Perempuan adalah Mahluk yang Lebih Lemah?

Dialog bersama seorang Teolog-Feminis
Anna Garlin Spencer (1851-1931)

Siapa Anna Garlin Spencer

Ia merupakan seorang perempuan yang sukses dalam karir. Ia pernah berprofesi menjadi seorang guru sekolah umum, jurnalis, dan profesor yang mengajar ilmu-ilmu sosial di Universitas Wisconsin, serta mengajar Sosiologi dan Etika di Sekolah Teologi Meadville. Ia menikah dengan seorang pendeta bernama William H. Spencer pada tahun 1878.

Sebagai seorang feminis, ia diidentikan dengan pendiri organisasi gerakan perempuan, gerakan perdamaian dan sebagai pembicara rutin di seminar-seminar Nasional Amerika. Kemudian Anna juga memiliki hubungan dengan New York Society for Ethical Culture pada tahun 1903 hingga 1909 dan New York School of Philanthropy pada tahun 1903-1913. Ia merupakan perempuan pertama yang menjadi pendeta di Rhode Island-New York, yang melayani satu kapel tersendiri.

Karya Anna yang paling penting adalah Woman’s Share in Social Culture, yang menunjukkan keluasan kapasitas intelektualnya. Dalam buku tersebut Ia memaparkan kontribusi-kontribusi perempuan, mulai dari jaman primitif hingga modern, dalam suatu evolusi peradaban, serta peran perempuan dalam bidang industri, pendidikan, seni dan aspek-aspek kehidupan lainnya.

Peran Penting Perempuan

Dalam buku itu Anna juga menekankan bahwa tanggung jawab domestik perempuan seharusnya tidak diserahkan atau diambil alih oleh profesional, untuk konteks ini misalnya pengasuh anak. Anna yakin bahwa hal tersebut tidak praktis dari segi ekonomi dan tidak bermanfaat dari segi sosial. Menurutnya rumah dan keluarga merupakan suatu titik pusat yang penting bagi perkembangan kepribadian dan sosialisasi bagi anak-anak.

Hal lain yang menjadi fokus perhatiannya, adalah permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan yang memiliki bakat di dunia yang lebih luas di luar lingkungan rumah. Ia menjelaskan tentang banyak hambatan yang disebabkan oleh budaya yang didominasi oleh kaum laki-laki di berbagai jaman, yang mencegah perempuan berbakat untuk mewujudkan potensi mereka untuk meraih kesuksesan dan menjadi setara dengan laki-laki.

Sebagai contoh bahwa perempuan sebenarnya bisa berperan banyak, Catherine Hall pada tulisannya yang berjudul “The History of The Housewife” menunjukkan bahwa pada sekitar abad ke-14 di Inggris, perempuan memainkan peranan penting dalam bidang produksi. Meskipun posisi mereka masih tidak setara dengan laki-laki, namun mereka memainkan peran ekonomi yang besar di pedesaan, mereka menjadi koordinator dan penjaga kestabilan proses produksi. Perempuan mampu memainkan peran yang relatif independen dalam kehidupan ekonomi sehari-hari. Secara umum tidak ada batasan antara kehidupan bisnis dan kehidupan privat, dengan kata lain tidak ada pembedaan antara wilayah domestik dan publik bagi perempuan.

Perempuan melakukan pekerjaan yang berbeda-beda, seperti memintal benang dan membuat pakaian, memerah susu dan mengolahnya menjadi keju, pengobatan, bekerja di ladang bersama laki-laki, dan lain-lain. Selain untuk konsumsi keluarga, hasil produksi tersebut kemudian dijual dan menghasilkan pendapatan bagi keluarga. Keluarga di masa pra-kapitalis adalah keluarga yang merupakan suatu kesatuan unit ekonomi, yang artinya laki-laki, perempuan, dan anak-anak mengambil bagian dalam peran produksi.

Kritik Atas Gereja
Anna dalam esainya yang berjudul “The Social Use of the Post-Graduate Mother”, selain mengangkat soal dominasi kaum laki-laki atas perempuan dalam berbagai bidang, juga mengangkat tentang penyiksaan dan pembunuhan terhadap perempuan atas nama perburuan penyihir (witches) . Pada jaman pertengahan di Eropa para perempuan tersebut mengalami kesengsaraan atas tuduhan melakukan praktek ilmu sesat dan perbuatan yang dianggap menistakan Tuhan, sedangkan di awal abad-19 di Amerika tuduhan yang sama dijatuhkan pada para perempuan karena aktifitas dan pemikiran mereka yang dianggap tidak sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungannya.

Dia menyayangkan bahwa Reformasi gereja ternyata tidak membawa perubahan atas bentuk penyiksaan dan hukuman terhadap perempuan, dalam banyak kasus peristiwa kekerasan itu malah semakin meningkat. Di Jenewa saja ada sekitar 500 korban kehilangan nyawa hanya dalam jangka waktu tiga bulan, dan Luther mendeklarasikan bahwa dia tidak akan memberikan ampunan bagi para penyihir-penyihir (witches) serta akan membakar mereka semua. Di Skotlandia, akibat aliran mistik dan teologi yang gila, penghukuman dan penyiksaan yang terjadi umumnya mengerikan sekali. Peristiwa tersebut kemudian dikenal luas bahwa kepercayaan pada tahyul masih merentang sepanjang lautan dan mencoreng Protestanisme di Inggris. Kekerasan masih terjadi ketika seorang yang terkenal bernama Sir Matthew Hale menggantung dua orang perempuan yang dituduh sebagai penyihir pada tahun 1664, hingga eksekusi terakhir di Inggris terjadi pada tahun 1712.

Menurutnya ada dua alasan mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Pertama, ada suatu kebencian terhadap perempuan yang dikembangkan dan dibangun terus menerus secara keji. Para pemimpin gereja di masa-masa awal menyatakan bahwa perempuan merupakan titik pusat aktif dari pengaruh jahat. Untuk itulah masyarakat di masa itu memandang perempuan sebagai mahluk yang berbeda dan menempatkannya dalam suatu halusinasi yang maniak. Kebencian terhadap perempuan ini kemudian bertahan hingga abad keenam, setidaknya satu provinsial gereja melarang para perempuan untuk menerima Ekaristi dengan tangan mereka secara langsung karena alasan ketidaksucian.

Padahal sebagian besar peradaban di muka bumi yang percaya pada hal-hal yang supranatural dan mempersonifikasi dewi-dewi yang dipuja, seperti misalnya Hestia, kakak dari Zeus, Venus di peradaban Roma, Aphrodite di peradaban Yunani, Astarte di peradaban Phoenician, Istar di peradaban Assiria, Hathor di peradaban Mesir. Semua dewi-dewi tersebut melambangkan kekuatan dari cinta yang mengikat manusia secara bersama dan menghancurkan perbedaan antara mereka. Belum lagi tentang mitos Demeter dan Athena yang melambangkan sifat-sifat luhur perempuan yang berasal dari kebaikan bumi, serta lambang dari kedamaian tatanan kehidupan sosial.

Kecenderungan untuk memberikan penghormatan terhadap kekuatan perempuan melalui perlambangan dewi-dewi kemudian berakhir ketika era Kekristenan mulai berkembang dan melahirkan obsesi yang keji sehingga merubah semua bentuk pengagungan tersebut menjadi sesuatu yang kemudian dianggap berkaitan dengan pemujaan hal-hal yang jahat.

Tubuh Perempuan yang Ditakuti

Sedangkan alasan kedua yang diberikan oleh Anna lebih pada persoalan biologis. Menurut fakta-fakta yang berhasil dikumpulkannya, perempuan ternyata memiliki kekuatan fisik dan mental yang lebih dari laki-laki. Sebagai contoh, fakta menunjukkan bahwa jumlah penderita kematian akibat kelahiran prematur lebih banyak bayi laki-laki alih-alih bayi perempuan. Fakta juga menunjukkan bahwa jumlah manusia yang mampu bertahan hidup lebih lama kebanyakan adalah perempuan alih-alih laki-laki.

Mereka tidak hanya bisa bertahan hidup namun juga memiliki kesehatan dan daya tahan yang baik meskipun laki-laki memiliki otot yang kuat dan bisa diandalkan untuk urusan yang sifatnya mendesak dengan kekuatan yang meledak-ledak, serta susunan dan tegangan syaraf yang lebih stabil. Dengan hal-hal seperti itu secara tidak disadari ada semacam ketidaksukaan dan ketidakmengertian atas tubuh perempuan yang kemudian berubah menjadi sesuatu yang ditakuti.

Dari hasil pengamatan di jamannya, perempuan dipersulit dan seringkali ditolak ketika berusaha untuk belajar di dalam lembaga pendidikan. Hanya perempuan yang sudah membuktikan dirinya ’jenius’ atau punya kemampuan lebih yang diperbolehkan. Namun pertanyaannya, bagaimana para perempuan bisa menjadi jenius atau bisa menunjukkan kelebihannya sejak awal jika ia sama sekali tidak mendapat kesempatan? Karena siapapun tidak akan tahu bila perempuan secara umum tidak diberi kesempatan yang setara dengan laki-laki dalam bidang pendidikan, pelatihan dan pekerjaan, serta mendapatkan sambutan secara sosial atas karya-karya intelektual mereka. Karenanya tidak ada hal yang lebih bodoh dari usaha menilai batas kapasitas perempuan secara apriori.

Sebenarnya banyak perempuan yang mencapai kesuksesannya, meskipun namanya tidak begitu bergema sepanjang masa. Hal ini disebabkan salah satunya karena jejak kesuksesan perempuan hilang ketika perubahan nama mereka setelah melalui proses pernikahan karena harus mengikuti nama suaminya. Faktanya, beberapa perempuan tercatat dalam sejarah sebagai orang-orang yang dipuji karena kecerdasan mereka. Misalnya, Sappho yang hidup sekitar 500 tahun sebelum masa kita, yang disebut-sebut sebagai ”the poetess” seperti halnya Homer ”the poet” di Yunani. Kita juga tentu pernah mendengar sekitar lebih dari 30 puluh orang filsuf perempuan dan murid-murid perempuan yang belajar pada jenjang yang tinggi di Sekolah Pythagoras. Peradaban kuno dunia sekiranya juga telah menghasilkan banyak filsuf-filsuf perempuan, seperti Hypatian yang memimpin suatu sekolah dan dengan kapasitasnya Ia bisa didudukan setara dengan Sokrates.

‘Strong Women, Strong Nation’

Pandangan Anna mengenai rumah dan keluarga merupakan titik pusat yang penting. Sedangkan perihal mengurus anak yang sebaiknya tidak diserahkan pada para pengasuh juga menjadi fokus dari Plato dalam proses pendidikan anak-anak calon pemimpin Polis yang sebaiknya ‘dijaga’ relasinya dengan para pengasuh, atau juga budak dalam konteks masa itu, agar sikap para anak-anak tidak terpengaruh oleh mereka.

Meskipun Anna tidak menyinggung soal peranan modal yang turut menindas kaum perempuan seperti halnya para Feminis Marxis, namun bukan berarti dia tidak sadar serta mempersoalkan ketidakadilan yang terjadi di sektor industri terhadap perempuan. Menurutnya perkembangan industri yang semakin kompetitif telah dirancang sedemikian rupa sehingga para perempuan yang telah menikah tidak mampu mendapatkan keuntungan lebih atau layak seperti sebelum mereka menikah. Sedangkan di sisi perempuan sendiri ada suatu kecenderungan yang fatal, yaitu di kalangan perempuan muda yang baru menikah dan hanya memiliki pendidikan rata-rata membuang cita-cita serta profesi yang mereka miliki sebelumnya.

Dengan latar belakang disiplin ilmu sosial, teologi, dan filsafat, Anna Garlin secara mengagumkan menghasilkan banyak analisa dan kritik yang tajam atas realita yang terjadi pada masanya, serta menarik pelajaran dari analisa sejarah peradaban manusia dan Kekristenan. Dengan analisa sosial dan telogi, Anna menunjuk Kekristenan sebagai salah satu biang kerok dan mengkritik tindakan-tindakan gereja dengan menunjukkan kesalahan mereka dan memberikan argumentasi yang menelanjangi kedangkalan dogma-dogma yang digunakan dalam rangka mendiskriminasikan perempuan, kemudian menghubungkannya dengan analisa sosial sesuai dengan konteks.

Ia bicara mulai dari soal ‘tenggelamnya’ nama perempuan ketika ia menggunakan nama suaminya setelah menikah, pembatasan ruang gerak perempuan untuk mengembangkan potensi dan kemampuannya, diskriminasi perempuan di bidang pendidikan serta lapangan pekerjaan, penindasan terhadap perempuan atas nama agama, hingga mengumpulkan banyak fakta-fakta biologis bahwa sebenarnya perempuan tidak lebih lemah dari laki-laki. Kesetaraan adalah sesuatu yang sangat mungkin!

Potensi Pemanasan Global

Oleh Robert Goodland dan Jeff Anhang

Setiap kali mendiskusikan penyebab perubahan iklim, bahan bakar fosil menempati urutan teratas. Minyak bumi, gas alam, dan terutama batu bara memang sumber utama emisi karbon dioksida (CO2) dan gas-gas rumah kaca lainnya (GRK). Tetapi kami yakin bahwa siklus kehidupan dan mata rantai pasokan hewan yang dipelihara sebagai makanan telah sangat disepelekan sebagai sumber GRK, padahal kenyataannya industri peternakan bertanggung jawab terhadap setidaknya setengah dari seluruh GRK yang disebabkan oleh manusia. Jika argumen ini benar, berarti penggantian produk peternakan dengan makanan alternatif yang lebih baik akan menjadi strategi terbaik dalam membalik perubahan iklim. Kenyataannya, pendekatan ini memiliki pengaruh yang lebih cepat untuk mengurangi emisi GRK dan tingkat konsentrasinya di atmosfer – sehingga mengurangi laju memanasnya iklim – dibandingkan dengan tindakan-tindakan untuk menggantikan bahan bakar fosil dengan energi yang dapat diperbaharui.

Hewan ternak telah dikenal sebagai penyumbang emisi GRK. “Bayangan Panjang Peternakan (Livestock’s Long Shadow)”, laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) tahun 2006 yang telah dikutip secara luas, memperkirakan emisi sebesar 7.516 juta metrik ton ekuivalen CO2 (CO2e) per tahun, atau 18 persen emisi GRK dunia setiap tahun, dihasilkan oleh hewan ternak sapi, kerbau, domba, kambing, unta, kuda, babi, dan unggas. Dengan jumlah sebesar itu, peternakan sangat jelas memenuhi syarat untuk mendapat perhatian besar dalam mencari cara-cara untuk menangani perubahan iklim. Tetapi analisa kami memperlihatkan bahwa peternakan dan hasil sampingnya sebenarnya bertanggung jawab atas setidaknya 32.564 juta metrik ton CO2e per tahun, atau 51 persen dari seluruh emisi GRK dunia setiap tahun.

Ini adalah pernyataan tegas yang memerlukan bukti kuat, maka kami meninjau kembali secara menyeluruh sumber-sumber emisi GRK dari peternakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian dari hal ini sudah jelas tetapi ditaksir lebih rendah, sebagian terlewatkan, dan sebagian adalah sumber emisi yang telah dihitung tetapi ditempatkan pada sektor yang salah. Data peternakan sangat beragam dari lokasi ke lokasi dan dipengaruhi oleh ketidak-akuratan yang tak bisa dihindari; dan tidaklah mungkin untuk menghindari ketidak-akuratan dalam memperkirakan jumlah GRK, sehingga kami berusaha keras mengurangi jumlah itu agar perkiraan kami secara keseluruhan dapat diterima sebagai konservatif.

Gambaran Besar

Tabel di sebelah kanan adalah ringkasan dari kategori-kategori emisi peternakan dan perkiraan kami terhadap angkanya. Kami memulai dengan angka dari FAO 7.516 juta ton CO2e per tahun yang disebabkan oleh peternakan, sebuah angka yang didapat dengan menambahkan keseluruhan GRK terkait dalam pembukaan lahan untuk menggembala dan menanam pakan ternak, memelihara hewan ternak, pengolahan dan pengiriman produk jadi. Perhitungan kami menunjukkan 25.048 juta ton CO2e yang disebabkan peternakan telah dihitung lebih rendah dari kenyataan atau dilewatkan; dari subtotal itu, 3.000 juta ton ditempatkan secara salah, dan 22.048 juta ton semuanya tidak dihitung. Ketika jumlah ton yang tidak dihitung ditambahkan ke dalam persediaan GRK global di atmosfer, persediaan itu meningkat dari 41.755 juta ton menjadi 63.803 juta ton. Laporan FAO sebesar 7.516 juta ton CO2e yang disebabkan peternakan kemudian menurun dari 18 persen GRK dunia menjadi 11,8 persen. Marilah melihat masing-masing kategori GRK yang tidak dihitung atau salah penempatan:
Pernafasan. FAO meniadakan pernafasan hewan ternak dari perkiraannya, dengan penjelasan berikut:

Pernafasan dari hewan ternak bukanlah sumber CO2 bersih… Emisi dari pernafasan hewan ternak adalah bagian dari sistem biologi yang cepat berubah, dimana tanaman yang dikonsumsi terbuat dari proses pengubahan CO2 di atmosfer menjadi senyawa organik. Karena jumlah yang dikeluarkan dan diserap dianggap sama, pernafasan hewan ternak tidak dianggap sebagai sumber emisi yang bersih oleh Protokol Kyoto. Sesungguhnya, karena sebagian karbon yang dikonsumsi disimpan dalam jaringan hidup hewan yang bertumbuh itu, pertumbuhan kawanan ternak global bahkan bisa dianggap sebagai penyimpan karbon. Tingkat persediaan biomasa peternakan meningkat secara signifikan pada dekade terakhir… Pertumbuhan yang terus-menerus ini… dapat dianggap sebagai proses penyimpanan karbon (perkiraan kasar 1 atau 2 juta ton karbon per tahun).

Tetapi ini adalah cara yang keliru dalam melihat perkara ini. Kita periksa kenyataan penyimpanan karbon terlebih dulu: Penyimpanan karbon yang baik mengacu pada penyaringan CO2 dari atmosfer dan menimbunnya di dalam tempat penyimpanan atau dalam senyawa yang stabil sehingga ia tidak bisa lepas dalam jangka waktu lama. Bahkan jika seseorang menganggap tubuh hewan ternak sebagai penyimpan karbon, dari perkiraan FAO sendiri jumlah karbon yang tersimpan dalam hewan ternak terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah yang disimpan pada hutan yang dibabat untuk lahan menanam pakan ternak dan ladang merumput.

Lebih jauh lagi, industri peternakan (seperti mobil) adalah penemuan manusia demi kenyamanan, yang tidak ada pada zaman prasejarah manusia, dan molekul CO2 yang dihembuskan ternak sama tidak alaminya seperti CO2 yang dikeluarkan dari pipa knalpot mobil. Selain itu, meskipun dengan berjalannya waktu mungkin ada keseimbangan antara jumlah CO2 yang dihembuskan hewan dengan jumlah yang difotosintesiskan oleh tumbuhan, tapi keseimbangan tersebut tidak pernah statis. Saat ini ada puluhan miliar hewan ternak lebih banyak yang menghembuskan CO2 dibandingkan dengan zaman praindustri, sementara kapasitas fotosintesis Bumi (kemampuan untuk menghilangkan karbon di atmosfer dengan menyerapnya ke dalam tumbuhan) telah menurun tajam karena penebangan hutan. (Sementara itu, tentu saja, kita juga menambahkan karbon ke udara melalui pembakaran bahan bakar fosil, yang semakin memberatkan sistem penyerapan karbon.)
FAO menyatakan bahwa pernafasan hewan ternak tidak tercantum sebagai sumber GRK yang diakui dalam Protokol Kyoto, meskipun kenyataannya, Protokol tersebut mencantumkan CO2 tanpa pengecualian, dan “yang lainnya” dimasukkan dalam kategori rupa-rupa. Agar jelas, ini seharusnya juga dicantumkan secara terpisah dalam protokol apapun yang menggantikan Kyoto.

Memang menggoda untuk mengeluarkan satu atau sumber emisi antropogenik (yang dihasilkan oleh kegiatan manusia) lainnya dari perhitungan karbon – berdasarkan kepentingan pribadi seseorang – dengan alasan bahwa hal tersebut diimbangi oleh fotosintesis. Akan tetapi, jika mereka menganggap sah untuk menghitung mobil-mobil yang digerakkan oleh bahan bakar fosil sebagai sumber GRK, sementara ratusan juta orang tidak mengendarainya, maka sama sahnya untuk memperhitungkan pernafasan hewan ternak. Ratusan juta manusia hanya sedikit atau tidak mengonsumsi produk hewani, dan pernafasan ternak (tidak seperti pernafasan manusia) tidak dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia. Dengan mengeluarkan GRK yang disebabkan oleh pernafasan ternak dari neraca GRK, dapat diperkirakan bahwa hal itu tidak dikelola dan jumlahnya akan meningkat – seperti yang terjadi dalam kenyataan.

Karbon dioksida dari pernafasan hewan bertanggung jawab atas 21% GRK antropogenik di seluruh dunia, menurut perkiraan ahli fisika Inggris Alan Calverd pada tahun 2005. Dia tidak memberikan jumlah CO2, tapi ternyata ada sekitar 8.769 juta ton. Calverd adalah satu-satunya pencetus awal perkiraan dalam bidang ini, tetapi karena hanya melibatkan satu variabel (total berat seluruh hewan ternak, karena semuanya kecuali ikan budidaya berdarah dingin, menghembuskan CO2 yang secara kasar berjumlah sama per kilogramnya), seluruh kalkulasi CO2 dari pernafasan untuk berat tertentu pada hewan ternak akan berkisar sama.

Perkiraan Calverd tidak memperhitungkan fakta bahwa CO2 dari pernafasan hewan ternak dikesampingkan dari persediaan GRK global. Juga tidak memperhitungkan GRK baru yang diakibatkan oleh peternakan dalam analisis kami. Setelah menambahkan semua GRK yang relevan bagi persediaan GRK global, persentase GRK yang diakibatkan pernafasan peternakan turun dari 21 persen menjadi 13,7 persen.

Lahan. Sejalan dengan berkurangnya luas padang rumput secara global, otomatis cara satu-satunya untuk memproduksi lebih banyak hewan ternak dan pakannya adalah dengan membabat hutan alami. Pertumbuhan pasar produk-produk hewan ternak paling banyak terjadi di negara-negara berkembang dengan hutan hujan normalnya dapat menyimpan setidaknya 200 ton karbon per hektar. Ketika hutan berubah menjadi padang rumput, muatan karbon yang dapat disimpan per hektarnya berkurang menjadi 8 ton saja.

Secara rata-rata, setiap hektar padang rumput mendukung tak lebih dari seekor sapi, yang kandungan karbonnya berkisar satu ton saja. Bandingkan dengan hutan yang dapat menyerap lebih dari 200 ton karbon per hektar yang mungkin akan dilepaskan dalam waktu singkat setelah hutan dan tumbuhan lain dipotong, dibakar, atau dikunyah. Dari dalam tanah, per hektarnya ada 200 ton karbon lainnya yang mungkin dilepaskan, yang bakal ditambah lagi dengan GRK lainnya dari pernafasan dan kotoran hewan ternak. Jadi, hewan ternak dari jenis apapun merupakan “celengan” karbon kecil yang memicu pelepasan “celengan” karbon luar biasa besar yang tersimpan di dalam tanah dan hutan-hutan. Tetapi jika produksi hewan ternak dan pakan ternak berhenti maka hutan seringkali akan meremajakan dirinya kembali. Fokus utama dalam upaya-upaya untuk mengurangi GRK selama ini adalah pengurangan emisi, tetapi hutan yang mempunyai kemampuan untuk mengurangi dampak GRK secara cepat dan murah telah lenyap lebih dahulu.

FAO menghitung emisi yang disebabkan peralihan penggunaan lahan terkait dengan adanya hewan ternak, tapi nilai GRK yang dihitung dari perubahan itu setiap tahunnya relatif kecil. Anehnya, mereka tidak menghitung jumlah yang jauh lebih besar dari pengurangan penyerapan GRK tahunan karena telah hilangnya proses fotosintesis, yang menempati 26 persen lahan di seluruh dunia untuk merumput hewan ternak dan 33 persen lahan subur di seluruh dunia untuk menanam pakan ternak, alih-alih menganggap lahan itu berkembang kembali menjadi hutan. Membiarkan lahan tropis dalam jumlah besar yang dipakai untuk merumput hewan ternak dan menanam pakan ternak, untuk kembali menjadi hutan bisa berpotensi untuk menyerap sampai setengah (bahkan lebih) dari seluruh GRK antropogenik. Penyebab utama hal ini tidak terjadi adalah karena upaya reboisasi tanah yang telah digunakan untuk memelihara ternak dan bercocok tanam pakan ternak belum menjadi prioritas; sebaliknya, produksi pakan ternak dan perluasan lahan untuk merumput malah terus berkembang pesat merambah hutan.

Atau misalkan tanah yang digunakan sebagai tempat merumput hewan ternak dan menanam pakannya, digunakan sebagai lahan pertanian yang hasilnya dapat dimakan langsung oleh manusia atau dijadikan biofuel (bahan bakar dari tanaman). Bahan bakar ini dapat menggantikan setengah dari batu bara yang digunakan di seluruh dunia, yang bertanggung jawab atas 3.340 juta ton emisi CO2e setiap tahunnya. Jumlah tersebut mewakili 8 persen persediaan GRK seluruh dunia di luar tambahan GRK yang dihitung dalam artikel ini, atau 5,6 persen GRK seluruh dunia jika GRK yang dihitung di artikel ini dimasukkan. Jika jumlah biomasa dari pakan ternak dipilih dan diproses dengan benar, maka biofuel dapat menghasilkan 80 persen lebih sedikit GRK per unit energi dibandingkan batu bara. Oleh karena itu, emisi ekstra yang dihasilkan karena penggunaan lahan untuk berternak dan menanam pakan ternak bisa diperkirakan menjadi 2.672 juta ton CO2e, atau 4,2 persen dari emisi GRK tahunan di seluruh dunia.

Mengingat dua skenario yang masuk akal ini, paling tidak 4,2 persen GRK dunia seharusnya dihitung sebagai emisi terkait lenyapnya pengurangan GRK karena penggunaan lahan untuk merumput hewan ternak dan menanam makanannya.
Metana. Menurut data FAO, 37 persen metana yang dihasilkan oleh manusia berasal dari hewan ternak. Meskipun efek pemanasan metana di atmosfer jauh lebih kuat daripada CO2, tetapi umur paruhnya di atmosfer hanya sekitar 8 tahun, dibandingkan CO2 yang setidaknya selama 100 tahun. Sebagai hasilnya, pengurangan pemeliharaan hewan ternak secara signifikan di seluruh dunia akan mengurangi GRK secara lebih cepat dibandingkan dengan menerapkan kebijakan dalam energi terbarukan dan efisiensi energi.

Kapasitas GRK dalam menyerap panas di atmosfer disebut sebagai potensi pemanasan global / global warming potential (GWP), dengan CO2 ditentukan mempunyai potensi pemanasan 1 (GWP-nya = 1). Hitungan GWP terbaru yang secara luas telah disepakati untuk metana adalah 25 dalam jangka waktu 100 tahun – tetapi angkanya menjadi 72 jika menggunakan jangka waktu 20 tahun. Hal ini lebih cocok karena dampak metana yang besar akan berkurang dalam jangka 20 tahun dan dampak buruk perubahan iklim diperkirakan akan terjadi dalam jangka 20 tahun ke depan jika tidak ada pengurangan GRK secara signifikan. Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim juga mendukung penggunaan jangka waktu 20 tahun untuk metana.

FAO memperkirakan peternakan menghasilkan sekitar 103 juta ton emisi metana di tahun 2004 dari proses fermentasi di dalam pencernaan hewan dan pengelolaan kotoran ternak, ini setara dengan 2.369 juta ton CO2e. Jumlah ini adalah 3,7 persen dari GRK dunia, nilai yang dipakai FAO dengan acuan GWP 23 yang sudah kadaluwarsa. Jika menggunakan GWP 72, maka metana dari peternakan bertanggung jawab terhadap 7.416 juta ton CO2e atau 11,6 persen GRK di seluruh dunia. Jadi dengan menggunakan jangka waktu 20 tahun dan bukannya 100 tahun maka kenaikan jumlah metana yang diakibatkan oleh produk-produk hewan ternak adalah sebesar 5.047 juta ton CO2e atau 7,9 persen. (Perhitungan lebih jauh diperlukan untuk menyesuaikan kembali emisi metana selain hasil emisi yang terkait dengan produk-produk hewan ternak dengan mengunakan jangka waktu 20 tahun.)

Sumber-sumber lainnya. Empat kategori tambahan dari GRK setidaknya berjumlah 5.560 ton CO2e (8,7 persen emisi GRK) yang telah diabaikan atau dihitung lebih kecil oleh FAO dan tidak dihitung dalam total GRK di seluruh dunia saat ini:
Pertama, Bayangan Panjang Peternakan mengutip data statistik FAO pada tahun 2002 sebagai sumber utama untuk perhitungan 18 persennya. Dari tahun 2002 sampai 2009, perkembangan produk hewan ternak di seluruh dunia telah naik 12 persen. Hal ini tentunya menghasilkan kenaikan emisi GRK secara proporsional. Melalui ekstrapolasi dari perkiraan FAO serta perkiraan kami, kami menghitung bahwa kenaikan dalam produk hewan ternak dari tahun 2002 sampai 2009 bertanggung jawab terhadap kira-kira 2.560 juta ton CO2e, atau 4,0 persen emisi GRK.

Kedua, FAO dan yang lainnya telah mencatat sering terjadinya perhitungan yang lebih kecil pada statistik resmi jumlah hewan ternak di pedesaan dan industri. Bayangan Panjang Peternakan tidak hanya menggunakan faktor yang belum dikoreksi dalam perhitungan itu, tetapi pada beberapa bagian ternyata menggunakan jumlah yang lebih rendah daripada yang ada dalam statistik FAO dan lainnya. Sebagai contoh, Bayangan Panjang Peternakan melaporkan bahwa ada 33,0 juta ton unggas yang dihasilkan di seluruh dunia pada tahun 2002, sementara Gambaran Makanan (Food Outlook) FAO pada bulan April 2003 melaporkan bahwa ada 72,9 juta ton unggas diproduksi di seluruh dunia pada tahun 2002. Laporan itu juga menyatakan bahwa ada 21,7 miliar hewan ternak yang dipelihara di seluruh dunia, sementara banyak organisasi non-pemerintah melaporkan bahwa ada sekitar 50 miliar hewan ternak dipelihara setiap tahunnya di awal tahun 2000-an. Jika jumlah yang benar mendekati 50 miliar dan bukannya 21,7 miliar, maka persentase GRK di seluruh dunia yang didasarkan atas statistik jumlah hewan ternak resmi yang dihitung lebih kecil itu kemungkinan besar berada di atas 10 persen.

