enak dan mudah dicerna, tetapi kejutan akan data baru tentang Yesus. Maka, buku ini cocok bagi mereka yang serius mendalami teologia dan sejarah Kristen. Buku yang berjudul Yesus Tidak Bangkit?

Memang, Adji bukan seorang teolog atau sejarawan, oleh karenanya tidak akan ditemukan konsep dan interpretasi penulis dan catatan-catatan kaki di pembahasannya sebagaimana layaknya tulisan ilmiah sejenisnya. Namun, semangatnya menyusun buku ini, dalam menjernihkan dan melawan kesalahpahaman yang masih banyak dilakukan oleh penyesat.

Pesan buku ini, gamblang tentang penegasan iman Kristiani akan kebangkitan Kristus tidak perlu berlawanan dengan sikap kritis pada temuan ilmiah yang bertanggungjawab. Buku ini unik dan wajib dibaca semua kalangan yang berminat memperkaya dan merayakan iman secara jujur; cocok untuk dibaca semua kalangan profesi; dosen teologia, mahasiswa dan pendeta.

Bagi orang di luar wilayah tradisi Kristen, membaca bab-bab tersebut seolah kita diajak berdialog langsung dengan Adji. Pada lembaran-lembaran lain dari buku ini, terutama sekali kesimpulan bagian kelima (hal 288) memang terasa pendek, pembaca diajak menyimpukan sendiri. Kekurangannya yang lain masih ditemukan salah ketik di sana-sini, dan estimasi Bab yang kurang dibagi baik merata dari lima Bab. Misalnya; Bab pertama terlalu panjang (hal 1-151), pembaca dibuatnya bosan, hal tersebut tampaknya mengurangi nilai dan penghargaan terhadap penulis dan penerbit.

Akhirnya, seperti dinyatakan dalam pengantar bahwa gagasan penulis buku ini bermula sebagai peneguhan iman dari terpaan pemberangusan iman. Bila representasi luar terhadap iman Kristen dan sejarah tersebut dianggap masih kurang memuaskan sebagaimana diklaim oleh penulisnya, maka sudah sepatutnyalah kita tertantang untuk meneruskan jejak sang penulis buku ini dalam meluruskan sejarah yang dibengkokkan ilah zaman, maka mari menyambut buku ini sebagai apologetik pribadi dengan tangan terbuka sebagai pelengkap pembedaharan literatur teologia kita.

Peresensi: Hotman J Lumban Gaol

→ Tinggalkan KomentarKategori: Agama

Diskriminasi Terhadap Perempuan

Februari 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Komnas Perempuan Putri Reformasi

“Sekitar pukul 11.30, saya melihat beberapa orang di antara massa mencegat mobil dan memaksa penumpang turun, kemudian menarik dua orang gadis keluar dari mobil. Mereka mulai melucuti pakaian kedua perempuan itu dan memperkosanya beramai-ramai. Kedua perempuan itu mencoba melawan, namun sia-sia. Setelah kedua perempauan itu berhasil melepaskan diri dari orang-orang biadab itu, saya mendekati mereka dan mencari jalan aman untuk pulang. Karena saya tinggal di daerah itu, saya hafal jalan pintas menuju jalan raya. Sesampai di perempatan Cengkareng, saya melihat beberapa mayat perempuaan dalam keadaan telanjang, dengan muka ditutup koran. Perempuan-perempuan itu tampak telah diperkosa, karena dari vagina mereka terlihat leleran darah yang mengering dan dikerubungi lalat. Setelah menolong dua wanita itu, saya pulang melewati jalan yang sama. Ketika saya sampai di perempatan Cengkareng, mayat-mayat perempuan itu sudah tidak ada lagi. Ke mana mayat-mayat itu? Siapa yang membawa mereka?”

Itu bukan cerita fiksi tetapi kenyataan sejarah bangsa Indonesia, yang ditulis berdasarkan kesaksian mata yang diucapkan oleh seseorang di Muara Angke, Jakarta, pada tanggal 14 Mei 1998. Kekuasaan represif rezim Orde Baru Suharto akhirnya terpaksa mundur dengan tidak rela karena gempuran arus reformasi dengan meninggalkan luka dan kematian di antara pemuda, mahasiswa, dan rakyat, serta pemerkosaan keji terhadap perempuan etnis Tionghoa. Tiga belas pemuda yang gagah berani dan bercita-cita luhur diculik dan penguasa seperti sengaja membiarkan waktu menelan kabar berita di mana mereka sekarang berada. Berbagai kebrutalan berlangsung antara 13 dan 15 Mei 1998. Korban yang jatuh berbilang ribuan, tetapi siapa aktor tragedi itu tak jelas sampai detik ini. Atau tidak akan pernah terungkap untuk selamanya?

Binasanya manusia rupanya tidak cukup untuk para pendukung rezim yang fasistis, maka fasilitas umum, rumah ibadah, dan sekolah juga dirusak. Toko-toko dan beberapa pusat perbelajaan dijarah. Para saksi mata dengan bersumpah menceritakan bagaimana orang-orang yang bertubuh tegap, rambut cepak, menyuruh massa yang berkerumun untuk memasuki pusat perbelanjaan untuk menjarah sebagaimana yang telah mereka contohkan. Begitu massa merayap masuk, api tiba-tiba menjilat dan mereka yang terpancing oleh mulut para penjahat itu mati di dalam gedung dengan tubuh gosong tak bisa dikenali oleh orangtua yang melahirkan atau sanak saudara mereka. Kerusuhan yang kelihatan seperti disengaja itu menjalar di berbagai kota. Di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi tercatat di 24 titik dengan 1190 orang hangus terbakar, 92 luka-luka, 31 hilang, dan 27 meninggal karena senjata dengan berbagai cara. Belum terhitung korban di luar wilayah tersebut.

