Tokoh

Biografi Lengkap Pangeran Diponegoro

Senin, 27 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Oleh SURYADI

Menulis biografi lengkap seorang tokoh besar yang sudah meninggal ratusan tahun lalu mungkin tak semudah menulis biografi (pesanan) seorang penguasa/pengusaha yang masih hidup. The Power of Prophecy (Kekuatan Nujum) menyuguhkan biografi lengkap Pangeran Diponegoro (1785-1855), seorang Muslim yang saleh, tetapi tetap dipengaruhi kosmologi Jawa, yang mengobarkan ”perang suci” melawan Belanda (1825-1830).

Buku ini adalah sebuah studi yang mendalam mengenai riwayat hidup Pangeran Diponegoro (PD), bangsawan Keraton Yogyakarta, penentang paling gigih aneksasi Belanda terhadap tanah Jawa. Ia melukiskan detail kehidupan PD dalam turbulensi politik pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 ketika kekuatan penuh kolonialisme Eropa memukul Indonesia, menghancurkan orde lama Jawa untuk selamanya, serta mendorong kekuatan kembar Islam dan identitas nasional Jawa ke dalam konfrontasi frontal melawan Belanda.

Dalam konfrontasi itu, yang dikenal sebagai Perang Jawa (atau ”Perang Diponegoro”), PD kalah dan akhirnya dibuang—fase yang menandai dimulainya periode kolonisasi modern Belanda di Indonesia yang berakhir dengan kedatangan Jepang pada tahun 1942. Buku ini membahas konteks kesejarahan Perang Jawa serta seluruh ”aktor” yang terlibat di dalamnya, dengan PD sebagai ”protagonis”-nya.

Tebal buku ini mencapai hampir 1.000 halaman, terdiri dari 12 bab yang diperkaya dengan 84 ilustrasi plus 11 peta, 2.260 catatan kaki yang sarat rujukan arsip dan sumber pertama, dan 16 lampiran yang membantu pembaca memahami posisi genealogis PD serta konteks sosial, politik, dan historis yang melahirkan, membesarkan, dan menentukan jalan hidupnya.

”Tulang punggung” (backbone) buku ini adalah otobiografi PD sendiri, naskah Babad Dipanagara (beraksara Pégon) yang ditulisnya di Manado. Penulis juga menggunakan banyak sumber pribumi lainnya serta catatan-catatan Belanda dan Inggris, khususnya kumpulan arsip kolonial yang berasal dari Karesidenan Surakarta dan Yogyakarta yang sekarang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta.

Peter Carey, yang mengaku mulai terpesona oleh figur PD sejak tahun 1969 ketika memulai studinya di Universitas Cornell, juga menapaktilasi dan merekonstruksi seluruh rute yang pernah ditempuh PD sebelum, selama, dan sesudah berlangsungnya Perang Jawa. Bahkan, ia mengaku melakoni beberapa acara ritual-mistis ala Jawa selama melakukan studi lapangan, salah satunya bermalam di Goa Secang, Selarong, Bantul, tempat PD pernah melakukan meditasi.

Konteks historis Perang Jawa

Membaca buku yang penyusunannya memakan waktu lebih dari tiga dekade ini, pembaca dibawa menelusuri berbagai sisi personalitas PD serta alasan pribadi dan sosio-politik yang mendorongnya maju menjadi pemimpin Perang Jawa.

Bab I memaparkan konteks demografi, sosio-ekonomi, dan politik the sounth-central Javanese world tahun 1792-1825, dunia tempat PD dilahirkan dan menjalani masa kanak-kanak dan remajanya. Bab ini juga melukiskan ”kemajuan” sistem administrasi kekuasaan Keraton Yogyakarta dan sistem kemiliteran yang mendukungnya, serta membahas kehidupan kaum tani, sistem perpajakan, birokrasi, dan pengusahaan tanah, yang memengaruhi dinamika sosio-politik masyarakat Jawa pada masa itu.

Rekonstruksi masa kanak-kanak PD sampai berusia 20-an tahun ketika Daendels menganeksasi Kesultanan Yogyakarta—keputusan yang, langsung atau tidak, telah ikut mendorong PD mengobarkan ”perang suci” melawan ”kafir murtad” Belanda—dibahas dalam tiga bab berikutnya.

Kelahiran PD di Istana Yogyakarta—nama kecilnya Bendara Radèn Mas Mustahar, lalu menjadi Radèn Antawirya—dengan berbagai mitos yang menyertainya dan lingkungan sosial Desa Tegalreja tempat PD menjalani masa kanak-kanaknya, dilukiskan dalam Bab II. Ayah PD, Hamengku Buwono III, baru berumur 16 tahun lebih sedikit dan ibunya, Radèn Ayu Mengkarawati, baru berusia 15 tahun ketika ia melahirkan PD. Di tubuh PD mengalir seperempat darah Madura karena nenek buyutnya, Ratu Kedathon (ibu Hamengku Buwono II), adalah keturunan Pangèran Cakraningrat II yang berdarah Madura.

Masa remaja PD dan inisiasi yang dijalaninya sehingga menjadi seorang dewasa yang terjadi pada tahun 1803-1805 digambarkan dalam Bab III. Carey melukiskan penampilan fisik, tabiat, dan kapabilitas intelektual PD, proses pendidikan yang dilaluinya, minatnya pada sastra dan ilmu keislaman, serta hubungannya dengan orang Eropa. Pada tahun 1804, dalam usia 19 tahun, PD menikah untuk pertama kali dengan Radèn Ayu Madubrangta, putri Kiyai Gedhé Dhadhapan, kepala pathok negeri Dhadhapan, Distrik Sleman.

Bab IV mendeskripsikan ziarah lelana PD ke tempat tirakatnya di pantai selatan dan ”pertemuannya” dengan Ratu Kidul di Gua Langsé. Di sanalah ia mendengar suara Sunan Kalijaga, konon, yang mengingatkannya akan datang bencana menghancurkan Kesultanan Yogyakarta yang menandai kejatuhan Tanah Jawa. PD juga menerima sinyal-sinyal mistis menyangkut peran historis yang akan dilakoninya pada masa depan. Ziarah PD selesai akhir tahun 1805 dan ia kembali ke Tegalreja.

Dua bab berikutnya melukiskan penaklukan Belanda terhadap Jawa Tengah yang sinyalnya telah diterima PD dalam ziarahnya. Proses penaklukan ini, yang dipimpin Gubernur Jenderal HW Daendels, diuraikan secara rinci dalam Bab V. Aneksasi terhadap Kesultanan Yogyakarta menyebabkan timbulnya gerakan anti-Belanda di kalangan bangsawan dan golongan ulama. Pada tahun 1809 meletus pemberontakan yang dipimpin Radèn Rongga Prawiradirja III. Bab VI membahas latar belakang pemberontakan ini dan dampak politisnya. Radèn Rongga tewas di Sekaran, di tepian Sungai Sala, 17 Desember 1810.

Bab VII melukiskan aksi ”pencabulan” (rape) yang dilakukan Inggris terhadap Kesultanan Yogyakarta menyusul kolapsnya Pemerintahan Franco-Dutch di Jawa. Yogya jatuh ke tangan Inggris pada 20 Juni 1812. Proses konsolidasi kekuasaan Inggris di Jawa, yang juga cukup menyengsarakan rakyat walau hanya berlangsung singkat (5 tahun), beserta dampak sosio-politiknya diuraikan dalam Bab VIII (hal 345-430).

Bab IX menggambarkan dinamika sosio-politik the sounth-central Java setelah kepergian Inggris pada tahun 1816. Carey memberi judul bab ini ”Binding on the iron yoke” untuk melukiskan berbagai kebijakan baru Belanda di bidang sosial, politik, dan ekonomi sampai 1822 yang makin memiskinkan rakyat. Konflik internal di kalangan bangsawan Yogyakarta akibat aneksasi Belanda semakin meruncing, salah satu faktor yang memicu timbulnya Perang Jawa (Bab X, hal 505-603). PD dan para pengikutnya yang menentang pendudukan Belanda atas Yogyakarta menyingkir ke Tegalreja. Seiring dengan itu muncul tanda-tanda ramalan Jayabaya tentang akan datangnya Ratu Adil, antara lain meletusnya Gunung Merapi pada Desember 1822.

Tegalreja, basis pasukan PD, diserang Belanda dan kolaborator lokalnya pada 20 Juli 1825. Mereka gagal menangkap PD yang dengan pasukannya sudah lebih dulu mundur ke Selarong. Penyerangan itu menandai dimulainya Perang Jawa. Jalannya peperangan itu (1825-1830), cara-cara pembiayaannya, dan konsekuensi sosio-politisnya diuraikan dalam Bab XI.

Bab XII memaparkan secara rinci antiklimaks Perang Jawa ditandai oleh kekalahan yang dialami pasukan-pasukan PD dalam beberapa front pertempuran yang kemudian memaksanya berunding dengan utusan Belanda, JB Cleerens, di Rèmakamal. Dengan tipu daya the commander-in-chief' pasukan Belanda, Letnan-gubernur HM de Kock, akhirnya PD ditahan saat mereka berunding di Magelang tanggal 28 Maret 1830.

Rekonstruksi proses penangkapan PD beserta para pembantu utamanya, sampai dia dibawa ke Batavia melalui Pelabuhan Semarang pada 5 April 1830 (PD sampai di Batavia pada 8 April) dan perjalanan panjang menuju tempat pembuangan di Manado dan akhirnya sampai ke Makassar diuraikan dalam bab ini.

Banyak kisah menarik

Buku ini mengungkapkan berbagai sisi kepribadian PD yang selama ini jarang kita ketahui: misalnya, waktu kecil PD dikelilingi oleh banyak wanita anggota keluarga, termasuk neneknya yang sangat memengaruhi minatnya belajar Islam. Carey juga berhasil mendapatkan satu-satunya sketsa wajah PD muda dalam pakaian Jawa memakai belangkon (hal 118). Ternyata PD tidak bisa berbahasa Melayu dengan baik dan juga berbahasa Belanda. Bila marah kepada pejabat Belanda, ia cenderung berbahasa Jawa Ngoko.

PD ingin tahu banyak mengenai peta Hindia Belanda dan Tanah Arab. Ia juga sangat mengerti tata cara makan ala Eropa. PD suka makanan Belanda seperti ”kentang Welanda” dan roti bakar (hal 700). Meski menolak minum wine, sekali waktu dalam pelayaran dengan Corvette Pollux dari Batavia ke Manado ia terpaksa meminumnya sebagai ”obat”.

Pascaberakhirnya Perang Jawa, PD yang terserang penyakit malaria hanya ingin diakui sebagai pemimpin agama tertinggi di seluruh Jawa (ratu paneteg panatagama wonten ing Tanah Jawa sedaya). Setelah menjadi tahanan Belanda, PD yang tetap diizinkan memiliki keris pusakanya, Kyai Ageng Bandayuda, ingin sekali ke Mekkah. Ia menyisihkan sebagian uang tunjangan pemberian Belanda. Menjelang bertolak dari Semarang dengan SS Van der Capellen, PD minum air zam-zam pemberian seorang haji di Magelang. Namun, sampai akhir hayatnya permohonan PD untuk pergi naik haji tidak pernah dikabulkan Belanda.

Menurut Carey, ada faktor kembar yang mendorong PD, adiwangsa Keraton Yogyakarta yang semula bersikap netral dan tidak menunjukkan ambisi politik apa pun, mendeklarasikan ”perang suci” melawan Belanda, yaitu krisis agraria yang melanda Jawa Tengah tahun 1823- 1825 dan berbagai tindakan yang tak pantas yang ditunjukkan para petinggi Belanda di Yogyakarta (hal 757). Hal itu antara lain terefleksi dalam sindirannya kepada Residen Yogyakarta HG Baron Nahuys van Burgst dalam babad-nya: ”Karemannya mangan minum / lan anjrah cara Welanda'” (Sukanya makan-minum dan menyebarkan kebiasaan orang Belanda) (hal 434).

Banyak lagi sisi-sisi kehidupan PD yang berhasil diungkapkan Carey dalam buku ini, juga lingkungan Keraton Yogyakarta memiliki pasukan wanita (royal Amazon corp) dengan kepandaian menunggang kuda dan menggunakan senjata yang membuat Daendels terkagum-kagum. Di The 'Versailles of Java' itulah PD dilahirkan sebelum fajar menyingsing pada Jumat, 11 November 1875.

Mungkin hanya sebuah kebetulan atau keajaiban terakhir: sama seperti waktu kelahirannya 70 tahun sebelumnya, PD, yang selama hidupnya memiliki tujuh istri dan beberapa istri lagi yang tidak diketahui namanya (Appendix IV), wafat menjelang fajar menyingsing pada hari Senin 8 Januari 1855 di biliknya dalam Benteng Rotterdam, Makassar.

Sebagai seorang anak manusia, this pious and complex man' telah menyelesaikan tugas sejarahnya. Agaknya benar diktum Karl Popper yang disitir Carey: ”[H]istory is the struggle of men and ideas” (hal 757).

Studi sejarah Indonesia

Tampaknya buku ini amat dinantikan oleh peminat studi (sejarah) Indonesia, mengingat kabar mengenainya telah beredar sejak 33 tahun lalu ketika Peter Carey sukses mempertahankan disertasinya, ”Pangeran Dipanegara and the Making of Java War, 1825-30”, di Universitas Oxford pada November 1975. Edisi kedua buku ini telah dicetak, menyusul edisi pertamanya (Desember 2007) yang sudah terjual habis.

Peter Carey, yang kini menjadi dosen di Trinity College, Inggris, telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk menyusun buku ini. I can say that I have lived under the shadow of the Prince [Diponegoro] for nearly all my adult existence, akunya dalam Jurnal Itinerario.

Buku ini sangat patut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia supaya anak bangsa ini dapat mengetahui secara mendalam riwayat hidup dan perjuangan salah seorang pahlawan nasional mereka. Di sampul dalamnya, Carey menulis: Dedication. For the family and descendants of Pangéran Dipanagara. In honour and respect. Kalimat itu seperti mengimbau pewaris Keraton Yogyakarta untuk mengirim pesan rekonsiliasi kepada arwah nenek moyang mereka yang dulu sempat terpecah karena perang yang dipimpin PD.

Semoga pewaris Keraton Yogyakarta (baca: Sultan Hamengku Buwono X), juga Pemerintah Republik Indonesia, tergugah untuk mengusahakan penerjemahan buku ini ke dalam bahasa Indonesia. (Suryadi, Dosen dan Peneliti pada Opleiding Talen en Culturen van Indonesië, Universiteit Leiden, Belanda)

PERCIKAN BUDAYA

CATATAN KECIL
Aini Patria

MENGAPA NEGERI INI MENJADI BEGINI?

Dalam percakapan, seorang kawan menyakan menangis mengamati situasi negeri
kita dewasa ini. Ia  melontarkan  perasaan yang bebentuk pcrtanyaan: Mengapa
negeri ini  liii menjadi begini? Dan menekankan: harga manusia sangat
rendah! Sementara diantara mereka  yang berada di luar negeri, tidak sedikit yang
mengaku merasa 'malu' menjadi orang Indonesia dalam keadaan sekarang ini.
Tentu pernyataan mereka itu bisa dipahami, karena dalam pergaulan
antarbangsa, masyarakat dan manusia ada tatakramanya: antara lain ukurannya
peradaban.
Menghadapi pemerintahan (mungkin lebih tepat kekuasaan) yang amburadul,
di satu sisi  ngoceh tentang demokrasi dan reformasi, di sisi lain terus
mengembangkan praktek AJI MUMPUNG (mumpung kuasa) dengan munculnya
bermacam-macam kecurangan seperti kasus Andi Galib yang tak ditindaklanjuti,
kasus Bank Bali yang menyangkut nama lapisan atas penguasa. Rasanya
kejujuran  yang mestinya
bermukim  dalam hati manusia, apalagi kalau manusia itu menjadi pimpinan
negara sudah sirna. Mungkin benar juga omongan almarhum Subadio Sastrosatomo
yang mengatakan; sejak rejim Orde Baru berkuasa, di Indonesia sudah tidak
ada pemimpin lagi, yang ada penguasa.
Ketika catatan ini ditulis seluruh mata dunia mengarah ke Timor Timur, bekas
jajahan Portugal yang karena persekongkolan Amerika Serikat dengan rejim
militer Orde Baru,
duapuluh lima tahun yang lalu dianeksasi ke dalam negara Indonesia. Akibat
tingkah     gegabah pemerintahan Habibi yang bikin referendum tanpa
persiapan matang, rakyat wilayah itu ditimpa malapetaka. Karena yang pro
integrasi kalah, pembantaian dan
bumi hangus dilakukan oleh pihak pro integrasi di sana. Ada tangan-tangan
berlumuran darah lagi di Timor Loro Sae! Situasi ini diikuti rasa frustasi
oleh
sekelompok orang dengan mengamuk kesana kemari seperti 'jaran dor' makan
beling
dengan menyalahkan pihak-pihak lain. Agar situasi amburadul ini tidak
berlarut, sebaiknya kekuasaan Habibie segera diganti. Dan penggantinya
selain menyelesaikan
segudang pelanggaran hukum dan kemanusian yang terbengkelai, atas nama
bangsa
harus berani mawas diri. Mencari akar masalah, mengapa bangsa ini menjadi
begini.
Sejak kapankah keganasan ini dimulai dan dikembangkan? Siapa sajakah
aktor-aktornya? Akibat-akibatnya terhadap tahanan politik, ekonomi, budaya,
rasa kemanusiaan dsb.
Segala kebejatan itu perlu dikoreksi. Kejahatan rejim militer Orde Baru
sejak mengadakan pembunuhan massal (1965-l967), peristiwa Tanjungpriuk,
Aceh, Papua Barat, Lampung, Petrus dsb.; penculikan, perampasan hak milik
seperti rumah,
tanah dan barang-barang lain yang dilakukan penguasa atau oknum-oknum
militer,
harus segera dibenahi. Selain itu mungkin seluruh warga perlu mengadakan
reedukasi atau pendidikan kembali sebagai bentuk mawas diri, agar mereka
yang rasa keadilan dan rasa kemanusiaannya sadah tumpul menjadi peka.
Dulu sebelum rejim militer Orde Baru naik tahta kekuasaan, orang luar banyak
yang menjuluki kita sebagai 'bangsa yang bertanah air indah dengan
penduduknya yang ramah'. Tapi mengapa beberapa dekade belakangan ini
menampakkan diri sebagai  'drakula' pemakan darah?
Dalam catatan ini saya akan nengulang pendapat  yang mengatakan: DI DUNIA
INI ORANG JAHAT JUMLAHNYA  TIDAK BANYAK DIBANDING DENGAN YANG BAlK, TAPI
KALAU ORANG JAHAT (YANG JUMLAHNYA SEDIKIT) ITU BERKUASA, AKAN MENDATANGKAN
MALAPETAKA. Karena dengan
kekuasaan, mereka bisa mengembangkan kejahatan, dan karena berkuasa pula
bisa mempengaruhi atau memaksakan orang-orang baik untuk mengikuti kehendak
jahat mereka. Kemudian  kejahatan itu menjadi langgam kolektif dan melembaga
disusupkan menjadi sistem  untuk menguasai masyarakat. Bukankah macam-macam
rekayasa sudah 'membudaya' di kalangan elite kekuasaan negeri ini selama
rejim militer Orde Baru berkuasa sampai sekarang?  Di negeri ini,
militerisme sudah mengental di segala
bidang,  politik, ekonomi dan juga 'kebudayaan'. Sudah menjelma menjadi
sistem.
Melawan sistem militerisme untuk digantikan sistem demokrasi yang
mengutamakan
keadilan dan kemanusiaan, itulah tantangan bagi yang akan mengadakan
pembaruan.
Tanpa menjebol sistem lama penuh kebejatan, tak mungkin mengadakan
pembaruan.
Perjuangan ini selain tak mudah, juga akan makan waktu jangka panjang.
Karena militerisme itu sudah berakar dalam sistem masyarakat dan dalam otak
manusia.
Jadi sistem masyarakatnya perlu diubah dan otak manusianya perlu dicuci!.

September 1999
Aini Patria

Peluang Kreatif

Stadium General

Meraih Peluang Industri Kreatif

Oleh Jakob Oetama

Indonesia adalah negara kepulauan yang besar, terdiri atas 17.504 pulau dengan keragaman dan kekayaan budaya bangsa. Terdapat 1.068 suku bangsa, dan berkomunikasi dengan 665 bahasa daerah di seluruh Nusantara.

Indonesia dikaruniai iklim subtropis yang bersahabat, tanah yang subur, serta alam yang sangat indah. Selain itu, Indonesia kaya dengan spesies langka flora dan fauna mencakup mamalia, kupu-kupu, reptil, burung, unggas, dan amfibi berjumlah 3.025 spesies.

Tumbuhan yang hidup di Indonesia berjumlah sekitar 47.000 spesies atau setara dengan 12 persen dari seluruh spesies tumbuhan di dunia.

Dalam bidang seni dan budaya terdapat sedikitnya 300 gaya tari tradisional yang berasal dari Sabang sampai Merauke. Kekayaan budaya bangsa Indonesia adalah potensi besar dalam mendukung tumbuhnya industri kreatif Indonesia yang saat ini memberikan kontribusi kepada pendapatan domestik bruto (PDB) senilai Rp 104,6 triliun.

Industri kreatif Indonesia

Rata-rata kontribusi PDB industri kreatif Indonesia tahun 2002-2006 sebesar 6,3 persen dari total PDB Nasional dengan nilai Rp 104,6 triliun. Nilai ekspor industri kreatif mencapai Rp 81,4 triliun dan berkontribusi sebesar 9,13 persen terhadap total nilai ekspor nasional dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5,4 juta pekerja.

PDB industri kreatif menduduki peringkat ke-7 dari 10 lapangan usaha utama yang ada di Indonesia. PDB industri kreatif saat ini masih didominasi oleh kelompok fesyen, kerajinan, periklanan, dan desain.

Pemerintah telah mengidentifikasi lingkup industri kreatif mencakup 14 subsektor, antara lain, industri perangkat lunak (software), pasar barang seni, industri kerajinan, fesyen, advertising, desain, animasi, film, video dan fotografi, musik, serta permainan interaktif.

Indonesia memiliki potensi kekayaan seni budaya yang beragam sebagai fondasi tumbuhnya industri kreatif. Keragaman budaya itu sendiri sebagai bahan baku industri kreatif, munculnya aneka ragam kerajinan dan berbagai produk Indonesia, memunculkan juga berbagai bakat (talent) dari masyarakat Indonesia di bidang industri kreatif.

Universitas Multimedia Nusantara (UMN) berupaya menjadi salah satu elemen penggerak industri kreatif, yakni menyiapkan tenaga yang berbakat tersebut menjadi terampil dan berdaya saing tinggi untuk berhasil di industri kreatif.

UMN merancang kurikulum yang berorientasi kreatif dan kewirausahaan (entrepreneurship) berikut sarana laboratorium yang baik di bidang ICT (information and communication technology) serta laboratorium multimedia (animasi desain).

Alasan mengembangkan

Indonesia perlu terus mengembangkan industri kreatif. Alasannya, industri kreatif memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Selain itu, industri kreatif menciptakan iklim bisnis yang positif dan membangun citra serta identitas bangsa.

Di sisi lain, industri kreatif berbasis pada sumber daya yang terbarukan, menciptakan inovasi dan kreativitas yang merupakan keunggulan kompetitif suatu bangsa serta memberikan dampak sosial yang positif.

Meski demikian, untuk menggerakkan industri kreatif diperlukan beberapa faktor. Di antaranya, arahan edukatif, memberikan penghargaan terhadap insan kreatif, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Fenomena global

Saat ini ekonomi industrial telah beralih ke Ekonomi Kreatif dan korporasi berada di simpang jalan. Atribut yang cocok untuk abad ke-20 tidak lagi sesuai di abad ke-21 sehingga korporasi harus berubah secara dramatis.

Daya yang paling penting saat ini adalah tumbuhnya kekuatan ide. Itulah sebabnya, sebagian besar tenaga kerja kini berada pada sektor jasa atau menghasilkan produk abstrak, seperti data, software, berita, hiburan, periklanan, dan lain-lain.

Belanja modal di Amerika Serikat untuk teknologi informasi berlipat lebih dari tiga kali lipat sejak 1960, dari hanya 10 persen menjadi 35 persen.

Pergantian abad merupakan pergantian dari hamburger ke software. Software adalah ide. Meskipun masih ada pembuat hamburger di abad ke-21, tetapi kekuatan, prestise, dan uang akan mengalir ke perusahaan dengan modal intelektual yang sangat berharga.

Bila dibandingkan, McDonald’s yang memiliki pegawai 10 kali lebih banyak, nilai kapitalisasi pasarnya hanya 1/10 Microsoft.