Ketiga, FAO menggunakan kutipan tentang berbagai aspek GRK dari hewan ternak pada tahun-tahun sebelumnya seperti tahun 1964, 1982, 1993, 1999, dan 2001. Emisi-emisi saat ini pasti jauh lebih tinggi.
Keempat, FAO menyebutkan Minnesota sebagai sumber data yang kaya. Tetapi jika data ini disama-ratakan ke seluruh dunia maka mereka mengecilkan nilai-nilai yang sebenarnya, karena kegiatan peternakan di Minnesota lebih efisien daripada kegiatan peternakan di sebagian besar negara-negara berkembang yang sektor peternakannya tumbuh paling cepat.
Terakhir, kami percaya bahwa FAO telah mengabaikan beberapa emisi yang telah dihitung di sektor lain di luar peternakan. Emisi-emisi ini berjumlah sedikitnya 3.000 juta ton CO2e, atau 4,7 persen emisi GRK di seluruh dunia.
Pertama, FAO menyatakan bahwa “pembabatan hutan yang berhubungan dengan hewan ternak seperti yang dilaporkan, contohnya oleh Argentina tidak dimasukkan” dalam perhitungan GRKnya.

Kedua, FAO mengabaikan peternakan ikan dari definisi hewan ternaknya sehingga gagal untuk menghitung GRK dari siklus hidup dan rantai pasokan mereka. FAO juga mengabaikan emisi-emisi GRK dari konstruksi dan operasi industri-industri di lautan serta di daratan untuk menangani organisme laut yang diperuntukkan memberi makan hewan ternak (sampai separuh dari tangkapan organisme laut tahunan).

Terakhir, FAO tidak menghitung jumlah GRK yang jumlahnya lebih tinggi pada masing-masing tahapan untuk menghasilkan produk hewani dibandingkan produk nabati:
• Fluorokarbon (Diperlukan untuk mendinginkan produk-produk hewani, jumlahnya jauh lebih banyak daripada produk nabati), yang memiliki potensi pemanasan global sampai beberapa ribu kali lebih tinggi daripada CO2.
• Memasak, yang biasanya memerlukan suhu yang lebih tinggi dan waktu yang lebih lama untuk memasak daging daripada produk nabati, dan di negara berkembang mereka memakai banyak arang (dengan menebang pohon sehingga mengurangi penyerapan karbon) dan minyak tanah. Masing-masing menghasilkan jumlah GRK yang tinggi.
• Pembuangan kotoran cair ternak yang tak terelakkan, juga limbah dari produk hewan ternak lainnya dalam bentuk tulang, lemak, dan produk-produk rusak, yang semuanya menghasilkan GRK dalam jumlah besar ketika dibuang di tempat pembuangan sampah, tempat pembakaran sampah, dan saluran air.
• Produksi, distribusi, dan pembuangan produk-produk sampingan seperti kulit, bulu, dan kemasannya.
• Produksi, distribusi, dan pembuangan kemasan yang digunakan untuk produk-produk hewani, yang untuk alasan kesehatan dibutuhkan lebih banyak daripada produk-produk nabati.
• Perawatan medis yang intensif karbon karena jutaan kasus penyakit zoonosis (yang disebabkan oleh hewan) di seluruh dunia (seperti flu burung) dan penyakit degenerasi kronis (seperti penyakit jantung koroner, kanker, diabetes, dan hipertensi yang mengarah pada stroke) berhubungan erat dengan konsumsi produk peternakan. Perhitungan GRK yang dihasilkan produk peternakan secara menyeluruh harus memasukkan juga emisi untuk konstruksi dan operasi industri-industri farmasi dan kesehatan yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit ini.

Mitigasi

Ancaman utama dari perubahan iklim adalah pertumbuhan populasi manusia, yang diperkirakan sekitar 35 persen antara tahun 2006 hingga 2050. Dalam periode yang sama, FAO memproyeksikan bahwa jumlah peternakan di seluruh dunia akan meningkat dua kali lipat, sehingga emisi GRK terkait peternakan juga akan meningkat kurang lebih dua kali lipat (atau meningkat sedikit lebih kecil bila semua rekomendasi FAO diterapkan sepenuhnya), sementara secara luas diharapkan bahwa GRK dari industri-industri lain akan turun. Hal ini akan menyebabkan jumlah emisi terkait peternakan bahkan lebih tidak dapat diterima dibandingkan tingkat saat ini yang sudah membahayakan. Hal ini juga berarti bahwa strategi yang efektif harus melibatkan penggantian produk peternakan dengan alternatif yang lebih baik, alih-alih hanya mengganti satu produk daging dengan produk daging lainnya yang dianggap lebih rendah jejak karbonnya.
Teori, keyakinan, dan bahkan kepentingan yang kuat telah dibangun di sekitar gagasan untuk memperlambat perubahan iklim melalui energi terbarukan serta efisiensi energi. Namun setelah perundingan iklim internasional bertahun-tahun dan berbagai usaha praktis, hanya sedikit jumlah energi terbarukan serta efisiensi energi yang sudah dikembangkan (bersama dengan lebih banyak prasarana energi nuklir dan energi fosil). Emisi GRK terus meningkat sejak protokol Kyoto ditandatangani pada tahun 1992 dan menyebabkan perubahan iklim semakin cepat. Betapapun dikehendaki, bahkan kemajuan besar dalam mengganti energi yang tidak terbarukan saja tidak bisa menggantikan peranan penting dari tindakan mengurangi emisi GRK terkait peternakan.
Tindakan untuk menghilangkan produk peternakan tidak hanya dapat mencapai pengurangan GRK di atmosfer dengan cepat, namun juga bisa membalik krisis pangan dan air yang sedang berlangsung di dunia. Seandainya rekomendasi yang dijabarkan di bawah ini diikuti, setidaknya 25 persen pengurangan produk peternakan di seluruh dunia dapat dicapai antara saat ini hingga tahun 2017, akhir periode komitmen yang akan dibicarakan dalam konferensi iklim PBB di Kopenhagen pada bulan Desember 2009. Hal ini akan menghasilkan paling tidak pengurangan 12,5 persen emisi GRK antropogenik global, yang sudah hampir mencapai pengurangan seperti yang secara umum diharapkan untuk dinegosiasikan di Kopenhagen.
Karena mendesaknya untuk memperlambat perubahan iklim, kami percaya bahwa merekomendasikan perubahan kepada industri secara langsung akan lebih efektif dibandingkan merekomendasikan pemerintah untuk mengubah kebijakan yang belum tentu bisa menghasikan perubahan pada industri. Hal ini benar meskipun industri dan investor biasanya berhasil jika tanggap terhadap konsumen serta pemegang saham dalam jangka pendek, sementara iklim hanya dipandang sebagai risiko jangka panjang.
Gas rumah kaca yang berkaitan erat dengan peternakan dapat diatur oleh pemerintah dengan mengenakan pajak karbon (walaupun ada tentangan dari industri peternakan), dengan begitu para pemimpin dalam industri makanan dan para investor akan mencari peluang lain dan pajak karbon dapat membantu mewujudkannya. Kenyataannya, mereka mungkin akan mencari keuntungan dari peluang semacam ini meskipun tidak ada pajak karbon, karena emisi GRK terkait peternakan adalah risiko yang besar bagi industri makanan. Bencana iklim diramalkan akan lebih besar mengancam pasar yang sudah ada, dan akibatnya akan lebih membahayakan pasar yang sedang berkembang, di mana industri makanan diramalkan akan mendapatkan pertumbuhan terbesarnya jika tidak ada bencana tersebut.

Peluang

Sebuah perusahaan makanan setidaknya mempunyai tiga insentif untuk menanggapi risiko dan peluang pada industri makanan secara umum. Insentif pertama adalah perusahaan makanan telah rugi akibat bencana iklim, jadi kepentingan perusahaan itu sendiri bisa dilindungi dengan memperlambat perubahan iklim. Di daerah-daerah yang terlanda, bencana iklim bisa diperkirakan tidak hanya mengurangi pasar industri makanan, tetapi juga merusak prasarana dan kemampuannya untuk beroperasi. Sebagai contoh, semua resiko ini terjadi di wilayah New Orleans pada tahun 2005 karena badai Katrina, ketika perusahaan Whole Foods Market melaporkan kerugian sebesar US$16,5 juta pada tahun itu karena toko-tokonya rusak dan tutup di wilayah New Orleans, tidak ada penjualan, dan harus memperbaiki toko-toko yang rusak itu. Risiko seperti ini akan diperburuk oleh bencana iklim ekstrem di kemudian hari, yang kejadiannya dan kekuatannya diperkirakan akan meningkat di seluruh dunia.
Insentif kedua muncul dari besarnya kemungkinan setelah krisis ekonomi saat ini selesai, permintaan terhadap minyak akan naik ke tingkat yang tidak mungkin untuk dipenuhi karena menurunnya produksi (fenomena “puncak minyak”). Harga minyak bumi akan meningkat sangat tajam sehingga akan menghancurkan banyak bagian dari ekonomi sekarang. Produk-produk hewani akan menderita pukulan tambahan karena setiap gram biofuel dari hasil panen yang bisa diproduksi untuk menggantikan bahan bakar konvensional kemungkinan besar akan diproduksi – dan dengan demikian dialihkan dari peternakan – sebagai usaha untuk menghindari bencana. Hal tersebut telah diperkirakan oleh mereka yang bergerak di sektor peternakan dan sektor finansial karena fenomena “puncak minyak” dapat membawa kehancuran pada sektor peternakan dalam beberapa tahun. Untuk menjadi pemenang pada kompetisi dalam skenario tersebut adalah alasan lain bagi para pemimpin dalam industri makanan agar secepatnya mulai menggantikan produk hewaninya dengan alternatif yang lebih baik.
Insentif ketiga yaitu sebuah perusahaan makanan dapat memproduksi dan memasarkan produk alternatif pengganti produk hewani yang memiliki rasa serupa, tetapi lebih mudah dimasak, lebih murah, dan lebih sehat, sehingga lebih baik daripada produk hewani. Produk-produk alternatif ini dapat berupa daging sapi, babi dan ayam dari kedelai dan seitan (gluten gandum); susu, keju dan es krim dari kedelai dan beras.
Penjualan produk-produk kedelai pengganti daging di Amerika Serikat saja telah mencapai US$1,9 miliar pada tahun 2007, meningkat dari US$1,7 miliar pada tahun 2005, menurut Asosiasi Makanan Kedelai Amerika Utara. Sebagai perbandingan, penjualan produk daging di Amerika Serikat (termasuk unggas) mencapai $100 miliar pada tahun 2007. Rasio 1,9 berbanding 100 ini menunjukkan banyak ruang untuk tumbuh bagi penjualan produk pengganti daging dan susu. Produk pengganti daging dan susu telah dijual di seluruh negara berkembang, dan seperti di Amerika Serikat, penjualan telah meningkat pada tahun-tahun belakangan ini. Jadi, berbagai usaha untuk meningkatkan penjualan produk-produk ini di negara berkembang tidak harus menunggu usaha yang serupa sukses terlebih dulu di negara maju. Di seluruh dunia, pasar untuk produk pengganti daging dan susu memiliki potensi hampir sebesar pasar untuk produk hewan ternak.
Perusahaan makanan organik skala besar mungkin melihat kesempatan-kesempatan ini sangat menarik. Perusahaan seperti itu dapat membentuk anak perusahaan untuk menjual produk pengganti daging dan susu, mungkin secara khusus. Mereka dapat secara signifikan meningkatkan produksi dan penjualan produk pengganti dalam beberapa tahun dengan biaya modal yang masuk akal dan pengembalian investasi yang menarik. Dan karena produk pengganti daging dan susu diproduksi tanpa proses intensif GRK yang digunakan dalam memelihara ternak – seperti emisi CO2 dan metana dari hewan, dan penggunaan lahan untuk menanam pakan dan penggembalaan ternak – produk pengganti jelas menghasilkan GRK yang jauh lebih sedikit daripada produk peternakan. Jadi, pendapatan tambahan mungkin bisa diperoleh dari penjualan kredit karbon untuk pengurangan emisi GRK yang diperoleh melalui produk pengganti dibandingkan dengan produk ternak.
Produk pengganti susah dibedakan dari daging dan produk susu ketika mereka dipotong, dilapisi bubuk roti, diberi saus, dibumbui, atau proses yang lain, jadi berada di antara strategi berisiko paling kecil bagi anak perusahaan untuk membangun jaringan gerai makanan cepat saji yang menghidangkan burger kedelai, produk ayam kedelai, sandwich yang dibuat dengan berbagai produk pengganti daging dan/atau es krim kedelai. Jika jaringan ini berkembang dengan pesat, maka perusahaan makanan lainnya akan tergoda untuk mengikuti pelopor itu.
Jika produksi produk pengganti daging dan susu meningkat secara signifikan, maka harganya akan turun – suatu keuntungan utama setidaknya selama resesi ekonomi saat ini masih berlangsung di banyak negara. Selanjutnya akan terjadi penurunan harga dari skala ekonomi dan peningkatan persaingan di antara para pembuat produk pengganti, juga karena bahan baku utama untuk biodiesel adalah minyak kedelai. Memenuhi perkiraan permintaan biodiesel yang jauh lebih tinggi akan menghasilkan surplus makanan kedelai, yang tidak hanya merupakan produk sampingan dari minyak kedelai, tetapi juga adalah bahan baku produk pengganti daging dan susu. Kelebihan persediaan makanan kedelai bisa menurunkan harganya secara signifikan.
Bagi konsumen yang tidak suka makan produk pengganti daging dan susu, kacang polong dan padi-padian berprotein tinggi telah tersedia sebagai alternatif. Pilihan lainnya adalah daging buatan yang ditumbuhkan di laboratorium dari sel-sel hewan ternak, kadang-kadang disebut daging “in vitro”. Beberapa percobaan telah dilakukan dan sejumlah paten telah didaftarkan, tapi produksi dan kemungkinan pemasarannya baru bisa dilakukan beberapa tahun lagi dan ini akan cukup lama sebelum diketahui apakah daging in vitro bisa bersaing dengan produk pengganti dalam hal harga dan rasa, serta dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan.

Pemasaran

Untuk mencapai pertumbuhan yang dibahas di atas akan membutuhkan investasi yang signifikan dalam pemasaran, terutama karena produk pengganti daging dan susu merupakan hal baru bagi banyak konsumen. Kampanye yang sukses akan menghindari tema negatif dan menekankan hal-hal yang positif. Misalnya, merekomendasikan agar tidak makan daging satu hari setiap minggu berkesan mengurangi hak. Alih-alih, kampanye sebaiknya menyuarakan tema makan selama seminggu dengan berbagai makanan yang lezat, mudah disiapkan, dan memasukkan “makanan super” seperti kedelai, yang akan memperkaya kehidupan mereka. Ketika orang mendengar pesan menarik tentang makanan, mereka mendengarkan terutama pada kata-kata yang menimbulkan kenyamanan, keakraban, kebahagiaan, kemudahan, kecepatan, harga murah, dan popularitas. Karena itu, beberapa tema lain harus digunakan untuk membangun kampanye pemasaran yang efektif:
Dengan menggantikan produk ternak dengan produk pengganti, konsumen dapat mengambil tindakan tunggal yang kuat secara kolektif untuk mengurangi sebagian besar GRK di seluruh dunia. Pelabelan produk pengganti dengan sertifikat tentang berapa jumlah GRK yang dihindari dapat memberikan keunggulan yang signifikan.
Produk pengganti lebih murah, lebih hemat, lebih mudah dimasak, dan lebih sehat daripada produk ternak.
Produk pengganti daging dan susu dapat diposisikan sebagai produk yang jelas jauh lebih unggul daripada produk ternak, sehingga menarik konsumen yang sama dan mendorong pembelian produk-produk pengganti lainnya, seperti halnya Rolex imitasi.
Di negara berkembang, yang konsumsi daging dan susu per kapitanya lebih rendah daripada di negara maju, konsumen sering menganggap daging dan produk susu sebagai bagian dari pola makan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih baik, dan belum diberitahu tentang dampak buruk dari makanan tersebut. Namun, produk pengganti daging dan susu bahkan dapat memberikan hasil yang lebih baik, terutama jika dipasarkan dengan maksud seperti ini.
Seperti yang telah ditunjukkan oleh pengalaman bisnis hijau, target kampanye yang paling tepat adalah aktivis lingkungan, dengan alasan bahwa mengonsumsi produk pengganti daging dan susu adalah cara terbaik untuk melawan perubahan iklim. Mereka diharapkan dapat menyebarkan pesan tersebut kepada orang lain, dan dapat meminta agar produk pengganti dihidangkan pada pertemuan-pertemuan yang mereka hadiri untuk menghindari GRK dan hal ini bisa menjadi publikasi yang baik.
Mungkin anak-anak adalah sasaran yang paling mudah dipengaruhi dengan makanan baru dan makanan cepat saji karena mereka cenderung untuk mengikuti iklan, memiliki kebiasaan tertanam yang lebih sedikit daripada orang dewasa, dan sering mencari tren baru. Orangtua sering ikut menyantap makanan cepat saji atau produk makanan lain yang diminta oleh anak mereka. Pada saat yang sama, anak-anak semakin banyak dididik mengenai perubahan iklim di sekolah dan mencari aktivitas yang memungkinkan mereka melakukan eksperimen terhadap apa yang mereka pelajari. Tetapi, mereka adalah target utama pemasaran produk ternak, walaupun produk ini memiliki risiko iklim yang sangat tinggi. Untuk memperbaiki hal ini, harus dipertimbangkan untuk mengubah standar yang dapat dipakai dalam pemasaran kepada anak-anak. Dalam berbagai kegiatan, penjualan produk pengganti daging dan susu kepada anak-anak seharusnya menjadi prioritas.
Sebagai tambahan, perusahaan makanan dapat memasarkan produk pengganti daging dan susu melalui kerja sama strategis dengan perusahaan lain. Mereka dapat bekerja sama dengan sekolah, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah. Aktivis lingkungan dengan keahlian terkait dapat diminta untuk melakukan pelacakan terus-menerus dan menyeluruh terhadap GRK yang disebabkan oleh produk peternakan dan produk pengganti. Politikus dan selebriti dapat dilibatkan untuk mempromosikan kepada konsumen agar memilih alternatif dari produk peternakan.
Kami merekomendasikan agar sewaktu penjual bahan makanan merencanakan peragaan dan penetapan biaya penempatan (untuk penempatan rak yang menguntungkan), mereka mempertimbangkan keuntungan dari meletakkan produk pengganti berdampingan dengan daging dan produk susu. Hal ini membuat produk pengganti dapat terlihat oleh banyak konsumen dan dengan demikian akan meningkatkan penjualan mereka. Ini akan dapat memberikan hasil penjualan yang baik yang secara normal terjadi apabila konsumen diperlihatkan kepada bermacam bentuk produk di rak yang sama. Dengan harga produk pengganti yang lebih murah daripada produk daging, meletakkan saling berdampingan akan dapat meningkatkan keuntungan penjual bahan makanan. Jika konsumen membandingkan dan menemukan bahwa produk pengganti lebih murah daripada produk peternakan maka penempatan saling bersebelahan dapat menolong penjual mempertahankan volume penjualan mereka di saat kondisi ekonomi menurun.

Sumber Investasi

Sebuah perusahaan dengan rencana yang baik untuk meningkatkan penjualan produk pengganti daging dan susu sangat mungkin mendapatkan modal usaha yang cukup dari para investor yang mencari peluang investasi yang dapat membantu memperlambat perubahan iklim. Ia juga bisa mendapatkan pinjaman konsesi melalui lembaga kredit pembangunan dan “dana iklim”. Tetapi, mungkin perlu untuk meningkatkan kesadaran di antara para investor yang tidak akrab dengan produk pengganti daging dan susu.
Para investor dapat ditunjukkan bahwa adalah demi kepentingan mereka sendiri untuk menghindari investasi baru dalam produksi daging dan susu dan sebaiknya mencari investasi dalam produk-produk pengganti. Dibandingkan dengan proyek energi dan transportasi, proyek produk pengganti dapat diterapkan dengan cepat, dengan tingkat penambahan investasi yang relatif rendah, tingkat pengurangan GRK yang lebih besar untuk jumlah investasi yang sama, dan pengembalian investasi yang lebih cepat.
Investasi untuk meminimalkan dan mengurangi GRK kebanyakan terfokus pada energi terbarukan di bidang energi dan transportasi. Namun, prasarana energi terbarukan mempunyai siklus pengembangan produk yang lama dan kompleks dan memerlukan modal yang besar. Mengubah armada kendaraan dan pembangkit listrik diperkirakan membutuhkan triliunan dolar dan memerlukan kemauan politik dan konsensus yang masih harus diupayakan. Sekalipun uang dan politik bersama-sama setuju melakukan tugas itu, solusi seperti ini diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk diterapkan secara penuh, saat di mana titik kritis dari bencana iklim yang tidak bisa dipulihkan mungkin telah lama terlampaui.
Sebagian besar bank komersial, sejumlah agen kredit ekspor, dan bahkan dana ekuitas telah menerima Prinsip Ekuator, yaitu mereka memiliki komitmen untuk mematuhi sekumpulan standar lingkungan dan kinerja sosial yang ketat untuk proyek investasi di negara-negara berkembang. Jika standar-standar itu menentang investasi dalam proyek peternakan skala besar, maka perusahaan dengan proyek produk pengganti daging dan susu memiliki posisi yang baik untuk menarik investasi.

Paket Manfaat

Proyek produk pengganti daging dan susu tidak hanya akan memperlambat perubahan iklim, tetapi juga membantu mengurangi krisis pangan global, karena dibutuhkan jauh lebih sedikit hasil pertanian untuk menghasilkan jumlah kalori tertentu dalam bentuk produk pengganti daripada produk ternak. Produk pengganti juga akan mengurangi krisis air global karena air dalam jumlah besar yang diperlukan untuk produksi ternak akan bisa dihentikan. Kesehatan dan gizi yang diberikan kepada konsumen akan lebih baik daripada produk ternak. Proyek produk pengganti akan lebih padat karya daripada proyek ternak sehingga akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang butuh keterampilan. Mereka juga akan terhindar dari praktik-praktik kerja berbahaya yang ditemukan di sektor peternakan (tetapi tidak ada dalam produksi produk pengganti), termasuk pekerja budak di beberapa daerah seperti kawasan hutan Amazon. Pekerja yang menghasilkan produk ternak dapat dengan mudah dilatih kembali untuk menghasilkan produk pengganti.
Tentu saja, sebagian hewan ternak akan terus dikembang-biakkan, terutama jika diperlukan dalam sistem usaha tani campuran. Mereka juga penting di daerah-daerah di mana sektor pertenakan merupakan salah satu cara bagi penduduk pedesaan yang kurang mampu untuk menciptakan aset dan mendapatkan penghasilan. Akan tetapi, hal itu semakin berkurang karena adanya perkembangan dramatis dalam penggunaan komputer, komunikasi bergerak, perbankan bergerak, kredit mikro, dan listrik luar jaringan (off-grid electricity) pada tahun-tahun belakangan ini, telah menciptakan banyak kesempatan baru bagi komunitas yang kurang mampu di pedesaan.
Selama bertahun-tahun, anjuran kepada alternatif dari produk peternakan didasarkan atas argumen tentang gizi dan kesehatan, kasih sayang kepada hewan, dan masalah-masalah lingkungan selain intensitas karbon. Penjelasan ini sebagian besar telah diabaikan dan konsumsi produk ternak di seluruh dunia telah meningkat, menyebabkan sebagian orang percaya bahwa anjuran semacam itu mungkin tidak akan pernah berhasil. Bahkan mendesak pemerintah untuk mengharuskan pengurangan produksi ternak atas dasar perubahan iklim mungkin tidak efektif karena industri makanan mempunyai kemampuan lobi yang kuat. Tetapi, bila bisnis produk pengganti daging dan susu jelas, maka mereka yang biasa melobi pemerintah dapat langsung menarik perhatian pemimpin di bidang industri makanan, yang mungkin akan menyambut mereka sebagai juara. Risiko bisnis proyek produk pengganti sama dengan sebagian besar proyek pabrikan makanan lainnya, tapi risiko akan dikurangi oleh fakta bahwa sebagian besar prasarana yang diperlukan (seperti untuk penanaman dan pengolahan biji-bijian) sudah ada.
Perubahan kuncinya adalah pengurangan produk peternakan secara signifikan. Pertumbuhan yang dipacu industri atau permintaan telah berhasil dalam industri lain, seperti industri komputer dan ponsel, yang berarti bahwa produk pengganti daging dan susu juga dapat meraih sukses. Pada umumnya, industri makanan di seluruh dunia memiliki kapasitas pemasaran yang sangat canggih, menjadikan pertumbuhan yang tinggi dari pemasaran produk makanan baru praktis adalah hal yang wajar – bahkan sebelum seseorang mempertimbangkan keuntungan esktra yang bisa diraih dari manfaat memperlambat perubahan iklim.
Risiko bisnis seperti biasanya mengungguli risiko perubahan. Pertimbangan untuk perubahan tidak lagi hanya sebuah kebijakan publik atau masalah etis, tetapi sekarang juga menjadi pertimbangan bisnis. Kami yakin bahwa membalik perubahan iklim dengan cepat adalah pertimbangan bisnis terbaik bagi semua industri.

Robert Goodland pensiun sebagai penasihat utama lingkungan Kelompok Bank Dunia (World Bank Group) setelah melayani di sana selama 23 tahun. Pada tahun 2008, dia dianugerahi Medali Coolidge Memorial yang pertama oleh IUCN atas sumbangannya yang besar terhadap pelestarian lingkungan. Jeff Anhang adalah petugas riset dan spesialis lingkungan di Perusahaan Keuangan Internasional Kelompok Bank Dunia, yang menyediakan pembiayaan sektor swasta dan saran di negara-negara berkembang.

Untuk informasi lebih banyak mengenai masalah yang diangkat dalam artikel ini, kunjungi : www.worldwatch.org/ww/livestock

wawancara dengan Bondan Gunawan tentang Gus Dur

Kalah, Tapi Wibawa atau Karismanya Tak Hancur

Gus Dur


Tak terhingga jumlah teman dan kenalan Gus Dur, tetapi sedikit yang berdampingan dengan Guru Bangsa itu sejak dia masih melata dalam perjuangan menegakkan demokrasi dan penghormatan terhadap keberagaman kepercayaan dan keyakinan sampai dia duduk di Istana. Di antara yang sedikit itu adalah Bondan Gunawan, sohib Gus Dur ketika mendirikan Forum Demokrasi tahun 1993, dari mana gerakan demokrasi menemukan momentum baru dengan tokohnya seorang yang sangat berakar di kalangan agama, tapi dengan visi kebhinnekaan.
Bondan tidak hanya menjadi teman Gus Dur yang enak dalam diskusi, tetapi juga ketika melonggarkan otot dan syaraf dengan mampir makan-minum di warung-warung sederhana di tepi jalan, berbaur dengan segala rupa orang tanpa merasa kehilangan harga diri.
Pria kelahiran Yogyakarta, 24 April 1948, lulusan fakultas teknik jurusan teknik geologi Universitasa Gajah Mada ini mencapai puncak karier politiknya sebagai Sekretaris Negara. Berdasarkan perintah Presiden Abdurrahman Wahid, dia membuat sejarah dengan masuk ke dalam sarang Panglima Angkatan Perang GAM, Teungku Abdullah Syafei, untuk menyelesaikan konflik Aceh di meja perundingan. Ketika mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari, menerima Nobel Perdamaian tahun 2008, mereka yang lupa akan sejarah berharap Susilo Bambang Yudhoyono akan menerima penghargaan serupa. Mereka lupa, Gus Durlah yang membuka jalan menuju perdamaian.
Bondan adalah adik Brigjen Katamso Dharmosaputro, Komandan Korem 072/Pamungkas, yang diculik dan terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Sekarang Bondan memimpin semacam paguyuban politik bernama Gugus Nusantara yang bermarkas di rumahnya di Cempaka Putih. Ke alamat ini suatu hari Gus Dur datang pada hari ulangtahunnya yang ke-68, dan Bondan merayakannya. Akankah teman dekat Gus Dur ini mengulang sejarahnya dengan jurus yang baru ini? Berikut petikan wawancara Hotman J. Lumban Gaol dan Martin Aleida dengan Bondan Gunawan mengenai Gus Dur:

Setelah Gus Dur menjadi presiden perubahan apa yang telah dia lakukan?