Yang tetap tinggal sebagai teka-teki adalah mengapa perempuan etnis Tionghoa yang dijadikan korban perkosaan. Menurut data yang dikumpulkan Komnas Perempuan, ada 152 perempuan yang menjadi korban perkosaan, 20 di antara-nya kemudian dibunuh. Keluarga Christianto Wibisono, seorang kolumnis yang dengan keras mengecam kebijakan (ekonomi) Presiden Suharto jadi korban. Rumah putrinya yang terletak di pemukiman mewah Pluit dibakar massa. Pluit boleh dikatakan merupakan konsentrasi pemukiman keturunan Tionghoa.

Christianto Wibisono, dulunya aktivis KAMI yang menjadi pendukung Suharto untuk menjatuhkan Presiden Sukarno setelah bencana politik G30S, menyebutkan kerusuhan Mei itu sebagai “Malapetaka pelanggaran HAM berat oleh rezim gemocide yang mengatasnamakan kedaulatan rakyat.” Ketika muncul dalam acara talk-show “Kick Andy” Metro TV, beberapa waktu kemudian, Chris demikian ia dipanggil, yang geram menyaksikan alat negara seperti sengaja membiarkan teror terhadap rakyat, terutama kaum perempuan (etnis Tionghoa) itu membara, dengan berang menuding, “Negara apa ini, tidak melindungi rakyatnya!”

Dengan duka dan keprihatinan yang dalam, dan merasa terpanggil oleh tanggungjawab kemanusiaan, 15 Juli 1998, sebanyak 20 aktivis perempuan, yang tergabung dalam “Masyarakat Anti Kekerasan Terhadap Perempuan” dari berbagai generasi dan dengan berbagai macam latar-belakang menghadap Presiden Habibie di Bina Graha. Pertemuan tersebut berlangsung setelah para aktivis perempuan mengajukan surat permohonan untuk bertemu yang ditandangani oleh 22 perempuan dalam kapasitas pribadi dari berbagai latar belakang agama, etnis, profesi, dan pengalaman. Mereka membawa tandatangan dari 4.000 orang yang sepakat menuntut pertanggungjawaban negara terhadap tindak kekerasan yang terjadi dua bulan sebelumnya. Surat permohonan yang serupa juga mereka sampaikan kepada Jenderal Wiranto, Panglima TNI pada waktu itu. Namun, surat itu tidak pernah mendapat tanggapan.

Pertemuan dengan Habibie ditebus dengan ketekunan perempuan yang sudah memancangkan tekad harus berhasil. Rombongan sempat mengalami peristiwa yang menggelikan. “Masuk ke lingkunagn Bina Graha yang mempunyai aturan protokoler ketat, salah satu anggota rombongan harus menukar celana panjangnya – kostumnya sehari-hari – dengan rok. Untung ada polwan baik hati yang bersedia meminjamkan roknya. Sepanjang siang itu, ia kelihatan canggung. Berkali-kali, ia membenahi dan menarik-narik rok pinjamannya,” kenang Saparinah Sadli, Ketua Komnas Perempuan, dalam lamporannya yang dimuat dalam “Tragedi Meri 1998 Dalam Perjalanan Bangsa: Disangkal!” terbit Mei 2003.

Dalam pertemuan tertutup yang berlangsung dua jam tersebut, Habibie menyambut baik usul aktivis perempuan tadi. Hasilnya, dibentuklah tim investigasi yang disebut “Tim Gabungan Pencari Fakta tentang Kerusuhan Mei 1998.” Habibie menyerukan pembentukan sebuah lembaga nasional yang proaktif mendorong penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan. Mekanisme nasional tersebut diwujudkan dengan pembentukan Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, disingkat Komnas Perempuan. Komisi nasional ini berdiri tanggal 15 Oktober 1998, berdasarkan Keputusan Presiden No.181/1998. Kemudian diperbaharui melalui Peraturan Presiden Nomor 65/2005, sebagai lembaga independen yang akuntabel dan responsif terhadap penegakan hak asasi perempuan.

Keputusan Presiden itu dicapai berkat ketegaran kelompok aktivis perempuan, sampai-sampai ada di antara mereka yang mengancam akan menginap di Bina Graha kalau Habibie tidak berkenan menerima mereka. Dialog dengan sang presiden lancar dan manis seperti pengantar makan siang. Tegang. “Kami tidak bersedia menerima uraian Pak Habibie yang intinya menyimpulkan bahwa pemerintah tidak perlu minta maaf. Sempat pula keluar ucapan dari presiden, ‘Jangan lupa. Saya baru 53 hari menjadi presiden. Banyak persoalan penting lain yang harus saya tangani,’” Saparinah menirukan sikap Habibie dalam satu laporan yang ditulisnya.