Pada era ekonomi yang berbasis pada ide, potensi untuk sukses seperti Yahoo, Google adalah jauh lebih besar karena ide bersifat menular. Ide dapat menyebar ke populasi yang sangat besar dalam waktu yang cepat.

Sekali sebuah ide, seperti program komputer telah dikembangkan, biaya untuk penggandaan hampir nol, tetapi dengan potensi keuntungan yang sangat besar.

Dalam era ekonomi kreatif, isu penting yang harus diatasi adalah pembajakan. Buku, musik atau software sulit untuk dibuat, tetapi sangat mudah digandakan, apalagi dengan kehadiran internet. Padahal pencurian terhadap hak cipta intelektual sangat mematikan inovasi.

Di era ekonomi kreatif, tersedia modal yang sangat banyak tetapi justru ide bagus yang sangat kurang. Jadi pemilik modal sepertinya kehilangan kekuatan di abad ke-21 ini, sedangkan wirausahawan dan pemilik ide-lah yang memegang peranan.

Hak milik intelektual

Dalam Ekonomi Kreatif, hak milik intelektual yang paling penting bukanlah software, musik atau film, tetapi apa yang berada di dalam kepala karyawan.

Ketika aset berupa benda fisik, seperti batu bara, misalnya, pemegang saham memiliki seluruhnya. Tetapi kalau aset terpenting adalah orang, mereka tidak sepenuhnya memiliki karena berada di orang tersebut.

Bila orang tersebut pindah, maka mereka akan membawa serta aset-aset berupa ide. Yang terbaik yang bisa dilakukan oleh perusahaan adalah menciptakan lingkungan yang bisa membuat orang terbaik tetap betah. Aset yang sebenarnya adalah ide.

Jakob Oetama, Presiden Komisaris Kompas Gramedia. Disampaikan pada acara Studium Generale Universitas Multimedia Nusantara (UMN) di Kampus UMN, Summarecon-Serpong, Tangerang

KOMPAS, 24 Oktober 2004

Porografi

RUU Pornografi, Mengapa Ditolak?

Oleh Hojot Marluga*)

Ada desas-desus rencana undang-undang (RUU) pornografi akan disahkan hari ini (24/10). RUU yang disiratkan melindungi kaum perempuan dan anak-anak terhadap bahaya pornografi, nyata-nyata malah mengkriminalisasi perempuan dan anak-anak. Sendari dulu RUU pornografi selalu kontroversi, mengatur ranah pribadi yang seharusnya tidak bisa dimasuki negara.

Tarik menarik antara kepentingan kelompok-kelompok yang berinsiatif melahirkan RUU ini masih terus terjadi. Meskipun sebenarnya dimotori pertama-tama kelompok fundamentalis. Lembaga-lembaga agama pun ikut debat kusir, Majelis Ulama Indonesia mendukung RUU ini. Sementara, Konferensi Waligereja Indonesia, Persatuan Gereja Indonesia dan lembaga agama lain menolak RUU tersebut.

Sebagai negara yang ber-falsafah pancasila, menjunjung kebinekaan, adalah tidak adil jika RUU Pornografi diundangkan semata-mata untuk menjaga moral masyarakat. Mestinya yang diprioritaskan adalah sikap mendewasakan masyarakat. Aturan yang memerintahkan masyarakat untuk tidak mengenakan pakaian yang memperlihatkan bagian tubuh yang sensual seperti payudara, paha, pusar, baik secara keseluruhan ataupun sebagian, itu kan keterlaluan. Absurd. Mendiskreditkan cara berpakaian (budaya) daerah. Bagaimana di Papua yang mengunakan koteka?

Tjipta Lesmana, penulis buku “Ponografi Dalam Media Massa” mengatakan, kepanikan dan kepahlawanan untuk memerangi pornografi mencerminkan sikap munafik. Barangkali kita perlu temuan Onno W. Purbo praktisi TI, mengatakan, 14,1% orang Indonesia yang browsing internet membuka situs porno. Demikian pula kepingan VCD porno masih marak dijual di trotoar Cawang. Soal itu, rasa-rasanya semua setuju harus dibrantas.

Namun, melihat pornografi semata-mata dari sudut moral merupakan sikap yang betul-betul munafik. Pornografi bukanlah semata-mata masalah moral, tetapi sekaligus masalah sosial dan ekonomi yang diperlukan adalah sikap dewasa untuk melihat permasalahannya secara jernih, tanpa sesumbar emosi.

Beberapa waktu di TEMPO, Ignas Kleden menulis, kalau kita membaca teks RUU Pornografi ini apa yang jelas dalam teks itu hanyalah sanksi dan hukuman sementara itu apa yang tidak jelas adalah ketentuan mengenai apa yang dilanggar dan mengapa suatu tindakan atau suatu barang atau benda dianggap mengakibatkan pelanggaran.

Artinya, takkala dijadikan undang-undang, itu menjadi masalah. Masalah pengertian pornografi masih diterjemahkan multi tafsir. Materi seksualitas yang dibuat manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.

Mengapa Ditolak?

Sampai saat ini, tidak ada satu pun negara di dunia ini yang menjadikan itu menjadi undang-undang, terkecuali Turki. RUU ini jelas mengekang kebebasan para pekerja seni. Bagaimana patung candi Borubudur memperlihatkan pria dan wanita bersenggama? Jika RUU ini disahkan akan memicu masyarakat Bali untuk meminta merdeka. Soal seks adalah wilayah privasi.

Lagaknya, Sulawesi Utara telah menunjukkan ketidak-setujuan mereka. Sebab, RUU Pornografi mengandung suku, agama, ras, aliran (SARA). Di tanah Batak misalnya ada beberapa daerah yang masih mempertahankan budaya misalnya; laki-laki dan perempuan sama-sama mandi bersama, ada yang setengah telanjang. Jika ini dianggap pornografi tentu melecehkan budaya mereka.

Misalnya, RUU ini juga menyatakan peran masyarakat untuk melaporkan pelanggaran undang-undang, menggugat ke pengadilan. Ini jelas melegalkan menjadi hakim sendiri. Walaupun memang berat tetapi adalah kebijakan yang benar. Jika RUU tetap dijadikan undang-undang akan berpotensi melahirkan aksi-aksi anarkis, mengingat adanya pasal yang sangat sensitif. Pemaksaan undang-undang pornografi jika disahkan, mengkerdilkan pikiran dan tidak menjadikan bangsa ini dewasa.

Undang-undang Pornografi tidak begitu mendesak, yang lebih penting adalah bagaimana mendidik masyarakat untuk makin dewasa, immun terhadap terpaan globalisasi. Artinya, yang lebih penting adalah memperkuat kemampuan masyarakat untuk menolak dan menseleksi sendiri pornografi itu. Jadi yang diperlukan adalah pendidikan melek media dan bukan undang-undang pornografi.

*) Penulis adalah jurnalis budaya Batak, tinggal di Bekasi.

Wawancara Raja Napatar

Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII?

Tidak ada basa-basi. Seperti namanya, Napatar, yang berarti tidak ada yang disembunyikan. Terpancar bahwa dialah tempat keluarga mempertahankan wibawa dalam terang. Kesan pertama ketika bertemu dengan cucu Sisingamangaraja XII, kelahiran Siborongborong 13 Mei 1941, ini adalah hangatnya persahabatan. Sorot matanya tenang, tak ada kesan kuasa, apalagi kesaktian di sana. Namun, suami dari boru Pakpahan dan ayah tiga orang anak ini, bisa serius kalau diajak berbincang. Di bawah ini petikannya.

Apa yang paling mengesankan yang pernah Amang alami sebagai cucu Raja Sisingamangaraja XII?

Ketika di Bandung, semasa kuliah tahun 1960-an. Pada waktu itu akan diadakan pertunjukan sandiwara tentang Sisingamangara XII. Saya ditunjuk memerankan Sisingamangaraja. Tidak ada yang mengetahui saya adalah cucunya. Lalu, saat pergelaran berlangsung, ada undangan yang datang dari Jakarta melihat saya. “Kalian tahu siapa yang memerankan Sisingamangaraja itu?” salah seorang dari undangan itu bertanya kepada sutradara. Sutradaranya orang Jawa, tidak mengenal saya.

Sutradara dan mereka yang terlibat dalam pertunjukan jadi heran. “Pantas dia sangat tahu sejarahnya,” kata mereka. Mengapa saya tidak memperkenalkan diri sebagai cucu Sisingamangaraja? Karena yang saya inginkan yang dikenal penonton adalah Sisingamaraja dan bukan saya. Kejadian itu sangat mengesankan bagi saya.

Sebelum pementasan tersebut, ada seorang pelukis yang melukis Sisingamangaraja di panggung. Lukisannya persis. Sampai sekarang saya tidak tahu di mana lukisan itu. Yang saya ingat, waktu itu seorang pejabat tentara orang Batak yang menyimpannya. Sebelum melukis, pelukis tersebut mewawancarai saya seperti apa Sisingamangara itu. Pertunjukan tersebut diadakan di Gedung Nusantara Bandung. Begitulah penghargaan teman-teman saya yang bukan Batak terhadap Sisingamangaraja. Namun, di Bandung tidak ada Jalan Sisingamangaraja, hanya di Yogya yang ada (tertawa).

Sebagai keturunan Raja Sisingamangaraja apakah Amang pernah mengalami hal-hal yang gaib?

Saya kira tidak pernah. Hanya Raja Sisingamangarja yang memiliki kekuatan gaib, bukan keturunaannya. Namun, jika pun ada, hanya orang lainlah yang bisa melihat itu, bukan saya.

Mengapa tulang-belulang Sisingamaraja XII dipindahkan dari Pearaja (Tarutung) ke Soposurung (Balige)? Mengapa tidak ke Bakkara sebagai pusat dinasti Sisingamangaraja?

Sebenarnya yang membuat itu adalah Soekarno. Tahun 1953, Soekarno datang ke Balige dengan naik helikopter. Dia berpidato di lapangan yang sekarang disebut Stadion Balige. Dalam pidatonya ia mangatakan bahwa “Balige ini bagi saya sangat mengesankan. Pertama, karena ia sangat indah. Kedua, di Balige inilah untuk pertama kali orang Batak mencetuskan perang melawan Belanda (Perang Pulas).”

Setelah itu, masih di atas podium Soekarno menanyakan di mana kuburan Sisingamangaraja XII. Ada yang menjawab di Tarutung. Soekarno bertanya lagi, kenapa tidak dipindahkan ke Balige? Karena dari sinilah perang Batak yang terkenal itu dimulai. Itu kata Soekarno. Sejak itu muncul diskusi di kalangan para tokoh Batak. Raja Sabidan setuju. Dia adalah salah seorang anak Sisingamangaraja XII, yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala BRI Sumatera Utara.

Kuburuan di Tarutung di mana Sisingamangaraja dimakamkan adalah makam untuk para tawanan. Soekarno meminta, sebagai pahlawan, Sisingamangara seharusnya dimakamkan di taman makam pahlawan.

Umur berapa Anda waktu prosesi pemindahan tulang-belulang itu?

Saya masih ingat, ketika itu saya berumur sekitar 12 tahun. Sejak dari Tarutung rombongan pembawa tulang-belulang itu dikawal haba-haba (angin puting- beliung). Sementara rombongan hampir tiba di Balige, angin puting-beliung itu seperti pengawal, berjalan mendahului prosesi yang membawa tulang-belulang sang raja. Angin menyapu bersih semua kotoran yang ada di jalan dan di sekitar makam. Haba-haba itulah yang menunjukkan tempat yang menjadi makam Sisingamangaraja. Ini fakta, karena saya melihat sendiri kejadian itu. Tidak banyak orang tahu tentang hal itu.

Apakah Soekarno datang menghadiri prosesi?

Oh nggak. Waktu itu dia hanya mengirim telegram, mengucapkan selamat. Waktu itu kami hanya empat orang, cucu laki-laki dari Sisingamangaraja XII, saya dan dua adik saya, ditambah Raja Patuan Sori, ayah dari Raja Tonggo. Ketika prosesi itu berlangsung, hanya ayah saya, Raja Barita, yang masih hidup sebagai anak Sisingamangaraja XII.

Bisa dijelaskan keadaan keluarga SisingamangarajaXII?

Istri Sisingamangaraja XII ada lima; boru Simanjuntak, boru Situmorang, boru Sagala, boru Nadeak, boru Siregar. Boru Siregar sebenarnya adalah istri dari abangnya, Raja Parlopuk. Dia menikahi boru Siregar setelah Raja Parlopuk meninggal. Keturunannya yang sekarang ini hanya berasal dari dua anak, Raja Buntal dan Raja Barita. Anak laki-laki Sisingamangaraja yang punya keturunan adalah Patuan Anggi, Raja Buntal dan Raja Barita. Ayah saya adalah Raja Barita. Anak Patuan Anggi adalah Pulo Batu. Sebagai pahoppu panggoaran maka Sisingamangaraja XII bernama Ompu Pulo Batu. Pulo Batu meninggal saat berumur tiga tahun. Dia jatuh ke jurang bersama pengasuhnya. Kecelakaan itu terjadi saat rombongan Sisingamangaraja tercerai-berai di pengungsian.

Beberapa kali ada orang datang kepada saya, mengaku-ngaku “Ahu do Pulo Batu” (Sayalah si Pulo Batu). Tetapi, ah, tidak masuk akal. Masih muda mengaku-ngaku Pulo Batu. Kalaulah benar, dia seharusnya sudah lebih tua dari saya. Jadi saya tidak percaya. Cucu Sisingamangara XII yang masih hidup saat ini hanya lima. Sayalah yang paling tua.

Saat ini berapa keturunan Sisingamangaraja XII?

Cucu dan cicitnya yang laki-laki 14 orang. Jika digabungkan dengan keturunan putri Sisingamangaraja, dan berenya langsung tidak sampai seratus orang. Sekarang saya sudah buat silsilah Sisingamaraja XII, karena selama ini banyak yang mengaku-ngaku sebagai keturunannya.

Mengapa Sisingamanagara XII sampai tertangkap?

Menurut cerita, Sisingamangaraja tertangkap karena ada tiga orang yang berkhianat. Ada tiga orang yang setia pada Sisingamangaraja tertangkap oleh Belanda. Mereka disiksa, dipaksa untuk menunjukkan tempat persembunyian Sisingamangaraja. Tak tahan siksaan, dengan tubuh ditanam ke dalam tanah, cuma kepala yang tinggal, mereka menyerah dan menunjukkan di mana Sisingamangaraja berada.Tanpa pengkhiatan tersebut, Belanda takkan tahu di mana Sisingamangaraja berada.

Siapa pengikut setia Sisingamangaraja XII?

Di Samosir ada Ompu Babiat Situmorang. Dia dan pasukannya dengan teguh melawan Belanda. Kalau mereka bertemu Belanda akan mereka bunuh. Kulitnya dijadikan tagading (kulit gendang). Tagading seperti itu sampai sekarang ini masih ada di Ariamboho. Jadi merekalah panglima pasukan Sisingamangaraja XII yang setia dalam melawan Belanda. Di Hutapaung ada Barita Mopul.

Dari mana Sisingamangaraja membiayai pasukaannya?

Katanya, di daerah Dolok Pinapan, antara Parlilitan dan Pakkat, ada tambang emas. Dia tidak memungut pajak.

Tolong ceritakan tentang Si Boru Lopian?

Lopian itu tomboy. Tetapi, dia adalah putri kesayangan Sisingamangaraja XII. Karena itu pula, dia ikut berperang bersama ayahnya. Dulu, beberapa kali roh si Lopian merasuk ke dalam diri orang tertentu, orang itu trance, kesurupan. Sejak kami memindahkan saring-saring (tulang belulang) Sisingamangaraja XII ke Soposurung, Balige. Suara orang kesurupan itu berkata, “Pasombuon muna do holan ahu di tombak i,” katanya, yang berarti ”Tegakah kalian membiarkan aku sendiri di hutan itu.” Pertanyaan yang menyetuh perasaan itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa semua keturunanan Sisingamangaraja XII yang meninggal di pembuangan baik di Kudus, di Bogor, sudah kami satukan di makam keluarga, persis di belakang Tugu Sisingamangaraja XII di Balige. Oleh karena itu, kami pergi ke Dairi, ke Sindias, untuk mengambil tulang-belulang Lopian.

Tetapi, ’kan sudah tidak mungkin lagi diambil! Karena, konon, dia juga ditenggelamkan oleh musuh ke dalam sugai Sibulbulon dan ditimbun dengan tanah. Kami hanya mengambil secara simbolis, hanya segumpal tanah untuk dibawa ke Soposurung. Sejak itu tidak pernah lagi ada orang trance, kemasukan roh boru Lopian.

Saat pengambilan, kami juga mendapat ancaman dari bupati dan masyarakat setempat. Mereka tidak mau kuburuan Lopian dipindahkan. “Sampe adong do istilah tikkini si harungguan ikkon seketton nami angka namancoba mambuat i. ([Kalau di masa penjajahan] kami akan potong jika ada orang yang mencoba mengambil kuburan Lopian).” Setelah kita berikan pengertian, mereka minta kami untuk mangulosi mereka. Ada 43 marga yang harus diulosi. Sebenarnya, mereka mau meminta agar perjuangan Sisingamangaraja XII di Dairi tidak boleh dilupakan. Saya jawab, bukan kami yang menentukan. Tetapi, keluarga tidak keberatan kalau ada masyarakat yang meminta agar Lopian tetap di Dairi. Waktu rombongan yang membawa sejemput tanah dari Dairi ke Balige, aparat di Dolok Sanggul menghadang. Mereka tidak mau Lopian dibawa ke Balige. Namun, karena mobil yang digunakan mengangkut sejemput tanah tadi berbeda dengan mobil yang ditumpangi keluarga, maka loloslah mobil yang membawa sejemput tanah tadi.

Adakah pustaka yang diwariskan dinasti Sisingamangaraja?

Ada. Hanya sekarang berada di perpustakaan Belanda. Sisingamagaraja XI-lah yang menulis pustaha kerajaan, setebal 24 jilid. Semuanya dibawa Belanda. Keluarga pernah meminta ke 24 jilid buku itu, tetapi menurut mereka, syaratnya harus ada fasilitas gedung yang ber-AC. Karena belum ada kemampuan keluarga, maka rencana itu terkatung-katung.

Mengapa jabatan Sisingamaraja XII tidak diwariskan ke Sisingamaraja XIII?

Sebenarnya karena tidak ada yang meminta. Sebab jabatan Sisingamangaraja itu ditentukan oleh enam marga seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Biasanya dilakukan di Onan Bale, di Bakara. Pengangkatan Sisingamangaraja dilaksanakann kalau ada masalah genting; ada penyakit atau musim kemarau panjang.

Bagaimana dengan pendapat bahwa dinasti Sisingamangara tidak hanya berasal dari satu marga? Ada yang mengatakan Sisingamangara itu hanya roh, bisa datang kepada siapa saja?

Bisa jadi. Hanya yang dari satu sampai keduabelas jelas semuanya dari marga Sinambela. Memang, sejak semula kelahiran Sisingamaraja I adalah hasil pernikahan Bona Ni Onan dengan boru Pasaribu. Tetapi, kalau tidak Sinambela, saya kira dia harus dari keturunan Sisingamangaraja.

Apakah benar keluarga Sisingamangaraja dipaksa memeluk agama Kristen?

Tahun 1907 semua keturunan Sisingamaraja XII ditawan di Pearaja, Tarutung. Lalu, ada marga Tobing mengajari mereka untuk belajar agama Kristen. Setelah itu mereka dibabtis. Raja Buntal, Pangkilim, Raja Barita dan yang lain setelah besar, disekolahkan ke tanah Jawa. Sebenarnya mereka dibuang. Taktik Belanda untuk menghindari pengaruh anak-anaknya terhadap masyarakat. Jadi dua orang di Batavia, satu di Jatinegara, satu lagi di daerah Glodok. Lalu di Bogor. Yang di Kudus meninggal di sana, yang satu lagi wafat di Bandung.

Raja Buntal ketika itu lulus dari sekolah hukum. Setelah tamat, mereka kembali ke Tapanuli. Raja Sabidan di angkat menjadi kepala Bank di Padang Sidempuan. Sementara Raja Buntal ditempatkan sebagai wakil keresidenan Tapanuli mewakili Belanda di Daerah Toba. Sementara Ayah saya (Raja Barita) ditempatkan sebagai camat di Teluk Dalam, Nias. Sepulang dari Teluk Dalam, Ayah saya menikah dan ditempatkan di Tarutung. Perkawinannya di Porsea dibiayai oleh Belanda. Pernikahan Raja Buntal juga dibiaya dan dikontrol oleh Belanda. Undangan dan tata cara pernikahan harus dengan persetujuan Belanda.

Siapa Raja Tobing yang mengajari keluarga agama Kristen?

Raja Henokh Tobing. Sebagai tanda terima kasih dari Ompung boru Sagala atas kebaikan Raja Henokh Tobing itu, diberikanlah putrinya, Sunting Mariam, menikah dengan putranya.

Apakah Henokh Tobing keturunan Raja Pontas?

Bukan. Raja Pontas Tobing adalah orang yang memberikan tanah yang digunakan sebagai tahanan keluarga di Pearaja,Tarutung.

Raja Pontas Tobing dianggap menghianati Sisingamagaraja XII dan bersekongkol dengan Belanda. Satu waktu, Raja Pontas memanggil Sisingamangara XII untuk mendamaikan Raja Pontas dengan saudaranya. Begitu Sisingamangaraja muncul, maka yang datang ternyata Belanda.

Sebenarnya, bukan masalah misi zending, tetapi karena ia menjadi mata-mata Belanda. Dengan Raja Pontas Tobing-lah Sisingamangaraja XII bermasalah. Sekarang, keturunan dari Raja Pontas ini meminta tanah tadi kembali melalui gugatan. (Lokasinya bersebelah dengan Pusat HKBP, di Tarutung). Saya bilang, itu tanah sudah diberikan Belanda kepada keluarga, dan kami yang mengelola. Pemerintah memutusakan bahwa yang menempatilah yang memiliki hak kepemilikan atas tanah itu. Maka itu hak kami.

Sejak kapan Sisingamangaraja melakukan perang terhadap Belanda?

Setelah Belanda menjadikan Tarutung sebagai daerah jajahan tahun 1876. Setahun kemudian, berlangsung rapat raksasa di Balige, di mana Sisingamangara XII dan raja-raja di Balige, mengumumkan pulas (maklumat perang) menentang Belanda. Semua raja-raja Toba berkumpul. Keputusan rapat tersebut ada tiga. Pertama,perang terhadap Belanda. Kedua, tidak menolak zending. Ketiga, membuka hubungan diplomatik dengan suku bangsa yang lain. Ketika itu Barita Mopul dan Raja Babiat ikut dalam rapat itu.

Dari sanalah perang terhadap Belanda dimulai. Dimulai di Bahal Batu, di Humbang, di Lintong Nihuta. Dilanjutkan Tangga Batu, Balige. Dalam pertempuran pertama Sisingamangara XII masih bisa menahan gerak maju pasukan Belanda. Lalu perang di Balige Sisingamaraja mundur, dan mengubah taktik menjadi perang gerilya. Tahun 1883 hampir seluruh daerah Toba dikuasai Belanda. Menyingkirkanlah Sisingamaraja ke wilayah Dairi.

Tempat-tempat kramat Sisingamagaraja masihkah dilestarikan?

Hariara parjuaratan (sejenis beringin), pohon di mana Sisingamangara I dulu bergantungan, masih ada. Di bawahnya itu ada kompleks kerajaan Sisingamangaraja. Di bawahnya lagi ada Batu Siukkap-Ukkapon, sebuah lubang yang dalam yang ditutup dengan batu, di mana Sisingamangaraja selalu mengucurkan darah binatang persembahan. Karena dia berpantang makan darah.

Jepang pernah mencoba menyelidiki dan mengukur kedalaman lubang itu. Dua gulung tali diulurkan, tapi tidak menyentuh dasar lubang. Sementara tombak (hutan) Sulusulu berada di lokasi perkampungan marga Marbun. Saat ini, di sana sudah ada penandanya. Hutan ini adalah tempat pertama kali Boru Pasaribu, ibunda Sisingamangaraja I, mendapat wangsit bahwa dia akan memperoleh anak yang di kemudian hari akan menjadi raja. Di situlah dia sering marpangir (keramas), menyisir rambutnya dengan menggunakan jeruk purut. Boru Pasaribu acapkali berjemur dan bersemedi di atas batu.