Gus Dur telah melakukan perubahan justru sebelum beliau menjadi presiden. Perubahan yang pertama kali beliau lakukan adalah ketika dia memimpin NU. Untuk menjadi ketua PBNU seseorang harus memenuhi ketentuan Dewan Syuro yang antara lain mengharuskan calon memahami Kitab Kuning. Gus Dur melepaskan ketentuan tersebut.
Sesudah dia menjadi presiden, banyak yang kita rasakan. Gus Dus semakin mengembangkan pluralisme dan juga memposisikan semua institusi pada tempatnya, reformasi birokrasi di seluruh bidang. Salah satu yang menjadi konsen beliau adalah bagaimana memisahkan polisi dari angkatan bersenjata. Dan menjabarkan dwifungsi. Itu yang sangat menonjol. Dan berikutnya adalah bahwa Istana Negara dan Istana Merdeka diposisikan dekat dengan rakyat, tidak dibuat jauh dari rakyat. Sehingga sistem protokoler yang selama ini berlaku beliau buat longgar.
Contohnya?
Dalam hal penerimaan tamu. Dia tidak pernah menolak tamu. Asal sampai ke telinganya, Gus Dur akan menerima. Tetapi, karena ketatnya protokol di Istana, maka dia buka pintu pertemuan di Jalan Irian, Menteng.
Forum Demokrasi didirikan dalam rangka apa?
Gus Dur dan teman-temanya merasa bahwa secara seremonial demokrasi ada. Ada pemilu, tetapi tidak ada perubahan bagi kepentingan rakyat. Apalagi pemilu itu tidak memberikan kemungkinan pergantian kepemimpinan nasional sebagaimana mestinya. Kalau hal ini berlanjut terus, tidak baik bagi masa depan bangsa. Tidak dihasilkan pemerintahan yang memikirkan kepentingan umum, yang ada adalah pemerintahan yang otoriter, atau dinasti pemeritahan yang kuat. Oleh karena itu, Gus Dur mengajak kita membangun Forum Demokrasi.
Anggotanya?
Dari berbagai kecenderungan ideologi. Dari teman-teman yang berasal dari berbagai agama, berbagai etnis, tidak ada batasan. Siapa saja bisa masuk. Badan pekerjanya lima orang: Gus Dur, saya sendiri, Todung Mulya Lubis, Marianne Katoppo, Alfons Taryadi. Sementara Marsilam Simanjuntak dan Rahman Tolleng menyusul kemudian. Kelompok kerjanya terdiri dari lima orang. Di dalam perkembanganya kita tidak pernah membatasi siapa yang masuk dalam kelompok kerja tersebut. Forumnya menyelenggarakan diskusi setiap Rabu. Dan kita juga punya pertemuan-pertemuan yang sifatnya terbatas. Ke pertemuan itu Marsilam Simanjuntak, Daniel Dhakidae, dan Rahman Tolleng sering datang.
Di mana pertemuan berlangsung?
Di Gondangdia. Di Jalan Cemara 5. Kemudian kita pindah ke Jalan Moria. Habis dari Jalan Moria kita pindah ke rumah ini (rumah Bondan di Jl. Cempaka Putih Raya). Setelah Gus Dur mendirikan PKB, kepengurusannya berganti, dan beliau mundur dari Forum Demokrasi, kemudian saya yang memimpin.
Bisa diuraikan tentang keputusan Gus Dur sebagai presiden yang memberikan kebebasan bagi masyarakat keturunan Tionghoa untuk merayakan budaya mereka?
Sebenarnya, sebelum menjadi presiden pun beliau bersama saya telah membentuk Yayasan Nur Kebajikan. Tugas yayasan ini utamanya mendorong MATAKIN, Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, agar mendapat tempat yang sama di masyarakat. Waktu itu, kita sepakat, bahwa agama tidak harus memperoleh pengakuan pemerintah segala. Karena menurut kita Konghucu itu sudah ada sebelum Indonesia ada. Dasar pemikirannya itu. Mengapa majemuk? Karena sejak dulu Indonesia itu bermacam-macam. Dan keberagaman itu kita perjuangkan supaya diakui. Kita melihat ada kesenjangan. Misalnya bagi mereka yang menikah secara Konghucu kalau melahirkan anak, mereka akan kesulitan mengurus akte kelahiran, karena Konghucu tidak diakui sebagai agama. Itu bukan hanya dialami oleh saudara-saudara kita peranakan Tionghoa. Demikian juga halnya, misalnya, dengan penganut Sunda Wiwitan, atau Parmalim di Tanah Batak sana. Boleh jadi kalau mengaku Parmalim tidak akan bisa mengurus akte kelahiran. Padahal, itu budaya. Parmalim sudah ada sejak dulu. Itulah sebabnya mengapa diupayakan untuk memberikan pengakuan.
Jadi, semua pemikiran itu sudah ada sebelum Gus Dur jadi presiden?
Dia tidak mencari popularitas.
Apa dasar pemikiran Gus Dur mengenai pluralisme?
Pluralisme itu didasarkan pada nilai-nilai lingkungan. Menurut Gus Dur, ketika kemajemukan itu ada maka daya dukung lingkungan akan tinggi. Sesunggguhnya kita diberikan Tuhan berbagai-bagai macam budaya. Dan menurut saya, tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak mengeliminir salah satu etnisnya. Misalnya, Amerika Serikat mengeliminir suku Indian, Australia mengeliminir Aborigin, Jerman juga begitu. Indonesia tidak! Di sini semua ada, semuanya punya tempat. Tidak ada kelompok yang disisihkan, walau memang ada yang tertinggal. Di Sumatera, misalnya, ada Suku Anak Dalam, di Papua pun demikian. Tetapi, kita memberikan tempat, dan mereka itu punya hak yang sama seperti suku bangsa yang lain. Itulah yang menurut saya yang dijadikan Gus Dur sebagai pijakan. Bahwa kita ini bangsa yang majemuk. Dia mempertahankan pluralisme, bahkan keyakinan-keyakinannya.
Termasuk mengubah nama Irian menjadi Papua?
Kalau itu memang keinginan masyarakat sana. Kenapa tidak! Setiap provinsi punya bendera, juga kabupaten. Selain merah putih sebagai bendera nasional, tidak masalah kalau ada yang mengibarkan Bintang Kejora. Bagi Gus Dur, Bintang Kejora itu indentitas Papua. Kenapa dilarang? Yang lain ’kan berpikir pendek. Dari dulu nama mereka memang Papua. Sekarang, apakah Tapanuli ingin memisahkan diri dari Indonesia, karena ada Taput ada Tapsel? Kadang-kadang timbul kesalah-pahaman dari mereka yang tidak mengerti secara mendalam tentang pikiran Gus Dur. Gagasan yang visioner dari Gus Dur jarang dipahami orang. Dan dia jarang menjelaskan apa yang menjadi kebijakannya. Kan kalau kebijakan itu dijelaskan bukan kebijakan lagi namanya. Jadi berisiko juga dengan sikapnya semacam itu.

Tetang ketetapan MPRS yang melarang Marxisme yang ingin dicabutnya?

Kita bukan orang-orang yang soliter. Apa urusannya sekarang, kalau ada sebuah idelogi, kalau sesungguhnya kita juga punya embrio ideologi itu. Cinta bangsa itu sikap nasionalisme kita dalam kaitannya dengan Negara. Kita juga memiliki watak kebersamaan yang dalam bahasa dulunya disebut ”gotong royong.” Gus Dur melihatnya dari situ. Bukan masalahnya mau memberi hati kepada PKI. Bukan tujuannya untuk membangun kembali PKI. Jadi, kalau soal itu adalah idelogi yang berada di tengah masyarakat kenapa tidak dikembangkan. Nah, lihat sekarang, lahirnya neolib. Orang, mau tidak mau harus mengakui karena tak adanya kebebasan, maka tidak ada yang mengontrol watak serakah neolib. Nah, ini contoh kongkrit. Secara empiris bisa dirasakan, dan bayangkan, sekarang tokoh politik pastilah orang-orang yang punya uang. Misalnya, Sitorus (DL Sitorus), dia bisa mendirikan partai. Kalau tidak punya uang bagaimana dia bisa mendirikan partai? Jangan harap bisa mendirikan partai kalau tidak punya uang. Nah, hal-hal semacam ini mengakibatkan perubahan dalam sistim nilai.
Sejauh mana pikirian Gus Dur berpengaruh pada Anda?
Saya dan Gus Dur berbeda ideologi. Dia itu NU, saya ini Sukarnois. Tetapi, kami punya kesamaan, pijakan kami adalah masyarakat tradisional. Basis NU adalah masyarakat tradisional, saya juga masyarakat tradisional yang sama yang ada di berbagai daerah. Jadi, pertemuan saya dengan Gus Dur itu bukan pertemuan pertemanan, tetapi pertemauan ideologis.
Orang juga akan bertanya-tanya kapan sebutan “Guru Bangsa” itu melekat pada diri Gus Dur, tahu-tahu dia menjadi guru bangsa. Gus Dur sendiri tidak pernah mempersiapkan, apalagi serius menjadi presiden. Yang lain punya uang untuk menjadi presiden. Gus Dur tidak punya! Waktu itu, sebelum masuk istana, dia tanya saya. “Mas, uang saya cuma tinggal seratus ribu lagi, bagaimana ini?” Lalu, saya bilang, nanti kita cari sama-sama. Jadi dialah presiden yang tidak punya uang.
Apakah Gus Dur lebih baik sebagai Bapak Bangsa daripada presiden?
Ada cerita, tetapi cerita ini sangat dramatis. Mengapa Gus Dur disebut Guru Bangsa. Satu hari, sesudah Forum Demokrasi terbentuk, saya barbicang-bicang dengan Gus Dur berdua. Kami memang sering berbicang-bicang berdua. Dia bercanda dan bilang begini, “Orang menganggap kita ingin menjadi presiden. Mas Bondan, kalau saya jadi presiden, teman-teman saya banyak yang hanya lulusan IAIN. Jadi, menterinya siapa?” Waktu itu tahun 1991, Suharto masih kuat.
Katanya, ”Kalau jadi presiden jangan lama-lama. Cukup dua tahun saja. Tahun pertama kita cabut semua ketetapan-ketetapan yang nggak-nggak itu. Tahun kedua kita siapkan pemilu.” Jadi, dari omongan bercanda itu, yang ada dalam pikiran kita waktu itu adalah bahwa Gus Dur hanya memimpin dua tahun. Setelah itu berhenti. Ketika dia memperingati usianya yang ke-68, dia datang ke rumah ini. Saya minta dia keluar dari percaturan politik. Nggak mau. Dia bilang di depan Magnes Suseno, Rahman Tolleng, dia minta didukung dua tahun lagi untuk terlibat dalam percaturan politik. Seketika itu juga saya jengkel. Tetapi lama-lama saya pikirkan, saya baru ingat kelakuannya. Dia pernah ngomong demokrasi butuh partai. Partai kan alat untuk mencapai kekuasaan. Kita semua di Forum Demokrasi tidak ada yang di partai. Artinya, apa? Kalau mau mengatur republik ini, ya berpartailah. Jadi, caranya seperti itu. Dengan temannya pun tidak pernah ngomong secara eksplisit. Tersirat, tersirat. Begitulah caranya ngomong. Saya juga heran dia sudah dipinggir-pinggirkan kekuasaan tetapi terus berjuang. Jadi kalau ditanya apakah menyesal Gus Dur menjadi presiden? Jawabannya jelas tidak. Dia manusia besar yang mendahului zamannya. Gus Dur presiden atau tidak bagi saya sama saja. Tetapi, saya punya catatan juga, manusia besar kalau membuat kesalahan dampaknya besar juga. Namun, jasa-jasa besarnya akan tetap diingat.
Dekrik itu bukankah kesalahannya yang paling fatal?
Iya. Sebetulnya dia akan membuat apa saja [untuk mempertahankan diri dari serangan lawan politiknya], tetapi seperti yang saya katakan tadi, dukungannya di parlemen hanya sedikit. Jadi dektrit itu upaya terakhir. Tanpa dia buat dektrit itu, dia telah dimakzulkan. Dekrit itu sebenarnya adalah upayanya yang terakhir untuk memukul, walau sebenanya Gus Dur sudah tak berdaya.
Apa isi dekrik itu?
Meminta DPR bubar, meminta Golkar bubar. Hanya saja, saya punya feeling tidak mungkin akan berhasil. Wong orang-orangnya sendiri di parlemen yang akan menderita. Bagaimana dengan anggota PKB yang baru saja kredit rumah dan kredit mobil… Limapuluh tiga anggota DPR PKB akan begok-begok kalau parlemen dibubarin. Saya ngomong seperti itu kepada Gus Dur. Tetapi, dia bilang, ”Biarin saja…”
Sebagai orang yang dekat dengan Gus Dur, kesan apa yang melekat?
Gus Dur itu, kalau pun tidak cocok, dia tidak ingin menyakiti hati orang. Itu yang saya rasakan. Dia orang yang sangat bertenggang rasa tinggi. Sifat itu sudah melekat pada habitnya sehari-hari. Dia adalah orang yang sangat sederhana. Saya tidak pernah melihat dia menikmati fasilitas duniawi yang melekat dalam dirinya. Nggak ada terbersit terlihat oleh saya dia menikmati kemewahan lahiriah. Orang sering keliru, Gus Dur diejek sering jalan-jalan ke luar negeri. Beliau katakan soal itu pada saya. “Saya kalau jalan-jalan itu, yang saya nikmati apa sih Mas, wong saya juga tidak bisa lihat apa-apa.” Dia bilang, kita kan rame di dalam negeri, tetapi kita tak boleh kalah pamor di luar negeri. Dia selalu bercanda dengan mengatakan: “Bung Karno gila wanita. Pak Harto gila harta. Kalau saya gila-gilaan.”
Gus Dur gagal dalam kaderisasi. Benar?
Dia selalu ditanya orang mengapa kaderisasinya tidak jalan? Dia menjawab: Kadernisasinya adalah melahirkan orang-orang yang berani melawan dia. Gus Dur menciptakan kebebasan, mengajari orang mau berbeda, sehingga orang-orang yang dia didik melawan dia. Syaifullah Yusuf, Matori Abdul Djalil, Muhaimin Iskandar, semua! Jadi kalau kita tanya, apakah dia tokoh liberal dalam melahirkan kader. Dia bukan hanya liberal, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa kamu bisa berbeda dengan orang lain.
Dia tidak memukul balik?
Ya, dia pukul balik juga. Tetapi, kadang-kadang dia harus kalah. Karena stamina yang muda-muda lebih kuat dari dia. Muhaimin dekat dengan kekuasaan, dan dengan begitu ia akhirnya mengalahkan Gus Dur. PKB-nya kalah. Tetapi, anehnya kekalahan itu tidak menghacurkan wibawa atau karismanya. ***

Sitor Situmorang


Sitor: Sastra dan Politik

Sitor Situmorang

Hotman J. Lumban Gaol

Raja Usu, demikian nama yang diberikan Ompu Babiat kepada anaknya yang kemudian masyhur menjadi penyair dan budayawan dengan nama Sitor Situmorang. Ompu Babiat meninggal pada usia 123 tahun. Ompu Babiat adalah panglima perang dari Sisingamangaraja XII yang mendirikan benteng perlawanan terhadap penjajah Belanda di Lintong. Menurut pengakuan Sitor, walau Ompu Babiat dibaptis oleh Zending, namun sampai akhir hayatnya dia tetap menjalakan ritus agama Batak. “Dia tidak makan daging babi. Berambut gondrong, mengunyah sirih, dan tidak pernah menggunakan angkutan modern (mobil) ke mana pun dia pergi. Dia mirip seperti orang Badui Dalam, mempertahankan budaya nenek-moyangnya.” Lukisan lahiriah ayahnya itu direkam Sitor dalam otobiografi Sitor Situmorang seorang satrawan 45 peyair Danau Toba. Riwayat hidup tersebut ditulis 30 tahun lalu, takkala sang penyair berumur 55 tahun. Sekarang, Puji Tuhan, panjang umurnya, dia berusia 85 tahun.

Sitor adalah anak kelima dari sembilan bersaudara. Lahir 2 Oktober 1924 di lembah yang menghampar untuk mengilhami penyair dan para pemuja keindahan, sebuah desa yang bernama Harianboho. Desa tersebut berada di luar pulo Samosir. Dalam salah satu sajaknya, Sitor menyebut Harianboho sebagai lembah yang kekal. Sitor adalah sundut atau tingkatan marga ke-18 dari Situmorang.

Sebenarnya asal-usul marga mereka dari Urat, Samosir. Pada tahun 1908, setelah Perang Batak usai, berakhir dengan wafatnya sang Raja Batak Sisingamangaraja XII, Ompu Babiat pun menyerah pada Belanda dan membangun kehidupan yang baru di Harianboho, keluar dari Samosir. Di sanalah Sitor lahir dan dibesarkan hingga remaja. Untuk mengenang lembah kekalnya, Sitor menulis sajak “Harianboho.” Sajak yang selalu mengingatkannya pada lembah kekakalan, lembah Harianboho, yang tiada duanya. Ke mana pun dia mengembara, di kaki langit yang mana pun dia berpijak, kenangan pada Harianboho tidak terlupakan. Lembah yang kekal itu dia dendangkan dalam sajak berjudul Harianboho:

’Ku yakin menemukan jalan selalu
kembali padamu,
jalan pulang ke landai
di tepi danau
sepanjang pantai

’Ku yakin selalu padamu kembali
di akhir nanti,
saat kembara berakhir,
tiba saat pada musafir.

Di lading dan gerbang
negei-negeri ramah, tapi asing,
kau pun terkenang.

Betapa sering,
puluhan tahun negeri orang,
jadi tamu ragam cinta,
namun penumpang jua.
Karena ketentuan masalalu,
tak dapat diulang,
lahir sekali di pangkuanmu.

Ingatan jadi keyakinan terang.
Di seberang aku berada
kau di telapak terbawa,

menanti di tiap langkah
batu-batu lembah semula.

Cintanya bukan hanya pada Harianboho, juga pada Danau Toba dan Tanah Batak secara umum. Sajaknya, “Angin dan Air Danau Toba” menceritakan saat-saat Sitor muda, dengan menumpang perahu meninggalkan rumahnya di tepi baratlaut Danau Toba untuk melanjutkan pendidikan. Keterikantannya pada negeri Batak seakan tak terlerai. Masa kanak-kanaknya, kehidupan dan tata cara yang direndam dalam mitos Batak kuno menjadi sesuatu yang musykil untuk terlupakan oleh Sitor. Sitor yang berarti berputar-putar dibuatnya Ibunya kalau sedang mencarinya, saking lasaknya ketika masih kecil. Sifat yang ketika dia tumbuh dewasa menjadikannya seorang pengembara, pulang dan pergi ke beberapa negeri Eropa, terutama Belanda, negeri asal istrinya yang kedua, Barbara Brower.
Sitor kecil dididik dalam tradisi pendidikan Belanda. Mengenyam sekolah Hollands Inlands School (HIS) semacam sekolah dasar di Balige dan Sibolga, yang kemudian dilajutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setara SMP sekarang, di Tarutung, dan Algemeene Middelbare School (AMS) setara SMA di Jakarta yang masih bernama Belanda, Batavia. Saat dududk di MULO Tarutung, dia mengalami banyak perubahan, seperti seorang manusia purba yang melihat dunia baru, peradabadan yang asing untuk nenek-moyangnya. Untuk pertama kali melihat mobil dan merasakan sensasi menonton film. Pertemuan Sitor dengan sastra adalah ketika dia membaca “Max Havelaar,” karangan Murtatuli. Buku tersebut dia temukan di perpustakaan kakaknya.
Di MULO Tarutung, Sitor muda gemar pada pelajaran ilmu pasti. Menurutnya, belajar di sekolah Belanda guru-gurunya berlainan; lain guru untuk ilmu pasti, lain guru sejarah, lain pula guru bahasa. Di kelas, dia selalu berada di ranking atas. Kerapkali, guru ilmu pasti mengajar hanya sebentar, lalu menyerahkan murid-murid pada Sitor yang sudah dianggap sebagai asisten guru. Namun, dia menganggap kepercayaan itu sesuatu yang bisa-biasa saja. Menurut dia, kalau ujian ilmu pasti Sitor tidak diuji guru, malah diminta untuk mengawasi teman-temannya sekelas. Alasan gurunya sederhana saja, Sitor sudah dianggap mengerti dan tuntas memahami pelajaran. “Saya jadi profesor kelas tiga. Dulu, sekolah Belanda menyebut semua guru itu profesor. Sayalah profesor sampai kelas tiga,” katanya mengenang.
Tamat dari MULO Tarutung, Sitor melanjutkan studi ke Batavia, nama lama Jakarta. Dia diterima di sekolah Belanda. Belakangan sekolah ini berubah menjadi Perkumpulan Sekolah Kristen Jakarta (PSKD). Dia mendapat kursi di sekolah itu dengan melenggang masuk, tanpa tes. Tetapi, di Batavia Sitor tenggelam ke dalam dunia lain, yang membuatnya malas menghadapi pelajaran. “Malas sekolah, apalagi ilmu pasti, saya malas. Kerja saya hanya baca, baca, dan baca terus.” Namun, kegemaran membaca ini menjadi bekal bagi karirnya kelak.
Dalam periode inilah bakat kepenyairannya mulai menemukan bentuk. Menurut dia, kemampuannya sebagai penyair terbina sejak kecil, melalui kedekatan dan penghayatannya pada acara-acara adat. Sebelum bersekolah sudah terbiasa mendengar pidato-pidato yang bagus yang disampaikan oleh para tetua adat dalam bahasa Batak. “Sejak kecil saya terbiasa mendegar ibu-ibu mangandung,” kenang Sitor. Mangandung adalah satra lisan dalam masyarakat Toba, yang didendangkan seraya menangis dengan syair-syair yang menceritakan kisah hidup orang yang meninggal. Membaca banyak buku-buku sastra dan sejarah semakin mengasah ketajaman kepenyairannya.
“Saya menangkap tema dari pengalaman, pengamatan atau pendengaran yang mengharukan perasaan. Menulis sajak juga soal kepekaan bahasa. Bahasa itu bentuk budaya yang hidup dalam diri kita lewat pendengaran, pengalaman, bergaul dengan manusia lain. Ada bunyi, irama. Makin tambah umur, kepekaan menerima suara-suara, nada-nada, dan irama makin kendor,” katanya.
Sitor pernah menjadi wartawan. Karier jurnalistiknya dimulai tuhan 1942, menjadi redaktur harian Suara Nasional dan pernah menjadi wartawan perwakilan kantor berita ANTARA di Pematang Siantar. Oleh pendiri koran Waspada yang terbit di Medan, tahun 1947 Sitor ditawari untuk menjadi koresponden harian itu di Yogyakarta. Masa itu pusat pemerintahan republik berada di Yogyakarta. Dari kota itulah Sitor mengirimkan tulisan-rulisannya untuk Waspada, sehingga koran tersebut salalu mendapat berita-berita aktual dari pusat. Tidak jelas, mengapa dalam buku “40 tahun Koran Waspada” nama Sitor tidak disebut.
Dia juga pernah menjadi wartawan Berita Nasional dan Warta Dunia. Tahun 1959 hingga 1965 Sitor menjadi pejabat di bidang kebudayaan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Bersama berbagai tokoh nasional dalam berbagai bidang dia pernah menjadi anggota Anggota Dewan Nasional, anggota Dewan Perancang Nasional, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara, anggota Badan Pertimbangan Ilmu Pengetahuan Departemen Perguruan Tinggi pada awal tahun 1960-an. Dia adalah ketua Lembaga Kebudayaan Nasional, sayap kebudayaan dari Partai Nasional Indonesia, sejak organisasi itu berdiri tahun 1959 sampai dibubarkan oleh rezim militeristis Suharto tahun 1965. Tak jauh dari dunia kesenimanan, dia pernah pula menjadi dosen di Akademi Teater Nasional. Pada tahun 1956-57 Sitor malah sempat menekuni sinematografi di California, Amerika Serikat. Anak desa Harianboho ini pernah pula menjadi dosen tamu di Universitas Leiden, Belanda (1981-1991). Dia sering mengembara di berbagai negara Eropa, terutama Negeri Belanda, Perancis, Italia, dan Spanyol. Dia berkunjung ke Beijing awal 1960-an dan menulis puisi-puisi perjalanan tentang Tiongkok. Dia berkunjung ke Singapura tahun 1942.
Di ulangtahunnya yang ke-85 dia tak kelihatan lelah. Matanya menatap tamu dengan cerah. Kalau memberikan tekanan, suaranya tetap tinggi. Gayanya yang khas juga tak berubah: menggebrak, menunjuk-nunjuk, terkadang malah mengguncang pundak lawan berbicara sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Salah satu sajaknya yang paling digemari publik adalah Lagu Gadis Itali. “Ketika menulis sajak itu saya memang menggunakan kekuatan pantun,” katanya. Pandangan politiknya dengan nyata tercermin dalam sajak-sajaknya. “Silakan nilai puisi saya dari puisi, bukan dari politik. Saya memang menulis puisi politik, ada juga yang tidak. Jika politik dinilai merusak bakat saya, itu kesimpulan mereka. Banyak orang yang memaksakan penilaian dengan hanya membaca puisi politik saya. Padahal, mereka juga membaca puisi saya yang non-politis, tapi tidak masuk penilaian. Ini tidak baik. Jika sajak saya dianggap tidak berhasil, silakan. Tapi, itu bukan karena aktivitas saya di politik.”
Dia berteman dengan semua sastrawan dan budayawan. Baginya, satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit. Pertemanannya dengan Pramoedya Ananta Toer layaknya kedekatan yang tidak lekang oleh ketuaan. Persahabatan kedua sastrawan besar itu suatu ketika diperingati di Goethe House, Jakarta, di mana Sitor membacakan puisinya ”Blora” sebagai kenangan untuk Pram yang lahir dikota yang dinyanyikan Sitor dalam sajaknya itu.
Penyair dan dramawan Rendra memanggil Sitor dengan sapaan hormat dan bersahabat: Abang. Ketika Rendra meninggal 6 Agustus 2009, Sitor membacakan sajaknya di hadapan jasad temannya itu. Sajak yang dia bacakan itu semula berjudul ”Lagu Malamku Kini.” Namun, sebagai penghormatan pada Rendara judulnya dia tulis ulang menjadi ”Lagu Malammu Kini,” dan semua akhiran ”ku” berubah menjadi ”mu.”
Lagu Malammu Kini

Matranya ombak
zikirnya sungai
bahana hutan
deru samudra

lagu malamu kini
di pangkuan semesta
alam pesta tari
alunan gamelan dewa-dewa

cintamu, cintamu, sempurna!

Menurut Ajip Rosidi, temannya dan sesama anggota Akademi Jakarta, “Mungkin Sitorlah penyair yang paling banyak menghasilkan sajak di Indonesia.” Hampir 600 judul sajak yang dia tulis dalam kurun waktu yang cukup panjang, antara 1948 – 2005. “Dan Sitor sekarang masih hidup dan masih menulis sajak,” tulis Ajip.
Menurut Ajip Rosidi, sajak-sajak Sitor Situmorang yang mulai mendapat ”perhatian besar” adalah yang dia tulis sekembalinya dari perjalanannya ke Eropa untuk pertama kali pada tahun 1950. Waktu itu Sitor merupakan salah seorang seniman Indonesia yang menerima undangan dari Sticusa, lembaga kerjasama kebudayaan Belanda, untuk berkunjung ke negeri bekas penjajah tersebut. Sajak-sajaknya itu, menurut penilaian Ajip, ”… seakan membawakan suasana baru bagi perkembangan puisi Indonesia pada waktu itu, yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai ’zaman puisi gelap,’ karena kata-kata yang membentuk sajak-sajak tidaklah memberikan arti atau citra yang dapat ditangkap oleh pembvaca.” Sajak-sajak Sitor, kata Ajip Rosidi, yang adalah juga seorang penyair dan budayawan penting Indonesia, seakan menghidupkan kembali puisi lama yang tadinya sudah dilupakan orang karena dianggap ketinggalan zaman.
Sementara Harry Aveling, Director of Asian Studies School of Social Science La Trobe University, Australia, melihat sajak Sitor Situmorang banyak berisikan hasil renungan pengalaman religiusnya, sebagai seorang pemeluk agama Kristen. Harry Aveling menjuluki Sitor Situmorang sebagai penyair agung, karena selama 60 tahun lebih terus berkarya dan telah menghasilkan lebih dari 600-an sajak.
Karya Sitor tidak hanya kental dengan tradisi Batak yang kuat, tetapi juga dipengaruhi budaya Barat melalui sastrawan modern Belanda, seperti Slauerhoff. Tema karya Sitor yang menonjol: cinta semu atau tidak kekal, pengembaraan dan siklus abadi kematian dan kehidupan. Setelah pensiun sebagai dosen tamu di Seksi Indonesia di Universitas Leiden (1981-1990), sang penyair sempat tinggal di Pakistan. Pada tahun 2006 dia memperoleh anugrah ASEAN Writes Award dari Muangthai.
Sitor pernah dibui beberapa hari oleh tentara Belanda karena menjalankan profesi sebagai wartawan. Dan pengalaman yang paling pahit adalah ketika dia ditangkap dan ditahan selama delapan tahun oleh rezim Orde Baru tanpa pernah disidangkan. Tidak jelas apa kesalahan yang terlah diperbuatnya, sehingga begitu lama dia menderita di balik jeruji besi. Ada yang menyebut Sitor dibui karena karena keberpihakannya pada gelombang pasang gerakan kebudayaan yang menerjang kebudayaan imperialis, dan dukungannya yang teguh pada sikap politik Presiden Sukarno yang berusaha menyatukan kekuatan bangsa Indonesia baik dari unsur nasionalis, agama, dan sosialis, komunis.
Sitor adalah seorang sastrawan sekaligus seorang politikus. Mengutip ucapan Rendra dalam buku Mengapa & Bagaimana Saya Mengarang, yang ditulis Pamusuk Eneste tentang seniman berpolitik: “….seniman sebagai anggota masyarakat, sebagai bagian dari rakyat yang tidak ikut berkuasa, akan syah dan wajar pula kalau menyuarakan hasrat dan pendapat mengenai kedailan, ekonomi dan politik di dalam karyanya. Tidak bisa karyanya dianggap merosot hanya karena membicarakan politik, sosial, dan ekonomi.
Sitor termasuk dalam jajaran sastrawan Angkatan 45. Menurut dia, keberadaan Angkatan 45 untuk menggantikan Angkatan Pujangga Baru. Menjelang pergeseran dalam babakan sejarah sastra Indonesia itu, berlangsung polemik yang monumental antara mereka yang mau mengadopsi Barat dan mereka yang dengan cemerlang bisa melihat kekuatan budaya Timur sebagai dasar bagi kemajuan bangsa. Perdebatan ini dikenal sebagai “Polemik Kebudayaan.” Tahun 1953, Sitor mengusulkan satu dikotomi yang mirip dengan pandangan “Pujangga Baru.” Hal inibisa dibaca sebagai tanda bahwa harapannya akan revolusi kejiwaan belum juga terkabul dalam perkembangan budaya.
Sebagai sastrawan Angkatan 45, Sitor mengagumi Chairil Anwar. Sementara pengaruh dari luar diterimanya dari Jean Paul Sartre, Albert Camus, dan Andre Malraux. Terutama Malraux banyak mempengaruhi pemikiran dan karyanya. Gagasan Malraux tentang “museum imajiner” dimodifikasi Sitor menjadi “living museum” atau museum hidup. Dan Malrauxlah yang banyak mempengaruhi kepenyairan Sitor.
Asrul Sani, yang juga termasuk dalam Angkatan 45, menyebut Sitor sebagai penyair yang hebat tapi politikus picisan. Semula, banyak yang mengkritik bahkan menyayangkan Sitor terjun ke ranah politik, karena hal itu akan “mengganggu” bakat kepenyairannya. Pada awal-awalnya, puisi-puisi Sitor membawa gaya sendiri dengan menengok kembali tradisi lama, seperti pantun, dengan renungan pribadi dan ziarah batin.
Sikap politik Sitor sangat kentara dalam sajak-sajak perjalanannya, yang merekam sentuhannya dengan rakyat Tiongkok yang sedang membangun sosialisme. Perjalanannya ke negeri yang beradadi bawah pimpinan Mao Tse Tung pada tahun 1962 di catatat oleh semenmtarakalangan sebagai sajak-sajak perjanalan yang penting yang sangat sarat pandangan politik. Ini bisa dimaklumi karena sdukungannya yang tak tergoyangkapn pada politik Presiden Sukarno yang dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok. Aku ingin minum dari kehangatan/ harapan saudara-saudara./ Aku ingin menjabat tangan/ saudarasaudara yang sibuk bekerja./ Aku ingin makan roti ini,/ roti komune, sebagai tanda/ pulihnya pergaulan, setiakawan dan/ harapan antara manusia,/ buat selama-lamanya dalam cinta,/ cita-cita dan kenyataan dunia sosialis. Begitu bait terakhir sajaknya yang berjudul ”Makan roti komune.” Bahasanya sederhana, niatnya jelas. Tak heran jika Ajip Rosidi mencatat: ”Sajak baginya menjadi semacam catatan harian, meski tidak ditulis setiap hari. Dari sajak-sajaknya kita bisa mengikuti perjalanan hidup Sitor sang petualang.” Tidak hanya perjalanan hidupnya, juga sikap politik yang telah dia pilih secara sadar dengan risiko yang agaknya sudah pernah dia bayangkan. Dibungkam! Dipenjarakan! Bertahun-tahun oleh rezim Orde Baru Suharto.
Lawatan Sitor ke Tiongkok merupakan bagian dari acara sebuah delegasi Persatuan Pengarang Asdia-Afrika yang dia pimpin, yang singgah di Tokyo. Di dalam delegasi tersebut ada Rivai Apin dan Utuy Tatang Sontani. Di Tokyo lahirlah sajaknya Dialog dekat patung Hachiro yang dia tulis setelah melihat patung peringatan bagi kesetiaan seekor anjing yang terletak di depan stasiun Shibuya. Perjalanan para pengarang Asia-Afrika itu lalu berlanjut ke Hong Kong. Dari kota dagang, koloni Inggris, ini rombongan bertolak ke Beijing. Selain sajak yang memuja persahabatan di salah satu komune yang terletak di pinggir Beijing itu, lahir pula sajak-sajaknya yang lain, yang dikumpulkan dalam antologi ”Zaman Baru,” seperti Surat dari Tiongkok untuk Reni, Udara pagi di Peking, Lagu-lagu Tiongkok baru, Tiongkok lama, Lukisan-lukisan pekerja Tiongkok.
Delegasi berada di Tiongokk selama dua minggu. Para anggota delegasi memperoleh jamuan kelas satu seraya merasakan jejak perjuangan rakyat melawan Chiang Kai Sek yang berupaya mendirikan sebuah rezim pro-Amerika Serikat di daratan Tiongkok. Saat paling mengesankan bagi Sitor adalah ketika menyaksikan pesta kembang api yang diadakan di Lapangan Tienanmen. Delegasi diundang untuk melangkahi gerbang Istana dan bertemu dengan Mao Tse-tung. Sitor diperkenalkan dan berjabat tangan dengan pemimpin Tiongkok itu. Dari pertemuan tersebut, delegasi diundang makan malam dan dalam kesempatan itu Sitor pun membacakan sajaknya Perayaan yang dipersembahkan kepada Mao dan rakyat Tiongkok. Sitor memang mengagumi Tiongkok, baik yang berhubung dengan komunisme ataupun tidak.
Rekaman jekak perjalanan ke Tiongkok bukan tidak hanya berbau politik. Sitor juga menulis dengan manis Anak Kuba di Peking, dan buat gadis cantik bernama Zoila. Tahun 1968, Sitor mengunjungi Uni Soviet memenuhi undangan Asosiasi Penulis Uzbekistan.
Sitor merasa bahwa para kritikus yang dapat memahami karya-karyanya adalah almarhum Subagio Sastrowardoyo. Pada tahun 1976, Subagio menulis esai sastra berjudul Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor Situmorang. Dalam tulisan itu, Subagio membuktikan bahwa Sitor dipengaruhi oleh simbolisme Perancis. Sedangkan Maria Heinschke, seorang peneliti di Universitas Hamburg yang menulis sebuah buku berjudul Sitor: Mencari Penyair Modern Persaudaraan Baru, menyebut Sitor sebagai penyair yang punya kesadaran modernisme dalam mengungkapakan kebudayaan-kebudayaan dunia. Bagi Heinschke, Sitor menciptakan sebuah karya seni yang mesti dihadapi setiap hal yang melibatkan kehidupan.
Sementara kalangan menyebutkan sajak-sajak yang ditulis Sitor setelah terjadinya perubahan politik drastis pada tahun 1965-66 kembali ke bentuknya yang semula yang muncul pada tahun 1950-an. Subagio Sastrowardoyo menilai Sitor tetaplah seorang musafir yang menulis sajak, pengembara yang tidak bisa memiliki tempat yang berbeda.
Apakah arti agama buat Sitor? “Saya lebih percaya Sianjurmulamula. Saya lebih menghadap ke kiblat di Pusuk Buhit,” katanya. Sitor kagum pada mitologi dan ini terasa pada sajak-sajaknya, seperti Bromo, Pantai Parangtritis, Balige, Gunung Sibayak, Candi Borobudur, Legian, Tanah Karo pegunungan.
Tema Kristen tampil dalam sajak-sajaknya, seperti : Kisah Kias Kristus, Hukum Pilatus, Pesan Ruth Pada Tiap Perawan, Khotbah Baptisan Paskah, yang ditulisannya tahun 1980-an. Menurut Sitor, banyak orang yang menganggap sajak-sajakan tersebut menandakan Sitor telah menemukan jalan kembali ke gereja. Tidak. Dia mengkritik agama baru yang telah menyingkirkan agama kuno Batak.
KM Sinaga, 86 tahun, seorang pengusaha sukses, adalah teman Sitor saat sekolah MULO di Tarutung. Temannya yang lain, yang sudah melampaui usia 90 tahun adalah Amir Pasaribu, seorang komponis Indonesia terkemuka, saat ini berdiam di Medan. Amir adalah seniornya dalam kelompok diskusi Gelanggang Budaya. Untuk kedua rekannya ini Sitor mengabadikannya dalam sajak Lembah Silindung.