Berhadap-hadapan dengan tokoh perempuan dalam pertemuan tersebut, dalam membela sikapnya bahwa pemerintah “tidak perlu minta maaf” dengan jatuhnya korban peristiwa Mei, Habibie mencari analogi pada penindasan berdarah yang terjadi di Tienanmen Square, Beijing. “Saat itu, pemerintah Cina juga tidak minta maaf,” tangkisnya.

Saparinah Sadli menceritakan bahwa Habibie menanyakan kepada utusan perempuan yang datang menghadapnya tentang korban kekerasan seksual dalam peristiwa berdarah Mei. Saat itu ia seolah-olah teringat sesuatu. “Ya, saya ingat,” kata Saparinah mengulangi kata-kata Habibie, “Salah satu saudara saya, seorang dokter perempuan, juga pernah menceritakan hal serupa. Dia tidak akan bohong pada saya.”

Kenangan pada saudaranya itu membuat Habibie berubah. Dan, “Ia bersedia membuat pernyataan permintaan maaf dari pemerintah,” kata Saparinah Sadli. Habibie lalu mengajak tokoh-tokoh pergerakan perempaun itu menyusun formulasi pernyataan. Kalimat-demi-kalimat, untuk menghindari kekeliruan. Presiden Republik Indonesia yang ketiga itu kemudian menawarkan kepada tamunya untuk mengetik pernyataan permintaan maaf pemerintah itu dengan menggunakan komputer yang sedang nongkrong di lantai dua kantor Habibie.

Kemudian di depan kru televisi, disaksikan aktivis pembela harkat pertempuan tersebut, Habibie membacakan pernyataan resmi pemerintah sehubungan dengan peristiwa Mei. Sesuai dengan saran para tokoh perempuan, Habibie atas nama pemerintah menyatakan: 1) mengutuk dan meminta maaf atas terjadinya kerusuhan di berbagai kota besar yang telah menyebabkan kerugian material dan penderitaan non-material pada korban; 2) pemerintah segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, di mana penyelidikan terhadap kasus kekerasan seksal menjadi bagian yang integral, dan 3) pemerintah segera membentuk Komnas Perempuan.

“Habibie sangat baik, dia benar-benar demokratis,” kata Mely G Tan, mantan komisioner Komnas Perempuan, kepada waratawan TAPIAN, sambil mengacungkan-acungkan jempolnya mengenang pertemuan bersejarah yang berlangsung sepuluh tahun yang lalu itu.

Komnas Perempuan lahir dari darah dan air mata perempuan korban kekerasan yang kini belum mendapat keadilan dari bangsa dan negara ini.” Itu adalah kata-kata Kamala Chandrakirana, Ketua Komisioner Komnas Perempuan dalam pidatonya pada peringatan HUT ke-10 Komnas Perempuan, 25 November 2008. Komnas Perempuan lahir sebagai putri sulung reformasi.

Sebelum Komnas Perempuan berdiri, ada satu komisi nasional yang mengurusi hak-hak asasi manusia yang disebut Komnas HAM, yang didirikan Presiden Suharto di tengah-tegah gencarnya sorotan dunia internasional terhadap pelanggaran HAM di Timor Timur. Di mata banyak orang, komisi itu semacam etalase seakan-akan pemerintah menghormati HAM.

Lahirnya Komnas Perempuan selaras dengan deklarasi Konferensi HAM di Wina pada tahun 1993, yang menegaskan kekerasan terhadap perempuan adalah pelanggaran HAM. Deklarasi tersebut menyatakan: “Kekerasan terhadap perempuan bertentangan dengan martabat dan nilai kemanusiaan sehingga merupakan pelanggaran atas hak-hak dasar manusia.”

Tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Namun, pekerjaan yang harus dikerjakan menyiratkan lembaga ini bisa memberikan sumbangan yang sangat bermakna, tidak hanya untuk hak tetapi juga harga diri perempuan sebagai manusia. Pada tahun kedua masa baktinya, Komnas Perempuan berhasil mengkompilasi data kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani dari 179 lembaga (negara dan masyarakat) di seluruh Indonesia, dengan total kasus 14.000. Tahun berikutnya, sebanyak 221 lembaga dari 29 provinsi melaporkan 20.391 kasus yang ditangani.

Pada usia yang masih belia, sepuluh tahun, Komnas Perempuan telah memberikan harapan bagi tegaknya hak-hak perempuan. Komnas Perempuan juga mendasarkan kerjanya pada upaya pemenuhan hak-hak perempuan sebagai korban kekerasan. Selama 10 tahun, Komnas Perempuan mengupayakan agar perempuan di negeri ini bisa membebaskan diri dari belenggu sistem kekuasaan yang mengekang, membungkam hak-hak asasi mereka. Berbagai kerja dan upaya telah dilakukan secara bersama-sama oleh Komnas Perempuan, baik dengan pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM, akademisi, maupun lembaga-lembaga lain yang memperjuangkan kesetaraan.

Komnas Perempuan sangat peduli dengan masalah jender dan telah menjadi badan yang berdiri paling depan dalam memperjuangkan hak-hak asasi perempuan. Ada 13 orang komisioner yang dipilih berdasarkan proses panjang, yang diajukan para komisioner periode sebelumnya. Mereka diseleksi berdasarkan kriteria yang telah disepakati bersama.