Lalu dekat pantai Danau Toba ada Aek Sipangolu (air kehidupan). Di dekatnya terhampar Batu Hudulhundulan, tempat istirahat Raja Sisingamangaraja. Tak jauh dari situ ada hariara na marmutiha (beringin). Katanya, kalau cabangnya patah menandakan Sisingamangaraja yang telah digantikan wafat. Kalau ratinganya yang patah, berarti ada keturunannya yang meninggal. Kalau ada dari keluarga raja ini berpesta, maka daun-daunya akan ikut menari-nari. Makam Sisingamaraja XI ada di Bakara.

Apa arti lambang di bendera Sisingamangaraja itu?

Kalau yang putih menggambarkan partondi hamalimon, tentang agama. Yang merah parsinabul dihabonaran, artinya menjungjung tinggi kebenaran. Yang bulat menggambarkan mataniari sidompakon, artinya matahari tidak bisa ditantang, mengambarkan kekuasaan Sisingamangaraja. Sementara delapan sudut melambangkan delapan penjuru angin. Pisau kembar mengambarkan keadilan sosial. Capnya menggunakan aksara Batak dan Arab, terbaca ”Ahu Sahap Ni Omputta Sisingamangaraja Mian di Bakkara” (Saya adalah cap raja kita Sisingamangaraja yang bermukim di Bakkara).

Piso Gajah Dompak, di mana dia sekarang?

Di Museum Nasional. Tahun lalu, saya ke sana melihat Piso Gajah Dompak itu. Dulu, sebelum diberikan kepada negara, Gajah Dompak disimpan oleh Sunting Mariam, putri Sisingamangaraja XII. Saya ingat cerita namboru Sunting Mariam, di pangkal pisau itu ada delima merah merah, dan itu juga saya buktikan di museum.

Ada foto asli Sisingamangaraja XII?

Tidak ada foto aslinya. Waktu Sisingamangaraja tertembak bersama kedua anaknya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi, Belanda membawa jenazah mereka melalui Salak, Sionomhudon, Parbuluan, Paropo, Panguruan, Balige sampai ke Tarutung. Di Balige, sebelum sampai ke Tarutung, penutup jenazah dibuka, kondisinya sudah bengkak. Jenazah dipotret, tetapi tidak berhasil, hangus. Yang ada foto Sisingamangaraja XI, ayah Sisisingamangaraja XII.

Tidak inginkah keluarga, pemugaran di Bakkara itu biayanya dari pampasan perang/Belanda?

Soal pampasan perang sudah diserahkan kepada pemerintah pusat. Semua dana pampasan sudah diserahkan kerajaan Belanda kepada pemerintah Republik. Tetapi, dana tersebut tidak ada yang disediakan khusus untuk pemugaran Bakkara. Kalau keluarga ingin mengajukan tuntutan pampasan perang secara langsung kepada Belanda, harus melalui persetujuan pemerintah.Hojot Marluga

Sisingamangara XII

Sisingamangaraja XII: Lindungilah Bangsaku ini!

Sisingamangaraja XII membangun front dengan Aceh, yang membuat Belanda cemas. Beberapa panglima perang Aceh tewas bersamanya. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Baginda memohon Ompu Debata Mulajadi Na Bolon untuk melindungi bangsanya dari musuh yang durhaka.

Sisingamangaraja XII melancarkan perang melawan Belanda selama 30 tahun dan menampik kata damai. Dia memilih lebih baik mati daripada menerima tawaran Belanda yang akan mengangkatnya sebagai Raja Batak dengan gelar sultan.

Posisi penting Sisingamangaraja dalam perjuangan pembebasan melawan kolonialisme Belanda ditunjukkan oleh Presiden Soekarno dengan sebuah isyarat nyata. Pada tahun 1953, dengan menumpang helikopter, Soekarno berkunjung ke Balige. Dalam pidatonya — sebagaimana biasa tentu berkobar-kobar — di depan ribuan pengunjung yang memadati lapangan (kemudian menjadi stadion Balige), Soekarno yang revolusioner namun romantis itu berkata: “Balige ini bagi saya sangat mengesankan. Pertama, karena ia sangat indah. Kedua, di Balige inilah untuk pertama kali orang Batak mencetuskan perang melawan Belanda.”

Dan, masih dari atas podium, Soekarno, setengah bertanya separuh mendesak, berkata mengapa kuburan Sisingamangaraja tidak dipindahkan saja dari Tarutung ke Balige?! Ke kota di mana perang Batak melawan Belanda yang terkenal itu dicanangkan. Makam di Tarutung itu adalah kuburan untuk para tawanan Belanda. Sisingamangaraja tak layak dikebumikan di situ.

Tak tercatat dalam sejarah, tetapi agaknya hadirin, terutama para tokoh Batak terhenyak mendengar kata-kata Soekarno yang menggugah itu. Orang-orang Batak yang terpukau dengan kata-kata Soekarno itu, melalui perundingan yang menelan waktu, sepakat untuk memindahkan tulang-belulang Sisingamangaraja ke Balige.

Setahun kemudian, tanpa kehadiran Soekarno (dia hanya mengirimkan telegram ucapan selamat), prosesi saring-saring, membawa tulang-belulang, Sisingamangaraja XII dari Tarutung menuju Balige berlangsung. Ini Tanah Batak, negeri purba.Yang mistik dan yang nyata bersatu dalam mengusung tulang-tulang sang pahlawan. Boleh percaya boleh tidak! Sejak betolak meninggalkan Tarutung, iring-iringan yang membawa tulang-belulang Sisingamangaraja seperti memperoleh pengawalan dari haba-haba (angin puting beliung). Raja Martahan di Napatar, cucu tertua Sisingamangaraja XII, yang dalam usia 12 tahun turut dalam upacara itu, mengenang, ketika rombongan sudah mendekati Balige, angin puting-beliung berada di depan prosesi, menyapu bersih semua kotoran yang ada di jalan. ”Haba-haba itulah yang menunjukkan tempat yang menjadi makam Sisingamangaraja. Ini fakta, karena saya melihat sendiri kejadian itu,” katanya. (Lihat Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII?)

Di kalangan orang Batak, Sisingamangaraja XII adalah kharisma dan sumber inspirasi. Kebijaksanaannya disanjung. Orang menganggapnya sakti, juga kebal, kecuali ternoda darah. Banyak yang percaya, Baginda tewas di ujung peluru pasukan Belanda karena tubuhnya bersimbah darah putrinya yang lebih dulu tertembak.

Pulang dari Aceh

Perjalanan hidup Sisingamangaraja XII menggetarkan. Putra Sisingamangaraja XI dari istrinya Boru Situmorang ini semasa kecil bernama Patuan Bosar, lahir pada tahun 1849 di Bakkara. Dia ditabalkan menjadi Sisingamangaraja XII pada tahun 1875 di Bakkara, huta yang menjadi pusat dinasti Sisingamangaraja. Kala itu, Patuan Bosar masih muda dan baru pulang dari Aceh Keumala mempelajari ketatanegaraan, strategi perang dan bahasa, terutama pengenalan huruf Arab.

Dipercaya, setiap raja dalam dinasti Sisingamangaraja, sejak raja yang pertama, apabila wafat, alam Tanah Batak turut berduka. Musim kemarau yang panjang menyapu seluruh daratan, menyengsarakan seluruh lahan pertanian. Dan, tentu saja membikin sengsara penduduk yang kehilangan seorang raja. Karena itu, Sisingamangaraja yang baru harus ditabalkan. Yang akan diangkat harus menjalani ujian, termasuk kemampuan mendatang hujan, mencabut senjata pusaka Piso Gaja Dompak sambil manortor dan dengan kesatria menyarungkannya kembali dengan mulus. Juga menjinakkan kuda putih yang akan digunakan sebagai tunggangan resmi seorang raja.

Alam yang tersiksa, itulah yang menerjang Tanah Batak setelah wafatnya Sisingamangaraja XI. Patuan Bosar sebenarnya enggan untuk mengikuti ujian, karena segan pada abangnya, Raja Parlopuk, yang dengan baik telah menjalankan roda pemerintahan kerajaan selama amang mereka, Sisingamangaraja XI, sakit-sakitan. Lagipula, dia ingin melanjutkan pelajarannya di Aceh. Tetapi, apapun, seorang raja baru harus diangkat. Upacara penabalan diselenggarakan oleh Si Onom Ompu (Si Enam Marga) – terdiri dari Bakkara, Sinambela, Sihite, Simanulang, Marbun dan Simamora – untuk mempersiapkan upacara margondang. Calon raja kemudian memohon kesiadaan pargonsi (penabuh gondang) untuk memainkan gondang agar dia bisa berdoa memohon turunnya hujan. Dia pun manortor. Biasanya, walaupun matahari panas mendenting, kekuatan “gaib” putra raja yang sedang manortor bisa membuat langit mendung dan hujan pun turun. Si Onom Ompu lalu menyambut hujan itu dengan seruan Horas! Horas! Horas!

Keterangan Foto (Istana Sisingamangaraja di Bakkara, Humbang Hasundutan)

Lantas Si Onom Ompu mengumumkan raja baru sudah ditemukan. Prosesi berikut adalah mencabut dan menyarungkan Piso Gaja Dompak dengan mulus. Piso ini adalah salah satu warisan dari Raja Uti, Raja Hatorusan yang sakti di Barus, pusat peradaban ketika itu. Raja yang baru terpilih kemudian tampil dengan mengenakan Ulos Jogia Sopipot sambil mengangkat pinggan pasu bertabur beras yang sudah di-pasu-pasu (diberkati) beralaskan Ulos Sande Huliman.

Ketika menempuh ujian tersebut, Raja Parlopuk memang berhasil mengundang mendung dan hujan gerimis. Tetapi, kesaktian Patuan Bosar melebihinya. Tonggo-nya, doanya, mampu mendatangkan mendung yang lebih tebal disertai hujan lebat dan petir yang mengguntur. Maka jadilah dia Sisingamangaraja XII, raja yang kemudian memimpin perang Batak selama 30 tahun (1878-1907).

Perang Batak adalah duka dengan cerita panjang. Perang yang memakan waktu lebih dari satu generasi itu dimulai dengan pertikaian antara Raja Pontas dengan bius-bius (kumpulan marga-marga) di Silindung. Mereka memprotes kelakuan Raja Pontas, salah seorang pemimpin bius, yang memberikan hak guna tanah kepada Belanda. Dengan hak guna itu, pada tahun 1876, dengan licik dan cepat Belanda bisa menguasai Silindung.

Sebelum Belanda menyerang Balige, Raja Pontas sempat bertemu dengan Sisingamangaraja XII. Ketika itu Baginda langsung mempertanyakan sikap Raja Pontas yang menguntungkan Belanda tersebut. Namun, tak dinyana, di belakang Raja Pontas, pasukan Belanda sudah bersiap-siap melakukan penyerangan. Belanda menguasai basis logistik Toba-Balige bulan Mei 1878 sebagai reaksi terhadap pernyataan perang (pulas)yang dicanangkan oleh pemuka-pemuka bius pada tahun 1877 di Balige saat berlangsungnya onan, pasar tradisional di situ.

Mata-mata Belanda

Pada Februari 1878, sebenarnya perang sudah pecah sebelum Belanda tiba di Balige. Hadangan pasukan raja-raja ihutan (panutan) dari Toba beserta pasukan gabungan berbagai bius, berhasil menahan gerak maju pasukan militer Belanda di Bahal Batu. Serangan ini sudah berada di bawah kendali Sisingamangaraja XII dari Bakkara.

Sejak saat itu, pertumpahan darah tak dapat dihindarkan lagi. Pertempuran demi pertempuran terus bekecamuk. Raja Partahan Bosi Hutapea, raja ihutan dari Toba, tewas tahun 1879 di Si Raja Daeng, Laguboti. Sementara itu, dalam sebuah perlawanan yang sengit, Guru Sumillam Tampubolon, salah seorang panglima perang Sisingamangajara, gugur di desa Lumban Julu tahun 1881. Anaknya, Sarbut Tampubolon, berhasil meloloskan diri. Tampubolon kemudian sering mengadakan kontak dengan Sisingamangaraja XII.

Serangan pertama Belanda terhadap pusat dinasti Sisingamngaaja XII di Bakkara berlangsung 30 April 1878.

Bangunan-bangunan berciri khas arsitektur Batak dan bernilai artistik tinggi dihancurkan. Bangunan itu umumnya dihiasi seni ukir klasik (gorga) bermotif Perbaringin, agama Sisingamangaraja. Vandalisme kuno Belanda ini antara lain terjadi di Lumban Raja dan Onan Bale, yang terletak dalam kompleks kerajaan Sisingamangaraja. Rumah-rumah kerajaan juga dibombardir dan dibakar, termasuk Ruma Bolon, Ruma Parsantian, Sopo Bolon, Tari Sopo, dan Sopo Godang. Juga balai kerajaan, seperti Bale Pasogit, Bale Partangiangan, Patene, dan Bale Bius. Semuanya tinggal puing-puing belaka, tak satu-pun bangunan yang utuh, semua rata dengan tanah. Serangan yang meluluhlantakkan ini adalah kejadian yang kedua kalinya menimpa dinasti Sisingangamaraja setelah gempuran yang dilancarkan kaum Pidori (Perang Padri) tahun 1817.

(ket: Tugu Tor Naginjang di Huta Paung, Pollung, Humbang-Hasundutan)

Sisingamangaraja XII terpaksa mengungsi berserta seluruh keluarganya ke kediaman Barita Mopol di Huta Paung, terus menuju Lintong Harianboho. Setahun kemudian, dia baru bisa kembali ke pusat kerajaannya di Bakkara. Membangun kembali di atas puing-puing kerajaan. Dia giat mengadakan pendekatan dengan berbagai bius supaya ikut dalam penyerangan terhadap kedudukan Belanda di Balige.

Serangan dilancarkan pada bulan Juni 1883, dipimpin langsung oleh Baginda Raja. Pasukan rakyat Bona Pasogit berbondong-bondong berkumpul di Uluan untuk membantu serangan. Sayang, rencana serangan ini bocor karena ulah mata-mata Belanda. Ribuan barisan rakyat gugur saat itu. Bahkan, menurut Belanda, Sisingamangaraja XII juga terluka. Baginda Raja mundur ke Bakkara. Haus darah, kurang dari dua bulan kemudian, Belanda kembali menyerbu Bakkara dan kembali membumi-hanguskan pusat kerajaan. Baginda dan keluarganya kembali mengungsi ke Huta Paung, terus menuju Lintong Harianboho. Sampai akhir 1887 pasukan Sisingamangaraja XII masih bertahan di Hutan Paung dan Pollung. Baginda Raja memutuskan untuk menempuh taktik gerilya.

Ket: Tugu Sisingamangaraja di Dairi

Dalam situasi yang serba darurat, akhirnya Sisingamangaraja XII memutuskan untuk migrasi ke Dairi. Menurut catatan, hampir seribu orang yang turut dalam migrasi yang dipimpin Baginda, yang dibagi dalam beberapa kelompok. Di samping para pejuang dalam rombongan itu, terdapat juga ahli-ahli pertanian, arsitek dan ahli Gorga. Dalam hitungan minggu mereka sampai di negeri Simsim, Dairi, tepatnya di negeri Si Onom Hudon.

Saat keluarga besar Dinasti Bakkara beserta pasukan tiba di pedalaman Dairi, dia tidak langsung diterima oleh masyarakat setempat. Kehidupan mereka begitu sulit. Sementara meminta bantuan ke Silindung dan Toba Balige, yang dikuasai Belanda, sudah tak mungkin. Pada waktu itu, misi zending telah membawa perubahan penting ke dalam kehidupan di Toba. Beberapa pejuang yang tadinya menyokong Sisingamangaraja, kemudian meletakkan senjata dan menerima iman dan hidup baru. Banyak pula mata-mata yang tergiur pada hadiah yang dijanjikan Welsink kalau bisa memberikan info mengenai keberadaan Sisingamangaraja. Inilah masa paling sulit bagi anggota keluarga dan pasukan Sisingamangaraja. Persediaan makanan juga menipis. Namun, karena semangat mereka yang tinggi, dalam lima tahun mereka sudah berhasil membangun huta yang baru di Pea Raja, lengkap dengan Bale Pasogit, sebagai pusat kerajaan yang baru. Bercocok tanam, beternak dan mendulang emas adalah kegiatan sehari-hari mereka. Di samping latihan perang tentunya. Bahkan mereka berhasil membeli senjata-senjata baru. Di Si Onom Hudon inilah putri Sisingamangaraja XII, Lopian, lahir pada tahun 1889. Putrinya ini mewarisi karisma dan sikap kesatria dari ayahandanya. Dia memegang peran penting dalam menghimpun dukungan berbagai pihak di tingkat akar rumput. Lopian yang selalu memberi semangat, saat Baginda Raja dan pasukannya dalam keadaan tertekan depresi. Dialah putri yang selalu membesarkan hati Baginda apabila kehilangan anggota keluarga karena tewas dalam pengungsian.

Pengkhianat

Menarik untuk dicatat, ketika di Dairi Sisingamangaraja XII didampingi oleh Nyak Muhamad Ben, panglima perang dari Aceh yang menjadi sahabatnya ketika dia masih belajar di Aceh Keumala. Keberadaannya di Aceh dulu, sejalan dengan rencana ayahanda Sisingamangaraja XI, karena Aceh sedang melancarkan perlawanan terhadap Belanda. Kehadiran para panglima dari Aceh itu dianggap Belanda sebagai usaha untuk membangun front Batak-Aceh, satu fenomena ancaman yang sangat serius.

Perlu diingat, dengan berdiri sendiri, tanpa bantuan pihak lain, Bakkara tak bisa mempertahankan diri dari invasi Padri.

Pendekar Aceh terkenal teguh pada pendirian, taat beragama dan melawan terhadap sibontar mata (si mata putih, Belanda). Merekalah yang berperan besar membentuk pasukan sukarela pendukung Sisingamangaraja XII yang dilatih di garis belakang.

Tak terbilang berapa jumlah pasukan Aceh yang gugur di berbagai front untuk mempertahankan Sisingamangaraja. Hulubalang-hulubalang Aceh ini jugalah yang melatih dan membentuk pasukan Baginda Raja. Petarung-petarung Aceh ini juga yang memaknai apa artinya kesetian. Mereka begitu teguh pada sumpah bersama Sisingamangaraja XII. Mereka berkaul sampai tumpas pun mereka tidak akan tunduk pada sibontar mata. Mereka akan tetap bersama Baginda sampai titik darah penghabisan. Adalah Teuku Muhamad Ben, yang terus mendampingi Baginda sejak perang 1878. Teuku Mat Sabang, Teuku Nyak Bantal, Teuku Nyak Imun, Teuku Idris, Teuku Sagala, Teuku Nyak Umar dan masih banyak lagi pejuang laskar Aceh yang hilang tanpa nama dalam mendukung perlawanan Sisingamangaraja XII.

Seandainya sejak awal perang, Raja Batak ini tidak dikhianati oleh orang-orang Batak sendiri, tentu derita yang ditanggungkan oleh Baginda beserta keluarganya itu, tidak perlu terjadi. Mereka tidak harus menyingkir ke Dairi. Ada sejumlah nama yang tercatat sebagai pengkhianat Raja dari Bakkara itu, seperti Partaon Angin, Raja Hutsa (gelar Pardopur), Ompu Onggung, Jonggi Manaor, Simonsi, Kinso, Situnggap. Tiga yang terakhir dibunuh oleh pengawal Boru Sagala, istri Sisingamangaraja XII.

Sebenarnya, dinasti Sisingamangaraja tidak hanya menghadapi musuh dari luar batang tubuh kerajaan, tetapi juga dari dalam. Adalah putra Sisingamangaraja VIII yang bernama Gindoporang Sinambela yang kawin sedarah (incest) dengan putri dari abangnya, Sisingamangaraja IX, bernama Gana Sinambela, sebagaimana dikisahkan MO Parlindungan dalam bukunya yang pernah menyulut polemik, ”Tuanku Rao.”

Karena malu yang disebabkan oleh aib itu, maka Sisingamangaraja IX mengusir mereka. Keduanya misir (melarikan diri) ke Singkil, Aceh. Anak yang tidak diharapkan pun lahir di sana, dan diberi nama Pongkinangolngolan. Nama ini dipilih karena lamanya pasangan tersebut dalam pengasingan. Ketika Sisingamangaraja IX meninggal, dia digantikan oleh putranya yang adalah adik Gana Sinambela. Sisingamangaraja X memanggil Gana Sinambela dan Pongkinangolngolan untuk kembali ke Bakkara setelah mereka berada di pengasingan selama 10 tahun. Namun, kedatangan mereka ditolak oleh tiga datu besar. Datu Amantagor Manullang meramalkan, jika Si Pongki tidak dibunuh maka sebaliknya dialah yang akan menghancurkan dinasti Sisingamangaraja.

Sisingamangaraja tak kuasa menolak nasihat datu tersebut. Namun, dia tak tega membunuh bere-nya (keponakannya) sendiri. Lalu, dia bersandiwara dengan berpura-pura mengikat Si Pongki yang baru berusia 11 tahun itu untuk ditenggelamkan ke Danau Toba. Dia mengikatkan kayu apung di tubuh Si Pongki sembari menyelipkan koin emas ke sakunya sebagai bekal nanti. Sebelum dilepaskan ke Danau, Sisingamangaraja X melonggarkan ikatan yang melilit Si Pongki. Singkat cerita, Si Pongki tidak tenggelam, tetapi terapung dan hanyut sampai ke Sungai Asahan. Dia ditemukan seseorang yang kemudian mangangkatnya sebagai anak.

Memenggal, menancapkan ke tanah

Pada usia 20 tahun, Pongki mengembara ke Mandailing. Dari sini dia menyingkir ke Minangkabau karena merasa ada yang memata-matainya. Di Tanah Minang dia bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda. Sementara Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan gerakan Mazhab Hambali, meminta kepada Datuk untuk menyerahkan Si Pongki supaya disekolahkan. Apalagi sudah diketahui bahwa Si Pongki adalah keturunan Sisingamangaraja. Si Pongki kemudian dikisahkan masuk Islam, berganti nama menjadi Umar Katab. Dia dikirim ke Mekkah dan Syria untuk menimba ilmu agama. Di sana dia juga mengikuti pendidikan kemiliteran.

Tahun 1815, Umar Katab pulang dari Mekkah dan ditabalkan menjadi Panglima Padri, diberi gelar Tuanku Rao. Dari selatan, pasukan Padri mara ke utara. Serangan Padri terhadap markas Sisingamangaraja dimanfaatkan oleh Jantenggar Siregar sebagai ajang balas dendam terhadap dinasti Sisingamangaraja.

Konon, Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari dinasti Sisingamangaraja, pernah menyerbu pemukiman Marga Siregar di Muara. Dalam perang tanding itu klan Siregar kalah. Raja Porhas Siregar sebagai pemimpin tewas. Sejak saat itu dendam kusumat terus membara pada keturunan Raja Porhas Siregar.

Ket; Buku Tuanku Rao yang ditulis MO Parlindungan Siregar

Jatenggar Siregar menyerang Sisingamangaraja X, memenggal kepalanya, menusuk dan menancapkannya ke tanah. Sementara Tuanko Rao hanya berpangku tangan menyaksikan pembantaian terhadap tulangnya itu. Ramalan Datu Bolon Amantogar Manullang menemukan kebenarannya, bahwa Si Pongkinangolngolan akan menghancurkan dinasti Sisingamangaraja.

Tiga puluh tahun memimpin perlawanan terhadap Belanda, Sisingamangaraja XII sendiri wafat melalui jalan kemuliaan. Walau kematiannya didahului oleh ”pengkhiatan terpaksa” yang dilakukan oleh seorang Partaki, kepala huta yang terletak di sebelah selatan Alahan. Desa tersebut diobrak-abrik pasukan Belanda, yang antara lain terdiri dari marsose berasal dari kaum pribumi dari kepulauan Nusantara yang lain. Partaki yang malang itu diusut, disaksa. Tak tahan, orang ini lantas buka mulut dan menunjukkan arah persembunyian Sisingamangaraja XII.

Baginda Raja dan para pengikutnya terjepit di satu tempat, dengan jalan lari satu-satunya hanyalah jurang yang sangat curam dan dalam. Patuan Nagari dan Patuan Anggi, dua putra Baginda memberikan perlawanan dengan melepaskan tembakan. Dalam tembak-menembak itu mereka tewas.

Pasukan Belanda menyerukan Sisingamangaraja agar menyerah. Seruan itu malah berbalas dentuman tembakan. Jelaslah bagi pasukan yang mengejar bahwa Sisingamangaraja XII tak mau menyerah. Dalam pertempuran jarak dekat di ambang malam tanggal 17 Juni 1907 itu, Lopian, putri kesangayangan Baginda tertembak.