Ingat penyair Indonesia ingat Sitor Situmorang. Membicarakan penyair kontemporer Indonesia tidak bisa lepas dari si Ompung ini. Sajak-sajaknya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Selaian sajak, Sitor juga menulis cerita-cerita pendek, esai, dan naskah drama.
Pengalaman yang paling berkesan bagi Sitor adalah saat meliput Konferensi Federal di Bandung tahun 1947. Dengan bermodalkan tuksedo pinjaman dari sahabatnya, Rosihan Anwar, Sitor berhasil wawancarai Sultan Hamid, tokoh negara federal bentukan Belanda, sekaligus menjadi ajudan Ratu Belanda. Sultan Hamid adalah orang yang diplot menjadi tokoh federal, tentu dengan maksud untuk memecah-belah keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan menjadi negara boneka dalam wadah negara federal.

Wawancara dengan Sitor Situmorang:
Bagaimana ceritanya Amang menggeluti dunia kewartawanan?
Saat Nippon (Jepang) menginjakkan kakinya Batavia, semua orang daerah disuruh pulang ke kampung masing-masing. Sebenarnya untuk melemahkan semangat nasionalisme. Ketika itu, saya sekolah di Batavia, belum selesai, saya harus pulang ke Tapanuli. Di Sibolga, kala itu, ada satu gerakan nasional yang menerbitkan media. Saya menjadi redaktur. Dari sana menjadi wartawan Antara di Pematang Siantar. Lalu bekerja di Waspada. Ada satu masa, saat Muhammad Said, pendiri harian itu meminta saya menjadi kepala perwakilannya di Yogya. Saya dikirim atas permintaan Sukarno yang meminta harus ada wakil Waspada di Yogya. Dalam perjalanan dari Jakarta ke Yogya, saya sepesawat dengan Agus Salim. Ada kenangan yang tidak bisa saya lupakan, saat melihat Haji Agus Salim tidur di lantai, di lorong antara bangku-bangku pesawat, karena dia tidak tahan goyangan pesawat.
Apa yang membuat tertarik jadi wartawan?
Itu tak lepas dari panggilan tugas. Saya memulai wartawan di daerah. Kala itu kita masih muda. Tahun 1943 kemudian bergabung dengan Kantor Berita Nasional Antara, di Pematang Siantar. Kita selalu kagum pada orang-orang yang bekerja di media.

Apa aliran sajak yang Amang anut?
Sajak banyak bentuknya. Saya menerima segala bentuk. Waktu itu, saya berpikir kita punya warisan pantun, kenapa itu tak dipakai. Bukan karena saya memilih sebuah gaya, tapi memang suasana puisinya menuntut seperti itu.

Bagaimana proses kepenyairan Amang?
Sejak di bangku AMS pantun-pantun terngiang di kepala saya. Ada banyak ceceran sajak-sajak dari pengalaman masa kecil. Menangkap tema dari pengalaman, pengamatan atau pendengaran yang mengharukan perasaan. Belum sekolah sudah sering mendengar tonggo-tonggo, semacam doa dalam ritus agama Batak. Juga pidato-pidato yang baik para tetua adat dalam bahasa Batak. Saya anggap bakat itu berkembang. Oleh karena itu, saya sadar untuk membaca sebanyak-banyaknya. Tanpa saya sadari pengalaman masa kecil menjadi bekal di kemudian hari.

Apakah semua sajak Amang ada hubungannya dengan politik?
Silakan nilai puisi saya dari puisi, bukan dari politiknya. Saya memang menulis puisi politik, tapi ada juga yang tidak. Jika politik dinilai merusak bakat saya, itu kesimpulan mereka. Tapi, banyak orang yang memaksakan penilaian dengan hanya membaca puisi politik saya. Padahal dia juga baca puisi saya yang baik, tapi tidak masuk penilaian. Ini tidak bagus. Jika sajak saya dianggap tidak berhasil, silakan. Tapi, itu bukan karena keterlibatan saya dulu dalam politik.

Seperti satrawan Angkatan 45 itu?
Saya tidak membutuhkan pencantuman nama saya sebagai sastrawan Angkatan 45. Ketika itu umur saya 23 tahun. Angkatan 45 punya jalannya sendiri. Chairil Anwar adalah pelopor modernisme dalam puisi Indonesia. Chairil menggarap sajak bebas, pencitraan baru, kekuatan bahasa. Saya terinspirasi karyanya “Aku.”

Amang, merasa nggak di Belanda ada Harianboho. Bagaimana Amang menghadirkannya ketika jauh di negeri orang?
Itu sudah ada dalam diriku. Bahwa ke mana aku berpijak ada Harihanboho. Soal nasionalisme (keindonesiaan) menurut saya sudah selesai. Kalau perlu, bisa dilihat dari sajak-sajak saya. Saya merasa bahwa pengalaman telah memberikan ruang untuk hati saya.

Soal nasionalisme….
Nasionalisme diajarkan oleh Sukarno. Nasionalismelah yang melahirkan bangsa. Bagi saya nasionalisme itu perjumpaan dengan Sukarno. Tetapi, kalau mau meyelami pikiran Sukarno tidak mesti bertemu, bisa juga dari koran-koran. Dulu, kami berlangganan Koran Deli, di sana kita bisa bertemu dengan pikiran-pikiran Sukarno, karena di sana dimuat pidato-pidatonya. Ketemu Sukarno memang ada sensasi tersendiri. Tetapi, harus dipisahakan mempelajari pikirannya tidak musti lewat tatap muka. Bagi saya, Sukarno itu manusia sejarah, dia adalah pemimpin yang mengobarkan semangat nasionalisme. Ketika terjadi krisis identitas kebudayaan mestinya semangat itu berkobar lagi. Nasionalisme bukan hanya mempertahankan harga diri. Nasioalisme itu, dulu, tidak ada tawaran-menawar. Sekarang kita harus sadar bahwa globalisasi membawa benturan terhadap peradaban. Globalisasi tidak bisa dihindari, harus ditanggapi secara kreatif.

Adakah semangat nasionalime dari Batak sana?
Di semua kepulauan itu ada nilai-nilai nasionalisme. Orang yang di pedalaman punya hubungan dengan pesisir. Bahwa dengan hubungan dagang itu harus ada persinggungan. Dari pegunungan turun ke pesisir menjual hasil pertaniannya.

Bisa Amang ceritakan sebagai seorang nasionalis?
Itu konteks zaman. Kita keluar dari Harianboho. Di Tarutung, kesadaran nasionalisme itu mulai mucul di kampung halaman, sebab orangtua saya salah satu panglima perang Sisingamangaraja, jadi ada semangat melawan Belanda. Baru nalar itu sampai saat kita sekolah di Tarutung. Jadi, sejak kecil kita sudah tanggakap semangat nasionalisme itu.
Artinya lingkungan sekolah membantuan mengenal semangat nasioalisme?
Ya, jelas! Dulu sekolah MULO hanya ada di Medan, khusus untuk Belanda. Dua di Tapanuli, di Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan. Dari sana memang generasi pertama Batak yang maju-maju.

Sudah mendengar adanya Sumpah Pemuda?
Saya belum mendengar itu, karena umur saya waktu itu hanya tiga tahun. Jadi, melawan musuh dari luar, itu menciptakan semangat nasionalisme. Penjajahan dan perlawan yang dialami orangtua membawa semangat nasionalisme.

Kaitan dengan orangtua?
Ayah saya pahlawan lokal. Sampai-sampai dia memberikan saya sekolah yang dibangun Belanda. Saya melihat itu konkritnya politik, jadi tidak asal heroik. Kita harus mengerti politik baru kita berbicara nasionalisme. Kita melihat sejak dulu orang Batak dengan Aceh itu akur. Peran Aceh dalam perang yang dilancarkan Sisingamangara amat besar. Sejak dulu sudah muncul kerjasama antara Aceh dan Batak.

Bagaimana hubungan Sisingamangaraja XII dengan Ompu Babiat, ayah Amang?
Ompu Babaiat itu adalah hula-hula dari Sisingamaraja XII. Saya masih ingat, dulu, setiap Tahun Baru, keturunannya selalu berkunjung ke kampung kami di Harianboho. Ompu Babiat, ayah saya sangat dekat dengan keturunan Sisingamangaraja. Ayah saya dianggap sebagai ayah pengganti bagi mereka.

Saol bahasa Melayu?
Bahasa Melayu itu dulu bahasa yang paling umum. Kita ini negeri kepulauan yang terpengaruh dari nesia, sementara bahasa Latin tersebut dipengaruh India.

Bagaimana sastra yang baik itu?
Sastra yang baik harus bersinggungan dengan kenyataan hidup, dan bermanfaat bagi umat manusia. Penikmat sastra mesti bisa menikmati kandungan nilai kemanusiaan, menghayati keragaman manusia. Pramoedya telah menunjukkan hal itu kepada kita. Pram mengolah sejarah dan hidup manusia Indonesia yang bisa bicara ke dunia luar.

Apakah semua sajak-sajak Amang merupakan pengalaman pribadi?
Sajak itu adalah soal bahasa. Bahasa itu bentuk budaya yang hidup dalam diri kita lewat pendengaran, pengalaman, bersinggungan dengan manusia lain. Dalam sajak ada bunyi, irama, itulah sajak. Lalu kepekaan membaca itu merupakan hasil pengalaman dan penghayatan setelah secara rutin main-main dengan bahasa. Bagi saya, sajak itu harus menyentuh hati pembaca, di mana dia menemukan dirinya.

Mengapa Amang ditahan Orde Baru, rezim Soeharto?
Saya ditangkap tahun 1967. Dua tahun setelah G 30 S itu. Suasana waktu itu tentara mempunyai kekuasaan luar biasa. Saya adalah penganut ajaran Sukarno. Jadi orang Sukarnois dianggap lebih berbahaya dari komunis. Kalau mengerti politik, negara kita, di zaman Suharo saya ditangkap, katanya, karena melanggar undang-undang. Undang-undang apa? Tidak jelas. Suharto menjadi presiden karena kudeta dengan lihai. Dan ada insinden yang memicu itu.

Saat Amang dipenjara seperti apa perlakukan yang Anda terima?
Saya langsung ditangkap di rumah saya di Jalan Darmawansa, Jakarta Selatan. Dari sana saya dibawa ke Rumah Tahanan Militer (RTM), dekat daerah Pasar Baru, Jakarta Pusat. Memang, saya tidak pernah dipukul. Terhadap isu Sukarnoisme, itu penilaian Amerika. Padahal itu tidak ada. Prasangka ini yang dibakar-bakar oleh Amerika Serikat di Indonesia. Boleh kami dituduh. Tapi kalau Bung Karno disamakan dengan komunis, itu tuduhan bodoh.

Berapa lama Amang dibui?
Praktis saya dibui tujuh tahun. Di Rumah Tahanan Militer itu saya ditahan tiga bulan, tetapi tiga bulan itu seperti tiga abad rasanya. Tidak ada penerangan selama tiga bulan dimasukkan ke sel gelap. Tidak pernah melihat matahari. Saya merasa tiga bulan itu seperti tiga abad. Makan seadanya. Memang tidak ada pemukulan selama dipenjara. Lalu, setelah itu dipindahkan ke penjara Salemba. Di Salemba itulah saya ditahan hingga tujuh tahun lamanya, tanpa pernah ada pengadilan. Tidak pernah ada.

Bagaimana Amang melihat tujuh tahun Anda dipenjara Salemba, apakah itu waktu yang sia-sia?
Memang selama tujuh tahun itu adalah pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Setiap hari kita bisa melihat kepala penjara itu, kalau nggak salah bernama Marzuki. Jika dia berjalan kita selalu merasa seperti berhadapan dengan Negara. Memang kebetulan waktu itu makan sudah sulit. Tetapi, yang paling menyakitkan bukan soal makanan. Yang paling menyedihkan adalah tidak diperkenankan menulis. Kalau ketahuan ada kertas atau pena akan ditahan dalam sel gelap.

Apakah Amang diperkenankan menulis seperti Pramoedya ketika dia dibuang ke Pulau Buru?
Tidak diizinkan. Tahanan seperti saya dilarang membawa kertas apalagi pena. Selalu digeledah. Kalau ketahuan hukumannya kita akan dimasukkan ke tempat gelap. Menyakitkan! Yang biasa menulis dilarang menulis.

Jadi tidak ada lahir tulisan?
Bagaimana!? Menulis apa? Saya tidak boleh menulis apa-apa. Saya ditempatkan di blok “intelektual.” Jadi, sekarang, kalau saya memandang pada umur saya yang ke-85 ini: seluruh perjalan hidup saya, saya merasa tidak ada yang sia-sia. Praktis seluruh pengalaman itu adalah sebagai refleksi bagi saya. Kalau melihat delapan tahun dipenjara sebagai waktu yang sia-sia, tetapi kalau saya menggabungkan semua pengalaman itu, tidak ada yang sia-sia.

Apakah Amang dendam terhadap Suharto?
Saya tidak merasa dendam terhadap Suharto. Tidak ada dendam dalam kamus saya. Ada satu momen yang bisa mengingatkan saya. Ketika saya baru keluar dari penjara Salemba, tahun 1975, seluruh marga Situmorang meminta saya harus pulang ke Bona Pasogit. Ada beberapa perwakilan pengurus Situmorang mendatangi saya, bahwa saya harus pulang ke Harianboho untuk bertemu nenek-moyang saya. Momen itu menyadarkan saya tidak perlu memikirkan yang remeh-temeh seperti Suharto. Saya merasa buat apa lagi memikirkan Suharto, sedangkan saya sudah bertemu langsung dengan nenek-moyang saya. Saya tidak pernah mengingat-igat lagi, apalagi dendam terhadap seseorang termasuk dedam terhadap Suharto. Suharto, menurut saya terlalu kecil untuk dingat-ingat.

Bagaimana kedekatan Amang dengan Sukarno?
Waktu itu saya salah satu anggota Dewan Nasional. Sebagai anggota Dewan Nasional. Dengan begitulah saya sering bertemu dengan Sukarno. Dulu, kalau masuk ke Dewan Nasional dianggap antek Sukarno. Hubungan saya dengan Sukarno bukan hanya soal politik. Saya bisa bertemu dengan Sukarno tanpa janji. Pertama kali saya bertemu dengan Sukarno di Yogyarakta, sebagai waratawan. Ketika Sukarno sudah begitu dekat untuk menjabat tangan saya, dia seperti tertegun sebentar, menatap saya, mengingat-ingat. Kemudian Sukarno menyebutkan sebuah nama, Abner Situmorang, Abang saya. Saya hanya diam. Sukarno mengenal Abang saya ketika dia berkunjung ke Medan dan di lapangan terbang dia disambut oleh Abang saya, yang ketika itu adalah wakil gubernur Sumatera Utara.

Dekat dengan Sukarno, tetapi mengapa Amang dituduhKomunis, ditangkap?
Pada masa akhir jabatan Sukarno, kalau seseoang sudah dibilang Sukarnois maka orang itu dianggap lebih berbahaya dari komunis. Saya pengikuti ideologi Sukarno, tetapi saya bukan pencari keuntungan dari persahabatan dengan Sukarno.

Menyesal menjadi Sukarnois?
Saya tidak pernah merasa bersalah menjadi Sukaris. Sampai saat ini saya masih menganut Sukarnoisme, itu bukan berarti bahwa paham Sukarnoisme yang terbaik. Boleh-boleh saja orang berbeda pendapat dengan saya. Prasangka ini yang salah selama ini. Kalau Sukarno disamakan dengan komunis, itu tuduhan konyol!

Apakah Megawati termasuk penganut ideologi Sukarno?
Apakah kalau anak Sukarno pasti mengerti ajaran Sukarno?! Belum tentu! Ada ideologi dangkal, yang cenderung melihat ideologi Sukarno akan sama dengan anak Sukarno. Yang benar adalah anak ideologi Soekarno.

Apakah Sukarnoisme relevan untuk saat ini?
Saya merasa semangat dari Sukarnoisme itu masih relevan untuk saat ini. Saya belajar banyak masalah kebangsaaan dari Sukarno. Bayangkan, 17.000 lebih pulau di Indonesia, dihuni 300 suku-suku; saya kira tidak ada yang sehebat Sukarno mampu mempersatukan itu semua. Saya tidak ngotot untuk ideologi Sukarno yang paling benar.

Bagaimana pendapat Amang jika ada yang mengaku penganut Sitorisme
Itu tidak mungkin ada. Tetapi, kalau dalam persajakan, terserah. Kalau ada yang menganut Sitor dalam gaya sajak, itu silakan saja. Sajak-sajak saya banyak diilhami sajak-sajak penyair lain.

Soal Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), bisa Amang ceritakan?
Tahun 1959, saya terpilih menjadi ketua LKN. Saya terpilih oleh rapat akbar di Solo dengan saingan terberat saya Nyonya Supeli [zaman Bung Karno dikenal sebagai dutabesar keliling - red.] Saya bangga bisa diterima di tengah-tegah budaya Jawa. Tetapi, dengan begitu saya punya tanggungjawab untuk menumbuhkan budaya nasional. Saya sadar betul hal itu.

Ajip Rosidi, dalam buku otobiografinya, menyebut Sitor mengusulkan dia menjadi sekretais jenderal LKN, tetapi dia menolak karena LKN berafiliasi dengan PNI?
Saya merasa tidak perlu untuk menanggapinya. Kecuali saya melakukan kesalahan. Ketika itu saya harus memberikan kesempatan untuk siapa saja. Kecuali saya mengucapkan satu ucapan yang salah berkait dengan masalah tersebut. Saya tidak perlu komentar soal itu.

Apa agenda LKN?
Sejak dulu Sukarno sudah memikirkan globalisasi, dan itulah yang menjadi salah satu agenda dari Lembaga Kebudayaan Nasional. Globalisasi tidak bisa dihindari, harus ditanggapi secara kreatif. LKN itu memang digandeng partai politik, tetapi pada prisipnya organisasi memberikan kebebasan kepada para budayawan untuk mempersiapkan mental bangsa.

Kenapa sastrawan kerapkali terlibat atau dikaitkan dengan politik?
Sastrawan itu bukan malaikat. Manusia, yang kebetulan sastrawan, tak boleh bersikap tidak ada urusan dengan politik. Jikalau ada yang bilang sastrawan tak boleh berpolitik, itu omong-kosong. Pramoedya besar bukan karena dia Lekra, tapi karena karyanya. Kami menghadapi tantangan imperialis, kami melawan.

Pendapat Amang mengenai penolakan kaum Manifesto Kebudayaan terhadap politik?
Kita harga orang yang tidak berpolitik. Namun, jangan pula berlagak politik itu tidak perlu. Itu tidak benar. Setiap orang sebenarnya sudah berpolitik. Tapi, tidak terang-terangan seperti Sitor. Saya politikus! Kalau mau melawan politik komunis lawanlah dengan sikap politik!

Bisa ceritakan seperti apa kedekatan Amang dengan Sukarno?
Satu waktu, ketika saya menjabat anggota Dewan Nasional. Waktu itu saya tidak memiliki rumah, saya bertempattinggal dengan menempati sebuah garasi, garasi yang sudah rusak ringsek. Sukarno menyuruh ajudannya untuk menemui saya. Melihat keadaan tempattinggal saya ajudan tidak masuk, hanya memberitahu agar saya besok pagi menemui Sukarno. Pendek cerita, saya menemui Sukarno besok paginya. Biasanya, Sukarno jam tujuh pagi rutin menerima tamu tanpa kaitan dengan politik, seperti tokoh bisnis, seperti Dasaad dan lain-lain, juga tokoh-tokoh masyarakat. Jadi, memang siapa saya bisa ketemu tanpa janji?! Lalu, Sukarno bilang ”Kamu tidak punya rumah, ya?” Saya jawab saya, ”Punya.” Lalu, Sukarno balik bilang, ”Kamu tinggal di garasi.” Tanpa panjang lebar, Sukarno meminta salah seorang menterinya, yang berkaitan dengan rumah-rumah yang berada di bawah kontrol pemerintah, untuk mengurus dan memberikan saya rumah di Jalan Darmawangsa, Jakarta Selatan. Rumah besar itu adalah bekas rumah Belanda.

Nomor berapa rumah yang di Jalan Darmawangsa itu?
Saya tidak ingat lagi nomornya berapa. Belakangan saya tahu, ketika saya dipaksa keluar oleh tentara, ada yang berkepentingan untuk menguasai rumah itu. Waktu itu ada konflik antar tentara. Ada beberapa jenderal tidak punya rumah. Ada dua truk memaksa saya keluar, dan semua barang saya dikeluarkan.

Ketika itu Amang pindah kemana?
Saya menumpang di rumah keluarga.

Bagaimana Amang bisa menjadi penulis?
Inti menulis adalah banyak membaca. Orang yang memiliki bakat menulis harus didukung ketekunan. Bakat harus didukung kerja keras. Menurut saya, bakat itu timbul dengan sendirinya. Proses kreatif itu juga dipengaruhi oleh banyaknya saya berkunjung ke daerah-daerah, juga ke Eropa, Amerika.

TAPIAN: Sejak kapan jiwa petualangan Anda muncul?
Sejak masuk sekolah di Batavia, saya sudah malas belajar. Malas sekolah, apalagi untuk ilmu pasti saya makin malas. Kerja saya hanya membaca dan membaca dan membaca terus. Jadi, inti menulis itu harus banyak membaca. Baca, baca, dan baca! Dan dari sanalah kesukaan menulis itu tumbuh. Ketika masih kecil banyak hal yang saya alami. Sejak kecil sudah terbiasa melihat acara-acara adat. Belum sekolah sudah sering mendengar pidato-pidato yang baik yang disampaikan para tetua adat. Sejak kecil saya terbiasa mendegar ibu-ibu mangandung menangisi kemalangan dengan lalu-lagu. ***

Ritual Pemulihan Alam di Pulau Palue

PUA KARAPAU
Ritual Pemulihan Alam di Pulau Palue

Sabtu, 23 Januari 2010 | 04:57 WIB

Samuel Oktora

Musim kemarau panjang, hasil pertanian dan laut kurang menggembirakan, serta wabah penyakit melanda menjadi tanda serius bagi tetua adat untuk segera melakukan ”pendinginan” atau pemulihan alam. Ritual Pua Karapau merupakan salah satu jawabannya.

Pua Karapau (muat kerbau) merupakan salah satu ritual adat yang telah dilakukan turun-temurun oleh warga Dusun Cawelo dan Tudu, Desa Rokirole di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Pulau sendiri sekitar dua jam dengan morot laut dari Maumere (Kabupaten Sikka) atau satu jam dari Ropa (pesisir utara Kabupaten Ende).

Warga dua dusun itu yang berada di luar Palue pun berdatangan sebelum rangkaian Pua Karapau mulai dilakukan hingga puncaknya, yakni berupa pemotongan kerbau sebagai persembahan kepada Rawula Watu Tana (Tuhan penguasa alam semesta) dan para leluhur. Tahun ini puncak acara jatuh awal bulan 11 tahun 2009.

Termasuk Lakimosa (tetua adat) Cawelo, Cosmas Himalaya, yang tinggal di Larantuka, Kabupaten Flores Timur, jauh-jauh hari sudah tiba di Palue, pulau kecil dalam kepungan Laut Flores itu.

”Dalam tradisi di Cawelo, Pua Karapau digelar dua kali dalam lima tahun, sedangkan di wilayah adat yang lain ada yang cuma satu kali. Pua Karapau di Cawelo tahap pertama dilakukan tahun 2006 dan kali ini yang kedua,” kata Cosmas.

Pua Karapau tahun ini memang agak unik karena semestinya hanya memuat dua kerbau. Namun, berhubung seekor kerbau yang dipersiapkan sejak tahun 2006 mati pada bulan Juni 2009, maka perlu dipersiapkan gantinya tahun ini sehingga yang dipersiapkan menjadi tiga ekor.

Pasalnya, untuk Pua Karapau tahap pertama akan dipersiapkan dua kerbau, seekor di antaranya untuk dipotong dalam ritual tersebut, sedangkan seekor lainnya dipersiapkan untuk dipersembahkan pada masa Pati Karapau (potong kerbau) pada tahun ke-5.

Sementara pada Pua Karapau tahap kedua juga dimuat lagi dua kerbau, seekor dipotong saat itu, sedangkan seekor lainnya untuk Pati Karapau. Dengan demikian, saat Pati Karapau tahun 2011 akan dipotong dua kerbau yang dipersembahkan bagi Rawula.

”Persembahan kerbau pada waktu Pua Karapau dimaksudkan sebagai pemberitahuan bahwa masyarakat Cawelo telah mempersiapkan persembahan (dua kerbau) untuk Rawula dan para leluhur, yang akan diberikan pada saat Pati Karapau,” kata Cosmas.

Dari delapan desa di Pulau Palue, tradisi Pua Karapau dan Pati Karapau dilakukan turun-temurun oleh komunitas adat di empat desa, yaitu Nitunglea, Rokirole, Tuanggeo, dan Ladolaka.

Namun, tata cara ritual antara satu wilayah adat dan wilayah yang lain berbeda-beda. Sebagai contoh di Rokirole yang berpenduduk 1.500 jiwa—yang meliputi tiga dusun—memiliki dua wilayah kelakimosaan, yaitu wilayah adat Cawelo dan Tudu, serta wilayah Lakimosa Koa. Di Cawelo, Pua Karapau dalam lima tahun dilakukan dua kali, sedangkan di Koa dilaksanakan sekali saja.

Serba lima

Satu hal yang menarik dalam Pua Karapau sejumlah ritual yang dilakukan serba lima. Begitu pula Pati Karapau digelar setiap lima tahun sekali. Bagi komunitas pendukung ritual itu, angka lima menyimbolkan keberuntungan.