Komnas Perempuan berpijak pada tujuh pilar. Pertama, masalah kemanusiaan, bahwa setiap orang wajib dihargai sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat. Kedua, kesetaraan jender, bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah setara. Ketiga, keberagaman, bahwa perbedaan suku, agama, ras (SARA) semestinya harus dihormati. Keempat, solidaritas, bahwa kebersamaan antara aktivis dan korban, di tingkat lokal, nasional dan internasional. Kelima, kemandirian, yang akan tercapai jika ada kebebasan dan kondisi yang kondusif lainnya bagi lembaga dalam penegakan hak-hak asasi manusia. Keenam, akuntabilitas, yaitu adanya transparansi dalam pertanggungjawaban terhadap masyarakat. Ketujuh, anti kekerasan, yaitu menentang tindakan-tindakan yang mengandung unsur kekerasan.

Komnas Perempuan menjadi “resource center” dan bertindak sebagai perunding dan mediator antara pemerintah dan korban, juga dengan komunitas pejuang hak asasi perempuan. Dia juga bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan dan penguatan jaringan di tingkat lokal maupun tingkat nasional untuk mengupayakan pemberdayaan perempuan.

Kekerasan dalam rumah tangga, perempuan dan undang-undang pornografi, hak pekerja migran, keadilan bagi perempuan dalam hukum keluarga, perempuan sebagai pembela dan penegak HAM merupakan wilayah kerja yang menjadi perhatian Komnas Perempuan. “Komnas Perempuan sangat penting keberadaannya dalam menjembatani pemerintah dan LSM perempuan,” ujar pendiri Yayasan PUAN Amal Hayati, Shinta Nuriyah Wahid.

Mesin kerja Komnas Perempuan bertumpu pada empat sub-komisi, yaitu sub komisi penelitian, pengembangan dan pendidikan, sub komisi reformasi hukum dan kebijakan, sub komisi pemantauan, dan sub komisi pengembangan sistem pemulihan. Ada pula gugus kerja (GK), yaitu GK Papua, GK Pekerja Migran, dan GK Perempuan. Untuk mendukung kinerja dibentuk divisi informasi, dokumentasi dan partisipasi masyarakat.

Dan dalam waktu yang relatif singkat, empat tahun terakhir, Komnas Perempuan menangani berbagai masalah jender. Yang penting adalah dampak dari kasus konflik sumber daya alam “Manggarai Berdarah” di Nusa Tenggara Timur, dan kasus konflik sumber daya alam di Teluk Buyat, Sulawesi Utara.

Selain itu, Komnas Perempuan juga turun tangan dalam menangani kondisi HAM perempuan pengungsi akibat konflik dan bencana alam Tsunami Aceh. Begitu pula dengan konflik bersenjata di Aceh dan penerapan Syariat Islam. Tak lupa pada tindak kekerasan di masa lampau, Komnas Perempuan juga menunjukkan kepedulian yang mendalam pada pengalaman getir perempuan serta stigma PKI yang mematikan dan kesewenan-wenangan yang terjadi tahun 1965. Diskriminasi berlapis terhadap perempuan dan anak dalam penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah juga menjadi kepedulian Komnas Perempuan. Kekerasan dan eksploitasi seksual terhadap perempuan dalam konflik bersenjata di Poso, Sulawesi Tengah, tak lepas dari kepeduliannya.

Masalah pemiskinan, globalisasi, dan migrasi juga menjadi perhatian. Tahun 2004, undang-undang tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia ke luar negeri disahkan, tetapi oleh Komnas Perempuan dianggap tidak memenuhi standar HAM internasional guna menjamin perlindungan bagi semua tenaga kerja yang keluar negeri. Dia juga mengecam gejala politisasi indentitas, seperti cara berpakaian, penggunaan warna khusus secara eksklusif, pemilihan kata dalam bahasa tertentu, di mana perempuan menjadi korban sementara tujuannya adalah perebutan kekuasaan.

Salah satu sukses cemerlang Komnas Perempuan yang takkan bisa dilupakan adalah Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yang disahkan akhir tahun 2004. Komnas Perempuan juga memperjuangkan pengesahan RUU Perlindungan Saksi dan Korban bersama organisasi masyarakat sipil lainnya, seperti ICW, Elsam, dan jaringan Prolegras Perempuan, tahun 2006.

Komnas Perempuan juga mengembangkan kurikulum pendidikan yang belum tersedia di Indonesia, misalnya tentang HAM berperspektif jender. Kurikulum ini dikembangkan melalui proses pelatihan yang melibatkan institusi pendidikan Komnas HAM serta lembaga-lembaga penegak hukum.

Untuk membangun Komnas Perempuan yang akuntabel, Komnas Perempuan menyampaikan pertanggungjawaban kepada publik secara berkala, yaitu melalui laporan maupun dialog langsung. Pihak luar juga diberi kemudahan untuk mengevaluasi kinerjanya. Sepanjang sejarah keberadaannya, Komnas Perempuan telah dua kali dievaluasi oleh tim eksternal yang berbeda-beda.

Sebagai lembaga publik, Komnas Perempuan tidak mungkin bisa bekerja sendiri untuk merealisasikan tujuan idealnya, karena itu dia perlu membangun sistim kerjasama profesional. Strategi kerja yang dikembangkan adalah bekerjasama dengan berbagai mitra perempuan. Tercatat duapuluh organisasi perempuan yang menjadi mitra kerjanya, tersebar di berbagai provinsi. Antara lain Cahaya Perempuan di Bengkulu, Forum HAM Perempuan di Batam, Women’s Crisis Center (WCC) di Palembang, WCC di Jombang, Forum Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) di Jawa Barat, Institut Perempuan, Bandung, Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Legal Resources Center Untuk Keadilan Gender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM), di Semarang untuk wilayah Indonesia bagian barat.