Raja Sabidan, putra Sisingamangaraja XII, yang turut dalam pertempuran tersebut, dan kemudian ditawan Belanda, belakangan menceritakan bahwa dia melihat Baginda mendekap dan memeluk Lopian yang bersimbah darah dengan erat-erat. Sabidan bersaksi bahwa dalam keadaan lemah, karena sudah beberapa hari tidak makan, Baginda Raja masih sempat berdoa: ”Ya Ompu Debata Mulajadi Na Bolon, lindunglah bangsaku ini dari tangan musuh yang durhaka,” sebagaimana dikutip dalam ”Toba Na Sae” tulisan penyair Sitor Situmorang. Dalam keadaan Sisingangamaraja bersimbah darah itu muncullah marsose Hamisi, yang berdarah Maluku, melepaskan tembakan tepat menembus jantung Sisingamangaraja XII. Dan Baginda rubuh. Usianya 59.

Di negeri yang bangkit melawan penjajahan ini, agaknya tak ada raja yang patriotik dalam menentang Belanda, yang telah menumpahkan darah dan pengorbanan sebesar Sisingamangaraja XII, di mana seluruh keluarganya ikut boyong dalam perlawanan, dan malahan gugur bersimbah darah. ***

Lopian & Tor Naginjang

Meluruskan Si Boru Lopian

dan

Tor Naginjang

Oleh Jeffar Lumban Gaol*)

Jeffar Lumban Gaol

Jeffar Lumban Gaol

SINAMBUL”

HAMI NAMARSIAK BAGI

HUMOKHOP TANO NI DEGE

DOHOT LANGIT NI JUNJUNG

Ompu Tor Naginjang {Barita Mopul Lumban Gaol} Ihutan Bius Huta paung

Salah satu tokoh yang mengikuti pertemuan para Ihutan Bius di Ri Nibolak Lintong Bakkara Tahun 1883( no urut 5)

1} Bius Sagala-Appagiling Sagala

2} Bius Sihotang- O T Hapoltahan Sihotang

3} Bius Tamba- A. Huasas Tamba

4} Bius Tanjung Bunga- Ompu Parik Nadeak

5} Bius Huta Paung- Ompu T. Naginjang

6} Bius Situmorang – Aek Nauli {keturunan Malela Raja}

7} Bius Lintong {tuan rumah}

(hal 226 Sitor Situmorang dalam” Toba Na Sae”) nomor urut 5) tertulis Bius Huta Paung-Ompu T. Naginjang, yang benar/koreksi Ompu Tor Naginjang, Dia adalah Ompung dari si Tor Naginjang, tunangan/pariban boru Lopian. Putri Raja Sisingamagaraja ke XII.

Dalam buku yang ditulis oleh Drs Gens G Malau dan Dr Payaman J. Simanjuntak, APU. “Lopian boru Sinambela” hal 66 terbitan Partukkoan Dalihan na Tolu. Jelas sekali terlihat fungsi dari Bius Huta Paung yang menjadi basis pelatihan pasukan sukarela Baginda Raja yang dilatih oleh pendekar-pendekar Atjeh disana. Sebagai bukti, disana ada sebuah Tambok (danau kecil) bernama tambok Atjeh. Mungkin tambok atjeh sekarang tak seindah masa itu lagi. Bius Huta Paung menerima pasukan Raja itu, Sebagai konsekwensi ikrar bersama yang disepakati bersama tahun 1883 di Bakkara.

Selanjutnya, Sisingamangaraja XII dan Ompu Tor Naginjang (Barita Mopul) sepakat menjadikan Huta Paung sebagai basis latihan bagi pemuda-pemuda Batak. Pasukan relawan ini dilatih para hulubalang dari Atjeh. Suasana di Huta Paung yang menjadi basis pertahanan garis belakang, ketika itu sangat ramai. Pada dasarnya Huta Paung adalah mata rantai jalur tradisional yang menghubungkan jalur Bakkara, Huta Paung, Dairi atau sebaliknya.

Menurut tutur/ turi-turian yang kami dapat mengenai Boru Lopian dengan Tor Naginjang adalah sebuah hubungan yang direstui semua fihak. Baik itu bius Bakkara maupun Huta Paung. Mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Hubungan dua orang yang diharapkan dapat meneruskan dan menegakkan harkat bangso Batak ini, tidak main-main. Ompung mereka berdua telah bersumpah untuk bahu membahu melawan pendudukan Belanda. Artinya mereka adalah anak-anak yang tak luput dari sumpah tersebut. Sebagai mana umumnya bangso Batak yang terkenal teguh pada sumpahnya. Pada tahun-tahun itu, beberapa bius sudah mulai menjadi elaborator Belanda. Seperti menjadi penghubung bagi Belanda dan Sisingamangaraja XII demi menarik keuntungan sendiri.

Dengan demikian Belanda semakin dekat dengan jejak Raja Sisingamangaraja.

Mengetahui hal tersebut , Raja dari Bakkara ini sangat berhati-hati dalam memberikan kepercayaan. Demikianlah Tor Naginjang mendapat kepercayaan dari keluarga Sisingamangaraja untuk mendampingi Lopian paribannya itu. Namun seperti umumnya hubungan marpariban, yang sering dihinggapi cerita mistis. Akhirnya mati dan tidak diketemukan jasadnya sampai saat ini. Ketika Raja dan pasukannya yang tinggal belasan orang itu terdesak dari Sionom hudon di Dairi, Tor Naginjang yang sudah sekarat, karena mengalami luka-luka yang parah. Terpaksa dengan berat hati dia ditinggalkan disebuah desa.

Namun, sampai kini tak ada satupun yang dapat menemukan jejak jasadnya. Nasib kedua kekasih tersebut memang ironis. Di sisi lain mereka berdua telah menggenapkan sumpah leluhur mereka. Dengan tidak menyerah kepada Belanda sampai titik darah penghabisan. Disusul kemudian kematian sang Raja tahun 1907. Dibukanya jalan jalur Dolok Sanggul-Sidikkalang, sebenarnya memutus Bakkara dari jaringan aliansi biusnya, yang tradisional. Disilah kepicikan Belanda terbugkus rapih sehingga orang tidak lagi beroriantasi pergi ke Bakkara.

Sampai pemerintahan yang sekarang berkuasapun, jalur ini tetap tidak dibuka. Perkembangan dari cerita sejarah sekitar pengungsiannya ke Sionom Hudon, Raja dari Bakkara itu sepertinya berjalan sendiri tanpa dukungan dari keturunan Barita Mopul yang mempunyai pengaruh sampai ke Dairi, sangat tidak masuk akal. (Halaman 77 buku boru Lopian) Di Huta Paung, mereka menemui Raja Lumba Gaol yang sebelumnya sudah menerima sebahagian pasukan baginda dilatih dan bermukim disana. Hubungan keduanya cukup akrab, dan ada ikatan pamili. Kutipan dari hal 77 ini cukup untuk menjelaskan bahwa si Boru Lopian adalah Pariban kandung dari Tor Naginjang. Kekerabatan bukan satu-satunya alasan kebersamaan mereka. Ikrar politik yang dicanangkan Ompung mereka berdua, yaitu Sisingamangraja XI dan Barita Mopul, Ompu Tor Naginjang di Ri Nibolak 1883 itu lah yang mengikat mereka. Hal ini sering dilupakan orang bahwa kalau Ompu-Ompu kita Martonggo tu Debata adalah sumpah yang akan terus dibawa oleh keturunanya.

Demikianlah jalan hidup Si Boru Lopian dan Si Tor Naginjang sebagai Pariban yang sejak semula dibangun dengan kesadaran Politik bercampur dengan mistisifikasi “Dalihan na Tolu”. Berikutnya hal 113

Ketika Welsink mengajak Sisingamangaraja bertemu di Parbuluan. Ajakan itu ditolak Raja atas nasehat Ompu Babiat Situmorang bersama ama ni Mopul (koreksi) Barita Mopul. Dua tokoh ini mempunyai pengaruh sampai Dairi. Karena semangkin banyak saja orang yang tergiur dengan janji-janji Welsink. Pada tangal 27 Oktober 1890 Guru Somalaing pardede dan Modigliani naik perahu (Ducth} menuju Bakkara. (Catatan Modigliani dalam Toba Na Sae hal 334). Pada kesempatan tersebut , saya berhasil meyakinkan mereka bahwa kalau mereka bersama dengan saya, maka roh {begu} itu tidak perlu ditakuti’

“Tetapi di atas sana juga `musuh`,”kata mereka. Kemungkinan besar pendapat mereka itu benar, sebab di balik gunung itu terletak Huta Paung dan Parsingguran, tempat pasukan Sisingamangaraja masih berkeliaran {bergerilya, S.S}.

Kutipan dari buku Sitor Situmorang dari Toba Na Sae di atas tadi, membuktikan bahwa Bius Huta Paung memang telah menjadi basis perlawanan yang cukup lama. Mengingat kesepakatan pertemuan pimpinan Bius di Ri Nibolak Lintong Bakkara 1883.

Maka secara politis, bius Huta Paung adalah aliansi politik bius Dinasty Bakkara yang paling dekat. Baik itu ditinjau secara geografis maupun tingkat keamanan bagi keluarga Sisingamangaraja XII..

Sedangkan Parsingguran adalah Huta yang dihuni marga {Marbun no2} Banjar Nahor yang saat itu, masuk dalam bius Huta Paung. Pada waktu itu juga Tentara Belanda dalam hal ini Marsose, tidak dapat melanjutkan pengejaran terhadap Sisingamangaraja XII dari Bakkara ke Huta Paung, karena medan yang terjal, dan pasukan Sisingamangaraja sudah berada di posisi ketinggian Bukit, hulubalang serta panglima-panglima perang Atjeh sudah siap melakukan penyerangan, apabila pasukan Marsose memaksa diri mendaki ke arah Parsingguran.

Makam Tor Nagijang

Makam Tor Nagijang

Belanda tahu akan posisi yang kurang menguntungkan itu. Oleh karena itu, mereka tidak mau mengorbankan pasukan secara sia-sia. Karena jika marsose naik ke Parsingguran, tak ada tempat untuk berlindung karena kontur tanah disana hanya ditumbuhi ilalang, menanjak dan mendaki bukit. Hal ini terlalu beresiko, maka pasukan Belanda pun terpaksa harus kembali berputar lewat rute Lintong ni Huta Siborong-borong menuju Dolok Sanggul, Matiti, ke Huta Paung.

Saat itu belum dibuka, jalan raya lintas Dolok Sanggul-Sidikalang. Sesampainya Di Huta Paung, Belanda sangat murka dan membakar kampung Lumban Ganjang berikut Jabu Siharunungon warisan yang sudah berusia ratusan tahun tersebut. Belanda marah karena Raja dan keluarganya sudah diungsikan ke Dairi.

*)Penulis adalah musisi dan pemerhati budaya Batak

Legenda (2)

SIBORU TUMBAGA*

Oleh: Thompson Hs**

E-mail: thompson_hs@yahoo.com

Di desa Sisuga-suga tinggallah seorang tua bernama Ompu Guasa. Dia mempunyai seorang adik bernama Amani Buangga. Namun sang adik tidak seperti abangnya yang sudah lama memiliki banyak harta. Konon pada masa mudanya Ompu Guasa rajin berniaga ke daerah Barus serta punya banyak kenalan. Sekarang uban mulai menjadi mahkota di kepalanya. Sehari-hari pun ia lebih suka berdiam di rumah untuk merenungkan perjalanan hidup. Tiba-tiba pikiran Ompu Guasa terantuk kembali pada kenyataan bahwa dirinya belum memiliki seorang anak lelaki untuk mewarisi semua hartanya. Istrinya pun sudah lama meninggal. Dua orang putrinya, bernama Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan, tak mungkin mewarisi semua harta kelak. Adat selama ini seperti memastikan hak waris hanya dapat diteruskan oleh anak laki-laki. Kenyataan itulah yang sering membuat Ompu Guasa gelisah meskipun adiknya mempunyai keturunan laki-laki

Kegelisahan Ompu Guasa sangat terkesan dalam batuknya. Namun selalu beliau menyembunyikan perasaan dengan mengambil salohat. Alat musik dari bambu itu selalu diselipkan di kantong baju dan dilap sesekali dengan selempangnya, sehelai ulos ragihotang. Jemarinya menekan-nekan empat lobang pada jenis seruling kecil itu sampai perasaannya dapat terbenam.

Among,” kedua putrinya sebentar menghentikan tiupannya karena mau permisi. “Kami pergi dulu ke sawah. Ayah tinggal di rumah sajalah ya.”

“Ya, berangkatlah kalian!” jawabnya sebelum melekatkan alat musik itu kembali ke bibirnya. Bila sendirian di rumah, Ompu Guasa merasa lebih leluasa memainkan salohatnya sampai terkadang seperti ratapan. Ratapannya memang menjadi tersimpan rapi dalam permainan alat musik itu. Beliau tidak pernah mampu meratap dengan andung karena tidak pintar berkata-kata.

Belum tuntas semua kegelisahan, kedua putrinya tiba-tiba kembali ke rumah. Mereka terusik dan tak tahan mendengar senandung seorang gembala di tengah jalan. Sebenarnya mereka ingin meneruskan langkah sampai ke sawah. Namun hati Siboru Tumbaga langsung seperti disayat sembilu setelah mendengar senandung itu.

“Kenapa kalian kembali tiba-tiba, boruku?” dilihatnya sedikit rasa cemas di wajah putri sulungnya Siboru Tumbaga. Demikian pula pada wajah Siboru Buntulan, adik satu-satunya Siboru Tumbaga.

“Begini, among. Kami sangat berharap agar ayah segeralah menikah lagi,” tandas Siboru Tumbaga. Ompu Guasa menduga kalau kegelisahannya selama ini mengalir dan membuahkan permintaan kedua putrinya itu. Namun ia masih mencoba menolak.

“Mana mungkin aku dapat menikah lagi setua ini. Mataku pun sudah mulai rabun. Perempuan mana lagi yang bersedia kuperistri, wahai putriku? Sudahlah! Biarlah kuterima nasibku.”

“Kumohonkan, among. Jangan lagi menolak permintaan ini. Tadi sebelum mendadak kembali ke rumah ini, ada seorang gembala melantunkan lagu begini: Duhai, perahu di tengah danau! Andai dayungmu patah, kemana gerangan engkau hanyut. Wahai, sang putri yang gemulai. Andai ayahanda mati, kemana gerangan engkau berpaut! Begitulah yang kami tangkap, among!”

“ Sudahlah. Kalau takdir pada badan sudah begini diberikan Sang Mulajadi Nabolon, aku tetap bisa menerimanya.” Entah sudah berapa kali Ompu Guasa mencetuskan perkataan itu di hadapan kedua putrinya. Namun karena Siboru Tumbaga tetap mendesakkan permintaan itu, akhirnya Ompu Guasa bersedia. “Kalau begitu terserahmulah, Boru Tumbaga. Kalau aku harus menikah lagi, lakukanlah apa yang bisa engkau lakukan.”

***

Mendengar perkataan terakhir itu, Siboru Tumbaga tergerak untuk berangkat ke Barus. Di Barus ada seorang dukun bernama Datu Partungkot Bosi. Sang dukun sudah lama terkenal dengan berbagai keahliannya untuk meramalkan sesuatu. Datu Partungkot Bosi juga ahli tersohor di wilayah barat negeri yang menguasai debata ni parmanukon, semacam peta baik-buruk untuk sesuatu yang direncanakan. Dari desa Sisuga-suga ke Barus, orang akan melalui hutan dan tempat-tempat berbahaya terutama bagi kaum perempuan. Saat menempuh perjalanan itu Siboru Tumbaga melakukan penyamaran seperti lelaki. Dipilihnya salah satu pakaian dan topi dari lemari ayahnya. Dia pun tak lupa menggunakan kumis palsu. Sampai kebetulan ketemu di tengah hutan dengan Datu Partungkot Bosi, Siboru Tumbaga selalu berusaha menciptakan gerak-gerik menyerupai seorang laki-laki suruhan. Terkadang dia ketakutan juga dengan penyamaranannya.

“Bah, lae! Kenapa kau ketakutan melihatku?” Tiba-tiba meluncur pertanyaan dari laki-laki di hadapannya itu. “Kita tidak kebetulan sama-sama manusia juga di tengah hutan ini. Kenapa kau kelihatan takut?”

“Kuucapkan salam kepadamu, lae. Horas!” Balas Siboru Tumbaga sambil berusaha menirukan suara lelaki. “Kebetulan aku hendak ke negeri Barus menemui Datu Partungkot Bosi.”

“Kuharap kau jangan berpura-pura tidak mengenalku. Akulah Datu partungkot Bosi. Lalu kenapa kau memerlukanku?” Siboru Tumbaga sempat tidak percaya kalau yang dijumpainya di tengah hutan itu adalah Datu Partungkot Bosi. Namun setelah memperhatikan tampangnya yang serupa dengan cerita Ompu Guasa, Siboru Tumbaga mengakui dirinya sebagai suruhan Ompu Guasa. Lalu dari tuturan sang dukun itu, Siboru Tumbaga kemudian tahu bahwa Ompu Guasa adalah sahabat lama Datu Partungkot Bosi.

Datu Partungkot Bosi tidak begitu sulit menduga hal-hal baik dan buruk melalui debata parmanukon. Datu Partungkot Bosi benar-benar melihat tanda ajal dari sahabat lamanya itu. Ia pun menyarankan kepada Siboru Tumbaga agar melarang Ompu Guasa ke luar rumah dalam waktu seminggu.

***

Namun karena Ompu Guasa suatu hari berkeras mau memeriksa sawah dan hewan peliharaannya, ramalan Datu Partungkot Bosi itu pun terjadilah. Beberapa orang penduduk yang melihatnya tergelincir di pinggir sawah tergesa-gesa memberi kabar kepada kedua putri yang sedang membersihkan sekeliling rumah. Mereka pun membawa Ompu Guasa kembali ke rumah. Tapi sampai di rumah tampak Ompu Guasa tidak akan lama lagi menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan terbata-bata ia pun menyampaikan pesan kepada kedua putrinya.

“Boru Tumbaga dan Boru Buntulan, simpan…lah barang-barang berhar…ga untuk kalian berdua. Bayangan ibumu sudah sangat dekat untuk men…jem…putttku.”

Pilu yang sangat mendalam memperkuat tangisan Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan. Ditambah lagi ratapan dari beberapa orang di dalam rumah, membuat penduduk lain desa Sisuga-suga bergegas menuju arah tangisan. Satu-satunya manusia yang menahan dirinya tidak bergegas ke sana adalah Amani Buangga. Dia baru ke sana setelah dijemput.

Melewati pintu rumah yang sedang berduka itu, Amani Buangga sengaja pura-pura bertanya sambil mengarahkan pandangannya kepada Siboru Tumbaga: “Bah! Apakah ayahmu ini sudah betul-betul meninggal?” Tak cukup dengan itu, ia melanjutkan lagi: “Sekarang ayahmu sudah meninggal, Boru Tumbaga dan Boru Buntulan. Di mana kalian simpan semua harta itu?” Tentu bukan saja kedua putri itu yang terkejut dengan perilaku Amani Buangga. Salah seorang tetua kampung mencoba mengingatkan agar Amani Buangga lebih dulu melaksanakan adat penguburan jasad Ompu Buangga.

Nampaknya Amani Buangga benar-benar tidak suka diingatkan soal adat penguburan. “Hah! Aku mau datang ke sini hanya untuk mengambil semua harta yang masih ada. Bukan untuk mengurusi adat penguburan kakandaku ini! Mestinya kalian sudah lebih tahu tata cara mengangkat mayat ini ke tempat penguburan.”

“Maaf. Kita hanya ingin melaksanakan adat yang diturunkan leluhur kepada semua kita, termasuk adat untuk penguburan orang meninggal.” Tetua itu kembali mengingatkan Amani Buangga. Namun Amani Buangga semakin memperkeras suaranya dengan nada mengancam. “Kalau kalian tidak mau menguburkan jasad ini, aku akan membuangnya ke pekarangan sana!”

Sungguh tidak terduga perkataan Amani Buangga seperti itu. Apalagi ia ucapkan di tengah kumpulan orang yang tengah berduka. Perkataan itu melanggar adat. Namun tetua kampung merasa lebih baik tidak menanggapi perkataan itu. Ia meminta orang-orang mengangkat mayat Ompu Buangga dan menguburkannya secepat mungkin. Namun selama waktu penguburan, Amani Buangga tetap tinggal di rumah Ompu Guasa. Ia juga tidak mengijinkan Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan keluar dari rumah itu. Malahan ia semakin mencecar mereka dengan pertanyaan soal harta peninggalan Ompu Guasa.

“Aku sudah periksa hombung, peti harta itu! Tak satu pun lagi yang ada di sana. Di mana kalian sembunyikan pinggan pasu dan semua ulos?” Didesaknya terus kedua putri itu secara bergantian. Kalau semua pertanyaan terlambat dijawab, Amani Buangga menampar wajah kedua putri itu. Ketika semua orang mulai kembali dari tempat penguburan, tetua kampung dengan berani kembali menegur Amani Buangga.

“Maaf. Kami sudah kembali dari tempat penguburan. Sekarang kami lihat kamu mulai menyiksa kedua putri ini.” Mendengar teguran ini, Amani Buangga semakin berang dan mengatakan: “Akulah yang berhak di rumah ini. Kalau kubilang mau menggorok leher mereka berdua, aku akan gorok! Kalian mau apa?”

“Kamu benar-benar tidak beradat, Amani Buangga! Memang kamulah yang berhak di rumah ini sekarang dan,,,”

“Kalau kalian sudah tahu, kenapa harus kembali ke rumah ini? Kalian tidak perlu datang lagi ke sini hanya untuk menyinggung adat!” Amani Buangga semakin tak perduli. Amani Buangga malah mengusir dan mencemooh mereka soal penghormatan atas adat. Sepeninggal para tetangga, Amani Buangga terus menyiksa kedua putri itu sebelum akhirnya mengikat mereka sampai beberapa hari di pekarangan rumah. Namun diam-diam pada suatu malam seorang tetangga melepaskan tali yang mengikat tangan kedua putri itu.

Setelah bebas Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan merasa lebih baik meninggalkan desa Sisuga-suga untuk menghindari ancaman Amani Buangga. Demikian pula saran dari tetangga yang membebaskan mereka. Lalu mereka pergi ke hutan yang cukup jauh jaraknya dari desa Sisuga-suga. Namun di tengah hutan mereka berdua tentu kelaparan dan kehausan.

“Kakanda, Boru Tumbaga,” keluh Siboru Buntulan sambil memberi tahu rasa lapar dan hausnya. Mereka lalu memetik buah-buahan yang bisa mereka jumpai di hutan. Berhari-hari mereka berusaha bertahan di hutan itu tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi. Sementara binatang-binatang liar dan buruan berkeliaran di hutan itu. Suatu ketika mereka mendengar suara-suara aneh di kejauhan. Karena takut akan suara-suara itu Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan bersembunyi di balik rumpun-rumpun tanaman besar sambil terus menahan lapar dan dahaga.

Menjelang sore hari, Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan tak kuasa menahan rasa lapar dan haus. Tapi mereka tak tahu harus berbuat apa. Mereka pun menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba dari tempat lain di hutan itu, dua orang pemburu terkejut mendengar suara tangisan mereka. Mereka menduga suara itu hanya tipuan dan menganggap mustahil ada manusia selain mereka berdua saja. Lalu mereka mencoba bergantian meneliti ke arah datangnya suara tangisan itu. Kedua pemburu itu adalah abang beradik yang sebenarnya terkadang sama takutnya.

“Woooi, apakah kalian manusia?” Mendengar suara itu, Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan menyahut: “Yaaa…! Kami manusia!”

Si abang meyakinkan adiknya kalau suara yang menyahut itu benar-benar suara manusia.

“Ah!” Begitulah langsung reaksi adik pemburu itu. “Itu hanya tipuan hantu yang menjaga hutan ini agar kita mendekati mereka sebelum menelan kita. Tapi coba dulu, tanya mereka berapa jumlahnya.”

“Woooi! Kalau kalian benar-benar manusia, berapa orang kalian ada di situ?”

“Dua oraaang!” Sahut kedua putri.

Si abang kembali menyampaikan informasi itu. Lagi-lagi adiknya tidak percaya dengan mengatakan: “Ah, karena mereka sudah tahu kita ada dua di sini, dibilanglah mereka dua. Ayo, ayo. Kita pulang saja sebelum ditelan mereka!”

Karena si abang lebih berpengalaman berada di hutan itu, dia pun berusaha meyakinkan adiknya. Mereka lalu mendekati sumber suara itu sampai bertemu dengan sosok kedua putri yang sudah mulai kelihatan sangat lapar dan haus. Sebelum kedua pemburu itu bisa menanyakan asal-usul kedua putri, mereka terpaksa memberikan seluruh perbekalan makan dan minum mereka.