Sebelum Pua Karapau dilaksanakan tanggal 28 Oktober, masyarakat Cawelo harus menjalani masa pantang, yaitu tidak melakukan pekerjaan di kebun, melaut, atau pekerjaan lain, selama lima hari. Selama hampir sepekan itu sejumlah warga menyeberang ke Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende di daratan Pulau Flores, untuk membeli tiga kerbau sebagai hewan kurban.

Sebelum berangkat ke Ropa, rombongan adat masing-masing harus lima kali mengelilingi tubu ca (tugu besar) dan tubu lo’o (tugu kecil) di tengah kampung. Selanjutnya perahu yang juga bermuatan gendang dan gong harus berputar lima kali di sekitar pelabuhan sebelum bertolak ke Ropa.

Selama perjalanan juga dilantunkan lima lagu adat. Begitu pula ketika rombongan hampir tiba di Ropa, perahu harus berputar lima kali sebelum lego jangkar. Setelah kerbau dinaikkan ke dalam perahu di pantai Ropa, perahu kembali berputar lima kali sebelum bertolak pulang ke Pulau Palue.

Cosmas menjelaskan, dalam ritual Pua Karapau akan terbangun relasi yang baik, terutama dengan Rawula, lalu persahabatan dengan alam, serta hubungan yang harmonis dengan sesama. Ritual itu menuntut yang berkonflik menjadi rukun kembali karena di dalamnya ada proses perdamaian dan pemulihan.

Kerbau yang dipotong sebagai persembahan dalam ritual tersebut, ujar Lakimosa Cawelo yang lain, Bernadus Ratu, juga berperan sebagai korban penebusan sebagai ganti kesalahan yang dibuat manusia atau warga setempat.

Karena itu, tak heran, begitu kerbau yang telah dipotong tersungkur karena kehabisan darah, warga berebut menyentuhkan kakinya ke badan kerbau yang berlumuran darah. Tentu dengan harapan segala penyakit yang diderita juga tertumpah atau ditanggung ke darah kerbau tersebut.

Karena berfungsi sebagai korban penebusan kesalahan, daging kerbau tidak dikonsumsi oleh semua lakimosa dan keluarganya, serta warga Cawelo dan Tudu.

Sebaliknya warga dusun atau desa lain diperbolehkan mengambil dan mengonsumsi daging kerbau itu. Namun, pengambilan daging kerbau kurban itu harus dilakukan secara diam-diam seolah mencuri atau tanpa diketahui masyarakat Cawelo.

Warga juga berkeyakinan posisi kepala kerbau setelah jatuh dan tewas mempunyai makna sendiri. Arah kepala hewan kurban itu diyakini menunjukkan kawasan yang akan memberikan hasil panen berlimpah pada musim mendatang.

Pada ritual Senin (3/11), kepala kerbau sebenarnya menghadap ke gunung di bagian selatan, posisi yang tidak mendatangkan rezeki karena menghadap kawasan berbatu atau bukan lahan pertanian. Karena masih bernapas, kepala kerbau itu oleh sejumlah tetua cepat-cepat digeser dan diarahkan ke utara menghadap areal kebun dan perairan pantai tempat para nelayan memburu ikan.

”Lewat ritual ini diharapkan hasil dari kebun maupun laut berlimpah. Kalau demikian, masyarakat berkecukupan dan dijauhkan dari penyakit. Juga mereka yang bekerja di luar pulau akan mendapatkan perlindungan,” kata Lakimosa Cawelo, Neno Toni, seusai pemotongan kerbau.

Ketahanan pangan baik

Tradisi tua itu menunjukkan betapa masyarakat Cawelo masih berpegang kuat pada akar budaya mereka. Ritual Pua Karapau dan Pati Karapau juga menunjukkan masyarakat Cawelo adalah masyarakat yang religius. Tradisi itu juga berdampak positif pada pertanian mereka.

Masyarakat Palue tidak menanam padi untuk kebutuhan pangan. Mereka hanya menanam jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan, dan pisang. Penunjang ekonomi mereka yang lain adalah dari tanaman perdagangan, seperti kelapa, vanili, jambu mete, dan kakao, serta hasil melaut.

Mereka tidak pernah mengalami krisis pangan alias kelaparan. Ketahanan pangan warga Palue secara umum baik, sebagaimana warga Cawelo, karena ditunjang dengan adat istiadat setempat.

Setelah masa Pua Karapau berakhir dalam lima tahun, yang ditutup dengan Pati Karapau, masyarakat adat Cawelo akan memasuki phije, yakni masa haram atau pantang selama lebih kurang lima tahun. Selama masa itu mereka dilarang melakukan aktivitas yang merusak alam, juga melukai tanah. Sebagai contoh, memetik daun, apalagi menebang pohon, merupakan larangan keras. Begitu pula penggalian, pengerukan, dan pembuatan jalan maupun fondasi rumah juga dilarang. Penguburan orang mati pun tak bisa dilakukan dalam masa phije. Orang mati pada masa itu terpaksa tidak dikubur dalam tanah, melainkan dibaringkan saja di pemakaman.

Pada masa phije, yang diperbolehkan adalah aktivitas untuk menunjang atau memberikan kehidupan seperti bertani. Jika masa pantang itu dilanggar, warga akan dikenai sanksi adat. Yang lebih fatal, sebuah pelanggaran diyakini dapat mengakibatkan korban jiwa atau kesialan. Itu sebabnya pada masa itu warga menjadi fokus pada kegiatan pertanian. Bahkan, kelestarian lingkungan juga terjaga dengan baik.

Namun, pengaruh adat itu juga berdampak kurang baik pada aspek pembangunan, salah satunya pembuatan jalan kabupaten pada bulan Oktober lalu menjadi terhambat. Hal itu terjadi untuk pembuatan jalan sepanjang 1 kilometer lebih, yang menghubungkan Dusun Cawelo dengan Koa.

Pembangunan tidak bisa berjalan karena di Dusun Koa telah dilakukan Pati Karapau pada bulan Januari sehingga saat ini telah memasuki masa phije lebih kurang hingga tahun 2014.

Camat Palue Fernandes Woda pun kemudian mengusulkan kepada Bupati Sikka Sosimus Mitang agar proyek jalan rabat beton Cawelo-Koa dialihkan dahulu ke daerah lain dalam wilayah Palue.

Dari pengalaman kasus ini memang sudah tidak zamannya lagi penetapan dan pengalokasian anggaran pembangunan desa dilakukan dari atas (top down), melainkan harus dari aspirasi arus bawah (bottom up).

Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Sikka sebelum menetapkan alokasi anggaran pembangunan desa perlu berkomunikasi terlebih dahulu dengan lembaga adat sehingga program pembangunan desa tidak terbengkalai.

Keterangan Sumber:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/23/04573064/ritual.pemulihan.alam.di.pulau.palue

Pemanasan Global, Gas Rumah Kaca

Pemanasan Global, Gas Rumah Kaca

Oleh: Hotman J Lumban Gaol*)

Pemanasan Global

Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim atau Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, peningkatan pengamatan tubuh kolektif memberikan gambaran tentang sebuah dunia pemanasan dan perubahan pada sistem iklim. Tanda-tanda peringatan dini itu secara jelas dari kasat mata dengan perubahan iklim yang tidak tentu. IPCC didirikan untuk mengawasi sebab dan dampak pemanasan global. IPCC dibawa naungan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang terdiri dari 1.300 ilmuwan dari seluruh dunia.

Setiap tahun, ribuan ahli dan peneliti-peneliti terbaik dunia ini mengadakan pertemuan guna mencari solusi dan mendiskusikan mencari solusi terhadap pemanasan global. Hal pertama yang mereka temukan adalah bahwa dampak gas rumah kaca bertanggung jawab langsung terhadap pemanasan global. Kita, manusia, menjadi pemberi kontribusi yang besar terhadap terciptanya gas-gas rumah kaca. Selain itu, gas rumah kaca ini dihasilkan oleh peternakan, pembakaran bahan bakar fosil pada kendaraan bermotor, pabrik-pabrik modern, pembangkit tenaga listrik, serta pembabatan hutan.

Laporan terbaru, Fourth Assessment Report, yang dikeluarkan IPCC mengungkapkan bahwa 90% aktivitas manusia selama 250 tahun terakhir inilah yang membuat planet kita semakin panas. Sejak Revolusi Industri, tingkat karbon dioksida beranjak naik mulai dari 280 ppm menjadi 379 ppm dalam 150 tahun terakhir ini. Tidak main-main, peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer Bumi itu tertinggi sejak 650.000 tahun terakhir!

IPCC memperingatkan, bahwa meskipun konsentrasi gas di atmosfer tidak bertambah lagi sejak tahun 2100, iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu akibat emisi yang telah dilepaskan sebelumnya. Jika itu terus berlangsung, emisi gas rumah kaca terus meningkat, para ahli memprediksi, konsentrasi karbondioksioda di atmosfer dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada awal abad ke-22 yang akan datang. Itu artinya, akan terjadi perubahan iklim secara dramatis.

Indonesia bagaimana? Kepala Sekretariat Dewan Nasional Perubahan Iklim Agus Purnomo menegaskan, Indonesia telah bertekad tidak lagi melakukan konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Selain itu, dalam kesepakatan sejumlah program kerja sama yang memuat prinsip pemantauan, pelaporan, dan verifikasi (MRV), hal itu tetap dilakukan berdasarkan kesepakatan negara bersangkutan (Kompas/21/12/09).

Sudah banyak dilakukan cara untuk menanggulangi pemanasan global ini. Misalnya, Persetujuan Kopenhagen yang diadakan beberapa waktu lalu itu tidak memberikan apapa. Para aktivis lingkungan menyebutnya sebagai solusi yang menyesatkan (false solution) bagi ancaman perubahan iklim global, juga menjadi instrumen yang memperkuat kendali dan posisi negara-negara industri untuk memperdaya negara-negara berkembang dan kepulauan seperti Indonesia. Persetujuan Kopenhagen tidak termuat komitmen negara-negara industri untuk mengurangi emisinya dalam jumlah besar. Melainkan hanya ada kesepakatan untuk menjaga agar kenaikan rata-rata suhu Bumi tidak melebihi dua derajat celsius dibandingkan dengan era revolusi industri (sekitar 250 tahun lalu). Jadi tidak menjadi solusi.

Temuan yang dilakukan, menjadi model iklim yang dijadikan acuan oleh IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100. Pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil. Di Tanjung Priok misalnya, tiap tahun konstur tanahnya turun tiap tahun dua centi meter sementara permukaan lautnya makin naik. Artinya 50 tahun lagi Tanjung Priok akan tengelam.

Saat ini, suhu rata-rata global pada permukaan Bumi makin meningkat pada seratus tahun terakhir ini. Sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca. Temuan ini dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8.

Gas rumah kaca
Gas rumah kaca itu apa? Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi itu berbentuk radiasi gelombang pendek. Maka, ketika energi ini tiba pada permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Itu artinya, permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun, sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F) dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Dua ilmuan dari Duke University mengestimasikan bahwa Matahari mungkin telah berkontribusi terhadap 45-50% peningkatan temperatur rata-rata global selama periode 1900-2000, dan sekitar 25-35% antara tahun 1980 dan 2000. Stott dan rekannya mengemukakan bahwa model iklim yang dijadikan pedoman saat ini membuat estimasi berlebihan terhadap efek gas-gas rumah kaca dibandingkan dengan pengaruh Matahari; mereka juga mengemukakan bahwa efek pendinginan dari debu vulkanik dan aerosol sulfat juga telah dipandang remeh. Walaupun demikian, mereka menyimpulkan bahwa dengan meningkatkan sensitivitas iklim terhadap pengaruh Matahari sekalipun, sebagian besar pemanasan yang terjadi pada dekade-dekade terakhir ini disebabkan oleh gas-gas rumah kaca, itu.

IPCC juga menyimpulkan bahwa 90% gas rumah kaca yang dihasilkan manusia, seperti karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, khususnya selama 50 tahun ini, telah secara drastis menaikkan suhu Bumi. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca, tetapi pertambahan penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfer bertambah banyak dan menyumbang pada pemanasan global.*) wartawan dan pengiat budaya

George Junus Aditjondro: BERDIRI DENGAN COUNTRY’S terpinggirkan

George Junus Aditjondro: BERDIRI DENGAN COUNTRY’S terpinggirkan

Alpha Amirrachman, Kontributor, Depok, Jawa Barat

George Junus Aditjondro

memprotes

Orang mungkin tidak pernah membayangkan bahwa salah satu yang paling kritis dan anti-Orde Baru akademik dan aktivis sosial, George Junus Aditjondro, bertemu dengan presiden Soeharto atas undangan yang kedua pada upacara khidmat di Istana Merdeka pada tahun 1987.

“Aku sedang disajikan dengan Kalpataru penghargaan bagi upaya saya untuk mendorong berbagai organisasi lingkungan untuk menjadi pengawas lingkungan,” tutur George.

“Pada saat aliansi taktis antara pemerintah dan organisasi non-pemerintah, yang sebagian besar berorientasi lingkungan, sudah padat. Hal ini karena kemudian menteri negara lingkungan hidup Emil Salim merasa perlu untuk memperkuat peran pelayanan-Nya, dan oleh karena itu diperlukan `kaki ‘dalam masyarakat.”

“Jadi, kita saling membutuhkan. Kami membutuhkan pengakuan sehingga kita memiliki ruang untuk bergerak bebas, dan menteri yang dibutuhkan kita untuk memperluas pengaruhnya di seluruh negeri.”

Namun, aliansi mulai retak ketika ketiga kasus lingkungan yang serius bendungan Kedungombo di Jawa Tengah, Indo Rayon (Sumatera Utara) dan Scott Paper (Papua) tampaknya sudah melampaui batas-batas tertentu, dan George semakin dikesampingkan sebagai kritik atas kasus tidak membuat semua orang bahagia.

George lahir pada 27 Mei 1946, di Pekalongan Jawa ke Belanda ayah dan ibu. Ayahnya dididik di Belanda selama sembilan tahun dan juga seorang aktivis mahasiswa dari Perhimpunan Indonesia (PI) sebagai sekretaris Mohammad Hatta, yang terakhir pertama kemudian menjadi Vice President of Indonesia.

Dia mengatakan ayahnya menikah dengan seorang wanita Belanda sebelum pulang ke Pekalongan untuk mendirikan sebuah firma hukum. Tapi ia tidak tinggal lama sebagai seorang pengacara dan memutuskan untuk bekerja sebagai kepala pengadilan negara.

George mengatakan bahwa pada saat itu adalah puncak dari pertempuran antara kolonial Belanda dan Indonesia, dan rumah mereka adalah sebuah tempat pertemuan rahasia para pejuang kemerdekaan seperti Hoegeng dan Ali Moertopo.

“Ayahku adalah seorang kepala negara pengadilan dan istrinya Belanda, sehingga Belanda tidak pernah mencurigai kegiatan kami,” tutur George. “Secara bersamaan, ibu saya juga terlibat dalam kontraspionase untuk menguntungkan perjuangan kemerdekaan.”

Tinggal di Belanda ketika ia masih sangat muda, George pergi ke sekolah dasar di tiga kota, Banyuwangi, Pontianak dan Makassar, saat ia mengikuti tur ayahnya tugas pengadilan. Di Makassar ayahnya diangkat menjadi anggota pengadilan tinggi negara dan ikut serta dalam pembukaan hukum dan ilmu-ilmu sosial di Universitas Hasanuddin sekolah.

“Meskipun saya biologis Jawa, saya kultural lebih timur dari barat, karena Indonesia, selama tahun-tahun sebagai seorang pemuda, aku tinggal di makassar dari SMP sampai 1964 ketika saya mulai kuliah di sekolah teknik Hasanuddin.”

“Saya mengalami situasi yang tegang ketika perang antara DI / TII (Darul Islam / Tentara Islam Indonesia) dan Militer Indonesia berlangsung sampai pemimpin pemberontak, Kahar Muzakar, dibunuh,” katanya.

George menambahkan bahwa situasi relatif normal sampai kudeta yang dituduhkan pada tahun 1965 oleh komunis, yang memaksa keluarganya untuk pindah kembali ke Semarang. Jadi dia pergi ke negara akademi teknis di kota dan juga belajar teknik elektronik di Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga. Dia tidak pernah selesai juga.

“Sebuah tes IQ kemudian mengungkapkan bahwa aku lebih berorientasi secara sosial daripada orang matematika; rasa keadilan sosial sangat banyak diwarisi dari ayah saya,” George kepada The Jakarta Post pada peluncuran buku yang diedit berjudul Revitalisasi Kearifan Lokal: Studi Resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso (Revitalisasi Wisdoms Lokal: Studi Resolusi Konflik di Kalimantan Barat, Maluku dan Poso) di Hotel Bumi Wiyata, Depok, Jawa Barat.

George, yang memberikan kontribusi sebuah bab tentang konflik Poso dalam buku ini, tampak segar dan fit selama wawancara dilaksanakan pada awal pagi. Dia menambahkan komitmennya untuk berdiri di terpinggirkan itu didukung oleh ayahnya prinsip bahwa, meskipun darah aristokrat, ayahnya sangat menentang feodalisme. Penghargaannya terhadap budaya diwarisi dari ibunya.

George sepenuhnya aktif sebagai jurnalis di Kami mahasiswa sehari-hari dan berpengaruh Asosiasi Wartawan Mahasiswa Indonesia (IPMI). Dia kemudian menjadi wartawan di majalah berita Tempo 1971-1979. Dia membantu Fikri Jufri wartawan di meja bisnis sebelum menjadi editor untuk teknologi dan lingkungan. Menjadi seorang wartawan, ia berkenalan dengan banyak aktivis lingkungan dan pertanian.

Setelah 10 tahun di Tempo, George memutuskan untuk mengabdikan diri untuk pemberdayaan masyarakat pertanian, sehingga ia membantu mendirikan Bimbingan Pedesaan Sekretariat dengan Bambang Ismawan, Prof Sayogo dan Abdullah Sarwani. Ia juga membantu mendirikan pengawas lingkungan WALHI dan bekerja untuk Yayasan Pengembangan Masyarakat Irian Jaya (YPMD-Irja) 1981-1989.

Karena spesialisasi ayahnya di hukum pertanian, sebagai seorang aktivis George manfaat banyak dari banyak buku-buku ayahnya. Perannya dalam memelihara kesadaran lingkungan dianggap begitu signifikan presiden Soeharto yang kemudian disampaikan kepadanya penghargaan lingkungan Kalpataru pada tahun 1987.

George lebih lanjut mendapatkan beasiswa untuk studi untuk Master of Science di Universitas Cornell di Amerika Serikat dengan tesis tentang proses pendidikan dari pembangunan masyarakat di YPMD-Irja, yang selesai pada tahun 1991. Dia kemudian dilanjutkan dengan penelitian untuk PhD dan selesai itu pada tahun 1993 dari universitas yang sama dengan tesis pendidikan publik tentang dampak pembangunan bendungan Kedungombo, Jawa Tengah.

Meskipun demikian, tak henti-hentinya George kritik terhadap ketidakadilan di Timor Timur, ia melawan Angkatan Darat fungsi ganda dan kepentingan bisnis keluarga Soeharto lebih dari cukup untuk menyebabkan kerusakan parah hubungannya dengan rezim Orde Baru.

Untuk memprotes apa yang dianggap tak tertahankan ketidakadilan yang dilakukan oleh negara, ia mengembalikan penghargaan Kalpataru kepada pemerintah.

Setelah diinterogasi oleh pihak berwenang beberapa kali, George memiliki kesempatan untuk melarikan diri dari negara pada tahun 1995 dan mengajar di Murdoch University dan University of Newcastle di Australia dan menjadi orang pengasingan diri di negara tetangga.

Ia kembali ke Indonesia setelah jatuhnya Orde Baru dan sekarang bekerja sebagai konsultan penelitian di Yayasan Tanah Merdeka di Palu, Sulawesi Tengah, di mana ia merasa lebih di rumah, meskipun asal Jawa.

Ketika ditanya mengenai peran wisdoms lokal dalam mengurangi konflik di Indonesia, khususnya di Poso, dia mengatakan bahwa cara pemerintah memanfaatkan instrumen tradisional bisa menjadi bumerang jika mereka tidak dilakukan dengan benar. Dia mengutip contoh dari tradisi tana motambu di Poso di mana pihak-pihak yang diperlukan untuk makan daging kerbau yang dikorbankan, sebelum kesepakatan damai.

“Tapi Presiden Abdurrahman Wahid merindukan bahwa elemen penting dari tradisi ketika ia, sebaliknya, meninggalkan upacara tanpa makan daging,” kata George, yang juga mengajarkan Marxisme di Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta.

Nya lahir Poso-istri saat ini sedang belajar untuk gelar doktor di kota.

George memperingatkan bahwa instrumen tradisional mungkin juga malah berkembang menjadi alat otoriter ketika para pemimpin lokal yang memikat untuk memanipulasi mereka untuk memaksakan kehendak mereka pada masyarakat, dan untuk memisahkan masyarakat dengan menyatakan bahwa orang yang bukan dari kelompok mereka adalah orang luar.

“Jadi, hal terbaik untuk menangani konflik komunal adalah memiliki sebuah sintesis antara pendekatan tradisional dan kontemporer,” George membantah. Dia menambahkan bahwa lebih lanjut wisdoms lokal ditantang oleh linguistik dan transformasi masyarakat agama, dan mengidentifikasi penyebab yang paling bertanggung jawab untuk kelanjutan dan eskalasi konflik adalah sesuatu yang tidak boleh dilupakan.

Oleh karena itu, memperlihatkan aliansi antara perusahaan terhubung secara politik dan beberapa elemen militer, yang katanya telah terpinggirkan dan menjadi korban masyarakat lokal di daerah konflik, juga penting.

Ket: pertama kali diterbitkan di The Jakarta Post, 9 Januari 2007

Surat Pembaca

AGENDA SIDANG PGI TENTANG PROTAP?

Sidang Raya PGI ke-15 di Mamasa, Sulawesi Barat dari 18-24 November dihadiri 85 perwakilan dari sinode yang bernaung dibawa Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI). Umat Kristen berharap Sidang Raya ini bisa memilih pemimpin PGI yang berani, beringritas, dan jujur, yang bisa memperjuangkan harapan umat.
Selain itu, umat Kristen pun berharap Sidang Raya ini bisa memberikan respon terhadap pergumulan umatnya. Salah satunya adalah masalah Provinsi Tapanuli yang telah lama diperjuangkan umat Kristen di Tapanuli. Maka pada Sidang Raya menyampaikan sikapnya. Agustus lalu sikap dari HKBP telah disampaikan oleh ephorus, bahwa HKBP meminta masalah Protap jangan ditunda-tunda dengan alasan SARA.
Demikian pula, seperti diberitakan SIB, Sekretaris Jenderal Gereja Kristen Protestan Indonesia Pdt M Simamora STh dan Sekretaris Jenderal Huria Kristen Indonesia, Pdt R Simanjuntak mengatakan asal peluang kesempatan maka utusan GKPI dan HKI akan berusaha menyuarakan masalah Protap menjadi salah satu materi pembahasan pada Sidang Raya PGI di Mamasa, Sulawesi Barat. Sebab, dari sejak awal GKPI dan HKI tetap komit mendukung setiap pemekaran daerah, karena maksud dan tujuan adalah untuk pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak…
Masalah protap adalah kerinduan masyarakat Tapanuli yang kebetulan mayoritas umat Kristen. Kita berharap pada Sidang Raya ini PGI bisa melihat dirinya, PGI dapat merasakan, ada bagian dari dirinya yang masih tertinggal (Tapanuli) dan membutuhkan perhatian…..Selama ini, PGI kurang berani memberikan stanment terkait masalah yang dihadapi Propinsi Tapanuli…….Kita berharap PGI sebagai institusi berani menyampaikan sikapnya? Kita berharap pada sidang kali ini PGI mampu memberikan sika itu.

Hotman J Lumban Gaol, S.Th
seorang wartawan
Email: redaksi.tokohbatak@gmail.com
Weblog: www.http://tokohbatak.wordpress.com

HUMBANG PENGHASIL TERBAIK HAMINJON

Kampung halaman

HUMBANG PENGHASIL TERBAIK HAMINJON Marhaminjon

Jaherbit Marbun, op Stephen Lumban Gao, sedang manige pohon keminyaan
foto oleh Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga)
Ketika Yesus lahir di Betlehem ada tiga orang majus dari timur datang membawa persembahan. Mereka sampai ke sana berkat tuntunan bintang-bintang. Persembahan mereka terdiri dari emas, mur (damar yang harum), dan kemenyan. Tak ada kisah-kisah para rasul yang menyebutkan dari mana kemenyan itu diambil. Hanya para penulis sejarah yang mengatakan kemenyan berasal dari Tapanuli dengan pintu masuknya pelabuhan Barus. Para pelaut dari Persia (sekarang Iran) yang membawa kemenyaan itu ke dunia luar. Dan jadilah kemenyan sebagai perangkat pengharum upacara keagamaan. Kemenyan Tanah Batak sudah lama dikenal, diperkirakan sejak pelabuhan Barus mulai aktif sebagai pintu masuk dunia ke Tanalui, yaitu di abad ke-13.

Kemenyaan dalam bahasa Batak disebut haminjon, semantara dunia ilmu pengetahuan menyebutnya Styrax Benzoin. Selain di Tapanuli dia hanya ditemukan di Muangthai, Kamboja, dan Vietnam. Muangthai juga disebut orang Siam, karena itu getah yang harum itu dikenal pula dengan nama “Siam Benzoin.” Wilayah Humbang-Hasundutan di Tanah Batak dipuja sebagai sumber haminjon berkualitas terbaik. Sigarang-garang adalah salah satu huta hamijon di wilayah Dolok Sanggul.

Haminjon merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakat Humbang-Hasundutan. Sekitar 65 persen warga hidup dari haminjon. Saat ini diperkirakan ada sekitar 16.283 ha lahan yang menjadi sumber kemenyan. Penghasil kemenyan utama adalah Kecamatan Dolok Sanggul, Onan Ganjang, Parlilitan, dan Pakkat, Sijamapolang, Pollung. Tahun 60-an terbentuk organisasi yang khusus mengurusi komoditas ini, Persatuan Pengusaha Kemenyan Indonesia (PERPEKI) berpusat di Dolok Sanggul. Dan pada tahun 1978 berdiri asosiasi Perkumpulan Pedagang/Pengusaha Kemenyan Tapanuli Utara (The North Tapanuli Benzoin Traders Association — BENTRAS).

Bagi parhaminjon, masalah utama yang mereka hadapi adalah soal harga, apalagi sekarang banyak pohon haminjon yang dibabat. Hutan sumber kemenyan telah dimasuki kegiatan Toba Pulp Lestari, pabrik bubur kertas, yang dianggap masyarakat sebagai sumber kerusakan lingkungan. Aktivitas industri itu merambah ke kawasan tangkapan Aek (sungai) Simonggo, yakni Aek Nauli, Simarombun, Pulo, dan Lae Kirta.

Keempat kawasan ini adalah daerah perladangan kemenyan. Saat ini hutan kemenyaan telah ditebangi Toba Pulp Lestari. Perusahaan yang tak henti-hentinya didemonstrasi masyarakat itu memiliki hutan konsesi yang merambah ke wilayah Humbang-Hasundutan, seluas 103.000 ha.
Gota ni haminjon

Gota ni haminjon (getah kemenyan) mengandung asam balsamat yang wangi, maka bias dijadikan parfum dan wangi-wangian serta bias dijadikan minyak untuk ritus-ritus agama. Bau dari wangian haminjon sangat mencolok; itu sebabnya perusahan-perusahan parfum dunia menjadikan haminjan menjadi bahan bakunya. Data menunjukkan, tahun 1990 produsen haminjon utama dari Tapanuli di Indonesia dengan luas tanaman kira-kira 22.670 hektar dan produksi getah sekira 2.000 ton per.

Di Humbang-Hasundutan, selain tanahnya yang cocok ditanami haminjon, sebagaimana haminjon dapat tumbuh dan subur pada areal berketinggian 500 hingga 2.000 meter diatas permukaan laut (dpl). Humbang Hasundutan sendiri sebagai habitat terbaik haminjon pada ketinggian 1.200 hingga 1.500 dpl. Misalnya, di Aeknauli, kecamatan Pollung misalnya haminjon walau baru berusia mudah sudah menghasilkan getah 0,1 kg per sekali panen (6 bulan), itu artinya kontur tanah sesuai dengan pohon keminyaan.

Umumnya kemenyan tumbuh di daerah pegunungan dengan ketinggian 900-1200 meter di atas permukaan laut, bersuhu antara 28-30 derajat Celsius di tanah podsolik merah kuning dan latosol. Keasaman tanah antara 5,5 hingga 6,5 dengan kemiringan tanah maksimal 25 derajat.
Keminyaan Setara Emas

Kemenyan menjadi komoditas andalan daerah jauh di bawah kopi dan karet, bahkan sekitar 65 persen keluarga (33.702) hidup dari pohon kemenyan. Keminyan mampu hidup hingga lebih dari 100 tahun.
“Mamiaro hamijon non butuh do kesabaran, Alana ikkon sabar do merawat. Merawat pohon kemenyan itu butuh kesabaran, sebab harus sabar untuk merawat kemiyaan,” ujar J Simanullang, 51 tahun. Salah satu parhaminjon di Sigarang-garang saat ditemui TAPIAN.

Proses pertama adalah maninge adalah cukilan pertama pada batang pohon akan menghasilkan getah berwarna putih. Getahnya ini baru bisa diambil sekitar tiga bulan kemudian itulah disebut mangaluak atau mengambil hasil getah keminyaan. Sebelum manige pertama adalah mangarambas yaitu membersihkan tumbuhan yang ada di sekitar batang pohon yang kira-kira 2 meter.

Alat-alat dalam para parhaminjon adalah agat berbetuk pisau kecil bulat digunakan untuk mengambil getah haminjon. Getah itu menempel di kulit pohon sehingga untuk memanen petani harus mencongkel kulit batang kemenyan. Getah putih yang disebut sidukapi adalah getah yang paling besar dari hamijon dan paling mahal. Dari bekas cukilan itu akan menghasilkan tetesan getah kedua yang disebut tahir biasanya dipanen dua-tiga bulan setelah memanen sidukapi harganya lebih murah.