Sementara di wilayah Indonesia timur ada Komisi Wanita dari Kaum Ibu Sinode GMIM Tomohon, Sulawesi Utara; LBH APIK Makassar; Solidaritas Perempuan AM, KPI Wilayah Sulsel; LBH-APIK NTB, Mataram, Nusa Tenggara Barat; Sair (LPAP-MS) Kota Sorong, Lembaga Pemberdayaan Perempuan (LPP Bone), Bone Sulawesi Selatan; Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRuK-F) Maumere, Kupang; Demang Lebar Daun, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang; Yayasan Amnauf Bife, Kefamenanu Timor Tengah Utara, Kupang; dan Rumah Perempuan, Oiba Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tahun 2006, Komnas Perempuan membangun kerjasama dengan dua organisasi masyarakat, Syarikat Indonesia, dan Lingkar Tutur Perempuan, untuk mendokumentasikan pengalaman-pengalaman ibu-ibu korban dalam peristiwa 1965.

Volume pekerjaan yang harus digarap oleh Komnas Perempuan sejalan dengan bertambah besarnya masalah yang harus ditangani kaum perempuan. Perempuan, sebagai pengelola perekonomian pada tingkat terkecil, adalah korban pertama dari krisis ekonomi yang berkepanjangan sekarang ini. Ini terlihat dari betapa jurking-baliknya mereka dalam mengendalikan ekonomi rumahtangga akibat kenaikan harga bahan pokok yang datang tiada henti.

Dalam skala yang lebih kuas, manajemen sistem perekonomian nasional terlihat peluang lapangan kerja baru dalam proporsi yang besar justeru terketak di liar negeri. Jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan bertambah dari tahun ke tahun, sehingga godaan untuk mencari lapangan pekerjaan di luar negeri bertambah besar. “Wajah” tenaga kerja Indonesia di luar negeri adalah “wajah perempuan,” karena 80% dari seluruh tenaga kerja Indonesia yang berada di luar negeri adalah perempuan. Padahal, di luar negeri mereka berada di sektor yang “paling rentan” eksploitasi dan yang sering luput dari perlindungan hukum di negara asal mereka yang bernama Indonesia, apalagi di negara tujuan.

Dengan kasus tindak kekerasan di masa lampau maupun yang terjadi belakangan, rasanya idealisme yang diusung Komnas Perempuan untuk menegakkan harga diri dan martabat perempuan menuntut sikap pantang menyerah dan ketekunan pimpinan perempuan yang sejati. Estafet kepemimpinan di dalam tubuh Komnas Perempuan akan menentukan. *** Oleh: Hotman J Lumban Gaol

→ Tinggalkan KomentarKategori: Artikel

Hatop Manang Lambat Provinsi Tapanuli akan berdiri?

Februari 18, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hatop Manang Lambat Provinsi Tapanuli akan berdiri?

Demokrasi sebagai ideologi bangsa belum bersemayam di tiap hati dan pikiran masyarakat kita. Akibatnya demo anarkis Selasa, 3 Februari, lalu di Gedung DPRD Sumatera Utara memakan korban. Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Azis Angkat, 51 tahun, tewas. Siapa pun tidak setuju dengan demo brutal seperti itu. ”Semua yang melakukan pemukulan terhadap Abdul Azis Angkat harus dihukum. Tetapi, usul pembentukan provinsi Tapanuli tidak boleh dihentikan,” kata Luhut Panjaitan, purnawirawan Jenderal dan mantan Menteri Perdagangan dan Perindustrian, dalam wawancara dengan sebuah stasiun TV swasta baru-baru ini.

Provinsi Tapanuli merupakan aspirasi murni rakyat setempat. Tahun 1998, saat reformasi lahir, pintu terbuka untuk Tapanuli menjadi satu provinsi sebagaimana yang didambakan orang Batak. Sejak itu aspirasi tersebut terus didegung-dengungkan di berbagai pertemuan, tidak hanya di kota-kota Sumatera Utara, tetapi juga di Jakarta dan Bandung.

Nama Tapanuli berasal dari kata Tapian Na Uli (pemandian yang indah) yang terletak tepat di punggung kaki Bukit Barisan. Tapian Na Uli adalah nama satu perkampungan di tepi Samudera Indonesia dekat kota Sibolga. Penjajah Inggris ketika menduduki teluk itu (1772) menyebut tempat tersebut ”Bay of Tappanouly.” Sementara Belanda (1889) menyebutnya ”Baai Van Tapanoeli,” dan menjadikannya kerisidenan Tapanuli.

Karesidenan yang terdapat di Sumatera, hanya Tapanuli-lah yang belum menjadi provinsi, sementara saudaranya yang lain: Jambi, Bengkulu, Lampung, dan Bangka Belitung sudah terlebih dahulu menikmati posisi baru tersebut.