“Kalau kalian adalah putri Ompu Guasa, kenapa kalian sampai terdampar ke sini?” Setengah tidak percaya, salah seorang pemburu mulai melontarkan pertanyaan. Meskipun para pemburu itu adalah penduduk luar desa Sisuga-suga, nama Ompu Guasa sebagai orang kaya sudah tersiar ke mana-mana. Kemudian Siboru Tumbaga menceritakan kejadian dan perilaku yang mereka terima dari adik kandung ayah mereka sendiri, yakni: Amani Buangga. Kedua pemburu itu bukan saja terkejut dan ingin membantu Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan. Namun kebetulan juga mereka belum mempunyai pasangan hidup. Abang beradik pemburu itu pun menyatakan niat mereka menikahi putri-putri Ompu Guasa. Kedua pasangan tersebut akhirnya hidup berkeluarga.

Namun suami-suami mereka tetap memendam rasa marah atas perlakuan Amani Buangga kepada istri mereka. Suatu ketika keduanya pergi ke desa Sisuga-suga untuk memperlakukan Amani Buangga seperti yang dilakukannya kepada kedua istri. Mereka ikat Amani Buangga di tengah kampung itu. Tibalah saatnya Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan berpura-pura lewat dan melepaskan ikatan Amani Buangga itu. Amani Buangga tidak pernah menduga kalau Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan masih hidup. Akhirnya dengan tulus hati, Amani Buangga menyesali semua perbuatannya dan ingin mengembalikan semua harta yang layak diwarisi oleh Siboru Tumbaga dan Siboru Buntulan.

*Cerita ini dibuat atas hasil penggalian dari teks pertunjukan Opera Batak.

** Penulis lepas, sutradara teater, dan Direktur Artistik Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Pematangsiantar.

Gondang Batak

“ GONDANG BATAK DAHULU DAN KINI

Oleh JEFFAR LUMBAN GAOL

Gondang Bolon /Gondang Sabangunan

Menurut catatan beberapa peneliti berkebangsaan asing , yang melakukan penelitian

Terhadap musik Gondang Batak , diantaranya Prof Paul Simon dari Museum DARLEM

Berlin dan Reiner Carla dari seminar Indonesia Hamburg Universitas , menyatakan besar kemungkinannya , bahwa ; Gondang Batak yang ditemukan sampai saat tibanya misi Zending Rhein Mission Comission (RMC) thn 1861.Yang lebih populer dengan sosok NOMENSEN tersebut , sudah menyerap pengaruh budaya dari dataran Asia lainnya , yaitu Hindustan dan Tiongkok .

Hal ini menjadi jelas dengan ditemukannya Ogung (Gong) yang mewakili peradaban logam .Penemuan itu tentu mengundang tanya , Bagaimana Suku Batak yang dianggap sebagai suku yang termasuk dalam klasifikasi Megalitik , namun menerima logam (Gong) menjadi bagian integral dalam tabuhan Gondang , sebagai instrumen yang sangat penting dalam upacara Ritualnya ? tentu saja saat itu pandai besi dan peralatan yang terbuat dari logam , seperti tombak , piso (pisau) dll , sudah ada . Akan tetapi Ogung , (gong) sebagai instrument memang identik dengan Hindustan/ Hindu , Tiongkok /Budha , sebagaimana halnya yang terjadi pada Ihailand , Laos , juga Kamboja , dan masih dapat kita lihat hingga saat ini .

Menurut tutur turun-temurun , beberapa keluarga yang masih menyimpan benda-benda pusaka , yang juga diantaranya adalah Ogung atau Gong tersebut , mereka mengatakan bahwa Gong-gong itu , oleh moyangnya didapatkan secara barter dengan para saudagar-saudagar Tiongkok .

Pada masa itu , saudagar-saudagar asal Tiongkok/Hindustan ini biasanya menawar- kan : garam , keramik , obat-obatan dan juga Gong sebagai alat barternya . Mereka umumnya , langsung menuju Barus melalui pantai barat , dimana pada saat itu , Pancur na Pitu sebagai pelabuhan Barus , sangat ramai dikunjungi oleh kapal-kapal saudagar asing , untuk mendapatkan kapur barus dan kemenyan .

Tak jarang saudagar-saudagar tersebut menempuh perjalanan dari Pantai Timur , melintas tanah Melayu Deli , mendaki ke tanah Karo , singgah ke Tongging menuju Dairi , sampai Sumbul Sallam , berbelok ke kiri , akhirnya sampailah ke Barus . Ogung hasil barter dikala itu , sangat sesuai dengan kebutuhan suku bangsa Batak , sebagai ( suku yang mengisolasikan diri dari pengaruh peradaban pantai ),splanded isolation . Sangat membu- butuhkan alat pemersatu bius marga yang begitu banyak , juga sebagai ekspresi pengaktualisasi diri atas persentuhannya dengan dunia luar , dalam hal ini , kebudayaan Hindu . Sisa-sisa dari peninggalan kebudayaan Hindu itu sampai sekarang masih dapat kita temukan di daerah Barus berupa candi dan batu menhir .

Jadi dapatlah kita bayangkan , peran dan kehadiran gong dalam kebudayaan Batak , amatlah penting . Sampai – sampai kemudian melahirkan ungkapan , “Molo Ogung dohot Sarune nunga makkuling , asa undur hita rap marsada , asa sada rohanta laho pature ulaon Nabolon “ yang kalau diterjemahkan kira-kira mempunyai arti “Kalau Gong dan Sarune sudah berbunyi , biarlah kita bersiap-siap bersatu , menyatukan hati kita untuk pekerjaan besar” .

Menilik hal tersebut , menunjukkan bahwa ,“Gondang Bolon atau biasa juga disebut Gondang Sabangunan , memang menjadi sangat erat paranannya , bagi kehidupan ritual dan budaya di Tanah Batak pada periode itu .

Bisa dikatakan , Gondang Bolon , menjadi denyut jantung , nadi dan nafas , bagi orang Batak yang mengadakan berbagai macam upacara seperti :

Horja bius (upacara penolak bala bencana , memohon pasu-pasu Debata/(berkah)

Mangokkal holi-holi/saring-saring(mengangkat tulang belulang nenek moyang)

Sari Matua/Saur Matua (wafat namun sudah punya keturunan cucu atau buyut/ cicit)

Upacara mohon kesuburan atau panen raya .

Dan bahkan yang paling ditolak Gereja , yakni penghantar mantra-mantra untuk memanggil arwah-arwah para leluhur . Gereja menolaknya , berdasarkan efek trans/(siar-siaran/kesurupan)yang ditimbulkan oleh Gondang itu .

Mengikuti upacara-upacara yang sudah dikemukakan diatas tadi , dan hadir tengah-tengah arena , dimana ensambel Gondang tersebut memainkan tujuh repertoarnya

yang sudah menjadi klasik itu , memang akan membawa kita , pada efek medidatif yang mempenaruhi denyut jantung , serta kesadaran kita . Ketujuh nama-nama dari Gondang tersebut adalah :

-Gondang Mula-mula .

Gondang pembuka yang menyiratkan awal mula turunnya Debata

Mula jadi na Bolon di Pusuk buhit

-Gondang Somba-somba .

Sujud kepada Raja-raja bius dan Leluhur

-Gondang Liat-liat .

melihat tanda-tanda alam

-Gondang Simonang-monang

Sebagai bentuk pamujaan kepada Batara Guru atau Debata Sori .

-Gondang Parsadaan .

Sebagai simbol persatuan .

-Gondang Hasahatan .

Yang bermakna , sampainya upacara adat pada penghujung acara , dimana kesepakatan

adat sudah tercapai dan terpenuhi .

-Gondang Sitio-tio .

Gondang yang menutup upacara , dengan harapan , semua anggota keluarga mendapat kecerahan dan dijauhkan dari mara (bencana = halangan)

Teriakan dan igauan orang yang trans atau dalam bahasa batak disebut siar-siaran (kerasukan)roh-roh para moyang , dari anggota keluarga yang sedang mengadakan upacara ,akan menambah kita larut mengembara pada bunyi sebagai ritual purba dan dalam irama repetitip (pengulangan) ,dibuka oleh atmosfir dari gaung Gong , yang berjumlah empat buah , yaitu :Doal , Ihutan , Odap dan Panggora ;

alat musik ini ditabuh dengan tehnik saling mengunci(inter-lock) .Ditambah dengan Taganing ; gendang dengan tabung kayu , berjumlah enam tabung dengan membrane kulit , masing-masing dengan nada yang berbeda , berfungsi sebagai penyelaras melodi , sekaligus memberikan aksentuasi beat , menjaga tempo dan irama .

Baru kemudian Sarune bolon dibunyikan (Sarune adalah instrument tiup kayu dengan rit yang terbuat dari bambu dengan pengikatnya sehelai benang tipis ), yang range intervalnya empat tone (nada) menyusul hasapi (kecapi berdawai dua ) ; alat musik yang dipetik , menghasilkan nada-nada tinggi ,

Dikemudian hari seruling dari bambu menyempurnakan ensambel Gondang Batak tsb , memang karena intrumen bambu ini , baru belakangan dimasukkan menjadi bagian dari instrumen Gondang (hasapi), namun mampu menghasilkan interval sampai tujuh nada .

Meskipun pada thn 1847 , Jung Hun . Seorang Antropolog berkebangsaan Jerman , menyatakan bahwa ; suku Batak masih dianggap suku yang mengasingkan diri dan Danau Toba hanyalah dugaan belaka , ini disebabkan karena Jung Hun memang hanya sampai Lintong , dekat benteng Bahal batu (Tangga batu / humbang saja , kebetulan Sisingamangaraja X sedang berkunjung kesitu . Jung Hun tidak pernah sampai ke Bakkara dan melihat Danau Toba . Namun temuanan para missionaris RMC thn 1861 tadi , tentu menyatakan fakta yang bertolak belakang . Saat itu suku bangsa Batak sudah mempunyai kerajaan tersendiri , yakni SISINGAMARAJA . Dan yang berkuasa saat missi itu tiba , adalah Dinasti ke XII , Raja yang berkuasa dengan kharisma Relegiusitasnya yang berintikan pada Habatakhon (budaya batak) . Dia juga menjadi guru sekaligus sebagai inspirator dan pelindung atas keberadaan Gondang Bolon itu dalam kehidupan budaya Batak .

Walaupun antara temuan Jung Hun dan Missi RMC mempunyai perbedaan rentang waktu kurang dari 15thn , apakah masuk akal bahwa Dinasti ke XII tersebut dibangun hanya dengan kurun waktu15thn? .

Namun sayang , perang etnis Batak yang di pimpin oleh SISINGMANGARAJA XII melawan Marsose ; tentara VOC Belanda , berakhir tragis , karena ; Raja.SISINGAMANGARAJA XII dinyatakan tewas bersama putrinya Siboru Lopian di Dairi thn 1907 .

Kekalahan tersebut sangat besar pengaruhnya bagi sendi kehidupan budaya suku bangsa Batak . Namun perlahan-lahan orang Batak , mulai mengenakan jubah baru , menerima kekalahan dan datangnya peradaban baru , agama baru juga modernisme .

Disisi lain rakyat di Dairi , masih membangun perlawanan Sigudamdam , meskipun sudah di larang keras oleh tentera pendudukan Belanda , Gondang masih terus saja dita – buh , walaupun harus dengan cara sembunyi sembunyi , menghindar dari komunitas Gereja , dan mata-mata Belanda .

(Sekarang ini , meskipun Belanda sudah hengkang , kebudayaan dan upacara itu masih dapat kita temui , yakni dalam komunitas Parmalim/Parbaringin meski tidak mau dikaitkan dengan Sigudamdam lagi , namun dapatlah kita lihat keberadaannya di Huta Tinggi Laguboti , dipimpin oleh Raja Mulia Naipospos .)

Seiring dengan masuknya modernitas ke tanah Batak , dan diilhami Stambul(teater rakyat) di tanah Deli . Thn 1928 lahirlah Opera Batak pertama dimana saat itu , pemain/aktornya semua laki-laki , hal ini tak berlangsung lama , menyusul lahirnya kelompok-kelompok Opera Batak lainnya , yang melibatkan gadis-gadis belia , dan juga menjadi daya tarik tersendiri , bagi anak-anak muda kala itu . Tesebutlah Grup-grup , seperti ;

- SERADA seni ragam daerah .

- ROPEDA rombongan penghibur daerah .

- ROMPEMAS rombongan penghibur masyarakat .

- SERINDO seni ragam Indonesia .

Semua grup Opera Batak umumnya menggunakan Gondang Hasapi atau uning-uningan .

Perbedaan atara Gondang Bolon dan Gondang Hasapi , adalah dalam menggunakan instrumen Gong dan Sarune . Dalam Gondang Hasapi , sarune yang dipakai adalah instrument sarune na metmet (kecil) dengan nada yang lebih tinggi dan tajam , penggunaan suling lebih maksimal dan jumlah Ogungnya (Gong) lebih sedikit .

Tumbuhnya opera batak ini , bak melepas kerinduan akan identitas orang Batak , as-linnya , yang terpendam selama dua puluh tahun lebih , terhitung sejak 1907 . hal ini menjadi , salah satu faktor yang menyebabkan sambutan yang begitu luas dan hangat , dari seluruh lapisan suku bangsa Batak . Karena Opera Batak , biasanya di hari penutupan pada tour kelilingnya , selalu memainkan repertoarnya yang paling di tunggu-tunggu di belahan tanah Batak manapun mereka berpentas , dengan judul :

“AHU SISINGAMANG SISINGAMANGARAJA” .

Sebuah fakta yang juga tak kalah menarik untuk dicatat adalah Gondang pengiring untuk mengiringi pementasan itu , adalah Gondang Sabangunan/Bolon . Jelas terlihat sebuah kesadaran akan ingatan kolektif dari sebuah suku , yang kehilangan atas Raja dan budaya luhurnya .

Hal ini pastilah bukan sebuah kebetulan , meskipun Gondang Sabangunan/Bolon lazimnya dipergunakan untuk upacara adat , dan sebagai Bapak dan pelopor opera Batak ; Tilhang Gultom , justru dengan sadar menaruh upacara tersebut , menjadi bagian dari panggung pertunjukkan teater rakyat . Sebuah langkah yang cerdik !

Gordang di Tapanuli selatan ;

Gordang dan Ogung menjadi bahagian penting dari upacara Gajah lumpat di dolok Pamelean .

Raja Palti Siregar , yang berkuasa di Sipirok seperti menemukan jalan keluar dari dua masalah pelik , yakni masalah perang saudara yang sering muncul di Sipirok , serta keinginannya untuk menemukan semacam pusat ritus seperti di pusuk buhit yang terus mereka kenang , dalam migrasinya di Sipirok . Untuk itu diadakanlah Upacara Gajah lumpat yang memang efektif , meredakan perang saudara . Gajah-gajah itu didatangkan berikut pawangnya Sikh Hindu yang saat itu sudah mempunyai penangkaran gajah dan menetap di sekitar Air Bangis /Batang toru . Hal itu masih berlangsung , sampai saat datangnya tentara Pidori (Padri ) thn 1816 .

Maka di wilayah Tapanuli selatan , sejak thn 1816 Gordang mengalami pengurangan instrument musiknya . Hal ini menjadi masuk akal , karena sejak kekalahan SISINGAMANGARAJA ke X , atas serangan Tuanku Rao (Padri) yang konon katanya sampai ke Bakkara , dan menghancurkan Istana dari Dinasti SISINGAMANGARAJA , serta kehancuran yang luar biasa , pada martabat yang namanya manusia Batak , sehingga

Orang-orang tua , tak lagi mampu menceritakan hal ini sebagai turi-turian (tutur) karena Aib dan derita yang tak mungkin diwariskan kepada generasi penerus , yang sangat rentan dan berpotensi mendatangkan petaka dendam sebagai lingkaran setan seperti yang diinginkan oleh fihak Belanda (konflik adu domba)

Walaupun sebenarnya sejak migrasi gelombang kedua , marga-marga dari utara ke Tapanuli Selatan , kewibawaan SISINGAMANGAJA X di Tapanuli selatan , sudah berkurang . Hal ini bermula dari persoalan-persoalan yang mengakibatkan migrasinya ke selatan itu , terus diingat-ingatkan kepada keturunannya , yang pada akhirnya menyimpan api dalam sekam . Tak pelak lagi kekalahan tersebut , menyebabkan orang-orang Batak di bagian selatan Tapanuli tidak ragu lagi , untuk menerima muslim sebagai jalan hidup baru . Maka dianggap perlu untuk meninggalkan tata cara yang menyangkut kebudayaan lama dan dianggap kafir , dan dalam hal ini , tentu saja Gondangpun tak luput dari koreksi . Maka menjelmalah Gordang Sambilan yang menyerupai , Bedug-bedug yang panjang-panjang , yang berdiameter 70cm s/d 110cm , dengan jumlah sembilan buah . Biasanya Gordang Sambilan lebih banyak dipergunakan untuk keperluan panen raya , Kenduri , Maulid Nabi SAW, bulan Ramadhan dan Takbir .

Disamping itu juga telah ditemukan Gordang tano (tanah) yang digali dan di beri dawai sebagai , alat resonator yang kemudian dipantulkan oleh gema/gelombang dari tanah yang digali tadi . Gordang tano diketemukan dan direkonstrusikan kembali (thn 1980an) Oleh Rizaldi Siagian beserta mahasiswa Etnomusicologi USU diantaranya Irwansyah Harahap .

Di tanah Karo , Gordang terbuat dari , bambu yang cukup besar , bahkan ada yang hampir menyamai ukuran paha manusia . Dengan melubangi bambu searah dengan ruasnya dan menyisakan kulit bambu saja , maka kulit bambu tersebut akan berfungsi sebagai resonator , jika dipukul akan menghasilkan bunyi yang unik , dengan modal nada yang hampir menyerupai pelog dalam Jawa dan Bali .

Biasanya Gordang bambu tersebut di tanah Karo digabung dengan Gong dan serunai untuk upacara , Tari Enggang , juga untuk upacara penguburan dan tolak bala , akhirnya sampai saat ini , lebih dikenal sebagai pengiring keteng-keteng saja (tarian muda mudi) , yang didominasi oleh masuknya unsur keyboard dan terkesan murah meriah .

Disamping itu missi zending dan kedekatan geografis Karo dengan Melayu Deli di timur dan Aceh Gayo di utara , tentu saja selanjutnya juga , sangat mempengaruhi budaya Karo itu sendiri .

Catatan pena

Tulisan ini diharapkan untuk menggugah serta mempertimbangkan kembali , keberadaan dari Gondang itu , yang nyatanya tidak lagi penting dan dianggap ketinggalan zaman , dengan hadirnya seni-seni hiburan dan agama baru , sebagai pilihan baru pula .

Ketekunan beragama bagi orang Batak baik itu Muslim , maupun Kristen memang sesuatu yang tak dapat di tawar lagi , itu pasti , dan dalam hal ini Agama memang bukan jadi persoalan utama , sebab apa yang di tolak agama seperti upacara-upacara pengorbanan manusia dan mantra-mantra pemanggilan arwah roh leluhur , sudah pasti ditolak oleh manusia modern yang menggunakan akal sehat , serta menghormati Hak Azasi Manusia . Yang menjadi persoalan adalah , bagaimana mempresentasikannya kini , agar Gondang dapat mewakili ekspresi orang batak dan menjadi identitasnya , baik yang tua atau muda , dari utara atau selatan , itu bukanlah hal penting , karena Batak adalah satu root (akar) , yakni Dalihan na Tolu . Memang beberapa pemuka adat sekarang ini mulai menyadari ada kesalahan dimasa lalu yang terus menerus di gerus zaman , tapi tidak pernah tau , dari mana untuk memulainya . Penelitian untuk merangkum seluruh proses evolusi Gondang dan Musikalitas suku bangsa Batak adalah sesuatu yang sangatlah diperlukan saat ini . Dimulai dari Tilhang Gultom , bersama Opera SERINDOnya , yang bermigrasi ke pulau Jawa , juga akan menimbulkan pertanyaan yakni; apakah yang menjadi motivasi utama dari migrasi tersebut ? . Disisi lain , kreativitas Bonar Gultom dalam Opera ARGA DO BONA NI PINASA , yang menggemparkan pada thn 1969an itu , karena dianggap mewakili kaum terpelajar dan kelas menengah dari suku bangsa Batak , yang merindukan kampung halamannya nan permai dan damai , meskipun tidak lagi digarap dalam bentuk ensambel Gondang hasapi , sebagaimana yang dilakukan grup-grup Opera seangkatan SERINDO , tetaplah hal tersebut menjadi sebuah kreatifitas yang belum tertandingi , oleh generasi baru yang mengenyam dan dibesarkan oleh pendidikan ala barat itu . Bahkan Etnomusikologi USU belum juga melahirkan musisi Batak sekelas Sarikawan Sitohang , Tarsan Simamora , Saefudin Simbolon , Mangasa Naibaho , Marsius Sitohang , dkknya yang jumlahnya tidak sampai puluhan orang lagi itu . Mereka semua dibesarkan oleh Opera Batak dan menguasai instrument yang paling berat seperti sarune (besar /kecil) , hasapi , juga Taganing (gendang Batak) dengan baik . Kini nasib dari Gondang serta seniman – senimannya , yang berhadapan langsung dengan moderenisme yang mencerabut kita dari akar budaya leluhur, tanpa sempat kita menyadari bahwa ada yang hilang dalam diri kita , dan kita semakin terasing dengan kenyataan itu . Sebab industri musik justru lebih banyak menawarkan kepalsuan realita hidup , yang mengatas namakan selera pasar dan modernitas , telah membuat orang Batak kehilangan wacana dan identitasnya .Horrasss ! Menjuah-juah !

( Jeffar Lumban Gaol )

penulis adalah pemusik

tinggal di jakarta

Legenda

CERITA TENTANG ASAL-USUL MANUSIA*

Pengalih Aksara : Drs. Mangantar Napitupulu

Konon khabarnya, dahulu kala hiduplah Nai Unggas Hulambu Jati, anak unggas Humarairi. Tubuhnya seperti kupu-kupu besar. Sahdan telurnya tiga butir sebesar periuk betina. Lalu ia menghadap sang Dewata.

“Wahai, Sang Dewata! Mengapa nasibku begini! Sial pun datang, malang pun tiba, yang tak diduga telah menimpa hamba. Badanku hanya setara kupu-kupu besar, tetapi telurku tiga butir masing-masing sebesar periuk betina. Bagaimana gerangan ini bisa terjadi? Sungguh, hatiku amat masygul.”

“Bukan sial dan bukan pula malang yang tak disangka telah menimpa dirimu. Eramilah,” katanya.

“Bagaimana aku mengeraminya, tak mampu aku menyelimutinya. Makananku pun tak tersedia.”

“Semuanya akan kusediakan,” kata Mula Jadi Na Bolon, sang Dewata.

Sudah tiba bulannya, genaplah pula tahunnya, menetaslah manusia dari telur itu. Lalu, dikunjunginya lagi Mulajadi Na Bolon.

“Dengarlah Eyang, sungguh tak disangka, dan belum pernah terjadi! Apakah yang saya perami ini?”

“Bukannya yang tak disangka dan yang belum pernah terjadi! Itulah manusia yang kuutus. Camkanlah kata-kataku. Manusia yang pertama lahir, beri ia nama Batara Guru, yang tengah Ompu Tuan Soripada, dan yang bungsu Ompu Tuan Mangala-Bulan,” ujar Mula Jadi Na Bolon.

Beginilah kisah selanjutnya. Ketiga manusia yang baru lahir bertumbuh sebagaimana layaknya mentimun, lembut bagai daun, mekar berlemak. Kemudian, mereka menghadap Mulajadi Na Bolon.

“Hai Eyang, dengarlah! Tiada perempuan untuk kami nikahi!”

Sementara itu, dikirimlah tiga orang perempuan untuk menjadi istri mereka masing-masing.

Di kemudian hari, tiba bulannya, genaplah tahunnya. Lahirlah putra Ompu Tuan Batara Guru, yang bernama Tuan Sori Mahumet. Lahir lagi anak dari Ompu Tuan Soripada, yang diberi namanya Tuan Sori Mangaraja, lahir lagi putra Mangala-Bulan, dia digelari Tuan di Pampattinggi. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, lima bulan, enam bulan, tujuh bulan, delapan bulan, sembilan bulan, sepuluh bulan, sebelas bulan, dua belas bulan, dan genap pula tahunnya, lahirlah putra Batara Guru, dia digelari Datu Tantan Debata Guru Badia Porhas. Ia bertikar tujuh lapis, berbantal setinggi orang, berbuku pustaka setebal orang duduk, mempunyai jimat gaib sakti yang tujuh kali tujuh yang tujuh kali keimamannya, yang tujuh kali lipat kesalehannya, ia sumber berkat, yang tak melayang jika ditutup angin, takaran bakulnya dua belas cupak, yang timbangannya tak akan curang.