Biasanya dalam manige ada ritus berdoa dibawa pohon dengan membawa lemak daging babi, kemudian sebelum maninge terlebih dahulu semua peralatan siolesi daging babi. Ada ritus para parhaminjon membuat kue itak gurgur, kue yang terbuat dari campuran tepung beras, gula merah, dan parutan kelapa. Kue itu dikunyah lalu disemburkan ke batang pohon kemenyan yang hendak disadap. Lalu mulailah manguris atau membersihkan pohon. Di Humbang-Hasundutan, Haminjon menjadi salah satu komiditi andalan.***

METODE KAMPANYE YANG RAMAH LINGKUNGAN

METODE KAMPANYE YANG RAMAH LINGKUNGANgurgurma
Oleh Gurgur Manurung
Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2009, hampir di semua wilayah, khususnya perkotaan dijejali oleh spanduk, baliho, brosur dan lain sebagainya. Berbagai macam cara dilakukan para Calin Legislatif (Caleg) dan Calon Presiden (Capres) untuk mempromosikan diri. Meminjam istilah Jusuf Kalla bahwa para politisi kita senang membuat fotonya nebeng di pinggir jalan. Mereka mempromosikan diri dengan mengabaikan aturan.
Hampir tidak ada politisi kita yang berkampanye dengan mempertimbangkan keindahan, dan masa depan lingkungan. Mereka hanya memikirkan kepentingannya sendiri, tanpa meyadari bahwa kita hidup di bumi yang teramat terbatas. Hampir semua partai politik dan politisi melakukan kampanye dengan cara menambah beban lingkungan. Anehnya, para incumbent pun ikut-ikutan. Bagaimana mungkin eksekutif dapat menertibkan kampanye yang serampangan jika eksekutif juga ikut melakukannya?. Sejatinya, jika ingin populer, mereka dapat belajar dari Al-Gore yang amat popular di se-antero bumi karena membeberkan fakta-fakta kehancuran bumi. Inilah bukti, bahwa di negeri ini terlalu senang dengan politik pencitraan.
Jikalau melihat kota Jakarta yang begitu sesak, ditambah lagi penempelan spanduk, baliho, brosur, dan foto-foto yang menghiraukan aturan, apa yang diharapkan dari mereka?. Jikalau dalam kampanye saja mereka menghiraukan kepentingan publik, apakah mungkin mereka setelah terpilih akan memikirkan publik?. Rasanya, tidak. Mengapa mereka ingin menjadi pejabat publik dengan menyesakkan publik dengan baliho, spanduk, brosur, foto-foto?. Apa sesungguhnya yang dibutuhkan rakyat?. Apa sesungguhnya yang mampu menyentuh hati rakyat?. Bagaimana seharusnya tanggungjawab partai dan politisi terhadap masa depan bangsa dan bumi dalam konteks pemanasan global yang telah mengancam umat manusia di kolong langit ini?. Lagipula, amat menyakitkan jika kalimat-kalimat yang dituliskan melukai hati rakyat.
Sebagai contoh misalnya, iklan di Jl.Gatot Subroto Jakarta foto Menteri Pemuda dan Olahraga Adhiaksa Dault terpampang bersama Presiden SBY dan Wapres JK. Di bawah ketiga orang itu tertulis agar rakyat membudayakan olahraga. Lalu, muncul pertanyaan, dimanakah rakyat Jakarta berolahraga?. Jangankan tempat berolahraga, tempat rekreasi ibu hamil dan anak-anak usia dini untuk bermainpun tidak ada. Tidakkah iklan intu menyakiti rakyat Jakarta yang tidak memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai dengan hak rakyat?. Inilah iklan pencitraan yang irasional.
Jikalau eksekutif bekerja untuk membangun pencitraan dengan cara menghabiskan uang Negara, partai politik dan politisi melakukan berbagai cara untuk mencari biaya kampanye, warisan apa yang kita tinggalkan bagi masa depan bangsa ini?. Jika ini yang terjadi, maka bangsa ini makin lama makin bangkrut. Bangsa ini akan hancur berkeping-keping. Sebab, metode kampanye yang menyebarkan spanduk dan brosur-brosur secara serampangan jika dilakukan 44 partai maka kota semakin sesak. Pemborosan terjadi dimana-mana. Politisi yang tidak terpilih jatuh miskin dan politisi yang menjadi anggota legislatif akan cnderung mengganti biaya kampanye dengan berbagai cara.
Secara rasional, objektif dan realistis sejatinya partai politik dan politisi harus menyentuh rakyat sesuai kebutuhannya. Kebutuhan rakyat tentu berbeda-beda. Kebutuhan rakyat miskin yang terutama adalah kebutuhan pokok dan perhatian. Perhatian dalam bentuk pembinaan. Mereka akan tersentuh jika para politisi memperjuangkan keadilan bagi mereka. Sebaliknya, eksekutif tidak perlu beriklan ria di media cetak dan elektronik apabila rakyat memperoleh haknya. Jika rakyat merasa mendapat haknya, untuk apa eksekutif memasang iklan dengan harga mahal?. Tidakkah mereka secara otomatis akan didukung kembali?. Pencitraan diri dengan mengabaikan hak-hak rakyat mengakibatkan incumbent secara otomatis ditinggalkan rakyat. Ketika rakyat ditinggalkan incumbent merupakan kesempatan emas bagi partai politik baru untuk menyentuh rakyat dengan metode yang mencerahkan rakyat. Sejatinya, kampanye tujuannnya adalah mencerahkan rakyat, bukan membodohi rakyat untuk meraih kekuasaan.

Kampanye yang ramah lingkungan

Situ Gintung dan Dosa-Dosa Perencanaan Kota

PRIEST/STD/ CD BOOKLET

Situ Gintung dan Dosa-Dosa Perencanaan Kota

Seorang bapak yang usianya sudah setengah baya berkata: “Kalau yang tinggal dekat tanggul, semuanya memang sudah pada ngungsi malam itu. Tapi, yang tinggal di seberang masjid ini yang kena semua. Apalagi kejadiannya subuh, pas semua pada shalat.”
Ya, bapak itu menceritakan ganasnya luapan air bah dari tanggul yang menerjang permukiman penduduk di Kampung Poncol. Kampung yang lokasinya di bawah tanggul Situ Gintung, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Memang kerusakan terparah menerjang warga yang tinggal di Kampung Poncol ini, tepatnya di RT 02, RT 03, RT 04, yang masuk administrasi RW 08. Kampung Poncol tinggal menjadi puing-puing sejarah. Bapak itu kebetulan rumahnya juga berada di sekitar daerah yang terkena dampak paling parah, namun dia cukup beruntung karena rumahnya berlokasi lebih tinggi dari yang lain. Dia sendiri, katanya, merinding saat melihat air bah itu mengalir deras menghabisi semua permukiman, saat fajar belum lagi menyingsing.

Tanggul Situ Gintung jebol…. Tak jauh dan tak kurang ibarat serangan fajar. Mengejutkan banyak orang. Saat semua masih berharap dapat menikmati sejuknya embun di pagi yang cerah. Tiba-tiba tanggal dua puluh tujuh, sekitar pukul lima dini hari itu, tanggul “terkupas” dan jebol, menggelontorkan ribuan liter air. Air bah menerjang dan menyapu bersih semua yang menghadangnya. Permukiman menjadi puing, kolam pemancingan menjadi endapan lumpur, tiang listrik miring dan pabrik tahu sudah tidak kelihatan jejaknya. Semua rata dengan tanah bercampur dengan lumpur. Yang tersisa hanya sebuah pohon dan masjid, yang terlihat masih kokoh berdiri tegak. Masjid Nurul Iman menjadi saksi kedahsyatan air bah itu.

Banyak orang teringat bila keganasan air bah Situ Gintung, tak ubahnya bencana Tsunami yang dialami manusia dan alam di sepanjang pesisir barat Aceh tahun 2004. Tsunami kecil, kata beberapa pihak menjulukinya. Memang, tak salah. Bayangkan saja kerusakan yang ditimbulkan hingga mecapai sekitar 10 hektar yang tidak hanya meluluhlantahkan puluhan rumah, tapi juga sarana seperti sekolah, puskesmas, pasar dan termasuk memutuskan jaringan listrik. Bahkan perumahan-perumahan elit yang dibuat oleh pengembang, yang sering mengumbar janji tidak akan terkena banjir, juga terkena dampaknya. Perumahan elit Bukit Pratama dan Cirendeu Permai, yang terletak jauh di bagian utara tanggul Situ Gintung, juga menanggungkan akibatnya.
Jatuhnya korban jiwa juga sangat banyak. Pada hari pertama saja, dalam upaya evakuasi sudah ditemukan 65 orang korban tewas, 98 hilang, dan 52 luka-luka. Angka yang akan terus bertambah seiring belum baiknya kondisi cuaca dan lapangan ketika tim SAR bergerak.

Hingga laporan ini disusun korban yang jatuh hampir mencapai seratus orang. Dan bila kita sedang berada di atas puing-puing rumah di Kampung Poncol, maka mungkin saja kita sedang berdiri di atas sejumlah mayat-mayat yang masih belum ditemukan, mayat yang masih berada beberapa meter di dalam tanah dan “berselimutkan” lumpur. Sampai detik ini pun tim SAR (Search and Rescue) terus-menerus menyusuri aliran air sungai yang masuk dan keluar dari tanggul Situ Gintung, dari Sungai Pesanggrahan sampai ke daerah Tanah Kusir.

Tata (R)uang
Sejak H plus 1 pasca jebolnya tanggul buatan Belanda itu, banyak warga yang berduyun-duyun datang, terutama ke bagian tanggul dan ke permukiman yang lokasi kerusakannya paling parah, Kampung Poncol. Permukiman yang langsung bersebelahan dengan tanggul, yang ketinggiannya berada 10m di bawah tanggul. Banyak yang penasaran, berbekal empati, ingin melihat secara langsung. Tak berlebihan untuk mengatakan keinginan tersebut sebagai dampak pemberitaan oleh banyak media massa. Akibatnya, kemacetan pun terjadi di sepanjang jalan Juanda, jalan raya yang berada di depan pintu masuk gang menuju ke permukiman dekat tanggul Situ Gintung. Meskipun beberapa pintu masuk yang berupa jalan dan gang lain sudah ditutupi, tapi tetap saja hari itu bisa dikatakan sebagai pekan yang penuh sesak, yang tak seperti biasanya.

Situ Gintung adalah bencana nasional, juga diibaratkan Tsunami kecil. Itu sudah pasti, dan Indonesia pun kembali berduka. Hingga para petinggi di republik ini pun datang ke lokasi. Tapi, masih banyak pihak yang lebih memaklumi ini akibat dari perubahan cuaca yang drastis. Lebih merupakan force majeure atau musibah kata mereka, terutama kata para pejabat pemerintaha daerah.

Lantas beberapa kalangan juga lebih melafalkan “ayat-ayat sucinya” bahwa ini memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Tolong kawan, simpan dulu khotbah-khotbah itu. Memang, semua yang berjalan di muka bumi ini jelas kehendak Sang Kuasa, tapi jangan pula disamakan bencana ini dengan bencana Tsunami di Aceh. Tsunami di Aceh jelas merupakan fenomena kekuatan alam yang maha dahsyat. Sedangkan Situ Gintung jelas-jelas merupakan kelalaian dan kecerobohan manusia, dampak dari perencanaan dan pembangunan kota yang semakin tidak terkendali. Saat tata ruang hanya dikalkusi dengan pendekatan uang semata. Tak lebih dan tak kurang. Dari Tata (R)uang menjadi Tata Uang. Hingga lahan konservasi kota pun menjadi “tumbal” dari kebijakan dan perencanaan kota, sengaja maupun tidak sengaja.

Memang, sebelum jebolnya tanggul, terjadi perubahan cuaca yang cukup drastis. Dua hari sebelum pecahnya tanggul, turun hujan deras disertai angin, bahkan hujan disertai butiran-butiran es, yang mengakibatkan penuhnya air di dalam tanggul Situ Gintung. Tapi, apakah hanya karena dua hari yang disertai perubahan cuaca yang sangat drastis itu maka tanggul jebol, tanggul yang telah berusia 75 tahun buatan Belanda itu. Apakah selama ini tidak ada tanda-tanda akan jebolnya tanggul?

Kabarnya, tanggal 10 Juli 2008 pernah dilakukan pertemuan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane mengenai rencana rehabilitasi Situ Gintung dan pengembalian fungsinya sebagai tempat penampung air. Dan di saat itu pun warga sekitar sudah menyampaikan keluhan dan kekhawatiran mengenai kondisi tanggul. Tanggul ini sebenarnya sudah sampai pada early warning( system) berupa peringatan keras kalau air di tanggul sudah hampir mencapai ketinggian sekitar 44m di atas permukaan laut. Jadi peringatan dini sudah ada, pelaporan dari warga juga sudah. Jadi siapa yang salah? Meskipun ini bukan saat yang tepat untuk mencari kambing hitam.

Ada batasnya
Sejatinya, tanggul Situ Gintung, tanggul buatan Belanda tahun 1933 ini, pada awalnya difungsikan sebagai sarana penyediaan air bagi keberlangsungan produksi pertanian. Sebagai sarana irigasi bagi para petani, termasuk menjaga kecukupan pasokan air bila kemarau panjang datang menghantui. Namun, lambat laun lahan pertanian telah berubah dan dikonversi semua menjadi permukiman. Terjadi alih fungsi lahan secara pelan-pelan. Seiring pergerakan metropolis Jakarta yang para penduduknya semakin berlarian tunggang-langgang ke daerah pinggir kota. Muncullah kebangkitan kota yang baru, termasuk di Ciputat, dan kota Tangerang. Permukiman pun memaksa dan mengambil alih pada lahan yang seharusnya dijadikan sebagai area konservasi dan ruang terbuka yang hijau, seperti yang terdapat di kawasan Situ Gintung.

Situ Gintung jelas diperuntukan sebagai ruang terbuka hijau dan area konservasi kota, tapi nyatanya mobilitas penduduk dengan progresif mengepung kawasan ini. Bahkan tanggul yang semula seluas 31 hektar menyusut hingga 21,4 hektar. Terjadi pendangkalan, meskipun katanya perawatan tanggul terakhir telah dilakukan tahun 2008. Akhirnya, Situ Gintung yang berkapasitas 2,1 juta m3 ini pun tak tahan lagi dan jebol. Sudah jelas pula bila Situ Gintung ini seharusnya tetap menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang termaktub dalam aturan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Menurut aturan RDTR wilayah terbagi dalam zona-zona peruntukan ruang — mana ruang yang memang diperbolehkan untuk mendirikan bangunan. Semua ada batasannya. Tapi faktanya, terdapat permukiman padat di sekeliling tanggul, bahkan lokasinya berada jauh di bawah tanggul.

Bagaimana mungkin Izin Mendirikan Bangunan (IMB) bisa diberikan untuk menempati lokasi itu. Dan bukankah IMB ini juga menjadi kewenangan dari pemerintah daerah yang juga menetapkan Situ Gintung sebagai RTH dan area konservasi. Ternyata rencana kota juga tidak konsisten dan terpadu. Perencanaan kota akhirnya memakan korban, Kampung Poncol menjadi korban dari tata uang. Tragis. Tapi, tengoklah di reruntuhan puing-puing Kampung Poncol sekarang, kampung yang hilang, banyak bendera partai yang bersliweran yang mencoba menawarkan bantuan sekaligus mencitrakan partainya sebagai partai yang peduli rakyat. Ibarat pepatah, berdiri di atas penderitaan orang lain. Di lain pihak, setelah peristiwa ini terjadi semua instansi saling melempar tanggung jawab dan “tiarap,” pada tidak mau disalahkan. Tapi satu yang pasti bila ini sejatinya adalah kegagalan dari para perencana kota. *** Chris Poerba

Developmentalisme

Developmentalisme
Oleh:M. Dawam Rahardjo
Senin, 18 Mei 2009 | 13:32 WIBdawam_rahardjo

TEMPO Interaktif, Jakarta: Developmentalisme adalah kemistri ideologis antara kepentingan negara industri maju dan kepentingan elite politik negara dunia ketiga. Istilah ini tepat untuk menggambarkan realitas obyektif haluan ekonomi negara dunia ketiga ketimbang neoliberalisme, yang lebih kompleks pengertiannya. Neoliberalisme juga mencerminkan kepentingan sepihak negara industri maju, khususnya Amerika Serikat, dalam mempertahankan hegemoni ekonominya.

Mula-mula developmentalisme adalah salah satu teori pembangunan, yang berkembang menjadi ideologi. Demikian tinjauan ulang Tony Smith, pada 1985, setelah teori pembangunan internasional diketahui keberhasilan dan kegagalannya. Ideologi ini timbul dan berkembang menurut versi negara industri maju dan negara dunia ketiga.

Di Amerika, teori ini berkembang dari doktrin Four Points Program yang dilancarkan Presiden Harry S. Truman pada 1949, sebagai landasan politik luar negerinya. Program itu mencakup kerja sama internasional lewat Perserikatan Bangsa-Bangsa, pemulihan ekonomi akibat kerusakan Eropa dari Perang Dunia II, pertahanan negara-negara Dunia Bebas dari ancaman agresi yang bermuara pada pembentukan pakta-pakta militer, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemajuan bangsa-bangsa.

Developmentalisme merupakan kelanjutan program pemulihan ekonomi dunia ketiga. Motif utamanya adalah membendung pengaruh komunisme di negara dunia ketiga yang cenderung memilih bentuk lain sosialisme. Asumsinya, sumber penyebaran komunisme adalah kemiskinan. Karena itu, penangkal penyebaran komunisme adalah pembangunan ekonomi yang mampu menghapus kemiskinan. Sedangkan di dunia ketiga lahir nasionalisme ekonomi sebagai kelanjutan nasionalisme politik sesudah merdeka dari penjajahan.

Nasionalisme ekonomi mengambil berbagai bentuk, terutama industrialisasi. Dari negara-negara Amerika Latin, melalui Raul Prebisch, lahir gagasan industrialisasi substitusi impor yang bertujuan mengganti barang-barang impor dengan produksi domestik. Perekonomian nasional bisa bebas dari ketergantungan pada luar negeri. Program ini sesungguhnya merugikan negara industri maju yang telah mengekspor barang konsumsi ke negara-negara bekas jajahan.

Teori pembangunan internasional mendukung elite politik dunia ketiga ke jenjang kekuasaan. Syaratnya, mereka harus bisa menyukseskan pertumbuhan ekonomi di negara masing-masing sekaligus memberikan kesempatan untuk memanfaatkan sumber daya internasional, terutama modal finansial. Menurut teori itu juga, keberhasilan pembangunan adalah sumber legitimasi bagi elite politik untuk memerintah. Sehingga elite politik berhak atas legitimasi politik, de facto maupun de jure, berupa klaim keberhasilan pembangunan ekonomi. Ini merupakan insentif bagi elite politik negara dunia ketiga untuk mengikuti haluan developmentalisme.

Di Indonesia, teori pembangunan internasional mulai dicoba oleh beberapa kabinet yang dipimpin elite politik Masyumi-PSI (Partai Sosialis Indonesia) dan Katolik, yang antikomunis dan didukung elite militer. Di masa Orde Baru, developmentalisme dijalankan oleh koalisi militer-intelektual-pengusaha.

Kritik terhadap developmentalisme datang dari haluan kiri dan kanan. Dari sisi kiri, developmentalisme dikritik karena menguatkan ketergantungan dunia ketiga terhadap Amerika dan negara maju lainnya. Bahkan perekonomian nasional makin didominasi modal asing. Sedangkan dari sisi kanan, developmentalisme dinilai telah melahirkan pemerintahan otoriter, bahkan akhir-akhir ini melahirkan rezim antikapitalis dan prososialis, seperti di Kuba, Venezuela, Ekuador, Bolivia, dan Argentina—kendati penyebaran komunisme telah berhenti. Dengan kata lain, developmentalisme telah melahirkan musuh-musuh baru dalam konteks melawan neoliberalisme.

Komunisme sebagai musuh telah digantikan rezim-rezim antidemokrasi. Namun yang kurang disadari adalah developmentalisme telah melahirkan musuh-musuh baru yang lebih cerdas. Kritik yang cerdas dan inovatif ini muncul dari kapitalisme sendiri, yang telah diramalkan Joseph Schumpeter, pemula teori ”Economic Development” dan pengagum dinamika kapitalisme.

Di Indonesia, developmentalisme masih tetap bertahan. Ini tampak dalam klaim-klaim keberhasilan pembangunan oleh partai-partai politik yang berkuasa, khususnya Demokrat, Golkar, dan Partai Keadilan Sejahtera. Klaim keberhasilan itu di antaranya pengendalian inflasi dan penjagaan stabilitas moneter, tercapainya swasembada beras, peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui bantuan langsung tunai kepada penduduk miskin, peningkatan anggaran pendidikan dan pelayanan kesehatan masyarakat, peningkatan angka ekspor, serta pertumbuhan ekonomi di tengah krisis keuangan global. Padahal keberhasilan di bidang politik sebenarnya tak kalah penting, terutama dalam menjaga negara kesatuan, mereformasi organisasi militer tanpa menimbulkan masalah, serta menyelesaikan masalah konflik horizontal di Aceh, Ambon, Poso, dan Sampit.

Developmentalisme agaknya masih akan bertahan sebagai ideologi pembangunan elite politik. Pertama, kalangan ilmuwan dan cendekiawan masih menerima ukuran dan kriteria keberhasilan pembangunan yang berkisar pada konsep pertumbuhan ekonomi, seperti diwariskan oleh rezim Orde Baru yang telah menegakkan haluan developmentalisme dengan cukup kokoh. Kedua, masyarakat, dengan tingkat kecerdasannya, kini bisa menerima klaim-klaim keberhasilan itu. Terbukti dari kemenangan (versi hitung cepat) Partai Demokrat dalam perolehan suara pemilu legislatif. Ketiga, perekonomian Indonesia masih memikul sindrom ketergantungan pada asing yang dikuasai Amerika dan, karena itu, akan tetap memasang teknokrat-teknokrat yang tak menentang neoliberalisme dalam pemerintahan.

Jadi, developmentalisme akan tetap bertahan selama ada persepsi tentang kemistri antara kepentingan negara maju, terutama Amerika, dan elite politik Indonesia. Sungguhpun begitu, developmentalisme, sebagai ideologi elite yang berkuasa dewasa ini, bisa dan sudah tampak tanda-tandanya akan menjadi sumber kritik untuk mengalahkan the incumbent dalam pemilu presiden Juli mendatang. Kritik itu misalnya mengarah ke gejala utang luar negeri yang ternyata meningkat, program bantuan tunai yang dinilai populis tapi tidak mendidik dan tak mendorong swadaya masyarakat, atau ketergantungan terhadap modal asing, yang semuanya merupakan elemen pokok developmentalisme tapi dinilai tidak prorakyat.

M. Dawam Rahardjo, Ketua Dewan Pakar International NGO Forum on Indonesian Development

Kacang Sihobuk dan ‘Konser Belanga’

Kancang Sihobuk
Kacang Sihobuk dan ‘Konser Belanga’

Haji Danarto, seniman kelahiran Sragen (Jawa Tengah) pernah bertelepon dari Jakarta untuk dibelikan kacang Sihobuk. Kabarnya juga mantan Presiden Gus Dur mengakui perbedaan rasa kacang Sihobuk dengan kacang-kacang lainnya. Meskipun kelihatannya belum resmi dan terbatas, kacang Sihobuk dapat “ditemukan” di beberapa tempat di kota Medan dan Pematang Siantar.
Tempat-tempat tersebut mungkin sengaja tidak menjejerkan kacang-kacang Sihobuk seperti di kios-kios yang terdapat di kota Tarutung. Kalau kita berkunjung ke Tarutung, kios-kios penjual kacang Siohobuk dengan kemasan plastik dan khas ditemukan di depan toko-toko atau loket mobil antar kota. Banyak pemesan dari luar negeri, seperti Malaysia, yang sering memesan melalui agen yang punya hubungan langsung dengan pembuatnya di kota Tarutung.
Sekarang, masalahnya bukan lagi siapa yang menjual kacang Sihobuk ke mana-mana. Namun, mari kita kembali ke soal rasanya. Tanpa mencicipi kacang Sihobuk tak mungkin muncul perasaan tertentu atas perbedaannya dengan kacang-kacang lain yang dijual di toko roti atau super market. Pernah turis dari Belanda terkagum-kagum dengan rasa kacang Sihobuk setelah mencicipinya langsung di sebuah tempat pembuatannya. Rasa kacang Sihobuk diungkapkan dapat mengundang ketagihan dan membuat lidah bergoyang. Semakin meresap di bagian mulut, geligi pun seperti tak merasa bertarung melumat sebanyak yang kita mau. Rasanya tidak seperti kacang yang mengandalkan keasinan atau kemanisan. Kedua rasa itu seperti muncul secara alami yang muncul karena tahap-tahap pembuatannya. Nampaknya juga ada proses reduksi kimiawi dari rasa manis kacang dan proses pembuatannya. Meskipun terjadi proses reduksi, rasa Sihobuk tetap mengundang penasaran. Kenapa seenak itu? Sering orang tertanya-tanya.
Gongseng pasir
Dalam bentuk kemasan plastik, Sihobuk dapat dibeli dengan variasi harga dari limaribu rupiah sampai tigapuluh ribu rupiah. Ada juga yang bisa dibeli per kaleng dengan harga Rp 100.000-an. Harga-harga tersebut tidak perlu dipermasalahkan karena Sihobuk lebih masuk ke hukum selera daripada hukum mahal murah. Selera menikmati Sihobuk pasti kembali ke soal rasanya. Bagaimana rasa itu bisa muncul? Mari kita melihat proses pembuatannya.
Jenis kacang Sihobuk adalah kacang tanah terpilih dan berkulit tebal. Sengaja dipilih ketebalan kulit agar waktu memasaknya tidak gampang gosong. Kabarnya, kacang-kacang yang kulitnya tipis bisa cepat gosong, padahal isi atau bijinya belum masak. Kacang pilihan berkulit tebal itu mula-mula direndam selama satu malam di dalam wadah yang ditutupi dengan kain atau karung goni. Kemudian digonseng bersama pasir sesuai dengan porsi kacang yang direndam semalaman. Kalau porsi tiga kaleng maka dua atau tiga muk pasir dibutuhkan. Proses pemasakannya bisa sampai dua jam dengan nyala api yang tetap terkontrol. Sebelum dimasak, kacang yang direndam itu tentu ditiriskan terlebih dulu.
Ada yang menggongseng kacang dan pasir itu dengan menggunakan belanga besi dan mengandalkan kayu api. Berat belanga besi itu bisa mencapai 10 kilogram, ketebalan 1 cm, dan diameter mencapai setengah meter. Belanga tersebut biasa dipesan dari tukang besi di kota Medan. Selama proses di dalam belanga si tukang masak harus menggongseng dengan sendoknya secara stabil. Gerakan tidak boleh berhenti sampai selama setengah menit agar pasir dapat menularkan panasnya dengan rata pada kacang. Jadi, kacang menyerap api dan dua unsur besi dan tanah (pasir). Mendengar bunyi gongsengan dari jauh bisa seperti mendengar orang mengocok semen bangunan. Kelihatannya para tukang masak kacang Sihobuk cukup mandi keringat dengan cara itu. Untuk efektivitas dan efisiensinya, ada yang menggunakan tong yang bisa diputar-putar dengan menggunakan kompor gas. Kelihatannya, yang terakhir dianggap sebagai perkembangan baru. Namun, cara yang manapun tidak selalu memastikan rasa garing sang kacang.
Anda mau terjun langsung ke tempat pembuatan kacang Sihobuk, pergilah ke Tarutung, ibukota kabupaten Tapanuli Utara. Tempat-tempat pembuatan, pengemasan, dan penjualannya menyebar di sejumlah tempat, seperti Silangkitang, Peanajagar, Pardangguran, Hutabarat, Ugan, dan tentu di desa awalnya bernama Sihobuk. Desa Sihobuk terletak kira-kira 1,5 km dari Tarutung di lintasan jalan ke arah Sibolga. Dulu, setiap melewati desa Sihobuk “konser belanga” itu akan terdengar sejak subuh. Namun, setelah longsoran gunung di atasnya menimpa desa itu, nama Sihobuk pun semakin menyebar ke mana-mana. Beberapa keluarga, atau mereka yang kembali ke desa Sihobuk, sudah tidak lagi memproduksi dan menjual kudapan internasional itu. Dan sejarah perkacangan tidak akan pernah lupa merekalah pengemban asal mula kacang Sihobuk. *** Thompson Hs

Mangain, Politisasi atau Bisnis?

oleh Hotman J. Lumbangaol

Batak sejati pasti membubuhkan marga di belakang namanya. Selama masih mengaku orang Batak, marga menjadi harta penting, dan indentitas baginya. Semenjak lahir, hingga meninggal, marga telah melekat bagi seorang Batak. Ketika bertemu seseorang di mana pun ungkapan pertama adalah ”jolo sinungkun marga asa binoto partuturan,” tanya dulu marga supaya paham bertutur bahasa.

Dengan adanya marga, konsep Dalihan na Tolu ”dongan tubu, hula-hula, boru,” baru jelas dan berlaku. Marga memberikan ruang untuk saling terikat, dan tidak mudah dicerai-beraikan. Mengatur hubungan darah dan perkawinan memperkuat hubungan dalam kehidupan sehari-hari.

Marga, asal-muasal dari nenek-moyang, merupakan kelompok kekerabatan Batak menurut garis keturunan yang diwarisi secara turun-temurun. Kapan mulai terdapat struktur marga di kalangan orang Batak? Tidak diketahui pasti. Yang jelas, sejak nenek-moyang orang Batak, marga sudah ada, seperti yang ditulis Bungaran Antonius Simanjuntak dalam bukunya, ”Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba.”

Marga baru muncul apabila lebih dari sepuluh ”sundut” atau generasi yang menggunakan marga tersebut. Sekarang ini terdapat sekitar 400 marga. Marga pecah karena ada monompas-bongbong,” karena ada yang menghancurkan tembok larangan. Misalnya, marga Marbun dulunya satu marga. Tetapi, karena sudah kawin-mengawinkan maka pecah menjadi tiga marga, yaitu Lumbanbatu, Banjarnahor, dan Lumbagaol. Namun, marga Marbun dipersatukan oleh ”Toga,” atau persatuan marga.

Mangain

Dalam budaya Batak ada mangain yang berarti memberikan marga kepada boru atau mangain anak. Mangain terjadi saat pernikahan, karena salah satu pasangan belum menjadi Batak, karena itu perlu diberikan satu marga. Marga diberikan kepadanya supaya dia bisa mengikuti dan diterima dalam budaya Batak. Ada perumpamaan Batak yang menyebut ”Asa dos nangkokna dos nang tuatna. Molo hita manjalo adat, laos hita do manggarar adat i. Hot pe jabu i, ala hot margulang-gulang, Manang sian dia pe bere i mangalap boru, Sai hot do i boru ni Tulang, Sinuan bulu sibahen na las, Sinuan partuturan sibahen na gabe jala horas.” (Harus serupa naik dan turun. Jika kita menerima adat, dan kitalah yang membayar adat itu. Rumah teguh karena kuat pondasinya, dari mana pun calon menantu ”bere” selalu menikahi putri paman. Ditanam bambu untuk menghangatkan badan, ditanam tutur agar menjadi kelimpahan dan sejahtera.)