Entah mengapa, Tapanuli selalu saja tertinggal dalam pembagian kue pembangunan nasional. Banyak yang beranggapan jika Provinsi Tapanuli terbentuk maka pelayanan publik akan sangat dekat pada rakyat. Tapanuli yang selama ini dimasukkan dalam ”peta kemiskinan” diharapkan akan lepas dari rantai kemiskinan.

Pada awalnya, rencana pembentukan Provinsi Tapanuli adalah hasil kesepakatan bersama wakil-wakil dari karesidenan Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Nias, untuk manjae (mandiri).

Pertemuan pertama dihadiri 50 orang tokoh, berlangsung Mei 2001 di Jakarta. Disepakati pembentukan enam panitia persiapan di Jakarta, Medan, Sibolga, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Toba Samosir. Masing-masing punya kantor di wilayahnya.

Para tokoh masyarakat Batak kemudian menyelenggarakan pertemuan untuk membulatkan persepsi yang berlangsung 26 Maret 2002 di Jakarta. Keesokan harinya, wakil dari pertemuan tersebut terbang ke Medan untuk menggelar pertemuan dengan DPRD Sumatera Utara, dengan dihadiri dengan para bupati, walikota, dan gubernur.

Sementara itu, 6 April 2002 berlangsung Kongres Masyarakat Tarutung yang dihadiri puluhan ribu warga dari kabupaten-kabupaten yang mendukung pembentukan Provinsi Tapanuli. Gagasan tersebut disosialisasi secara luas.

Namun, di tengah jalan panitia pecah dalam berbagai kelompok, didorong oleh kepentingan yang berbeda, terutama menyangkut kota mana yang akan menjadi ibu kota provinsi yang masih dalam angan-angan itu. Ada yang memilih Siborong-borong sebagai ibu kota. Bukan Sibolga, sebagaimana rencana awal. Yang mndukung Sibolga menggunakan alasan sejarah bahwa Sibolgalah dulunya ibukota karesidenan Tapanuli. Letaknya di tepi pantai, pernah menjadi pelabuhan samudera terpenting di Sumatera. Orang-orang Portugis dan para pedagang dari Persia, Timur Tangah, dan India mengarungi lautan untuk mencapai Sibolga karena kemenyan dan kapur barus terbaik di dunia diangkut daerah Barus melalui pelabuhan tersebut.

Alasan lain untuk memilih Sibolga adalah bahwa Pinang Sori, terletak sekitar 40 km jauhnya, merupakan bandar udara yang lebih aman dibandingkan Silangit, di Siborong-borong, yang dijagokan oleh sementara pihak. Pinang Sori terletak tak jauh dari pantai, sementara Silangit sekitar 1000 meter di atas permukaan laut. ”Bandar udara yang baik adalah yang terletak tidak jauh dari permukaan laut,” kata seorang pengusaha yang kerap mondar-mandir Jakarta-Sibolga.

Faksi-faksi yang saling bertabrakan kepentingannya lantas bergerak sendiri-sendiri. Tapanuli Selatan dengan tiga kabupaten dan dua kota administrasinya memperjuangkan Provinsi Sumatera Tenggara. Nias berjuang untuk Provinsi Nias. Yang teguh untuk tetap memperjuangkan berdirinya Provinsi Tapanuli hanyalah kabupaten Tapanuli Utara, kabupaten Humbang-Hasundutan, kabupaten Samosir, dan Toba Samosir.

Tapanuli bagian selatan memperjuangkan Provinsi Sumatera Tenggara yang dimotori Forum Masyarakat Peduli Tapanuli Bagian Selatan (Fomad Tabagsel) yang dibentuk di Jakarta. Forum ini adalah kelanjutan organisasi pemuda naposo bulung Tapanuli Selatan yang dibentuk tahun 1972. Kini, Fomad Tabagsel menjadi tempat hatobangon (tokoh masyarakat) Batak bagian selatan untuk menyuarakan pendapat mereka. Tahun 2006, Forum mempersiapkan pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara, tanpa melibatkan Toba. Sebelumnya, Forum jugalah yang mengusulkan pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan menjadi Kabupaten Padang Lawas dengan ibu kota Subuhuan, Kabupaten Pandang Lawas Utara dengan ibu kota Gunungtua dan Kabupaten Tapanuli Selatan dengan ibu kota Sipirok sebagaimana yang telah menjadi kenyataan sekarang ini.

”Pembentukan Provinsi Sumatera Tenggara merupakan keinginan masyarakat Tapanuli Selatan. Ini murni bukan masalah agama. Tetapi, sejak dulu kita seperti Korea Utara dan Korea Selatan. Selalu silang pendapat,” ujar Ketua Fomad Tabagsel, Sanusi Siregar, beberapa waktu yang lalu di Jakarta.

Sementara itu, masyarakat Nias lewat Forum Mahasiswa Kepulauan Nias (Formapnis) menyatakan penolakan tegas untuk bergabung dengan Provinsi Tapanuli. Dan, malahan mengusulkan berdirinya Provinsi Nias.

Sabar Martin Sirait, salah seorang pemrakarsa Provinsi Tapanuli, yang bertempat tinggal di Jakarta, menyebutkan ”penolakan itu sah-sah saja.” Menurut dia, tak ada relevansi Nias dan Tapanuli Selatan dengan usul Provinsi Tapanuli, karena kedua wilayah tersebut tidak termasuk dalam Provinsi Tapanuli yang diusulkan dan diperjuangkan. “Apa relevansinya?” tanyanya saat ditemui TAPIAN.