Lagi pula sudah bulannya, genaplah tahunnya, lahirlah putri Ompu Tuan Batara Guru kembar, yang sulung dinamai Siboru Sorbajati, adiknya bernama Siboru Deak Parujar, yang bergelar si Deak Ujar-ujaran, si Deak Uti-utian, si Deak Boto-botoan, si Deak Huraharik (Nan Banyak Gagasan, Nan banyak Ilmu Gaib, Nan banyak pengetahuan, nan banyak kecerdikan).

Genaplah bulannya dan tibalah tahunnya, lahirlah putra Ompu Tuan Soripada yaitu si Raja Ilik atau si Raja Odong yang wajahnya mirip kadal. Kakinya empat bagai bengkarung, ekornya seperti pucuk kumparan, matanya sebesar bendul gong, bundar seperti genderang besar, pisau deresnya dari Dairi, perekatnya perekat dari jahe, kata-katanya memecah kemiri, dan kakinya tidak dapat digerak-gerakan. Kemudian, pergilah dia mengadukan nasibnya kepada Mula Jadi Na Bolon.

“Dengarlah Eyang, malang tiba, yang tak pernah terjadi, yang tak pernah menimpa, bagaiman ini bisa terjadi?”

“Bukan yang tak pernah terjadi yang tak pernah menimpa. Berilah namanya si Raja Enda-Enda, alias si Raja Endapati, si Raja Mogot Pinaungan. Ia berikat pinggang ijuk, menyandang kantongan sirih keemasan, bertampang tanpa tara, bersuara jelas asli, yang tak pernah kalah, senantiasa menang. Letakkanlah dia di singgasana datu panangkal bala, penangkal ratapan senandung, penangkal yang terbuat dari tungkai besi, tangga jantan, tangga gelang-gelang,” kata Mula Jadi Na Bolon menyahutnya.

Di kemudian hari tatkala si Boru Deak Parujar bertenun bersama dengan kakaknya si Boru Sorbajati. Tumbuh rendang sebulan persis di tengah halaman, tiga tahun tiga bulan lamanya. Namun, tenunnya sebesar pinang, cuma selebar daun keladi, padahal tenunnya si Boru Sorbajati berpuluh-puluh kain berlipat-lipat ganda. Lalu, datanglah Batara Guru.

“Bagaimana putriku, Boru Deak Parujar? Tumbuh rendang sebulan di tengah halaman tiga tahun tiga bulan, tenunanmu selebar pinang tetap saja tidak bertambah, cuma selebar daun keladi,” kata Batara Guru.

” Biarlah dicopot duri, ayah,

dikatup dengan ramuan,

walaupun sudah ditenun, Adikku besok,

berpuluh kain,

berlipat ganda,

lebih baik besok yang kutenun satu,”

katanya menjawab ayahnya itu.

Setelah beberapa hari berlalu, datanglah Ompu Tuan Soripada menjumpai Kakaknya bernama Ompu Tuan Batara Guru. Katanya, “Anak kita sudah dewasa tak ada perempuan buat isterinya, dewasa puteri kita, tiada perjaka menikahinya. Mengguling batulah kita ke gunung, menjungkirbalikkan air kita ke hulu.” (Maksudnya: pekerjaan yang sia-sia).

“Baiklah, putri kita si Boru Sorbajati dan berikan buat istri putra kita si Raja Enda-Enda.”

“Bagaimanalah adikku, entah nanti tidak jodoh yang demikian itu,” kata Ompu Tuan Batara Guru.

“Kalau demikian halnya Kakanda, kita lihat saja kemudian. Akan tetapi, berjanji sepakatlah kita. Beginilah itu! Haruslah putri kita itu menandangi putra kita,” kata Ompu Tuan Soripada.

Lalu diberikannyalah mahar kepada kakaknya, dipetiklah seuntai daun bane, pertanda jadi pernikahan.

Kemudian, Datu Tantan Debata yang bergelar Guru Badia Porhas membeli sebatang emas untuk adiknya yang dua itu. Dan Kakaknya itu berkata kepada kedua adiknya.

“Pergilah Adikku ke rumah Pamanmu Ompu Tuan Soripada Boru.”

Lalu, Putri Sorbajati pergi ke tempat losung gaja, yaitu losung sipitu kamata. Ketika itu ia bersenandung:

“Leang-leang mandai,

Gendong Aku dahulu,

engkau yang mau meminang hai lelaki,

menolehlah padaku.”

“Jang ma jangjangi,

Jong Jua yang jongjong,

Bergegaslah kesampingku.”

Sementara itu, si Raja Enda-Enda. Tetapi si Boru Deak Parujar tetap tinggal di gerbang pintu itu berdiri. Ditancapkan kumparannya di atas kepalanya seperti api marak menjelalat bagaikan bara api yang memijar.

Berlarilah si Boru Sorbajati ke anak tangga yang di situ.

Berkatalah si Raja Enda-Enda kepadanya:

“Cabutlah dahulu indung rambutmu wahai putri raja. Tiuplah ke anak tangga itu, tangga jantan, tangga gelang-gelang. Kalau putus, janganlah kau menghampiri aku.”

Maka, si Boru Sorbajati mencabut rambutnya kembali, lalu ditiupkannya, ternyata putus.

Mereka pun pulang kembali ke rumah ayahnya. Setelah tiba di rumah ayahnya, ia pun menghempaskan badannya ke kiri dan ke kanan sambil menangis atas kejadian yang dialaminya.

“Mengapa kau marah dan menangis,” sahut saudaranya yang bernama Datu Tantan Debata.

“Apa tak putus asa aku ini Kakak, melihat kejadian itu. Sebab kalian tidak sayang dan tidak adil kepadaku.”

Deak Parujar berdiri di pintu gerbang, ditancapkannya kumparannya di atas kepalanya seperti bara yang berpijar katanya.

“Kalau demikian halnya, mari adikku saksikan, biar aku yang menimbangnya,” sahut Kakaknya yang bernama Datu Tantan.

Lalu, diambilnya timbangan satu simpul, yang ke atas tidak jungkal yang ke bawah tidak oleng, sama berat timbangannya. Katanya lagi, “Janganlah sebut aku berputri yang tak sayang dan berputri yang tak adil, berputra kesayangan. Lihatlah, ke atas tidak jungkal, ke bawah tidak oleng.”

“Sekarang pun, pergilah ke tempat Bibimu ompu Tuan Soripada boru.”

Lalu, mereka pun berangkat. Tibalah merka di Losung Gaja, yaitu Losung Sipitu Kamata, Si Boru Sorbajati kembali bersenandung.

“Layang-layang mandi,

gendonglah aku dulu,

yang mau meminang hai engkau lelaki,

menolehlah padaku, “

Menyahutlah si Raja Enda-Enda,

“Jangan mak yang jangjang,

Jong jua mak yang jongjong,

bergegaslah dari situ,

hampirilah ke sampingku.”

Dan, si Boru Sorbajati berlari menghampirinya. Tetapi, si Raja Enda-Enda, “Cabutlah indung rambutmu, hembuskan ke pangkal tangga itu. Kalau masih putus juga sayang, janganlah kau datang. Tetapi, bila tidak putus, kau boleh datang ke sini.”

Kemudian dicabutlah indung rambutnya, dihembus, lalu putus. Pulanglah mereka ke kampungnya.

Ia pun putus asa tak kepalang tanggung, sambil menghempaskan badannya sampai terhuyung-huyung. Datanglah Kakaknya yang bernama Datu Tantan Debata bergelar Guru Badia Porhas, “Mengapa adikku putus asa dan menangis ?”

“Yang kucabut adalah rambutku yang paling panjang. Kalau kuhembuskan ke anak tangga, selalu saja putus.”

“Kalau demikian halnya, yakinlah adikku,” kata Datu Tantan.

Dibenahinya adiknya itu berpakaian, sambil berkata, “Baik, berkunjunglah, hai adikku lagi ke kampung Bibi kita yang di Losung Gaja.”

Berangkatlah mereka ke tempat Bibinya itu.

Setelah ia tiba, putri Sorbajati bersenandung kembali.

“Leang-leang mandi,

Gendong aku dulu,

Engkau yang meminang wahai lelaki,

menolehlah kepadaku dulu,”

Si Raja Enda-Enda menjawab

“Jangma jangjangi,

Jang jua yang jangjangon,

bergegaslah dari situ,

dekatlah ke sampingku ini.

Tetapi cabut dulu indung rambutmu, hembuskan ke pangkal anak tangga itu.”

Dicabut lagi indung rambutnya itu, lalu ditiup, sehingga rambutnya itu pun tidak putus. Ia pergi ke anjungan rumah Datu tersebut. Terlihat olehnya si Raja Enda-Enda. Kemudian, ia meloncatlah dari anjungan itu ke bawah halaman. Pulanglah mereka ke kampung ayahandanya.

Ia pun merajuk putus asa. Datanglah Datu Tantan Debata berkata, “Kenapa merajuk engkau Adikku?”

“Celakalah yang telah terjadi, bang, malang telah tiba. Ternyata si Raja Ilik adalah si Raja Odong, bertampang kadal, serupa bengkarung, kakinya empat, ekornya bagaikan pucuk kumparan, matanya sebesar bendul gong, terbaring seperti genderang besar. Pisau deres dari Dairi, perekatnya perekat jahe, kata-katanya memecah kemiri, kakinya tak bangkit-bangkit. Maka, lebih baik aku lengkuas daripada tasbih, lebih baik aku tewas daripada hidup bersedih, kalau kau harus menjodohkan aku kepadanya,” kata si Sorbajati.

Jawab Datu Tantan Debata, “Kami akan tersingkir kalau kau tidak mau. Karena tambal ditambal sulam, nantinya akan renyai, yang satu jadi dua, yang tiga jadi enam, utang siapa yang bercerai runtuh, bersatu teguh, bak pemukul tambur, penolak bala prahara adikku, apabila tanpa mahar dari sang mempelai,”

Begitupun dia tetap tidak mau. Akan tetapi, Ompu Tuan Soripada selalu saja datang kepada Kakaknya agar membujuk putrinya itu. Walau dibujuknya, ia selalu menolak.

Lama kelamaan, Putri Sorbajati tetap tidak mau kawin dengan si Raja Enda-Enda. Kakaknya pun pergi menanyakan Putri si baso Paet, yang berkerudung luar biasa, Si Baso Panubuti, Si Boru Pangoloi.

Berkatalah Sibaso itu kepadanya, “Bagaimanapun kau buat putri Sorbajati. Ia akan tetap jodohmu, pasanganmu masuk rumah si Raja Enda-Enda, peganganmu sebagai tali panah. Kalau kau pergi ke sawah, dia akan ikut juga, kalau dia pergi ke dukun, kau juga harus ikut, ia kawanmu setunggal sekapal.” Sesudah itu kawinlah si Boru Sorbajati.

Datanglah Kakaknya, “Apakah yang dikatakan oleh sibaso itu ?”

“Kamu harus menggendangiku katanya, supaya aku mau pergi ke sana,” kata Si Boru Sorbajati.

“Kalau demikian, Adikku, marilah kita gendangi, ” kata saudaranya.

Maka dibunyikanlah gedang sepanjang satu malam.

Menjelang fajar, dia pun menari sambil berkata, “Hai, Kakakku Datu Tantan Debata bersama engkau Ibunda, dan dikau Ayahanda. Saksikanlah si Boru Sorbajati akan menari. Sebentar lagi. Mentari akan terbit pada kokok ayam yang pertama, fajar akan tersembul di langit lazuardi, lihatlah tarianku ini.”

Mulailah menari membungkuk-bungkuk ke depan, mencongkak-congkak ke belakang. Kalau ia membungkuk ke depan, semua mata mengikuti tariannya. Sementara itu, ia berujar, “Wahai penabuh gendang, rebung si tunas bambu, berdaun pohon hopo, nasimu cukup, laukmu pun nikmat. Buatlah gendang bagi si Boru Sorbajati tali lentur liat yang bergoyang tak pernah putus, Aku pun akan menari lagi, akan meninggalkan ayah, meninggalkan ibunda, meninggalkan saudaraku Datu Tantan Debata, dan meninggalkan adikku si Boru Deak parujar.”

Dia pun menari. Melompat ke atas para-para, memandang sambil berkata lagi, “Saksikanlah wahai saudaraku.”

Kemudian, ia beranjak ke pinggir anjungan. Lalu, ia mencemplungkan diri ke tengah halaman. Ia tenggelam sedalam tujuh kali tinggi pohon enau. Lenyap tak tampak lagi. Mereka semua bersedih sambil berduka.

Di kemudian hari, datanglah Ompu Tuan Soripada. Katanya, “Bagaimanalah ini, wahai Ompu Tuan Batara Guru. Tambal ditambal sulam nantinya akan renyai, yang satu jadi dua, yang tiga jadi enam, utang orang yang sudah bercerai. Bercerai kita runtuh, bersatu kita teguh, bak pemukul tambur penolak bala prahara, apabila tanpa mahar dari sang mempelai.”

Jawab Batara Guru, “Pohon Butar mengelupas, pohon butar dikuliti. Kalau kakaknya sudah meninggal, adiknyalah gantinya yang bernama si Boru Deak Parujar.”

“Baiklah itu, bujuklah putrimu, ” kata Ompu Tuan Soripada.

Disuruh dia, tetapi, tetap juga menolak. Sebab itu, ia pun berkata, “Sedangkan si Boru Sorbajati saja tidak mau, apa lagi aku?” Dia pun terus-menerus menolak bujukan ayahandanya itu.

“Kau tak mungkin menolaknya sayang karena dapat berakibat buruk, kami semua akan tersingkir. Tambal ditambal sulam, nantinya akan renyai, yang satu jadi dua, yang tiga jadi enam, utanglah yang bercerai, bercerai runtuh, bersatu kita teguh ibarat pemukul tambur, penolak bara prahara apabila tanpa mahar mempelai. Apa tidak mungkin kami semua tersingkir ?” kata ayahnya.

“Begitu pun aku tetap tidak mau,” kata si Boru Deak parujar.

Pada hari yang tidak disangka-sangka tumbuh jadi pohon enau si Boru Sorbajati, Tulangnya menjadi batang keras enau, perutnya menjadi inti lunak enau. Kainnya menjadi pelepah, rambutnya menjadi serabut ijuk, tangannya menjadi tangkai daun, jari-jarinya menjadi lidi, matanya menjadi mayang, air matanya menjadi tuak. Itulah sebabnya, tuak tidak termasuk sesajen bagi sang Dewata sampai hari ini.

Pagi-pagi benar, ayahnya membujuk si Boru Deak Parujar, tetapi tetap saja ia menolak bujukan ayahnya itu. Lalu, ia pun berkata kepada ayahnya, “Kalau harus demikan halnya, adakanlah upacara dengan memalu gendang terlebih dahulu Ayah.”

“Baiklah anakku. “

Si Boru Deak Parujar pun menari, mengikuti irama gendang yang dipalu bertalu-talu. Sebagaimana halnya singkoru buat umpan pukat, begitu pula si putri bagai dewi hinggap ke bumi :bagai cabang serupa rantingnya, bagaimana kakaknya demikian juga adiknya.

Ia pun meminta gendang supaya dibunyikan “Tali liat lentur goyang-goyang tak putus.” Ia melompat ke tengah halaman dan dari situ ia berlari menuju Pintu Batu ke tempat penatapan tempat memandang. Ditancapkannya gagang benangnya, dirinya ditenggelamkan ke bawah tanah, hingga tiba ke tengah lautan ke onggokan batu sebagai pijakannya.

Tidak lama kemudian, wafatlah si Raja Enda-Enda. Lama kelamaan pahanya menjadi bambu, dengkulnya menjadi ruas, mata kakinya menjada mata tunas, pantatnya menjadi jalur rotan, jari kakinya menjadi rotan sulpi, perutnya menjadi pohon buar, lidahnya menjadi daun cocor bebek.

Menangislah seluruh keluarganya melihat tubuh putrinya telah berada di tengah lautan. Bangkai putrinya itu tersangkut di pohon kayu yang bergoyang-goyang di permukaan air laut. Oleh karena itu, tidak boleh enau menandangi tangga bambu, melainkan tangga bambu yang menandangi enau hingga sampai sekarang ini.

###+###

* Cerita tentang asal-usul manusia (manusia pertama) ini bersumber dari buku karangan Guru Sinangga ni Aji, yang menceritakan kisah nenek moyang suku Batak yang pintar membuat peraturan untuk membina keluarga. Teks asli ditulis menggunakan aksara Batak.

Wawancara Bonar Gultom

Bonar Gultom yang lebih dikenal dengan nama Gorga adalah anak dari almarhum Julianus F. Gultom dan Marianna Naomas br Hutahuruk. Ayahnya adalah mantan pensiunan camat. Menikah dengan Lela Ester Sitompul (67) pada tahun 1962, dan dikaruniai enam orang anak. Di usianya yang tidak muda lagi (73) ini, ia masih aktif mengarang lagu. Tepat ketika ini TAPIAN hendak mewawancara beliau di rumahnya Jalan Ayahnda No 57, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Pada 19 Oktober 2007.

TAPIAN; Apa sebetulnya hubungan turi-turian dengan opera Batak, ada nggak hubungannya?

GORGA; Saya rasa ada. Kalau nggak salah dulu legenda boru Tumbaga, itu adalah satu turi-turian. Yang lalu dibuat dramanya oleh Tilhang Gultom. Saya dengar tahun 1921, waktu itu saya belum lahir. Tilhang sudah membuat opera Bataknya.

TAPIAN; Dengan nama Serindo?

GORGA; Yang membuat namanya Serindo itu dulunya Sukarno. Dulu lain namanya tetapi ia mendapat penghargaan dari Soekarno. Waktu itu diminta diubah namanya menjadi seni ragam Indonesia (SERINDO).

TAPIAN; Opera yang dipentaskan Serindo, apakah benar diadapsi dari turi-turian?

GORGA; Memang saya tidak tahu persis. Tetapi ia katanya pernah membuat opera mengenai boru Tumbaga—boru Tumbaga itu mengisahkan suka-duka bagaimana kisah orang yang tidak mempunyai saudara laki-laki. Dulu, sesuai dengan adat-istiadat kita yang zaman dulu itu. Satu keluarga itu selalu mendambakan harus ada anak laki-laki, kalau ia hanya perempuan tidak memiliki saudara laki-laki maka warisan-nya akan hilang. Jadi yang berhak untuk mengwarisi warisan orang tua itu hanya laki-laki.

Jadi begitulah kisah dua orang saudara perempuan itu diperlakukan orangtuanya laki-laki, dengan mengalami penderitaan bathin. Jadi itulah akibat adat yang kuno, memang kalau dilihat dari sekarang yang benar itu. Setelah adanya emansipasi wanita. Yang terlebih dahulu dibudayakan oleh bangsa-bangsa yang masuk dari kita. Atau barangkali itu semacam kritikan dulu terhadap adat istiadat yang tidak benar. Saya sendiri hanya mendengar saja. Ya membaca-baca serba sedikit. Dari naskah boru Tumbaga itu.

TAPIAN; Jadi, bisa nggak disimpulkan Tilhang Gultom lah memulai semua opera-operanya itu dari legenda-legenda yang ada?

GORGA; Bisa. Ada juga, yang membuat drama dari sejarah. Misalnya ada dulu yang bernama Saman membunuh keluarga suami istri, wanita masih hamil. Dulu hal itu sangat terkenal—karena pembunuhan itu adalah sesuatu yang dibenci orang, atau dianggap jahat ya. Karena pembunuhan itu sesuatu yang mengemparkan. Jadi itu dibikin jadi cerita lalu dipentaskan.

TAPIAN; Berarti dulu opera Batak itu terkenal dong, lalu kenapa sekarang tidak begitu menonjol, sama seperti misalnya, ketoprak humor Jawa?

GORGA; Iya beda. Yang saya tahu bahwa ketoprak humor semacam Srimulat itu kan dibuat hanya sebagai humor dan memang mengandung humor. Sedangkan dalam opera Batak itu humor dibuat hanya sebagai selang-seling daripada jalan cerita. Lalu, lelucon dipakai sebagai nyanyi-nyanyi sebagai selingan.

Jadi kalau kita lihat semacam di Jawa katakanlah Srimulat, saya nggak tahu apakah dulu Srimulat itu dulu berpindah-pindah tempat untuk mencari penonton. Kalau Serindo dulunya mereka yang mencari penonton—dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Jadi bukan penonton yang mencari ke mana mau menonton, Serindo lah yang mendatangi penonton. Itu diingat ya, opera Batak dulu ciri hanya mereka mencari penonton jadi mereka datang mendatangi penonton satu kota, di luar daerah, desa, kampung. Saya nggak tahu apa ia pernah kepulau Jawa ya.

TAPIAN: Katanya pernah (tanggapan).

GORGA: Oh ya. Itukan sesuatu yang hebat itu ya. Mereka itu adalah seniman-seniman yang kreatif membuat satu tontonan. Di lain itu mereka pasti mempunyai manajemen yang bagus untuk mengelola Serindo. Bayangkan puluhan pemain harus diangkut kemana-mana. Dan alat-alat itu, property semua yang diperlukan. Untuk bisa membuat pertunjukkan itu, layarnya, pembatas-pembatas didingnya dan bahan-bahan untuk pentas tersebut. Karena itu, mereka sering main di lapangan. Harus ditutup panggung-nya itu supaya orang lain tidak bisa melihat dari luar dan orang mau bayar tiket untuk menonton. Dan peralatan itukan tidak mungkin mereka sewa dan itulah kehebatan mereka. Mereka juga saya kira harus ada alat angkut. Tetapi mereka bisa lakukan. Dan anggota-anggota nya itu setia, dan bisa dibawa kemana-mana. Padahal, mereka kan hanya mendapat penghasilan dari penjualan tiket. Mereka mungkin tidak dapat donatur model jaman sekarang, sponsor yang memamfaatkan kegiatan itu sebagai bahan untuk promosi dia. Seperti sekarang inilah kalau kita ingin mengadakan acara mau sajalah mungkin sponsor itu. Orang-orang mau melihat produksinya apa. Sedang mereka, murni dari penjualan tiket. Puluhan orang, kadang mereka itu mereka itu ada yang sudah suami istri. Betul-betul mereka tergantung dari pada hasil mereka itu.

TAPIAN; Berarti luar biasa dong ya.(tanggapan)

GORGA; Iyalah, bayangkan sudah perongkosan-nya banyak dan pindah-pindah tempat. Itu berarti manajemennya sangat hebat.

TAPIAN: Kalau demikian bisalah disebut Serindo itu yang pertama-tama membuat turi-turian Batak ke dalam opera Batak?

GORGA; Bisa barang kali. Yang pertama yang dilahirkan si Tilhang. AWK Samosir itu salah seorang murid Tilhang yang terus meneneruskan cita-cita Tilhang itu. Bahkan si AWK Samosir pernah mendapat pesan dari Tilhang Gultom untuk terus melestarikan Serindo—meneruskan pelestarian seni budaya. Jadi bisa dipastikan Tilhang Gultom sebagai pelopor.

Tentang Bonar Gultom;

TAPIAN: Sebagai seorang seniman, karya Anda sudah melanglang-buana, apakah Anda pernah juga mementaskan opera seperti itu?

GORGA: Pernah. Tetapi dengan warna dan bobot yang berbeda dengan Tilhang Gultom. Dan ceritanya pun saya bikin sendiri pada tahun 1969.

TAPIAN: Judulnya apa waktu itu?

GORGA: Arga Do Bona ni Pinasa (Arbonansa). Anda mengerti kan? Bahwa dalam budaya Batak itu arga do bona ni pinasa itu adalah pesan yang bernilai tinggi. Bahwa tanah kelahiran itu salah satu yang mulia, yang indah yang bagus. Maka, kemana pun kita merantau kita selayaknya kembali. Maka kampung itu (Bona ni Pinasa) ibarat kemana pun ia berada harus tetap diingat. Karena kampung itu sendiri kan tidak pindah-pindah ia tetap di sana. Tetapi itu sesuatu yang luhur yang mulai dan kita sebaiknya kembali ke situ. Kita sudah tua kemanapun kita merantau kita harus kembali ke Bona Pasogit kita.

Jadi itulah opera yang pernah jaya saya ciptakan dengan jugul Arbonansa. Tetapi agak berbeda dengan operanya Tilhang Gultom, yang saya dengar karena waktu itu saya belum perah melihat, pokoknya saya tidak pernah nonton opera hanya dengar saja. Tetapi yang kami dengar mereka itu drama lagu dan lelucon itu hanya selingan.

TAPIAN: Apa bedanya?

GORGA; Bedanya. Semua dialog saya nyanyikan, atau saya suruh orang menyanyikan. Jadi dalam cerita itu dinyayikan—jadi misalnya; “Gorga..gorga ho do I hulaning” (sambil dinyanyikan) tetapi tetap di atas pentas.