Apabila terjadi perkawinan antar-suku atau antar bangsa, biasanya diadakan upacara pemberian marga kepada pasangan tersebut. Jika si wanita dari suku bangsa lain, maka marga yang diberikan kepadanya adalah marga ibunda si laki-laki. Jika pasangan laki-laki yang berasal dari suku bangsa lain, maka diberikan marga amang boru, suami dari saudara perempuan bapaknya.

Seremoni pemberian marga diikuti pemotongan kerbau, sementara dagingnya dibagi-bagi kepada semua undangan sebagai “jambar.” Pemberian marga ini dilakukan dalam sidang adat. Inilah salah satu contoh keluwesan sekaligus egosentris adat istiadat.

Mamampehon Marga

Selain mangain, ada mamampehon marga, yang intinya sama. Mamampehon marga diteliti secara mendalam. Ketika pada zaman dahulu sering terjadi perang antar huta, kadang-kadang penduduk huta yang dikalahkan dinyatakan masuk menjadi anggota marga raja huta yang menang perang. Selain itu, pemilikan marga dapat juga dilakukan dengan memohon kepada raja huta. Cara ini dilakukan oleh pendatang yang bukan bermarga (raja huta), tetapi sudah menjadi warga tetap dari huta (kampung) yang bersangkutan. Pemberian marga dapat pula berlangsung berdasarkan prakarsa raja huta, untuk menganugerahkan marga kepada seseorang atas jasa-jasa-nya yang luar biasa kepada masyarakat.

Adalah Edward M Bruner, seorang peneliti antropologi dari Amerika Serikat. Saat melakukan penelitian di Desa Meat, Balige, Kabupaten Toba-Samosir (1957-1958) bersama istrinya, menunggangi ” mamampehon marga,” agar dia diterima masyarakat dan penelitiannya berhasil. Mantan bupati Tapanuli Utara SM Simandjuntak yang memberikan marga Simanjuntak pada istri Bruner, yang bernama Elaine C. Bruner. Karena pemberian marga itu, maka Bruner berhak tinggal di kampung Simanjuntak. Proses ini disebut sebagai ”sonduk hela.”

Demikian pula pemberian marga pada Prof Dr Susan Rodgers, mahaguru sosiologi dan antropologi dari Amerika Serikat. Pemberian marga Siregar di daerah Sipirok pada tahun tujuh puluhan itu tenyata sangat mengesankan bagi dia, terbukti dengan pencantuman marga Siregar dalam tulisan-tulisan ilmiahnya.

Tahun 1981, di Desa Tanobato, Mandailing, Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, juga diberi marga Nasution dan gelar Sutan Iskandar Muda oleh masyarakat Mandailing. Pemberian marga tersebut terkait perannya memajukan pendidikan di Mandailing, dengan membangun SMA Negeri Tanobato di bekas ”Kweek school voor Inlandsche Onderwijzers,” yang didirikan Willem Iskander pada tahun 1862.

Nasorang Magodang

Pemberian marga juga dapat dijadikan sebagai perekat hubungan. Nasorang magodang, yang berarti lahir setelah besar, sebutan bagi orang yang menerima limpahan marga.

Pemberian marga ”sorang magodang” diberikan kepada Bupati Tulangbawang, Lampung, Abdurrachman Sarbini, yaitu marga Simatupang. Istrinya, Sri Adiati Rachman, diberi marga Nainggolan. Pemberian marga tersebut karena kedekatan sang bupati dengan marga Simatupang sejak kecil.

Tahun 2000, saat Luhut Panjaitan menjabat menteri, dia mengangkat dua orang Amerika untuk menerima marga Panjaitan. Merekaa dalah Steve Green, Duta Besar Amerika Serikat untuk Singapura, dan Robert Gelbart, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia. Penobatan berlangsung di Huta Simargala, Desa Hutanamora, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba-Samosir.

Steve Green Panjaitan menjadi anak keempat dan Robert Panjaitan anak ketiga. Mereka disebut sebagai anak ”nasoroang magodang” dari Ompu Sipaulina Panjaitan boru Naiborhu, ibu dari Luhut Panjaitan. Sehingga Luhut Panjaitan yang dulu lima bersaudara sekarang menjadi tujuh bersaudara. Luhut anak pertama, Timbo Panjaitan anak kedua, Dr Kartini Panjaitan anak kelima, Doris Panjaitan anak keenam, Ruth Panjaitan anak ketujuh. Upacara adat diawalai ziarah ke makam Raja Bonar Panjaitan gelar Ompu Paulina, almarhum ayah mereka.

Di Tanah Karo, tahun 2008, Adhyaksa Dault, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora), diberikan marga Sembiring Brahmana oleh pemangku adat pada sebuah acara di Berastagi, Kabupaten Tanah Karo. Pemberian marga kepada sang menteri ditandai dengan pemasangan “bulang-bulang” (pakaian adat) oleh “kalambubu” (orang yang dituakan) dengan iringan tarian adat. Tetapi, di balik pemberian marga itu orang bisa tebak. Adhyaksa Dault dari Partai PKS sementara presiden PKS adalah Tifatul Sembiring. Ada udang dibalik batu.

Mendulang suara

Ada pula, Rahmat Shah, seorang pengusaha dan calon anggota DPD dari Sumatera Utara. Dia mendapatkan gelar dan marga Lubis dari tokoh adat di Mandiling Natal, yakni gelar Mangaraja Halomoan Lubis, yang berarti sebagai orang yang penuh kasih sayang terhadap sesama dan orang yang mampu  menjalin silaturahmi dengan kaum kerabat. Pemberian marga dan gelar ini dihadiri masyarakat dari 38 desa di Kecamatan Kota Nopan, Kabupaten Mandailing Natal, sekaligus bertepatan dilangsungkannya acara peletakan batu pertama pembangunan mesjid Al Huda di Desa Hutapungkut Tonga, Kecamatan Kota Nopan. Penabalan marga yang diberikan kepad H Rahmat ini bisa diprediksi untuk mendulang suara saat mencalonkan diri sebagai calon anggota DPD Sumatera Utara.

Di awal tahun 60-an, Harry Tjan Silalahi, nama aslinya Tjan Tjoen Hok, mendapat marga Silalahi. Pemberian marga itu adalah karena persahabatannya dengan Albertus Bolas Silalahi, ketua Partai Katolik Tapanuli Utara, dan Tjan Tjoen Hok adalah sekretaris jenderal Pengurus Pusat Partai Katolik. Adik Albertus hilang entah ke mana. Harry Tjan dianggap sebagai pengganti saudaranya yang hilang itu. Saudara itu dianggap telah kembali dan diberi marga Silalahi. Dia dianggap keluarga penuh Silalahi yang mempunyai orangtua, kakak, adik, keponakan, juga sawah dan ladang. Kini, kedua anak Harry juga diberi nama dengan marga Silalahi.

Dalam dunia bisnis pemberian marga juga terjadi. Termasuk dalam bisnis multi-level seperti CNI. Alex Iskandar Wirayadi, etnis Tionghoa, yang mendapat julukan Crown Agency Manager (CAM), tingkat karier paling tinggi di bisnis ini mendapat marga Lumbanbatu.

Pemberian marga Silaban diterima oleh Syamsul Arifin, gubernur Sumatera Utara, karena dia yang pernah hidup morat-marit menjadi makmur setelah dia diberi marga itu. Malah bisa menjadi gubernur.

Pemberian marga sebenarnya bukanlah masalah baru. Karena sejak puluhan tahun yang lalu hal ini telah dilakukan orang Batak, antara lain pemberian marga Harahap kepada Prof Mr Hazairin yang telah lama bermukim di Tapanuli Selatan. Dia dianggap berjasa kepada masyarakat setempat.  Pemberian marga ini dilakukan dalam upacara adat kebesaran oleh Raja Panusunan Bulung Hutaimbaru, Daulat Raja Gorga Alamsyah, pada tahun 1925.

Sekarang ini pemberian marga berbau politik. Sesungguhnya pemberian marga tidak boleh, karena marga berhubungan dengan darah. Ditambah sikap egosentris orang Batak untuk memberi marga adalah mengambarkan orang Batak masih mengangap suku lain di luar Batak tidak baik.

Narsisme

Mula Harahap, seorang tokoh penerbit nasional, punya sikap yang berbeda. Dia keberatan pemberian marga mangain ini dilatari perkawinan di luar orang-orang Batak. Buktinya, walau menikah dengan wanita Ambon, dia tetap tidak memberikan marga kepada istrinya itu. Alasannya, istrinya sudah punya marga.

Mangain, ” ” nasorang magodang, ” ”mamampehon marga” perlu dipertanyakan. Apa motivasi pemberian marga itu? Marga tidak hanya sekedar tanda yang bisa digonta-ganti. Dia tak bisa dibeli, dan tak boleh diberikan dengan sembarangan.

Pemberian marga kepada mereka yang non-Batak, yang tidak ada hubungannya dengan pernikahan antar-etnis, adalah penyimpangan budaya. Sebab mangain sebenarnya hanya diberikan kepada salah satu pasangan non-Batak yang menikah dengan orang Batak.

Sayang, pemberian marga sekarang ini sudah menjadi bagian dari ”strategi” politik dan bisnis dari mereka yang memberi dan menerima. Jadi, buat apa pemberian marga itu dilakukan? Apakah hanya karena sekedar pertemananan atau ada politik di sana. Pemberian marga telah menjadi alat dagang, dan alat politik. Sebuah narsisme yang merendahkan derajat Ompu Si Jolo Jolo Tubu. ***

Ket: telah diterbitkan di majalah TAPIAN edisi Mei, 2009menual1

Bakkara Destinasi Klasik

Bakkara terletak di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Manjae ‘mekar’ melalui UU Nomor 9 Tahun 2003. Daerah kaya—walaupun berbukit diantaranya Bakkara adalah tanah eden dalam tanda petik. Di Bakkara tanahnya subur, bawang merah, bawang putih bisah tumbuh di atas tanah berbatuan. Dari sudut geografis Humbahas berada di tengah-tengah Sumatera Utara dan diapit empat Kabupaten: Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara.

Pontensi wisata budaya adalah: Istana Singamangaraja di Aek Si Pangolu (pemberi hidup) sekaligus tempat permandian Sisingamangaraja—Anda bisa memanjakan badan dengan mandi ditempat ini. Maka sesuai dengan rencana pemda daerah ini akan menjadi tujuan wisata paforit yang tersirat dengan sejarah klasik Batak Toba. Selain danau Toba—Anda juga mengelilingi Danau Toba bisa dengan menyewa kapal untuk menikmati alam di sekitar Danau Toba. Karena, Danau Toba sendiri juga dimiliki oleh Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo, Kabupaten Simalungun dengan pinggir Harangaol Tomok. Kabupaten Toba Samosir meliputi pinggir Balige dan Parapat. Kabupaten Tapanuli utara meliputi Muara, Kabupaten Humbang Hasundutan Bakkara.

Humbahas pada jaman penjajahan Belanda sudah termasuk ‘Onderafling Hookfdvlakte van Toba’ Daerah kabupaten. Namun pada tahun 1950 dilebur kembali masuk otoritas Tapanuli Utara. Humbahas berada dalam ketinggian anatar 600-2.075 meter di atas permukaan laut. Beriklim 17-29 derat celsius pada malam hari. Maka, tak heran jika di daerah ini tidur tidak bisa hanya memakai selimut, namum harus marbulusan. Marbulusan adalah membunggkus diri dari tikar. Wilayah yang dihuni 152,017 jiwa dengan luas wilayah 2.335,33 km.

Begitu kita sampai di daerah Siborong-borong. Lima kilometer dari tempat tersebut Anda akan melihat gaharu yang menyambut,”Selamat datang di Kabupaten Humbang Hasundutan” di daerah Nagasaribu. Daerah yang erat kaitanya dengan mitos Tao Sipinggan (mirik piring) dan Tao Silosung lesung. 20 km berikutnya—sebelah Timur ada petunjuk jalan ke Bakkara kecamatan Bukti Raja. Di Bakkara—kita akan menemukan banyak pemandangan indah. Oleh-oleh yang paling lazim diburuh wisatawan adalah Mangga Muara, rasanya enak dan sangat manis.

Selain itu Huta Ginjang terkenal dengan panatapan (tempat memantau semacam mercusuar) menjadi salah satu tempat klasik di sekitar Bakkara. Huta Ginjang yang artinya dataran tinggi, mirip seperti gunung, berada sekitar 200 meter diatas permukaan air Danau Toba. Disini udaranya segar selain bisa istirahat dan memandangi Danau Toba sepuasnya Anda juga dapat minum Kopi Arabusta dari Paranginan atau makan lappet (kue yang ditumbuk dari beras dicampur gula merah. Di Huta Ginjang Udaranya sepoi-sepoi. Bukit-nya berada sekitar 34,92 % luas Tapanuli Utara berupa lahan berbukit ke bawah, nampak juga rumah-rumah penduduk. Anda juga bisa melihat pemancar TVRI di dekat bekas Pilar Panatapan dibangun Belanda. Pilar Panatapan dibuat dari besi baja dengan tinggi 12 meter dan lebar 2 meter persegi, persis seperti mercusuar. Dipakai Belanda untuk mengamati musuh.

Damar sendiri diperkirakan dibawa para pedagang Persia yang sekarang disebut negara Iran, ke pantai barat Sumatera. Diperkirakan damar sudah ada sejak abad VII. Damar pada masa itu menjadi barang yang mahal sekaligus diincar para pedagang Tionghoa (Tiongkok) India, dan para pedagang dari Timur Tengah.

Data Haminjon di Dolok Sanggul

No

Kecamatan

TBM

TM

TTM

Jumlah

Total Produksi (ton)

Produksi tivitas (Ha/Kg)

1

Pakkat

3,5

30,5

4

38

97

279,7

2

Onanganjang

80

1,083

9

1,172

263,7

241,5

3

Pakkat

61

1,133

723,5

1918

489,6

263,4

4

Pollung

6

344

98

448

96,12

217,3

5

Parlilitan

3,5

1.184

378

1.565.5

402,7

257,7

Barus dikenal oleh bangsa Arab dengan nama Fansur (bhs:Batak). `Dalam temuan

prasasti yang dibaca K.A Nikanta Sasti seorang arkeologi, itu terdapat angka tahun 1088 M– menurut penafsiran Sasti, prasasti tersebut berasal dari sebuah serikat dongeng Tamil’ (merchant gold)—mereka datang berdagang ke wilayah Barus pada abad XI, prasasti Lobotua bisa jadi berasal masa “sedini”

Sejarah Tapanuli

Politik de vide et invera barang kali segaja digulirkan Belanda untuk mengro-goti persatuan orang Batak. Meskipun pedagang Eropa pada awal abad XVIII kadang-kala berhasil membeli kapur barus dan miyan secara langsung di Barus, bhs Toba) Tapian-Nauli yang berarti mata air yang jernih, air yang sejuk. Politisasi pemberian keresidenan di Tapanuli dengan pusat Sibolga bukan di Barus ini juga menjadi pertanyaan. Penjajah mengobok-obok Tapanuli. Tapanuli kembali dibagi kembali tiga wilayah. Wilayah Pertama, keresidenan Tapanuli Tengah di Sibolga atau Siboga—menjadi salah satu bagaiannya. Kedua, Tapanuli Selatan meliputi wilayah pesisir, ibukota Mandailing, Batak Angkola. Ketiga, Tapanuli Utara daerah yang diprediksi kuat untuk memjadi Provinsi Tapanuli—yang rencanakan ibukota di Siborong-borong.

Sosio-antopologi bahwa suku Batak terdiri dari Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Angkola, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak (Dairi), ditambah Batak pesisir Melayu dan Nias. Toba Holbung mencakup Kabupaten Tobasa, Kabupaten Samosir. Toba Humbang melikupi wilayah Siborong-borong dan Kabupaten Humbahas, Dolok Sanggul. Dan, Toba Habinsaran melikupi wilayah Tarutung dan Sibolga. Jadi, menurut penulis Provinsi Tapanuli kurung tepat, seharusnya Provinsi Batak yang lebih akomodatif dan familiar.*** Hojot Marluga

Singa

dari

Bakkara

Sejak Raja Sisingamangaraja pulang belajar dari Aceh ke Bakkara 1871 dan kemudian ditabalkan menjadi Raja Batak 1875. Raja Sisingamangarajab XII berperang mengusir Belanda yang telah melakukan penindasan sejak (1875-1907). Ia seorang tokoh pantang menyerah dan menjalin rasa persaudaraan pada semua eknis di Sumatera. Dan memperjuangkan kemerdekaan di Tanah Batak yang merupakan refleksi semangat pahlawan nasionalisme-nya yang gigih. Karena itu, dalam mengenang jasanya , Pemda Humbahas pada 17 Juni mengadakan perhelatan 100 Tahun Wafatnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII–disamping mendirikan prasasti berisi nama-nama panglima Aceh yang turut membantu Raja Sisingamangaraja Perang Batak.

Rangkaiaan kegiatan itu, Pergelaran Malam budaya 24 Mei di Tiara Convention Medan. Kedua, seminar nasional 26 Mei 26 Mei di Hotel Danau Toba Int. Tapak tilas 4-15 Juni 2007 mulai dari Bakkara hingga ke Balige Kabupaten Tobasa. Keempat, penanaman 10 ribu pohon di sembilan Kabupaten/Kota. Kelima, Pementasan opera Batak Srikandi Boru Lopian di sembilan kabupaten/kota. Keenam, Taptu atau malam renungan dan Upacara Nasional di Makam Raja Sisingangaraja XII Soposurung Balige.

Lopian Boru Hasian: Lopian adalah putri kesayangan Raja Sisingamangaraja XII dari istrinya yang ke-3 Boru Sagala. Lopian lahir (1889) ketika puncak pergolakan Perang Batak dipimpin ayahnya sendiri. Lopian lahir di pengusian Tanah Kalasan, Negeri Sionomhudon (Bhs; Pakpak Siennemkodin), Palilitan, Humbang Hasundutan—sesudah pengusian sebelumnya dari Lintong Nihuta sampai ke Tele berbatasan dengan Dairi Pakpak. Perang Batak mulai muncul Sejak Raja Sisingamangaraja pulang belajar dari Aceh ke Bakkara 1871 dan kemudian ditabalkan menjadi Raja Batak 1875.

Lopian meninggal ketika perang segit dengan Belanda berada di Sitapongan gua di pingir sungai kecil—Sibulbulon yang menjadi markas Sisingamangara XII namun musibah naas itu hari Senin 17 Juni 1907.

Sisingamangara martonggo (berjanji dalam ritual) mengabdi bagi semua Bangso Batak, kerajaannya, Keluarganya, bahkan seluruh kehidupannya.

Amir: Nasionalis atau Komunis?

Oleh : Hotman J Lumban Gaol*)

Revolusi telah memakan anaknya sendiri. Amir Syarifuddin Harahap (1907-1948), mantan Perdana Menteri ke-2 Indonesia ini menjadi korban revolusi yang turut dia perjuangkan. Dia, meninggal tragis, 19 Desember 1948.

Tak banyak literatur dan informasi menyimpan data tentang putra Mandailing ini. Itu sebabnya, Amir Syarifuddin, tidak banyak yang tahu, jarang diangkat media. Informasi tentang pesohor ini selalu dibragus. Satu fakta, tahun 1984 Penerbit Sinar Harapan menerbitkan tesis Frederiek Djara Wellem yang dilauncing di STT Jakarta di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat yang berjudul “Amir Syarifuddin; Pergumulan Iman dan Perjuangan Kemerdekaan”. Tidak berapa lama, buku itu di-sweeping masa pemerintahan Soeharto karena dianggap merusak sejarah Indonesia.

Buku biografi tentang Amir Syarifuddin Harahap sesat. Padahal, dialah salah seorang bapak pendiri bangsa dalam memperjuangkan eksistensi NKRI. Padahal, penghargaanya tidak pernah dihargai Negara yang diperjuangkannya. Di pusara, gundukan makamnya, terlulis nisan tanpa nama, di Desa Ngaliyan, Karanganyar, Jawa Tengah. Tidak seperti sejawatnya, Soekarno, Hatta dan Syharier menerima penghargaan berupa bintang Jasa. Dihargai sebagai pahlawan, dan dikubur di makam yang terhormat.

Pada 27 Mei 2008 lalu, untuk mengenang jasa-jasanya , STT Jakarta mempelopori seminar bertajuk: “Amir Syarifuddin Nasionalis Pejuang Kemerdekaan dan Pembebasan Rakyat”. Tampil sebagai pembicara: Setiadi Reksoprodjo mantan menteri pada kabinet Amir Syarifuddin. Ketua STT Jakarta Dr. Jan .S Aritonang. Aswi Warman Adam dosen sejarah dan peneliti, acara dimoderatori Fadjroel Rahman, aktivis.

Pejuang Pembebasan

Sebuah dokumen Netherlands Expeditionary Forces Intelligence Service (NEFIS), menyebutkan, instansi rahasia yang dipimpin Van Mook, 9 Juni 1947 menulis tentang Amir; “Ia mempunyai pengaruh besar di kalangan massa dan orang yang tak mengenal kata takut”.

Pada September 1927, sekembalinya dari Belanda, Amir masuk Sekolah Hukum di Batavia dan tinggal di asrama pelajar Indonesisch Clubgebouw, Kramat 106. Dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia, dia terlibat berbagai pergerakan bahwa tanah. Tahun 1931, Amir terlibat mendirikan partai Indonesia (Partindo).

Amir juga mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) sembari menulis dan menjadi redaktur “Poedjangga Baroe”. Berjuang untuk pembebasan dari belenggu penjajah, benih-benih perjuang itu pun makin mekar saat bertemu para tokoh pejuang seperti Mr. Muhammad Yamin, dan Amir aktif pada diskusi Politik Indonesia bersama Muhammad Husni Thamrin.

Pada bulan Januari 1943 dia tertangkap oleh fasis Jepang, karena dianggap pemberontak. Di tengah gelombang-gelombang penangkapan yang berpusat di Surabaya. Kejadian ini membongkar jaringan, organisasi anti fasisme Jepang yang dimotori Amir. Kelak ketika menjadi Menteri Pertahanan, mengangkat para pembantunya yang terdekat, teman-teman satu pergerakan.

Ketika menjabat Menteri Pertahanan, Amir tidak sependapat terhadap kebijakan Hatta karena pengurangan jumlah tentara, dari 400 ribu menjadi 60 ribu tentara. Menurutnya, layaknya tentara, satu banding tiga, satu tentara untuk menjaga tiga orang penduduk.

Di Kabinet Sjahrier pada tanggal 12 Maret 1946, Amir Sjarifuddin diangkat menjadi Menteri Pertahanan dari Partai Sosialis, dikemudian hari berafiliasi dengan Komunis. Tan Malaka dan Kelompok Persatuan Perjuangan menculik Perdana Menteri Sjahrier. Dari sana dia menjadi perdana menteri.

Dalam Persetujuan Renville, Amir sebagai negosiator utama dari Republik Indonesia. Kabinet Amir Sjarifuddin mengundurkan diri dengan sukarela dan tanpa perlawanan samasekali, ketika disalahkan atas persetujuan Renville oleh golongan Masyumi dan Nasionalis.

Kageriaan itu. Peristiwa pemberontakan Madium tahun 1948 yang memilukan itu, disebut dilakukan PKI atas restu dari Amir Syarifuddin. Walau tidak pernah terbukti.

Sepeninggalnya; keluarganya dihina. Anak-anaknya mendapat diskriminasi. Untuk makan saja waktu itu keluarga ini harus terlunta-luntah. Salah satu anaknya, Helena, saat ini bekerja di Sekolah Johnny Andrean, mengatakan, masa sepeninggalan sang ayah, hidup mereka terlantar. Kini, atas bantuan lembaga swadaya masyarakat, Omnes Unum Sint Institut, dan Komisi Hak Asazi Manusia membantu perizinan pembangunan makam tanpa nama itu diperbaiki.

Inilah sejarah. Indikasi keterlibatanya pada pemberontakan PKI di Madiun masih samar. Dieksekusi tanpa pernah diadili. Divonis tanpa terbukti salahnya dimana. Ahli sejarahwan, Aswi Warman Adam menulis, sepanjang hidupnya, Amir hidup dari kamp ke kamp. Perjuanganya tidak pernah dihitung.

Pengkotbah

Amir belia lahir di Tapanuli Selatan 27 April 1907. Ayahnya keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas, bernama Djamin Baginda Soripada Harahap (1885-1949), mantan jaksa di Medan. Sementara ibunya, Basunu Siregar (1890-1931), lahir dari keluarga Batak yang telah membaur dengan masyarakat Melayu di Deli. Zaman itu, saat Belanda membuka perkebunan besar-besaran di Deli, banyak orang Batak eksodus ke daerah ini. Maka, kalau itu ada istilah “Kampak bukan sembarang kampak. Kampak pembela kayu. Batak bukan sembarang Batak. Batak masuk Melayu”.

Masa remaja, Amir menimba pendidikan Belanda di ELS semacam Sekolah Dasar di Medan tahun (1914-1921). Sementara, tahun 1926 atas undangan sepupunya, T.S.G. Mulia pendiri penerbit Kristen BPK Gunung Mulia yang baru saja diangkat sebagai anggota Volksraad (dewan) belajar di kota Leiden, Belanda mengajak Amir untuk juga sekolah disana.

Di Belanda, Amir aktif berorganisasi pada Perhimpunan Siswa Gymnasium, Haarlem. Selama masa itu pula dia aktif mengelar diskusi-diskusi Kelompok Kristen, kemudian hari menjadi embrio Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Di sana, dua sepupu itu menumpang di rumah seorang guru pemeluk Kristen Calvinis bernama Dirk Smink. Kristen Calvinisme adalah aliran gereja dari spirit bapak Gereja, John Calvin (1509-1564).

Amir Syarifuddin yang dulunya berasal dari keluarga Muslim, berpindah agama menjadi Kristen. Dia tidak saja hanya berpindah iman tetapi mendalami agama Kristen sungguh-sungguh. Tiap hari Minggu turut berkotbah. Kotbahnya selalu menyetuh, dan meneguhkan banyak orang. Penggaliannya terhadap Injil sangat mendalam. Itu sebabnya, detik-detik terkhir hidupnya, dia menggengam Alkitab.***

*)Penulis adalah penggiat budaya Batak

Membudayakan Etos Kerja

Survei dari Independent Survey Research menyebutkan, ruang kerja yang sempit dapat mengurangi produktivitas kerja. Seseorang dalam memutuskan mau bekerja karena tempat kerja yang bagus 13% responden dari 54% yang diteliti mengatakan akan menandatangani kontrak kerja, karena merasa nyaman melihat tempat kerja.

Ini hanya sebuah data penting untuk dipertimbangkan bagi lembaga atau institusi yang ingin mempekerjakan orang-orang yang ber-etos kerja yang produktif, memiliki sumber daya manusia yang hebat, atau karyawan yang produktif. Sedangkan manusia dengan etos kerja yang bagus tidak membutuhkan penelitian tadai. Tidak perlu mood bekerja, yang penting bekerja dengan etos.

Kata budaya berasal dari asal kata buddhi dan dhayah diambil dari bahasa Sansekerta. Buddhi berarti budi (moral)sedangkan dhayah berarti akal (nalar). Lalu Kebudayaan tambahan dari kata bantu awalan dan akhiran, yaitu ke dan an mengambarkan kata kerja. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut juga culture, dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa juga diartikan sebagai mengolah tanah atau bertani, culture juga kadang diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya manusia. Segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.

Menurut Selo Soemardjan bapak sosolog Indonesia mengatakan, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Artinya, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, kesenian, moral, hukum, adat istiadat. Maka, dari definisi tersebut, dapat diperoleh gambaran mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu kebiasaan yang melekat. Wujud kebudayaan lewat sistem sosial, misalnya budaya kerja menjadi etos, kebiasaan yang berinteraksi dengan manusia lainnya menurut kesepakatan bersama dalam bekerja. Tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan manusia dan aktivitas sehari-hari.

Kata etos berasal dari kata Yunani yang berarti spirit, samadengan cara bertindak (bekerja) yang beradat. Etos mengambarkan semangat, roh dari hubungan manusia dengan manusia. Dalam kata etos ada spirit kerja, dalam sejarah ke-Kristenan ia berproses menjadi budaya. Mulanya diterapkan kaum puritan, kaum yang menerapkan semangat mempertahankan kemurnian. Etos mengambarkan semangat, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam dunia kerja, semangat kerja diartikan sebagai sumbu dari sumber daya yang sesungguhnya. Kualitas sumber daya manusia tersebut muncul lewat proses, dan etos kerja harus menjadi budaya dalam menunjang kemajuaan untuk hidup yang lebih baik.

Saat ini, semangat kerja tersebut dalam masyarakat cenderung dianggap hanya bentuk keserakahan mengejar keuntungan. Ada aliran orang yang setuju bahwa tidak mesti kerja keras untuk mendapatkan hasil. Sesuatu yang salah. Absurd. Hal yang harus dihilangkan dari pikiran setiap orang. Bekerja seolah-olah besok mati, berharap seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Kerja keras bukan kutukan.

Konon ada pemikiran yang salah bekerja cukup untuk hari ini saja. Ini jelas salah, dan bertentangan dengan Injil dalam perspektif iman Kristen. Dalam etos kerja, semangat kerja Kristen tentu tidak mengharamkan pengejaran keuntungan ekonomi. Upah yang layak, tidak berlebihan tetapi tidak kekurangan. Namun, semuanya harus didapatkan lewat pekerjaan yang rasional.

Dunia kerja saat ini perlu adanya ruang moralitas, sebagai energi positif dalam bekerja. Jika ditarik benang merah, menelusuri asal-usul etos kerja, pengejaran keuntungan ekonomi, asal dikerjakan dengan kesungguhan dan kerja keras maka tidak pernah orang yang bekerja keras miskin.

Semangat bekerja pun, dalam kearifan budaya mengakui bahwa bekerja untuk survive tidak melanggar kontrad. Perspektif Kristen bekerja didorong oleh panggilan jiwa. Dalam pelayanan semua orang harus bekerja keras untuk mendapatkan kebutuhan dan pelayanan sebagai tanggung jawab manusia. Tidak ada kesuksesan tanpa keringat, dan tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras.

Orang yang bekerja keras umumnya sehat, sebab tubuhnya begerak. Sebab, organ tubuh manusia dicipta sedemikian rupa untuk tetap bekerja. Artinya, setiap orang yang sudah dewasa harus bekerja dan punya job sebagai bagaian dari natur alamiah.

Beranjak dari hal tersebut, etos kerja Kristen telah mempengaruhi dunia kerja di seluruh aspek manusia. Etos kerja Kristen dari ajaran Calvinisme menolak setiap orang, menggunakan uang demi kemewahan pribadi meskipun untuk membelikan ornamen keagamaan. Namun jika hasil didapatkan lewat proses panjang, dengan bekerja keras, maka itu menjadi anugerah yang perlu disyukuri.