Ada pula desas-desus yang mengatakan Sumatera Utara akan dibagi dalam lima provinsi. Tujuannya tak-lain-tak-bukan untuk mengagalkan cita-cita sebuah Provinsi Tapanuli, supaya tak satu pihak pun yang boleh bergembira. Dalam ungkapan orang Batak: ”Dang diho dang diahu, tumangonan ma dibegu” (Bukan untuk kau ”Protap”, bukan untuk saya, lebih baik buat setan). Uangkapan yang berbisa kedengarannya. Dan orang mulai mengejek, Provinsi Tapanuli belum berdiri, para pendukungnya sudah berkelahi.

Sudah terlalu lama tarik-menarik soal pembentukan Provinsi Tapanuli. Jika esensi demokrasi adalah rakyat, dan jika pembentukan Provinsi Tapanuli murni kehendak masyarakat Tapanuli, maka gagasan tersebut tentu tidak layak dihalang-halangi, tidak oleh dewan perwakilan rakyat. Ini adalah harapan mereka yang mendambakan adanya kesempatan untuk mengurus diri sendiri bagi Tapanuli. ”Hatop adong na diadu, lambat adong na pinaima (Cepat ada yang dikejar, lambat ada yang ditunggu), seperti kata umpasa, pribahasa Batak.***Hotman J Lumban Gaol

→ Tinggalkan KomentarKategori: Berita

Bekerja Untuk Siapa?

Februari 17, 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bekerja Untuk Siapa?

Oleh Hotman J Lumbangaol, S.Th

Agama Kristen selalu mengajarkan bekerja adalah panggilan. Kesalehan dan kemakmuran, atau mendikotomikan ibadah yang sakral dan kerja yang profan. Jika meninjau dunia kerja dari perspektif teologi Kristen mengatakan, seseorang tidak boleh mengapdi untuk dua tuhan. Alkitab jelas mengajarkan bekerja untuk siapa? Jika ia mengabdi untuk mamon (materialime), ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain.

Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Dalam alkitab Mamon disebut uang (harta). Jadi, untuk berkenan pada Tuhan, seseorang harus menolak dunia dengan segenap harta, kekuasaan, dan kemuliaannya. Jadi, umat harus memilih salah satu, berkenan pada Tuhan atau berkenan pada dunia. Akibatnya, umat yang ingin hidup benar dan saleh kemudian tertinggal dari derap kemajuan dunia. Lebih parah lagi, kaum saleh ini kemudian (bisa) terjebak dalam jenis keberagamaan yang campur aduk dengan elemen magis yang penuh takhayul, bidah, dan khurafat.

Makin jauhlah umat demikian tertinggal. Di pihak lain terdapat elite agama, misalnya di Eropa pada zaman Martin Luther, atau di Iran seperti yang digambarkan Sukidi, bersekutu erat dengan kaum penguasa, bahkan menjadi penguasa itu sendiri, bergelimang dengan keduniawian sambil atas nama konservatisme mengekang gerak dan aspirasi umat yang ingin bebas mengecap kemajuan, membuat keluruhan umat tertinggal dari modernitas yang umumnya dimotori oleh sains, teknologi, bisnis, investasi, dan manajemen terkini. Sesungguhnya dua hal itulah yang ditentang kemudian diperbarui oleh para reformis di Eropa, Iran, dan Indonesia. Pokok persoalannya, bagaimana mengharmoniskan iman dan rasionalitas, kesetiaan pada kitab suci dan aspirasi kemajuan, kesalehan dan kemodernan.

Sederhananya, bagaimana berkenan pada Tuhan dan berkenan pada dunia. Semangat kerja yang harus dimiliki orang Kristen adalah hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Sebab, Allah adalah Allah yang bekerja. Allah yang berkarya dan karyaNya sangat indah, bisa dinikmati. Manusia diciptakan Tuhan, manusia seogianya berkarya dan menghasilkan karya yang indah.

Etos Manusia Unggul

Ir Ciputra, Bos kelompok usaha properti dan real estate Ciputra ini. Sebenarnya, pria kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah itu terlahir pada 24 Agustus. Dalam buku bertitle The Ciputra’s Way; Praktik Terbaik menjadi Enterpreneur Sejati. Menurut Ciputra, Indonesia memerlukan banyak enterpreneur baru. Dia berharap, kehadiran wirausaha baru menjadi solusi atas sejumlah persoalan, terutama di bidang sosial-ekonomi dan ketenagakerjaan. “Indonesia saat ini kekurangan orang yang kreatif. Para menteri banyak yang kurang kreatif, kurang daya cipta.

Ciputra mengaku sebagai seorang entrepreneur lebih banyak bermodalkan “dahi” (otak) daripada dana. Dia menyadari pentingnya dukungan dari penyandang dana, pemilik tanah, pemberi izin, dan pembeli. Mereka kerap membiayai dan membeli propertinya meski masih dalam bentuk gambar. Ciputra sangat peduli soal sumber daya manusia. Dan mendirikan lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Ciputra merupakan orang yang berkemampuan mewujudkan keinginannya. Itulah etos kerja. Bahkan sebelum orang lain memikirkannya, membuktikan bahwa dirinya memiliki kapasitas tersebut. Keberhasilan Ciputra adalah make things happen. Misalnya, Ciputra menggunakan sumber air sungai Brantas untuk memenuhi kebutuhan Citra Raya. Grup Ciputra telah mengembangkan kawasan itu seluas 600 ha dengan sejumlah 8.000 residensial dan lapangan golf bertaraf internasional. Pada 2003, Citra Raya memosisikan dirinya sebagai The Singapore of Surabaya. Kini pohon Bisnisnya berkembang, berkat kreatifitas itu pula Ciputra melahirkan tiga grup bisnis properti. Ketiga perusahaan itu adalah Pembangunan Jaya, Metropolitan Development, dan Ciputra Development.