Ide itu datang dari opera klasik yang pernah saya lihat dan dengar waktu ke Eropa—memang opera drama sebenarnya itu adalah bukan diomongkan tetapi dinyanyikan. Itu dulu Arbonansa itu dulu menceritakan seorang pemuda Batak menanjak dewasa maklumlah ia telah bosan, padahal kampung halaman-nya begitu indah, Danau Toba yang demikian indah. Saya sendiri sangat merindukan hidup dipinggiran Danau Toba itu. Bahkan kalau bisa saya bisa tinggal di pinggir Danau Toba itu. Karena bagi saya itu alam yang agung memberikan kedamaian dan keteduhan jiwa. Tetapi, baru-baru ini saya tinggal di Samosir mengajar penari-penari, panontor, marmocat, melatih paduan suara. Mereka tidak bisa menghayat keagungan alamnya.

TAPIAN ; Di daerah mana itu?

GORGA: Di Samosir pesta Simbolon se-dunia yang barusan diadakan itu. Saya satu bulan di sana untuk menata acara. Yang menelisik adalah, saya memperhatikan orang di sana belum begitu sadar bahwa alamnya tidak di tempat lain, bahkan keindahan alamnya tidak mempengaruh sifat keindahan dan jiwa yang lembut oleh masyarakat. Mungkin juga karena mereka melihat tiap hari mereka bosan dan bagi mereka itu sesuatu yang biasa. Tetapi saya sendiri kalau pergi ke Samosir saya memperoleh keteduhan jiwa. Kenangan pikiran, sejahtera membuat saya menjadi lembut. Jadi itulah ceritanya seorang pemuda yang pergi melanglang-buana ke Eropa ingin mencari sesuatu yang indah.

TAPIAN; Padahal dalam diri dia ada yang lebih indah (tanggapan)

GORGA: Iya. Seindah apapun di luar sana itu bukan milik dia. Nggak bisa dibilang ia orang Belanda atau orang Eropa, tetap dia orang Batak. Yang bisa ia miliki adalah hanya menikmati, dan yang bisa dinikmati dari luar dalam adalah kampungnya sendiri. Jadi ceritanya ia kembali kekampungnya.

TAPIAN; Mengapa nama “Gorga” melekat pada Anda, bagaimana ceritanya?

GORGA; Oh nama pemuda itu namanya si Gorga. Saya waktu mencipta itu, saya carilah nama Batak—yang betul murni marlapatan hata Batak (Gorga artinya goresan) nama orang Batak yang asli lah. Lalu, nama teman si Gorga itu saya buat namanya si Mampe.

TAPIAN; Apakah Anda yang memerankan tokoh si Gorga itu?

GORGA; Iya. Sayalah yang memerankanya. Lalu, istri saya dipanggil si Marlinang waktu itu ikut ia main yang kemudian ia pariban si Gorga yang dikawini. Dan itulah ceritanya. Dan pemain-nya waktu itu kami 150 orang sekali naik pentas. Si Gorga ini pulang disambut dengan gondang Batak, semua orang manortor menyambut dia. Ia menangis menyanyikan permohonan-nya kepada orangtuanya “Amang dohot Dainang nanihaholongan marpamuati marohamuna…” (sambil dinyanyikan). Jadi ayah ampunilah saya yang dulu yang berbuat yang salah—sekarang sudah kembali.

TAPIAN; Ceritanya Gorga pulang dari mana?

GORGA: Setelah dia pulang dari luar negeri tadi, pokoknya dia manuntun lomonirohana mencari yang baik diluar , merantau ke luar negeri.

TAPIAN; Dalam momen apa waktu itu operet itu ditampilkan. Sehingga operet Arga Do Bona ni Pinasa “ABONANSA” sukses pementasan-nya?

GORGA; Sebetulnya yang membuat operet itu disukai karena caranya. Dulu kan yang kenal masyarakat Batak kan hanya operanya Tilhang Gultom, lalu paling orang nonton bioskop. Waktu itu sudah ada bioskop. Dan tiba-tiba kami tampil dengan warna yang berbeda. Dan terus terang kami beda dan tampil beda dari yang lain. Bobot pemain sekitar 150 orang. Dan di atas pentas kira-kira 40 meter kali 20 meter gedung olahraga Medan itu penuh seperlima gedung dijadikan pentas.

TAPIAN; Di teladan Medan?

GORGA; Bukan di teladan. Kalau yang di Teladan itu opera Natal—kalau opera Abonansa itu yang dipentaskan di Gedung Olahraga Medan. Jadi kalau ditanya tadi mengapa terkenal. Itu dulu, gayanya beda pemain-nya, jumlah pemain-nya klosal.

Dan semua itu lagu-lagu yang ia sampaikan itu adalah lagu Nahum Situmorang kita nyanyikan secara koor. Acara-nya megah dinyanyikan ratusan orang. Sesuatu waktu itu di kuping orang adalah beda. Lalu dalam pentas kita tunjukkan orang-orang profesi partonun (penenun), Panduda, pardenggke (penangkap ikan), barangkali mengingatkan penonton—bahwa ia pernah menjadi mardengke mambau bayon, mambau lage. Sehingga membuat orang tidak berkecil hati. Menjadikan sesuatu yang indah. Bahwa pekerjaan itu semua indah.

TAPIAN; Jadi asik dong ya?

GORGA; Semua pekerjaan yang membuat ia indah. (tik..tuk..tik.tuk) (sambil dinyanyikan seperti suara gondang). Semua pekerjan itu tenyata semua seni, marjala, margdoton.

TAPIAN; Mardoton itu apa?

GORGA: Mardoton itu menankap ikan dengan jala. Doton itu semacam jala. Kalau jala yang Anda kenal kan dilepar. Kalau ini adalah jala yang ditarik. Jadi penonton melihat itu bukan pekerjaan yang hina. Dilihatnya bisa ditunjukkan di pentas.

Nah, dan setiap pertunjukkan kami tidak mau mundur waktunya selalu on time. Ada tidak ada penonton tepat pada jam pertunjukkan kita tetap akan mulai. Terus main sampai selesai. Kalau Tilhang tutup dulu layar dan di situ diperdengarkan nyanyian atau lelucon—atau nyanyi. Kalau kita sekali buka dan sekali tutup—jadi non-stop jadi orang akan berganti-ganti. Kalau kita tidak ada istilah istirahat.

TAPIAN; Berarti dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk latihan?

GORGA; Kita latihan untuk satu pemetasan itu selama empat bulan. Jadi disinilah perbedaan dengan opera Tilhang Gultom. Jadi, nyanyianya adalah mengungkapkan nyanyian cerita. Jadi bukan antara adegan antara adegan dengan adegan. Semua dinyanyikan. “Nungga leleng hu tadikkon tano hatubuaki” (dinyanyikan) “Laho ahu mangaratto tu nadao, manarikkot I?

TAPIAN: Berarti personilnya semua harus pintar menyanyi dong?

GORGA; Iya dong. Iya lah. Sebab jika tidak ia bisa dijadikan hanya peran pendamping saja.

TAPIAN; berarti semua dialognya di opera itu dinyanyikan dong?

GORGA; Oh ada diolog, waktu dia mau kawin. Orangtuanya ngomong “Amang Gorga pir matondim-“ tetapi waktu sudah menikah “Horas ma amang sewaktu calon memberikan mertuanya memberikan ulos hela. Horas ma dainang gabe jala horas sahat tu joloan on. Maranak ma sapulu pitu, marboru masapulu onom. Gabe ma hamu gabe jala horas.

TAPIAN; Jadi ceritanya itu jadi runut waktu dinyanyikan?

GORGA; Iya. Lalu terus. Untuk membagi jambar,”jambar ni dongan tubu ale—rap hita manjalo ate. Kalau yang biasa kan

Tidak demikian.

TAPIAN; Enak didengar tapi penonton mengerti ya?

GORGA; Ya ialah. Orang akan heran ternyata kok bisa dinyanyikan rupanya. Jadi waktu itu membuat dia menjadi sangat terkenal waktu itu. Dan gorga itu sangat diminati oranglah, pokoknya penonton penuh terus. Lalu kami dibawa ke Rapat Pimpinan ABRI (RAPIM) waktu itu Jenderal Pangabean menjadi Panglima ABRI, Jenderal Tahir waktu itu sebagai Pangkowilhan.

TAPIAN: Apa itu Pangkowilhan itu?

GORGA:Panglima Koordinator Wilayah Pertahanan. Dulu kan Indonesia ini dibagi atas kowilhan-kowilhan. Dan di Sumatera Utara panglimanya Jenderal Tahir, beliau itu mendengarkan opera Argado Bona ni Pinasa itu di Parapat. Waktu itu datang raja Belanda Bernard—saya diminta membuat acara menyambut Raja Bernard opera Arbonansa itu. Dan diusulkannyalah kami untuk main di RAPIM ABRI di Jakarta. Dibawalah kami satu pesawat Hercules—lalu main di Istora Senayan Jakarta tahun 1972.

TAPIAN; Tim nya waktu itu bernama apa?

GORGA: Tim Arbonansa. Dan waktu itu kami main sampai lima malam. Berturut-turut.Istora Senayan penuh. Malah sewaktu kami sudah selesai masih datang penonton dari Bandung.

TAPIAN; Semua penontonya hanya untuk militer?

GORGA; Untuk militer hanya satu malam dan selebihnya untuk umum. Maka kami bikinlah pertujukan itu dua seri.

TAPIAN; Opera apa yang dipentaskan waktu itu?

GORGA; Arga do Bona Ni Pinasa itu tadi juga. Karena memang di Medan ia sukses. Kisah itu juga, mengenai pemuda.

TAPIAN: Atau ada dihubungkan dengan militer misalnya?

GORGA; Nggak,nggak kami tidak mau dipolitisirlah. Jadi untuk Rapim ABRI itu kami bikin adengan itu agak yang pas. Hanya dua jam semua dari cerita-cerita itu. Dalam Argado Bona ni Pinasa itu akan terungkap budaya Batak, Batak Toba, Karo, Mandailing, Batak Angkola. Sub-etnis. Ya itu seni tarinya, musiknya sudah terungkap dalam cerita itu. Bisa dilihat dari berbagai sudut; misalnya dari Suku Angkola, akan terungkap sisi musiknya. Seni tari Angkola.

TAPIAN; Waktu itu dijual tiket—dan panitianya ABRI itu?

GORGA; Mereka hanya menyediakan akomodasi dan perongkosan segala. Itu memang hari pertama, seri I malam ke II seri III, dan malam ke IV diulang lagi. Dan malam ke lima seri II lagi. Jadi waktu itu kami meminta pelanggan. Hari pertama pertunjukkan dari Medan begini-begini. Sampai ada orang menangis.

TAPIAN; Berarti gedung Istora itu penuh dong?

GORGA; Barangkali pementasnya seperlapannya kami pakai untuk pentas.

TAPIAN; Yang mendesain pentas itu siapa?

GORGA; Ya saya sendiri do saya yang mengarang cerita saya mengajari dan saya yang mendesain pentasnya. Khan saya yang tahu bagaimana seharusnya dalam pentas itu. Tidak mungkin orang lain mendesain, saya yang lebih tahu kebutuahn untuk opera itu.

TAPIAN; Barangkali Anda belajar dari panggung di opera Eropa itu?

GORGA; Sebagian. Tetapi saya ingin pentas itu dilatari alam Danau Toba. Jadi pas lah itu di Tapanuli Utara kan makin ke atas-makin melonjak. Bayangan Samosir itu.

TAPIAN; Sekarang tentang Musik Gereja. Anda kan seorang seniman pengarang lagu gereja yang terkenal. Misalnya lagu ARBAB begitu terkenal, apa yang menginpirasi Anda mengarang lagu itu?

GORGA; Saya sendiri tidak bermaksud menciptakan lagu supaya untuk terkenal. Memang sih saya punya obsesi dari dulu, untuk orang Batak. Saya melihat tubuhnya saja yang datang ke gereja tetapi hatinya tidak. Badan-nya saja yang menjadi Kristen—seharus bukan demikian. Manusia Batak itu dengan segala kekayaannya menjadi Kristen. Dengan perkataan lain bahwa perkataan lain bahwa seni budaya itu juga perlu dibawa ke gereja, jangan ditinggalkan di luar gereja. Jadi dibawalah ke dalam gereja. Dipersembahkan kehadiran Tuhan menjadi persembahan. Kita kan punya seni musik tidak semua suku mempunyai seni musik, tidak semua bangsa mempunyai aksara tulisan. Itu harus disyukuri orang Batak. Dan persembahkan pada Tuhan. Dan Irama gondang Batak itu sangat indah—dari sana inspirasi meciptakan Arbab. (sambil menyanyikan gondang)

TAPIAN; Kenapa kalau Eropa bisa menyanyikan dengan musik Modern, orang Batak tidak bisa…kira-kira demikian kali ya?

GORGA; Iya. Kenapa kalau Eropa mereka bisa menyanyikan not baloknya, itukan bukan berarti hanya musik Eropa yang bagus. Musik kita juga bagus untuk memuji Tuhan, kalau diolah dengan bagus. Dan karena Tuhan kan cinta segala bangsa. Membawa apa yang kita miliki. Alat untuk memuji Tuhan. Notasi ARBAB itu memang suara gondang, irama, ritme nya itupun Batak. Dan setelah banyak yang mendegar lalu saya buat bahasa Indonesia-nya. Sekarang semua menyanyikan diseluruh Indonesia, di Papua, di Ambon, di Manado dan dimana-mana. Tadi saya katakan saya mengarang itu bukan dalam rangka untuk menjadi terkenal—pertama hanyalah mengangkat musik Batak memuji Tuhan. Ternyata dia disukai orang. Dan kalau kemudian itu terkenal itu bukan karena saya usahakan atau karena kemampuan saya.

TAPIAN; Berarti waktu itu menciptakan Arbab itu mengalir sendiri?

GORGA; Iya itu mengalir sendiri dalam penciptaanya.

TAPIAN; Ada nggak syarat tersendiri untuk memunculkan imajinasi dalam mengarang setiap mengarang lagu. Apakah Anda harus berdoa dulu agar diberikan Tuhan pencerahan?

GORGA; Terus terang tidak selalu sih. Memang kadang kalah saya berdoa—tetapi tidak selalu. Terkadang dia datang tanpa diundang. Seakan terngiang diminta Tuhan untuk menulis, tidak selalu saya yang minta. Kadang-kadang bagun pagi tiba-tiba saya seperti mendengar sesuatu langsung saya tulis. Seperti orang menyanyi. Musik mengalun. Itu langsung saya tangkap, langsung saya tulis.

TAPIAN; Sejak umur berapa Anda bisa menciptakan lagu?

GORGA: Saya menyadari itu setelah berkeluarga. Setelah selesai dari Fakultas—mungkin belakang baru menyadari bahwa saya diberikan talenta, anugerah untuk menuliskan itu semua. Yang saya rasakan setelah saya dewasa. Kalau saya berpikir balik, mungkin juga sewaktu saya anak-anak sudah ada talenta itu–tetapi belum berhasil menyadari itu semua. Dan saya tidak tulis. Dan waktu itu saya juga belum pandai menulis not balok.

TAPIAN; Berarti Anda hanya belajar otodidak?

GORGA: Iya saya belajar otodidak, tidak pernah belajar dari seseorang. Saya tidak punya pengetahuan ilmiah tentang musik. Saya hanya belajar dari membaca buku, dari melihat orang lain. Saya kan tidak rugi melihat orang lain, dan saya kira saya tidak dilarang jangan meniru orang lain. Misalnya saya melihat gaya orang di televisi membawa paduan suara saya akan belajar. Dan yang saya contoh itu. Saya benar-benar diberikan Tuhan kemampuan merasakan melihat, memikirkan hal-hal yang baik untuk mengarang lagu itu. Baik cara-cara mengerakkan tangan atau saya sangat sensitive dengan hal itu. Maka kadang saya juga melihat cabang pohon itu sepertinya menari itu yang saya rasakan.

Dan saya diberikan citarasa MUSIKALITAS YANG PEKA. Kala menyanyi saya akan keluar suara,satu, dua, tiga dan empatnya. Padahal saya tidak pernah belajar formal mengarang mengaransemen lagu. Kalau dulu itu saya baca saja dari notasi yang sudah ada. Yang diaransem. Semua musik Handel saya pelajari, saya analisa sendiri saja.

TAPIAN; Berarti Anda koleksi dong karang seperti Mozart, Handel, Bettoven dan para pengarang musik gereja klasik itu?

GORGA; Iya. Kalau Anda melihat koleksi saya di kamar dan ruangan kerja saya—semua kaset yang bagus itu saya koleksi. Apalagi dulu waktu kaset menjadi barang langkah. Waktu saya ke Medan tahun 1984 itu sesuatu yang mahal. Tape record itu sesuatu di luar jangkauan. Dan begitu saya mampu beli kaset-kaset itu saya semuanya koleksi.

TAPIAN; Kalau Anda analisa kegeniusan Handel atau Mozart dan para Bapak musik gereja klasik itu, kira-kira ada yang dimiliki orang Indonesia?

GORGA; (dengan suara panjang berpikir) Saya rasa tidak ada. Saya rasa jika dibandingkan dengan kemampuan komponis-komponis itu tidak ada. Sebab peradapan mereka sudah duluan maju. Di Eropa ilmu musik sudah jauh dulu dari kita, seperti juga ilmu-ilmu lainlah. Dan praktek-praktek lain. Di Eropa jika mau jadi komponis mereka harus belajar sampai doktor—jadi mereka sudah betul-menjadi ahli dalam akademis musiknya. Baru terakhir karya mereka dinikmati umum. Jadi semacam Handle Morzsat John Bart, mereka pertama memperdalam ilmunya dulu. Kecuali ada beberapa orang ya—seperti Morsart ya umur 5 tahun sudah menciptakan opera. Jadi Morzart itu masih kecil sudah mekar kemampuan musiknya. Ia sudah menciptakan oratorium.

Kalau saya perhatikan di Indonesia ini ada memang beberapa orang untuk ahli musik kalasik dalam mengarang lagu. Antara lain: JB Sujasmin, tetapi tidak sebanding lah dengan pengarang seperti Handel Morsart, atau Betoven. Terutama aksetuasi dalam syair-syairnya. Kalau dari musik klasik itukan semua lagu-lagunya itu sudah sempurna. Dengan alur melodinya. Baik di dalam penempatasn syair-syairya. Kalau mereka kan sudah ilmiah lah. Ada juga orang Batak yang hampir mendekati yaitu Binsar Sitompul mendiang, sekolah musik di eropa. Ia jurusan seriosa klasik, lagu-lagunya juga bagus. Dan ia selalu menyadari pentingnya aksentuasi penekan kata-kata yang cocok pada melodi musiknya. Karena banyak pecipta-pecipta lagu yang melupakan itu.

TAPIAN; Bagaimana memang musik yang bagus itu?

GORGA; Jadi lagu-lagu yang bagus menurut saya adalah yang alur melodinya sejalan dengan alur syairnya. Dengan tekanan tekanan yang singkron, jangan berlawan tekanan kata dan melodi. Dan juga jangan melawan tata bahasa yang sudah baku. Resmi harus sealur dengan tata bahasa Indonesia yang resmi dan itu tidak perlu dibantah. Banyak lagu-lagu rohani atau lagu pop rohani yang timbul sekarang ini banyak yang tidak pas. Saya rasa yang timbul mungkin melodi-nya mungkin bagus tetapi penempatan kata-katanya itu sering bertabrakan tekanan molodynya. Seakan-akan tata bahasa itu bagai mereka itu tidak begitu penting.

TAPIAN; Bagaimana pendapat Anda perkembangan musik gereja. Misalnya; musik gereja karismatik yang didangdutkan. Dan ada pula memang gereja yang tidak mau memperbaharui lagu-lagu gerejanya sehingga terkesan itu-itu saja?

GORGA; Memang betul perkembangan gereja sekarang Anda musik gereja melakukan perkembangan. Lagu rohanilah sifat rohani yang sangat maju sampai yang Anda sebutkan tadi kadang-kadang menyebutkan irama-irama musik dangdut. Saya sendiri tidak keberatan pada hal itu. Memang jaman kan berubah. Pandangan orang berubah—perasaanya juga berobah, nilai-nilai pun berubah. Mungkin mereka tidak perlu memikirkan perlunya memasukkan lagu sebelumnya menseleksi lagu mereka yang mana—atau barang kali mereka tidak sempat memikirkan hal itu. Satu hal catatan saya tetap milihat lagu itu sebagai lagu yang bagus jika itu untuk memuji Tuhan. Dan selaiknya jika lagu-lagu gereja harusnya beda dengan lagu-lagu yang lain itu. Kalau sekarang ini saya sangat susah membedakan mana lagu gereja.Sekarang lagu cinta juga sudah demikian.

TAPIAN; Artinya Anda Prihatin?

GORGA: Saya kira tidak harus prihatin—kalau lagu itu juga bisa membangkitkan iman, imannya bertumbuh. Saya terus terang tidak keberatan. Tapi sekarang kita hampir tidak bisa membedakan mana lagu rohani-dan lagu yang lain. Malah tidak ada bedanya lagi. Kalau lagu-lagu sekarang ini adalah sangat susah membedakanya. Kalau dulu semacam lagu Handel Haleluya haleluya langsung ketahuan itu lagu gereja walaupun kita tidak mengerti. Misalnya; malam khusus sunyi senyap bintang ku bergema-langsung ketahuan oh ini lagu gereja. Lagu yang menceritakan kelahiran Yesus. Sekiranya kalau lagu sekarang diganti kata-katanya menjadi lagu gereja pasti tidak tepatlah. Kalau lagu Handel misalnya orang mengangap itu bukan lagu. Pop. Tapi kalau memang lagu itu memang membuat orang makin dekat pada Tuhan silakan saja. Tidak ada gunanya saya juga bilang saya keberatan. Kalau saya keberatan—apa mereka langsung berheti mencipta lagu seperti itu? Nggak kan—tergantung mereka. Banyak pemuda suka musik demikian itu tidak perlulah dibantah. Tetapi kalau ada lagu gereja–menjadikan orang menjadi melupakan Tuhan ya jelas kita tidak setuju. Tetapi kalau orang membuat orang mendekatkan kepada Tuhannya. Saya tidak kira menag sekarang banyak perubahan. Dulu yang kita anggap bagus sekarang tidak lagi bagus.

TAPIAN; Sekarang nilai-nilai itu terasa ya?

GORGA; Misalnya dulu kita harus hormat pada tulang—kalau sekarang bagaiman kita hormat harus jelas. Hormat sih hormat tetapi sampai sebatas mana. Kalau dulu itu tidak perlu dipertanyakan. Dan saya tidak setuju kalau orang sampai membakar ulos karena alas an ia lebih tebal imannya. Karena ia beranggapan bahwa Adat batk itu salah. Karena Tuhan Yesus juga mengampuni orang yang bersalah kok. Sekiranya ada kesalahan. Terus terang kalaui saya menganggap adat batak itu tidak salah. Kalau ada orang yang meminta berkat dari ulos dia yang salah mengartikan itu. Sebab ulos itu tidak salah dan ulos itu hanyalah lambang. Seperti orang eropa memberikan bunga, kalau demikian mengapa mereka tidak membakari bunga itu. Seperti orang eropa, Amerika, orang Kristen yang lebih dulu maju membawa bunga ke kuburan. Jadi tentang ulos itu mereka itu anggap dosa dan menjauhkan kita dari Tuhana—dia yang salah mengerti kok. Jadi itu yang salah atau tidaknya kan Tyuhan yang menentukan.

Bagaimana kedekan Anda dengan Nortier Simanungkalit, Alfred Simanjuntak, Gordon Tobing, dan masih banyak yang lain?

GORGA; kalau Gordon Tobing itu bukan pengarang penyanyi. Kalu hubungan saya Alfred hampir ketemu dua kali seminggu karena kami sama-sama di YAMUGER.

TAPIAN; Sebagai apa Anda di Yamuger?

GORGA; saya wakil ketua yayasan musik gereja. Dan wakil sebagai tim inti nyanyian gereja. Saya berusah mengeluti baru yang ada—ciptaan siapapun menjadi lagu-lagu yang layak. Menjadi lagu yang dihadiri. Untuk layak dihadiri orang-orang kristen—untuk layak dinyanyikan untuk lagu memuji Tuhan? Kalau ada syairnya yang kurang benar- kalau ada notasinya yang kurang enak. Yang perlu diluruskan. Tim Kmi ada. Kalau kami misalnya mengobah harus terlebih dahulu memberitahu mereka. Tapi tetap atas nama dia. Jadi hasil karya kami adalah pelengkap kidung jemaat. Tetapi itu dulu saya ingin dulu usah-usah pendagulu saya itu menterjemahkan. Misalnya lagu-lagu dari luar bahasa Indonesia itu lebih banyak ciptanya dari lokal. Jadi disitu anda akan melihat ciptan Subronto Kaatmojo, Jeri Silangit, lagu saya sendiri ada delapan buah dalam idung itu. Ada Arnolf Lapitulei, Piter Sutanto, Pontas purba, Otis Sumuki. Tetapi kalau lagu Nortir Belum.