Calvinisme melihat kerja bukan hanya sekedar, bekerja adalah panggilan pelayanan. Bekerja bukan untuk kaya. Namun kaum konservatif yang apatis melihat (orang yang tidak berhasil), ukuran dunia dipandang sebagai gabungan dari kemalasan dan tanda bahwa Tuhan tidak memberkatiNya. Memang malas sudah pasti dosa, namun bagaimana orang rajin yang tidak berhasil dalam kehidupan duniawi? Apakah bisa masuk kategori dosa atau tidak diberkati Tuhan? Nah, buku kecil ini mencoba menjawab itu. Sesungguhnya paradigma Kristen memandang bekerja keras memang bukan hanya sekedar materi, tetapi aktualisasi diri sebagai umat kepunyaanNya.

Pepatah Inggris mengatakan “if it sounds too good to be true, it usually is” yang berarti, apabila sesuatu kelihatannya sulit untuk dipercayai, biasanya hal tersebut mungkin hanya tipuan. Sukses adalah perjuangan dan proses panjang, ada etos/spirit kerja mendorong tiap-tiap orang sukses. Namun, perlu dicatat bahwa spirit kerja Kristen menegaskan bahwa gagasan-gagasan mempengaruhi perkembangan tatanan umat manusia. Kerja keras termasuk rasionalisme dalam upaya-upaya ilmiah. Gabungan antara observasi dan sistematik rasional terhadap administrasi pemerintahan dan usaha ekonomi.

Buku ini adalah pengamatan bertahun-tahun penulis. Dan beberapa kali artikel tersebut dimuat di beberapa media. Akhirnya epilog dari beberapa kali penulis melakukan pembinaan tentang “kerja kreatif dan etos kerja” pada pemuda-pemuda Marbun di Bekasi juga mendorong menulis buku ini.

Untuk itu penulis tidak lupa mengucapkan syukur ‘Puji Tuhan’ atas diperkenankannya penulis menyelesaikan buku ini. Dan tentu semua orang yang terlibat dalam membantu terselesaikan buku kecil ini.

Kepada istriku, Welmi Marlini Siburian, thanks atas kritiknya dan tanggung jawabnya sebagai istri merawat dan mendidik anak kita, Stephen Heber Fernando, sumber inspirasiku yang selalu membuat penulis tegar dan bergairah mengapai harapan untuk hidup yang lebih baik.

Akhirul kalam buku ini kupersembahkan pada setiap insan-insan yang mau berjuang dalam menegakkan semangat kerja, melalui proses, meninggalkan budaya instant dan menjijikkan sukses karbitan, tetapi orang yang bekerja keras dalam mengapai tujuan hidupnya dengan sungguh-sungguh. Bravo. Untuk orang-orang yang bekerja keras bukan untuk sekedar makan, tetapi mengerti bahwa bekerja adalah bagian hidup manusia.

Bekasi, 1 Maret 2008

Hotman Jonathan Lumbangaol, STh

Info Buku

palestina

Judul buku: Jalan-jalan di Palestina: Catatan atas  Negeri yang Menghilang

Penulis: Raja Shehadeh

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 237

Tahun: 2008

Agresi militer Israel ke Jalur Gaza, yang telah menelan korban ribuan orang. Cerita yang sebenarnya adalah sudah puluhan tahun lalu terjadi, Palestina dan Yahudi berselisih. Buku ini adalah salah satu cerita perjalanan, Raja Shehadeh,  dalam kurun waktu 28 tahun di perbukitan  sekitar Ramallah, Jerusalem, dan Laut Mati. Selain menceritakan  keindahan alam  Palestina, Raja juga mengisahkan interaksi antara  masyarakat Palestina  dengan para pemukim Yahudi, serta berbagai konflik yang berakar pada  masalah pendudukan  tanah Palestina oleh  orang-orang Israel. Buku ini bukan membahas sentimen ras dan agama. Tetapi, bagaimana penulis bertekad melawan  melalui jalur hukum kasus-kasus pendudukan tanah Palestina  yang dilakukan   lewat  berbagai macam cara oleh Israel. Raja Shehadeh mengembara mulai  1978 hingga 2006. Meski tak ada   cerita atau laporan  hasil pengamatan seputar  perlawanan rakyat Palestina, yang lebih dikenal dengan istilah intifadah, namun kehadiran buku ini  menyegarkan kembali  ingatan pembacanya  akan   tanah Palestina,  yang kini dihuni penduduk asli dan para pemukim Yahudi, serta berbagai konflik yang terjadi di antara mereka.

Judul: 20 cerpen Indonesia terbaik, 2008

Penyunting: Pena Kencana

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Halaman: 215

Tahun: 2008

Seperti judulnya sudah tentu ditulis 20 orang penulis cerpen. Pengantarnya ditulis Budi Darma, penulis ”Olenka”. Salah satu cerita yang menarik adalah ”Tiurmaida” dalam bahasa Batak artinya ”terang melihat” ditulis Hasal Al Banna, yang diterbitkan KOMPAS 3 Juni 2007, lalu. Setting cerita adalah mengisahkan seorang wanita yang berusaha melawan nasib. Tetapi pada akhir cerita menadi kebahagiahan, karena akhirnya memperoleh tempat persinggahan. Kisahnya, anak mereka meninggal pada usia dua tahun, Marsius, sang suami, tak mampun menanggung kepedihan hatinya, akhirnya menjadi gila dan menggangu warga. Tiurmaida istrinya harus memasung Marsius di rumah, dan kini dia sendiri yang harus mencari nafkah sebagai kuli batu. Memang kelihatanya penulis sengaja membuat senting cerita, memiliki nama tokoh Batak.

Judul: Politik lingkungan: pengelolaan hutan masa Orde Baru dan reformasi

Penulis: Herman Hidayat

PenerbiT: Yayasan Obor Indonesia

Halaman: 337

Tahun: 2008

Buku ini menyoroti bagaimana politik Orde Baru mengelola kekayaan alam, terutama hutan. Walau hutan termasuk kekayaan yang bisa diperbaharui, namun kenyataannya sekarang hutan di Indonesia mengalami degradasi yang sangat serius dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Hal ini selain karena jumlah penduduk yang mengandalkan hutan sebagai sumber penghidupan terus meningkat dari tahun ke tahun, juga terutama karena pemerintah secara sadar telah mengeksploitasi sumber daya hutan sebagai sumber pendapatan dan devisa negara. Dari sisi pembangunan ekonomi, eksploitasi sumber daya hutan yang dilakukan pemerintah telah memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Melalui kebijakan pemberian konsesi Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH), atau konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) pemerintah mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, meningkatkan pendapatan dan devisa negara, menyerap tenaga kerja, menggerakan roda perekonomian dan meningkatkan pendapatan asli daerah.

Judul: Barus Seribu Tahun yang Lalu Seri Terjemahan Arkeologi

Penulis: Claude Guillot

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Halaman: 352

Tahun: 2008

Barus di abad ke-6 hingga ke-13 adalah kota yang terkenal di seluruh Asia. Pernah menjadi salah satu pusat pelabuhan yang paling sibuk, karena menjadi tujuan pedagang dari Gurat, India, Persia, Timur Tengah. Barus terkenal dengan kapur barus dan keminyaan (haminjon). Barus yang terletak wilayah Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Namun, sayang kota ini seakan hilang dalam sejarah Indonesia. Tahun 1995, sebuah program penelitian arkeologi dari Prancis menggali situs Lobu Tua diwilay Barus, menghasilkan temuan: tembikar dari Asia Selatan, keramik Cina, tembikar asal Timur Tengah, kendi dengan bahan halus, tembikar lokal, kaca, manik-manik, logam, mata uang dan emas, batu dan batu bata. Fakta sejarah tersebut menunjukkan bahwa Lobu Tua (Barus) pernah menjadi tempat perdagangan asing pada pertengahan abad ke-9. Ada indikasi temuan itu dibawa para pedagang India Selatan atau Sri Langka. Di samping membahas sejarah Barus, situs Lobu Tua, buku ini juga membahas epigrafi Islam yang ada di Barus.

Judul: Perspektif baru penulisan sejarah Indonesia

Penulis: Danny Schechter,dkk

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Halaman: 446

Tahun: 2008

Menulis sejarah, terutama sejarah nasional, bukan sekadar kegiatan intelektual atau akademis, tetapi juga kegiatan yang bermakna politis. Hal ini karena sejarah dianggap sebagai dasar kesadaran bangsa yang fungsinya untuk memperkokoh identitas nasional atau kolektif. Buku ini berusaha untuk mengangkat historiografi yang reflektif tidak saja untuk menguji secara kritis metodologi sejarah, tetapi juga menguji dan merumuskan kembali berbagai klaim kebenaran dan melihat bagaimana hal ini merupakan hasil dinamika sejarah. Melalui berbagai tema yang selama ini sering dianggap umum diketahui maupun berdasarkan berbagai bentuk sumber sejarah yang sebelumnya jarang digunakan, kumpulan tulisan ini berusaha memberi sumbangan lain untuk penulisan dan pemahaman sejarah Indonesia.

Judu: Buku Pintar Calon Anggota dan Anggota Legislatif

Penulis: Markus Gunawan, SH, MKn

Penerbit: VisiMedia

Halaman: 205

Buku ini sebagai acuan bagai para caleg untuk memetakan kuota pemilih. Memiliki kepengurusan di dua per tiga jumlah provinsi. Memiliki kepengurusan di dua per tiga jumlah kabupaten/kota di provinsi. Persyaratan Bakal Calon Bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota harus memenuhi persyaratan berikut. 1. Warga negara Indonesia. Kelengkapan Administrasi Kelengkapan administrasi bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dibuktikan dengan hal-hal berikut.

Judul: Negara dan korupsi: pemikiran Mochtar Lubis atas negara, manusia Indonesia, dan perilaku politik

Penulis: DR Mansyur Semma

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Halaman: 365

Tahun: 2008

Sejarah peradapan manusia dalam mendirikan satu wilayah selalu dilatarbelakangi ingin mencari hidup bersama. Contoh, pembukaan wilayah baru, perjuampaan penduduk asli dan pendatang ber-asimilasi, dan akan selalu mencari titik temu, persingungan untuk hidup bersama. Dalam buku ini, pendirian negara pun tidak jauh dari hal itu. Mulanya sekelompok orang yang ingin mendirikan perkumpulan, group atau organisasi politik atau berdasarkan kategori wilayah teretorial. Lahirkan negara, dasar dari sebuah pemahaman membangun hidup bersama. Penulis menerangkan bahwa akar kata negara berasal dari bahasa Italia lo stato. Baru di abad ke-15 di Eropa kata ini berkembang; Inggris menyebut state, Belanda menyebut staat, dan Prancis menyebut etat. Sementara kata korupsi dalam buku ini adalah menerakan akar dari korupsi itu sendiri. Korupsi adalah penyimpangan dalam kehidupan sosial, budaya, dan kenegaraan. Bahwa korupsi pertama adalah korupsi moral. Korupsi moral merujuk pada berbagai berbagai konsitusi yang sudah melenceng, hingga pengelola negara, tidak lagi dipimpin hukum.***Hotman J Lumban Gaol

Tidak Bekerja! Jangan Makan

Oleh: Hojot Marluga

Ada sebuah cerita, di suatu desa ada seorang pemuda kaya yang malas bekerja karena memiliki warisan. Hidupnya tak karuan, berleha-leha. Si pemuda tiap hari menertawakan orang lain yang rajin bekerja. Baginya tanpa kerja keras pun ia sudah kaya raya, sebab ia punya harta. Sementara itu, di desa tersebut ada juga seorang pemuda miskin yang saban hari bekerja keras.

Suatu hari, desa tersebut terkena musibah, ada suku lain datang menjajah dan menjarah mereka. Semua isi desa isi habis diobrak-abrik termasuk harta warisan pemuda kaya tadi. Melihat itu, orang kaya itu shock dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ia bingung karena ia tidak pernah bekerja. Namun, pemuda si miskin tadi justru tidak tertekan akan musibah itu—sebab ia terbiasa bekerja keras dan melatih diri. Nah, apa pesan cerita tersebut? Mengapa banyak tenaga produktif (pemuda) menggangur?

Dalam Alkitab (PL) dijelaskan, jangan mencuri. Tetapi pengertian mencuri hanya sebatas jangan mengambil milik orang lain. Ketika seseorang menerima gaji buta, termasuk kategori mencuri. Alkitab berkata “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.” Hal tersebut merupakan ajaran Alkitab.

Bisa disimpulkan, berarti mestinya harus bekerja keras untuk mendapatkan apa yang bisa dicapai semasa hidup. Tidak ada sukses tanpa kerja keras. Semangat tersebut merujuk pada Kejadian 2:15 “Tuhan Allah mengambil … untuk mengusahakan dan memelihara taman itu,” dan kalau kita bandingkan dengan Kej 3:17-19, “… dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu.”

Dari sisi ekonomi, pengelolaan rumah tangga mengandung beberapa prinsip yaitu, Allah bekerja dan menginginkan manusia yang diciptakanNya menurut gambar dan rupa Allah, bekerja. Allah menggambil rupa (inkarnasi) adalah Allah menunjukkan contoh bekerja. Sehingga jika ada orang berpangku tangan (tidak bekerja) karena menggangur seharusnya ia malu terhadap Tuhan.

Jika dirunut dari sebuah cerita, Tuhan mencipta manusia bukan sejak dunia jatuh dalam dosa, namun sejak dunia berada dalam kemurnian–kebenaran untuk mengelola dan memelihara taman Firdaus. Berarti sejak semula tidak ada natur apapun yang tidak menyetujui manusia harus bekerja. Manusia harus bekerja, tidak ada istilah menggangur. Dan ketika manusia tidak bekerja maka Ia sedang melanggar natur kita sendiri.

Sekarang semangat kerja itu mulai terkikis, ini terus dikikis. Berlahan terus jumlah tenaga kerja yang produktif menggangur makin banyak tiap tahun. Seolah-olah kita boleh terus dipermudah bahkan kalau mungkin tidak perlu bekerja, tetapi mendapatkan sesuatu. Terjadi kesalahan efek, teknologi dipermasalkan. Padahal, teknologi kita dapat mengerjakan lebih banyak hal. Kemampuan serta ketrampilan yang hanya dapat dikerjakan manusia sebagai mahkluk yang lebih tinggi daripada sekedar robot.

Seorang Filsuf Garfield mengatakan, figur yang sengaja disodorkan sebagai isme hedonisme (kesenangan duniawi) terletak pada masa muda. Filosofi hedonistik dengan slogan dan penampilannya yang menggambarkan kemalasan kerja.

Pandangan Kristen yang dipakai Tuhan bekerja di tengah dunia secara tepat. Bagaimana umat Tuhan menularkan prinsip dan etos kerja disekeliling-nya? Cara kerja yang tepat, diajarkan Firman adalah yang membawa pada paradigma baru. Bahwa bekerja bukan hanya sekedar untuk makan minum. Tetapi bekerja adalah panggilan natur manusia. Panggilan pelayanan manusia pada Tuhan-Nya.

Padangan iman Kristen mengajarkan semangat kerja, manusia menerima natur bekerja. Dalam Alkitab dikatakan mengusahakan dan memelihara taman dan itu dijalankan secara seimbang. Hal itu sesuai dengan prinsip dasar ekonomi (oikos-nomos) yaitu bagaimana kita diberi akal budi dan kemampuan, dipanggil oleh Tuhan menjadi pengelola yang ada pada manusia.

Manusia diberi kuasa mengelola tetapi harus bertanggung jawab terhadap pemberi otoritas itu yaitu Tuhan. Sehingga ketika bekerja ada beban moral, bertanggungjawab terhadap apa yang dikerjakan. Ini harus menjadi acuan agar umat Tuhan sadar bahwa bekerja bukan untuk sekedar materi, tetapi sebagai bagian dari pelayanan itu sendiri.

Itu sebabnya Paulus mengingatkan, “Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna tertulis dalam (II Tes 3:11). Dan ditambahkan juga, “ jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Kata-kata ini sangat tegas, orang yang tidak empunyai pekerjaan tidak boleh makan. Lalu makan apa kalau tidak punya pekerjaan? Jawabannya jelas semua orang punya kemampuan mengolah alam, menciptakan pekerjaan pada dirinya sendiri.

Maka pengertian ini mendorong setiap orang yang telah dewasa mengerti bagaimana berdaya guna. Kata iklan, bersakit-sakit dahulu baru bersenang-senang kemudian. Etika kerja yang sejati, kepercayaan (truth) panggilan kerja Kristen sebagai pelayanan. Sebagai umat pilihan bukan hanya sekedar semangat kerja keras tetapi dalam Efesus 4 menulis, melakukan pekerjaan baik, berarti pekerjaan itu harus mencapai kualitas. Yang meneguhkan manusia, baik bekerja di bidang apapun–seolah-olah berkerja untuk Tuhan.

Karena itu kalau pemuda Kristen bekerja, namun tidak dapat menjadi garam di dalam pekerjaannya, maka, jika seorang pekerja Keriten tidak bisa menjadi garam, garam itu telah hambar ia tinggal dibuang saja. Umat Tuhan harus berpikir apa yang Tuhan percayakan kepada setiap orang harusnya berbagi kasih pada sesama. Baik otak, kemampuan, kesempatan, harta dan segala sesuatu adalah dari Tuhan. Memang tidak mudah mengubah sesuatu; termasuk paradigma yang sudah mengakar, semisal bekerja adalah untuk kaya raya.

Untuk mengeser jadwal bangun pagi pun sulit, artinya mengubah sesuatu perlu ada pengorbanan. Jelas tidak mudah mendorong dan mengubah konsep yang sudah bertahun-tahun melekat menjadi kebiasaan dalam bekerja. Maka jika ada kemauan yang keras, semangat (etos) itu mengubah pemikiran tersebut, berproses dari satu langkah demi satu langkah. (step by step). Mengubah cara pikir, gaya hidup, kerja, studi, hidup pelayanan dan seluruh inti utama dari kerja bisa menjadi lurus kembali.

Jika diurai, satu-persatu, disiplin intinya terletak pada kemampuan mengelola waktu. Kemudian disiplin mentrasformasi menjadi motivasi bekerja, merupakan konsep etos kerja yang memberikan spirit untuk tetap mengerjakan apa yang dapat dikerjakan hari ini. Sebab besok sudah terlambat.

Selanjutnya adalah persuasif—kemampuan mengkomunikasikan sesuatu, menjadi disiplin. Karena itu umat Tuhan harus mampu bersaing. Artinya, manusia yang punya etos kerja terlihat dari kreatif memadukan sebuah perjalanan impian dengan nyata. Misalnya, seorang yang berimajinasi sebagai seorang intertain (penghibur), seseorang harus mensosiasikan diri menghibur penonton di atas pentas. Tidak berhenti disitu ia harus mau terus tekun berlatih untuk mendorong menjadi penghibur sejati. Namun tak ada guna jika hanya menghayal tanpa dibarengi dengann reaksi kerja keras.

Semangat orang kreatif, dampak dari kerja keras menjadikan pikiran menjadi sumbu semua kreasi untuk mengapai hasil yang lebih baik. Dan imajinasi (jiwa) masih tetap berlaku dan berguna. Soal semangat berusaha keras akan mendorong kemampuan otak, otak hubungannya kreativitas. Sebab dengan pikiran manusia mampu menampung tigapuluh milliar bit informasi per detik.

Merujuk ahli fisika Albert Estein mengatakan, otak bisa jutaan kali lebih jitu mengirim sinyal daripada kemampuan komputer. Ia buktikan, dalam penelitiannya pun Albert Estaein hanya mengunakan pikirannya satu persen, sembilanpuluh sembilan persen lagi adalah kerja keras. Kata Shiro Honda, 99 persen adalah keringan dan hanya 1 persen imajinasi. Nah yang mana kita percaya, yang jelas bekerja keras adalah bagian dari temuan dari dua tokoh ini.

Untuk berhasil dalam setiap bidang pekerjaan, seseorang perlu memiliki akselerasi kreatif dan imajinatif. Akselerasi keduanya akan menghasilkan insan produktif, berdedikasi dan profesional, dengan akselerasi menyadarkan personal, mengerti tugas yang dikerjakan sebagai tanggung jawab moral. Karena dengan demikian, pemilik etos kerja yang tinggi akan bekerja melebihi panggilan tugas.

Artinya umat Tuhan yang bekerja sesuai argo, bekerja sesuai dengan gaji, adalah karakter kerja yang tidak profesional. Dan tidak mengerti etos kerja. Sebab lebih baik bekerja sungguh-sungguh dan memberikan keuntungan pada orang lain dari pada bekerja setengah-setengah hanya tidak berdampak pada orang lain.

Memunculkan krativitas-kreativitas baru tersebut dari imajinasi yang liar. Yaitu, imajinasinya harus dikontrol, dirawat, diasuh persis seperti seorang bayi. Dengan begitu orang yang sungguh-sungguh dengan bekerja keras, ia semisal raksasa tidur yang terbangun dari dalam dirinya. Jika pemuda ingin kualitas diri, arif bijaksana dapat berselancar dalam multi-perubahan, intinya sederhana, menyatukan hati dan pikiran yaitu imajinasi dan kreatif. Ketika orang bekerja dengan fokus, menyatukan diri pikiran dan hari. Tepatnya menyatukan semangat kerja disiplin pribadi dan semnagat moral yang tinggi, akan membuahkan hasil.

Artinya kesempatan akan datang, orang yang mau dengan sungguh akan berhasil mengujudkan cita-citanya saat kesempatan itu hadir. Yang ngeri adalah ketika kesempatan datang, pribadi kita belum terasa, karena semangat kerja yang loyo. Maka kesempatan itu hilang.

Hal itulah yang mengujudkan etos kerja Kristen, mendorong setiap orang bekerja kreatif setiap tiap hari, memanfaatkan waktu yang ada, selagi ada waktu persiapkan diri. Sebab waktu tidak berputar, waktu terus berjalan, hanya pengatur waktu (jam) yang berputar. Jadi membudayakan etos kerja, berarti menyiapkan diri dalam waktu yang masih ada, sebab besok mungkin terlambat.***

*) Penulis adalah wartawan, tinggal di Bekasi

Bekerja Untuk Siapa?

Bekerja Untuk Siapa?bekerja

Oleh Hojot Marluga

Agama Kristen selalu mengajarkan bekerja adalah panggilan. Kesalehan dan kemakmuran, atau mendikotomikan ibadah yang sakral dan kerja yang profan. Jika meninjau dunia kerja dari perspektif teologi Kristen mengatakan, seseorang tidak boleh mengapdi untuk dua tuhan. Alkitab jelas mengajarkan bekerja untuk siapa? Jika ia mengabdi untuk mamon (materialime), ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

Dalam alkitab Mamon disebut uang (harta). Jadi, untuk berkenan pada Tuhan, seseorang harus menolak dunia dengan segenap harta, kekuasaan, dan kemuliaannya. Jadi, umat harus memilih salah satu, berkenan pada Tuhan atau berkenan pada dunia. Akibatnya, umat yang ingin hidup benar dan saleh kemudian tertinggal dari derap kemajuan dunia. Lebih parah lagi, kaum saleh ini kemudian (bisa) terjebak dalam jenis keberagamaan yang campur aduk dengan elemen magis yang penuh takhayul, bidah, dan khurafat. Makin jauhlah umat demikian tertinggal.

Di pihak lain terdapat elite agama, misalnya di Eropa pada zaman Martin Luther, atau di Iran seperti yang digambarkan Sukidi, bersekutu erat dengan kaum penguasa, bahkan menjadi penguasa itu sendiri, bergelimang dengan keduniawian sambil atas nama konservatisme mengekang gerak dan aspirasi umat yang ingin bebas mengecap kemajuan, membuat keluruhan umat tertinggal dari modernitas yang umumnya dimotori oleh sains, teknologi, bisnis, investasi, dan manajemen terkini. Sesungguhnya dua hal itulah yang ditentang kemudian diperbarui oleh para reformis di Eropa, Iran, dan Indonesia. Pokok persoalannya, bagaimana mengharmoniskan iman dan rasionalitas, kesetiaan pada kitab suci dan aspirasi kemajuan, kesalehan dan kemodernan. Sederhananya, bagaimana berkenan pada Tuhan dan berkenan pada dunia.

Semangat kerja yang harus dimiliki orang Kristen adalah hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Sebab, Allah adalah Allah yang bekerja. Allah yang berkarya dan karyaNya sangat indah, bisa dinikmati. Manusia diciptakan Tuhan, manusia seogianya berkarya dan menghasilkan karya yang indah.

Etos Manusia Unggul

Ir Ciputra, Bos kelompok usaha properti dan real estate Ciputra ini. Sebenarnya, pria kelahiran Parigi, Sulawesi Tengah itu terlahir pada 24 Agustus. Dalam buku bertitle The Ciputra’s Way; Praktik Terbaik menjadi Enterpreneur Sejati.
Menurut Ciputra, Indonesia memerlukan banyak enterpreneur baru. Dia berharap, kehadiran wirausaha baru menjadi solusi atas sejumlah persoalan, terutama di bidang sosial-ekonomi dan ketenagakerjaan. “Indonesia saat ini kekurangan orang yang kreatif. Para menteri banyak yang kurang kreatif, kurang daya cipta.

Ciputra mengaku sebagai seorang entrepreneur lebih banyak bermodalkan “dahi” (otak) daripada dana. Dia menyadari pentingnya dukungan dari penyandang dana, pemilik tanah, pemberi izin, dan pembeli. Mereka kerap membiayai dan membeli propertinya meski masih dalam bentuk gambar. Ciputra sangat peduli soal sumber daya manusia. Dan mendirikan lembaga pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi. Ciputra merupakan orang yang berkemampuan mewujudkan keinginannya. Itulah etos kerja. Bahkan sebelum orang lain memikirkannya, membuktikan bahwa dirinya memiliki kapasitas tersebut.

Keberhasilan Ciputra adalah make things happen. Misalnya, Ciputra menggunakan sumber air sungai Brantas untuk memenuhi kebutuhan Citra Raya. Grup Ciputra telah mengembangkan kawasan itu seluas 600 ha dengan sejumlah 8.000 residensial dan lapangan golf bertaraf internasional. Pada 2003, Citra Raya memosisikan dirinya sebagai The Singapore of Surabaya.

Kini pohon Bisnisnya berkembang, berkat kreatifitas itu pula Ciputra melahirkan tiga grup bisnis properti. Ketiga perusahaan itu adalah Pembangunan Jaya, Metropolitan Development, dan Ciputra Development. Ciputra melahirkan banyak proyek raksasa dan masuk kategori pelopor. Proyek Senen, misalnya merupakan pusat perbelanjaan moderen pertama di Tanah Air.

Taman Impian Jaya Ancol kini menjadi pusat rekreasi favorit. Itu merupakan pusat rekreasi terbesar pertama di tanah air dan masuk 10 besar di dunia. Taman itu telah memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk menirunya.

Andrias Harefa, terinpirasi menulis buku “The Ciputra Way Andrias pun memetik banyak pengalaman menarik, ketika mewawancarai Pak Ci sebagai bahan penulisan buku. Saat itu pak Ci meminta kliping proyek properti di Dubai, Uni Emirat Arab. Berpuluh puluh lembar kliping koran digelar di lantai. Pak Ci menjelaskan proyek properti yang akan dibangun oleh Ciputra harus seperti di Dubai.

Ciputra adalah contoh nyata seorang penganut ‘Etos Kristen’ wirausaha sejati. Dalam usianya ke-75, ia tetap aktif dalam menjalankan bisnis. Ia rajin datang ke kantor dengan semangat dan gembira, berdiskusi, dan memecahkan masalah bersama rekan-rekan sekantor.

Etos yang diterapkan oel orang-orang hebat itu ibarat semangat batu baterei Alkaline, kecil namun tak pernah berhenti berjuang. Demikan pula daya tahan orang-orang yang memiliki etos kerja yang kuat, menghimpun energi tambahan pada semangat kerja yang telaten.

Untuk menjaga dan mengembangkan semangat kerja, mereka bekerja dengan kesabaran yang terus terjaga dan mengembangkan etos kerjanya. Sebab tanpa kegairahan dalam melakukan pekerjaan, seseorang tidak akan dapat meraih sukses.

Maka, untuk membangun etos kerja yang terus menerus stabil, kita perlu mencintai pekerjaan yang sedang digeluti. Bagaimana pekerjaan mengairahkan? Intinya adalah fokus pada pekerjaan. Seperti Stephen Tong berjuang dan mengumuli pelayanannya; menghasilkan kotbah-kotbah yang bermutu dan buku-buku yang bermutu pula demi menunjang aktivitasnya. Meskipun jantungnya sudah delapan kali diberikan ring, ia tetap berjuang untuk mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Hal yang sama dalam bekerja di tempat apapun! Jika bekerja dengan kesenangan yang tulus, niscaya akan mengasilakan hasil yang bermutu pula.

Masalahnya, dunia dipenuhi orang-orang yang tidak bekerja dengan tulus, barangkali bisa bekerja aut-autan karena memang pekerjaan tersebut tidak disenangi. Ada pula orang yang ke tempat kerja, kantor, tetapi tidak mengerjakan apa-apa. Jika tidak menemukan keasikan dalam bekerja bisa akan menghambat pengembangan diri. Jika bekerja dengan terpaksa, bekerja semuanya terasa hambar, menguras energi tanpa hasil.

Menyenangi pekerjaan yang tidak disukai memang tidak menyenangkan. Menjadi penyapu jalanan atau tukang pinggul misalanya, adalah pekerjaan yang tidak enak bagi sebagian orang. Memang pasir bukan mutiara, tetapi tahukah kita bahwa mutiara adalah pasir yang masuk ke dalam kerang yang dibungkus lama, sehingga menghasilkan mutiara. Artinya, pekerjan yang dianggap hina sebagian orang belum tentu itu kebenaran. Lewat proses itu pengalaman menjadi hikmat. Hikmat menjadi kebijaksanaan, menjadi keariafan menjadi kemuliaan.

Maka, elemen utama yang penting dalam membangun semangat kerja, yang menyenangkan orang-orang yang berkerja bersama dengan kita. Kemudian berusaha yang dapat dilakukan di tengah-tengah rutinitas pekerjaan Anda. Biasanya orang bekerja keras itu terlihat dari waktunya lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Bekerja dengan totalitas artinya memberikan semua yang Anda memiliki untuk mencapai keberhasilan atas pekerjaan yang Anda lakukan. Uanga berkerja untuk orang yang berkerja rajian. Bejamin Franklin mengatakan, orang-orang yang berpendapat bahwa uang melakukan apa saja kemungkina besar akan melakukan apa saja untuk memperoleh uang. Orang yang terbiasa bekerja dengan keras tidak takut bekerja apapun. Yang pasti, ia tahu bekerja bukan untuk uang, tetapi menemukan diri.***

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.