Ciputra melahirkan banyak proyek raksasa dan masuk kategori pelopor. Proyek Senen, misalnya merupakan pusat perbelanjaan moderen pertama di Tanah Air. Taman Impian Jaya Ancol kini menjadi pusat rekreasi favorit. Itu merupakan pusat rekreasi terbesar pertama di tanah air dan masuk 10 besar di dunia. Taman itu telah memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk menirunya. Andrias Harefa, terinpirasi menulis buku “The Ciputra Way Andrias pun memetik banyak pengalaman menarik, ketika mewawancarai Pak Ci sebagai bahan penulisan buku. Saat itu pak Ci meminta kliping proyek properti di Dubai, Uni Emirat Arab. Berpuluh puluh lembar kliping koran digelar di lantai. Pak Ci menjelaskan proyek properti yang akan dibangun oleh Ciputra harus seperti di Dubai.

Ciputra adalah contoh nyata seorang penganut ‘Etos Kristen’ wirausaha sejati. Dalam usianya ke-75, ia tetap aktif dalam menjalankan bisnis. Ia rajin datang ke kantor dengan semangat dan gembira, berdiskusi, dan memecahkan masalah bersama rekan-rekan sekantor. Etos yang diterapkan oel orang-orang hebat itu ibarat semangat batu baterei Alkaline, kecil namun tak pernah berhenti berjuang. Demikan pula daya tahan orang-orang yang memiliki etos kerja yang kuat, menghimpun energi tambahan pada semangat kerja yang telaten. Untuk menjaga dan mengembangkan semangat kerja, mereka bekerja dengan kesabaran yang terus terjaga dan mengembangkan etos kerjanya.

Sebab tanpa kegairahan dalam melakukan pekerjaan, seseorang tidak akan dapat meraih sukses. Maka, untuk membangun etos kerja yang terus menerus stabil, kita perlu mencintai pekerjaan yang sedang digeluti. Bagaimana pekerjaan mengairahkan? Intinya adalah fokus pada pekerjaan. Seperti Stephen Tong berjuang dan mengumuli pelayanannya; menghasilkan kotbah-kotbah yang bermutu dan buku-buku yang bermutu pula demi menunjang aktivitasnya. Meskipun jantungnya sudah delapan kali diberikan ring, ia tetap berjuang untuk mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Hal yang sama dalam bekerja di tempat apapun! Jika bekerja dengan kesenangan yang tulus, niscaya akan mengasilakan hasil yang bermutu pula.

Masalahnya, dunia dipenuhi orang-orang yang tidak bekerja dengan tulus, barangkali bisa bekerja aut-autan karena memang pekerjaan tersebut tidak disenangi. Ada pula orang yang ke tempat kerja, kantor, tetapi tidak mengerjakan apa-apa. Jika tidak menemukan keasikan dalam bekerja bisa akan menghambat pengembangan diri. Jika bekerja dengan terpaksa, bekerja semuanya terasa hambar, menguras energi tanpa hasil. Menyenangi pekerjaan yang tidak disukai memang tidak menyenangkan. Menjadi penyapu jalanan atau tukang pinggul misalanya, adalah pekerjaan yang tidak enak bagi sebagian orang. Memang pasir bukan mutiara, tetapi tahukah kita bahwa mutiara adalah pasir yang masuk ke dalam kerang yang dibungkus lama, sehingga menghasilkan mutiara.

Artinya, pekerjan yang dianggap hina sebagian orang belum tentu itu kebenaran. Lewat proses itu pengalaman menjadi hikmat. Hikmat menjadi kebijaksanaan, menjadi keariafan menjadi kemuliaan. Maka, elemen utama yang penting dalam membangun semangat kerja, yang menyenangkan orang-orang yang berkerja bersama dengan kita. Kemudian berusaha yang dapat dilakukan di tengah-tengah rutinitas pekerjaan Anda. Biasanya orang bekerja keras itu terlihat dari waktunya lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Bekerja dengan totalitas artinya memberikan semua yang Anda memiliki untuk mencapai keberhasilan atas pekerjaan yang Anda lakukan. Uanga berkerja untuk orang yang berkerja rajian. Bejamin Franklin mengatakan, orang-orang yang berpendapat bahwa uang melakukan apa saja kemungkina besar akan melakukan apa saja untuk memperoleh uang. Orang yang terbiasa bekerja dengan keras tidak takut bekerja apapun. Yang pasti, ia tahu bekerja bukan untuk uang, tetapi menemukan diri.***

*)Penulis adalah penggiat masalah budaya, dan pengelola weblog “Budaya Untuk Kemanusiaan” http:hojotmarluga.wordpress.com. Dia bisa dihubungi di e-mail:hojot.marlug@gmail.com

→ Tinggalkan KomentarKategori: Artikel