GORGA; Bagus. Cuman gayanya masih tetap vokal group semuakan. Jadi jenisnya ada yang Andung, ada yang pop. Ada juga saya kira pencipta lgu yang bagus-bagus seperti misalnya; menyetuh perasaan kita contohnya si Tagor uang menciptakan Poda itu. Lalu, pengarang lagu raphita naduan hasian, tetapi itu mirip sekali dengan lagu ai dingot ho dope di najolo. Akord-akord masih sama.\

TAPIAN; Anda sendiri koleksi lagu-lagu Batak itu?

GORGA; semua yang bagus-bagus itu saya koleksi. Bagusa-bagus kok, cumin car menyampaikanya barang kali tidak tepat. Terlalu seragam, kalau kita beli kaset pasti vokal group. Suara satu dua tiganya sama. Lain misalnya kita kalau beli kaset Westlife, The Bytels, mereka itu pintar mencari warna musiknya. Dari warna lain. Kalau vokal group kita kita susah membedakan mana Ambisi, mana Amsisi sama—suara tiga suara satu suara tiga dibawah. Dan gayanya suka yang tinggi tinggi. Coba kalau Weslife sederhana tetapi eank didengar. Karena terlalu sama gayanya. Tidak pintar membedakan bagaimana membedakan ia dengan orang lain. Mungkin kalau mereka bis keluar dengan warna sendiri. Mungkin akan lebih laku. Dan diminati orang. Orang kalau dengar Beatels akan lebih cepat. Atau denga Westlife wah ini weslife. Saya sendiri susah membedak mana Lasidos, Mana Ambisi, mana Amsisi. Dulu pada eranya seperti The Mercy, Pamber adalah group-group musik yang menjadi pioner-pioner di Indonesia. Sebelumnya semua kaset dari luar negeri. Misalnya syair-syair Rinto Harahap itu bagus. Mereka memngebrak dan momennya tepat. Kalau Pambers kalau membuat lagu berbahasa Batak kurang pas. Sama sekali aksentuasinya itu kacau. Bahakan lagunya jika diterjemahkan kedalam bahasa Batak juga pasti tidak akan kena. Karena kami di Yamuger sepakat bahwa lagu yang bagus itu sejalan atara melodi dan syair. Mungkin penyanyi tidak menyadari itu tetapi jika diamati akan jelas janggal.

TAPIAN; berarti seakan dipaksakan lah ya?

GORGA; Ya seatu yang dipaksakan. Karena ada perbedaan yang hakiki dalam perbedaan bahasa terutama bahasa Inggris dan Indonesia. Bagaimana dengan Vicky Sianipar dia mengrasemen lagu Batak ke dalam pop bagaimana pendapat Anda?

GORGA; Terus terang saya mengakui si Vicky itu mempunyai talenta, namun mungkin ia salah pakai dengan keinginan untuk menduniakan lagu baru, mengarasemen lagu-lagu Barat. Menurut saya Barat malah menyukai lagu Batak itu apa adanya. Tradisional, justru disitulah lain dengan Barat. Lalu, kedua Vicky Sianipar telah mengotak-atik lagu Batak yang menjadi milik semua orang, kecuali Ia mengarang lagu Batak karya ia sendiri itu beda. Jelas banyak yang keberatan. Sebab itu tidak asli karya dia. Coba bandingkan lah dulu Nahum Situmorang dengan Vicky—menciptakan lagu sendiri syair sendiri. Nahum juga berhasil dan monumental walau ia pelajari gaya Barat tetapi syairnya kan Batak. Tidak ada yang keberatan pada dia karena itu ide orisinil. Sedangkan Viky tidak demikian. Walau memang harus diakui ia mempunyai citra rasa yang tinggi.

TAPIAN:Ternyata pemuda sekarang menerimanya?

GORGA; Karena pemuda Batak tidak pernah menerima lagu Batak apa adanya. Dan mungkin mereka sendiri tidak tahu bahwa ada lagu Batak yang asli. Atau mereka antipati, kalau dulu tidak percaya dengan produksi. Kita harus akui bahwa ratusan tahun yang lalu lagu Batak itu dicipta, masa kita tidak bangga. Ini jangan dianggap enteng. Atau akord yang sekarang lebih baik. Kita harus lebih jauh melihat bayangkan jaman kuno masih bisa menciptakan-lagu yang bagus-bagus. Sekala macam tidak ada, masa kita tidak bangga. Kita harus kagum—bagaimana mereka bisa menciptakan alam yang demikian. Jadi, generasi sekarang juga harus bisa merespon lagunya menjadi karya sekarang- jangan merobah yang dulu-dulu dengan maksud memperbaiki.

Nahum seorang legendaris musik—tetapi idenya yang orisinil itu adalah lagunya yang murni, itu harus kita salut. Yang timbul dari pikirannya. Saya (Vikcy-red) mengakui saya melihat ia punya potensi, tetapi jangan menganggu karangan yang bagus.

TAPIAN; Bisa diceritakan riwayat hidupnya? Dari keluarga, karier, pengalaman, pendidikan, karya-karya, penghargaan, kegiatan saat ini, obsesi?

GORGA; Orangtua saya seorang pensiunan camat, dulu dia camat di Pulau Samosir, Palipi dan Nainggolan. Lalu pindah ke Sipoholon, Rura Silindung sampai ia pensiun. Ibu saya boru Hutahuruk dari Lumban Lobu Sipoholan, Tarutung. Mereka dikarunia delapan, tiga laki-laki dan lima perempuan. Saya anak nomor tujuh.

TAPIAN; Istri dan Anak cucu?

GORGA; Saya menikah dengan Lela Ester Sitompul menikah tahun 1962 dikaruniakan Tuhan enam orang anak. Tiga laki-tiga perempuan, cucu sepuluh.

TAPIAN; Kalau nama orangtuanya tadi siapa?

GORGA; Julianus Predelin Gultom dan Ibu Marianna Naomas br Hutahuruk.

TAPIAN; Pedidikan?

GORGA; Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Ekonomi Perusahan selama kuliah dibayarin oleh perusahaan Tembakau, Deli. Lulus dari UI 1963. Lalu pulang ke Medan kerja.

TAPIAN; Selain di Yamuger kegiatan sehari–hari apa saja?

GORGA; Saya ini dalam umum 73 tahun sangat menikmati hidup ini. Karena istri masih sehat, anak dan cucu pun demikian. Dan, saat ini saya diminta untuk menjadi juri di berbagai pestifal lomba lagu gereja. Selain itu, sebagai pimpinan paduan suara melatih paduan suara dan menjadi juri di segala tempat di Indoensia ini. Ke Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, ke Manado, Makasar, ke Pakphak, ke Sorong ke Medan. Semua biayanya, dari penginapan dan segalam macam ditanggung. Istri saya saat ini umur 67 tetapi kami masih diberikan Tuhan kesempatan menikmati hidup ini. Kami dihargai orang, disayang orang, dan dibayar orang. Saya baru pulang tiga minggu dari Sorong Papua.

TAPIAN; Dalam rangka apa Anda ke sana?

Dalam acara Ulang Tahun Gereja Injili di Papua, kami di undang. Istri saya ikut. Memang syrat saya hanya itu istri saya harus ikut.

Semua kunjungan itu dalam rangka juri lagu gereja semua?

Iya hanya lagu gereja. Dan kenyataan, di Papua itu diadakan loba paduan suara semuanya ciptaan saya. Baik paduan suara bapak-pak, ibu dan anak-anak. Semua lagu saya, ciptaan saya yang mereka ambil dari buku-buku itu. Kami di sana tingga di hotel, diberikan trasfor dan kami dilayani sungguh baik. Bagus-bagus—memakan ikan yang segar dari lautan Papua, lalu memberikan pengarahan dari gereja-ke gereja. Gerejanya di sana mewah-mewah cantik-cantik dan menjadi juri di sana.

TAPIAN; Dan juri atas karya sendiri?

GORGA; Ya atas karya sendiri. Dan ada memang teman juri dari Papua sendiri dan dari Ambon dan saya dari Jakarta sendiri. Lalu, waktu mau pulang saya kami di antar seluruh panitia ke Bandaran. Demikian di Pontianak, Kalimantan Barat, Banjarmasin di Palangkaraya. Nanti tanggal 2 November in saya ke Sidempuan. Dalam rangka pestival PADUAN Suara Gejeja Kristen Protestan Angkola. Pada 2-4 November ini. Ciptaan saya Hymne dan mars GKPIA. Berarti hidup di hari tua ini berarti enjoy dong. Ada nggak obbsesi yang masih ingin di wujudkan?

Saya ingin masih banyak mencipta lagu yang banyak untuk Tuhan. Ketika saya di Sorong dalam tiga minggu di sana tercipta 10 lagu untuk anak-anak, khusus untuk lagu Natal Anak-anak. Lalu saya faxkan ke Yamuger supaya dibahas.

TAPIAN; bagaimana hubungan Anda dengan almarhum TD Pardede?

GORGA; Hubungan saya dengan TD Pardede alarhum itu tidak terlalu akrab dan jarang ketemu. Tetapi begitu dulu saya sampai di Medan berkerja di perkebunan—pernah dia meminta saya untuk pindah kerja sama dia.

TAPIAN; Pernah Ya?

GORGA; Iya, pernah untuk mengatur seni-seni yang ada di hotelnya itu. Tetapi maaf karena saya ikatan dinas dan saya menolak. Dia pernah melihat pertunjukkan opera Argado Bona Ni Pinasa itu. Kelihatanya beliau terpesona—dan ada juga memang dalam luar kuasa saya, maksud daya begini—saya ini kha ikut gereja GKP begitu kami sampai di Medan, pas waktu itu GKPI dan HKBP berpisah dari kelembagaan. Dan kearena begitu saya lihat teman dan kawan-kawan waktu di Medan itu bayak yang k gerja GKPI saya kembali ke situ. Dan itulah sebetulnya membuat saya tidak langsung menjauhnya saya dengan TD Pardede. Ia HKBP, saya ikut GKPI—saya tidak tahu persisi mengapa berpisah saya tidak mengerti itu. Tapi, waktu ia denga ada pertunjukkan arga do bona ni pinasa; sebenarnya acara itu untuk mencar dana untuk pembangunan gereja GKPI dia datang nonton. Tidak ada orang yang mengetahu bahwa ia datang menonton, setelah pertunjukkan selesai—baru dia datang ke pentas menyalami dan memeluk saya.

Itulah TD Pardede, ia mau menaggalkan hubungan yang tidak baiknya dengan GKPI hanya kerena menonton acara itu. Naik ke pentas dan menyalami saya dan barang kali ia kena mungkin oleh pertunjukkan itu. Lalu, paginya ia kirimkan parcel dan ucapan sukses atas pertunjukkan itu.

Dan pernah dalam satu pertemuan ia mengaku kepada saya dalam ruangan kerjanya tidak boleh ada kaset lain yang dibunyikan selain kaset saya. Karena waktu itu saya mebuat lagu-lagu popo kaset Batak. Lalu, saya pada satu ke sempatan ke Inggris singgah di singapura di rumahnya di Singapure—saya datang ke situ dengan selang di hidungnya—pokoknya dia sudah lemahlah. Dan saya dimintan menyanyikan lagu doa ibu. “Di waktu ku masih kecil gembira dan senang..” sambil dinynyikan. Ciptaan orang Baray yang dialihbahasakan Pohan. Itu ia minta saya nyanyikan. Dan setelah meninggal, saya juga pergi kemedan dan menyanyikan satu lagu. Sebetulnya tidak begitu istimewa hubungan saya tetapi beliau memberikan perhatian dari jauh. Hojot Marluga

Dinasti Sisingamangaraja

Polemik tentang Tuanku Rao

Polemik tentang Tuanku Rao sebagai salah satu keturunan dinasti Sisingamangara adalah bermula dari buku Mangaraja Onggang Parlindungan Siregar yang berjudul “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833”. Pongkinangolngolan alias Tuanku Rao alias Umar Katab adalah anak hasil perkawinan incest antara putri Sisingamangaraja IX, Putri Gana Sinambela dengan saudara laki-laki-nya Prince Gindoporang Sinambela. Gana seharusnya memangil uda pada Gindoporang, sedangkan Gindoporang memangil Gana boru. (Tuanku Rao, hal.59.M.O Parlindungan, 2007). Mohammad Said dalam bukunya “Si Singamangaraja XII” menjelaskan, bahwa Tuanku Rao adalah Orang Padang Matinggi dan bukan orang Batak (lihat Sisingamangaraja XII, Mohammad Said, hal 77-78). Hal itu pula yang dikatakan Buya Hamka. Gara-gara buku tersebut Buya Hamka menulis buku sangahan. Buku melahirkan buku.

MO Parlindungan menulis, karena aib itu, Ompu Sohalompoan Sisingamangaraja IX terpaksa mengusir mereka. Keduanya lari misir, menyelamatkan diri ke Singkil, Aceh. Disana lahirlah Pongkinangolgolan yang berarti menunggu terlalu lama dipengusian. Prince Gindoporang Sinambela bergabung dengan pasukan Aceh, berganti nama menjadi Muhammad Zainal Amiruddin, dan menikahi putri raja Barus. Sejak itu, Gana Sinambela membesarkan putranya seorang diri.

Sepuluh tahun kisah itu Sisingamangaraja IX wafat dan digantikan anaknya, Ompu Tuan Nabolon, adek laki-laki dari Gana Sinambela menjadi Sisingamangaraja X. Aib itu sudah dilupakan, Gana dan Pongkinangolgolan diundang kembali pulang ke Bakkara.

Namun, kehadiran mereka tidak direstui tiga orang datu bolon (dukun) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manullang. Dukun itu meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh Singamangaraja X, Pongkinangolngolan harus dibunuh. Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman pada bere yang disayanginya.

Tetapi Sisingamangara X tidak tega, lalu membuat sandiwara, Pongkinangolngolan dieksekusi dilakukan dengan pura-pura ditenggelamkan ke Danau Toba. Pongkinangolngolan diikat pada sebatang pohon, lalu tali dilonggarkan dengan Gajah Dompak, sembari menyelipkan satu kantong kulit uang perak ke balik bajunya, sebagai bekal hidup. Kemudian, Pongkinangolngolan dibawa solu (rakit) ke tengah danau dan dijatuhkan ke dalam air. Sudah pasti Pongkinangolngolan terapung hingga arus air membawanya terdampar di sungai Asahan. Tak pelak, ia ditolong dan diangkat menjadi anak oleh seorang nelayan bernama Lintong Marpaung.

Kira-kira umur 20 tahun, ia merantau ke Angkola dan Sipirok. Merasa masih trauma dengan masa lalunya, Pongkinangolngolan merantau ke Minangkabau. Di sana ia bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda.

Sementara, Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan gerakan Mazhab Hambali, meminta pada Datuk Bandaharo Ganggo untuk menyerahkan Pongkinangolngolan untuk didik. Apalagi desas-desus silsilah dari Pongkinangolngolan sebagai keturunan dinasti Sisingamangaraja telaha diketahui. Tuanku Nan Renceh menyusun siasat untuk mengIslamkan Tanah Batak.

Tahun 1804, Pongkinangolngolan masuk Islam dan berganti nama Umar Katab, Katab jika dibalik terbaca Batak. Umar Katab dikirim ke Mekkah dan Syria untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mengikuti pendidikan kemiliteran sebagai kavaleri Janitsar Turki.

Tahun 1815, Umar Katab pulang dari Mekkah dan ditabalkan menjadi panglima tentara Padri dan diberi gelar Tuanku Rao, oleh Tuanku Nan Renceh. Ada yang menyebut Tuanku Rau.

Azas Mamfaat

Perang Padri berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama di Sumatera Barat. Semangat Padri lahir dari beberapa tokoh Islam yang mendalami Mazhab Hambali, dan ingin menerapkan di Sumatera Barat. Dalam agama Kristen, Mazhab Hambali bisa disebut mirip gerakan puritan, aliran yang memengang teguh kemurniaan ajarannya, namun tidak sama.

Pasukan Padri mengunakan pakaian warna putih-putih. Pasukan Padri yang dipimpin Tuanku Rao bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan dan Utara.

Penyerbuan pertama Padri ke Tanah Batak dimulai dengan meluluhlantahkan benteng Muarasipongi yang dikuasai Marga Lubis. Diperkirakan pasukan Padri 5.000 orang pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri. Seluruh penduduk Muarasipongi dibabat habis. Basyral Hamidy Harahap yang menulis buku Greget Tuanko Rao menyebutnya mirip holocaust.

Setelah Selatan dikuasai Padri, mereka hendak ke Utara yang dikuasai Sisingamangaraja. Perang ini dimamfaatkan Klan Siregar, atas dendam mereka terhadap dinasti Sisingamangaraja. Salah satu keturunan Klan Siregar adalah Jatengger Siregar bergabung dengan pasukan Padri.

Tahun 1819, dari Selatan pasukan Padri berajak ke Utara untuk menyerang kerajaan Singamangaraja X di Bakkara. Perang ke Utara dimamfaatkan beberapa pihak. Terutama bagi Klan Siregar sebagai kesempatan balas dendam. Konon, Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, pernah menyerbu pemukiman Marga Siregar di Muara. Dalam perang tanding itu Klan Siregar kalah, Raja Porhas Siregar sebagai pemimpin tewas. Sejak saat itu dendam kusumat terus terngiang pada keturunan Raja Porhas Siregar. Memang banyak yang menyebut hal itu impossible, dendam berkepanjangan sampai 26 generasi.

Serangan Padri ke Dinasti Sisingamangaraja dimafaatkan Jatengger Siregar sebagai ajang balas dendam. Jatengger menyasar Singamangaraja X dan membunuhnya. Kepalanya dipenggal, ditusukkan dan ditancapkan ke tanah. Sementara, Tuanku Rao tidak terbetik menggagalkan pembunuhan terhadap tulangnya itu.

Tahun 1820, pasukan Paderi minggir dari Tanah Batak karena terjangkit virus kolera dan epidemi penyakit pes. Ada asumsi virus itu muncul sebab terlalu banyak mayat membusuk tidak sempat dikuburkan. Dari 150.000 orang tentara Padri, yang selamat hanya tersisa sekitar 30.000 orang. Lebih banyak meninggal karena virus tersbu.

Ada tiga asumsi yang bisa diambil dari kisah tersebut. Pertama perang Padri yang ingin menyebarkan agama Islam. Kedua, Klan Siregar yang memamfaatkan perang Padri membalas dendam terhadap Sisingamangara. Terakhir, ramalan datu Amantogar Manullang yang mengatakan, Tuanku Rao akan membunuh Sisingamangaraja X terbukti, walau tidak langsung dilakukan Tuanku Rao. Tetapi Jatengger Siregar sebagai anak buah Tuanku Rao.Hotman

Wanwancara dgn Cucu Sisingamangaraja XII

Piso Gaja Dompak

Siapa Mengkhianati Sisingamangaraja XII?

Tidak ada basa-basi. Seperti namanya, Napatar, yang berarti tidak ada yang disembunyikan. Terpancar bahwa dialah tempat keluarga mempertahankan wibawa dalam terang. Kesan pertama ketika bertemu dengan cucu Sisingamangaraja XII, kelahiran Siborongborong 13 Mei 1941, ini adalah hangatnya persahabatan. Sorot matanya tenang, tak ada kesan kuasa, apalagi kesaktian di sana. Namun, suami dari boru Pakpahan dan ayah tiga orang anak ini, bisa serius kalau diajak berbincang. Di bawah ini petikan wawancara Hotman Jonathan Lumbangaol, Jeffar Lumban Gaol, dan Chris Poerba dengan Raja Martahan di Napatar dalam bahasa Batak.

Apa yang paling mengesankan yang pernah Amang alami sebagai cucu Raja Sisingamangaraja XII?

Ketika di Bandung, semasa kuliah tahun 1960-an. Pada waktu itu akan diadakan pertunjukan sandiwara tentang Sisingamangara XII. Saya ditunjuk memerankan Sisingamangaraja. Tidak ada yang mengetahui saya adalah cucunya. Lalu, saat pergelaran berlangsung, ada undangan yang datang dari Jakarta melihat saya. “Kalian tahu siapa yang memerankan Sisingamangaraja itu?” salah seorang dari undangan itu bertanya kepada sutradara. Sutradaranya orang Jawa, tidak mengenal saya.

Sutradara dan mereka yang terlibat dalam pertunjukan jadi heran. “Pantas dia sangat tahu sejarahnya,” kata mereka. Mengapa saya tidak memperkenalkan diri sebagai cucu Sisingamangaraja? Karena yang saya inginkan yang dikenal penonton adalah Sisingamaraja dan bukan saya. Kejadian itu sangat mengesankan bagi saya.

Sebelum pementasan tersebut, ada seorang pelukis yang melukis Sisingamangaraja di panggung. Lukisannya persis. Sampai sekarang saya tidak tahu di mana lukisan itu. Yang saya ingat, waktu itu seorang pejabat tentara orang Batak yang menyimpannya. Sebelum melukis, pelukis tersebut mewawancarai saya seperti apa Sisingamangara itu. Pertunjukan tersebut diadakan di Gedung Nusantara Bandung. Begitulah penghargaan teman-teman saya yang bukan Batak terhadap Sisingamangaraja. Namun, di Bandung tidak ada Jalan Sisingamangaraja, hanya di Yogya yang ada (tertawa).

Sebagai keturunan Raja Sisingamangaraja apakah Amang pernah mengalami hal-hal yang gaib?

Saya kira tidak pernah. Hanya Raja Sisingamangarja yang memiliki kekuatan gaib, bukan keturunaannya. Namun, jika pun ada, hanya orang lainlah yang bisa melihat itu, bukan saya.

Mengapa tulang-belulang Sisingamaraja XII dipindahkan dari Pearaja (Tarutung) ke Soposurung (Balige)? Mengapa tidak ke Bakkara sebagai pusat dinasti Sisingamangaraja?

Sebenarnya yang membuat itu adalah Soekarno. Tahun 1953, Soekarno datang ke Balige dengan naik helikopter. Dia berpidato di lapangan yang sekarang disebut Stadion Balige. Dalam pidatonya ia mangatakan bahwa “Balige ini bagi saya sangat mengesankan. Pertama, karena ia sangat indah. Kedua, di Balige inilah untuk pertama kali orang Batak mencetuskan perang melawan Belanda (Perang Pulas).”

Setelah itu, masih di atas podium Soekarno menanyakan di mana kuburan Sisingamangaraja XII. Ada yang menjawab di Tarutung. Soekarno bertanya lagi, kenapa tidak dipindahkan ke Balige? Karena dari sinilah perang Batak yang terkenal itu dimulai. Itu kata Soekarno. Sejak itu muncul diskusi di kalangan para tokoh Batak. Raja Sabidan setuju. Dia adalah salah seorang anak Sisingamangaraja XII, yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala BRI Sumatera Utara.

Kuburuan di Tarutung di mana Sisingamangaraja dimakamkan adalah makam untuk para tawanan. Soekarno meminta, sebagai pahlawan, Sisingamangara seharusnya dimakamkan di taman makam pahlawan.

Umur berapa Anda waktu prosesi pemindahan tulang-belulang itu?

Saya masih ingat, ketika itu saya berumur sekitar 12 tahun. Sejak dari Tarutung rombongan pembawa tulang-belulang itu dikawal haba-haba (angin puting- beliung). Sementara rombongan hampir tiba di Balige, angin puting-beliung itu seperti pengawal, berjalan mendahului prosesi yang membawa tulang-belulang sang raja. Angin menyapu bersih semua kotoran yang ada di jalan dan di sekitar makam. Haba-haba itulah yang menunjukkan tempat yang menjadi makam Sisingamangaraja. Ini fakta, karena saya melihat sendiri kejadian itu. Tidak banyak orang tahu tentang hal itu.

Apakah Soekarno datang menghadiri prosesi?

Oh nggak. Waktu itu dia hanya mengirim telegram, mengucapkan selamat. Waktu itu kami hanya empat orang, cucu laki-laki dari Sisingamangaraja XII, saya dan dua adik saya, ditambah Raja Patuan Sori, ayah dari Raja Tonggo. Ketika prosesi itu berlangsung, hanya ayah saya, Raja Barita, yang masih hidup sebagai anak Sisingamangaraja XII.

Bisa dijelaskan keadaan keluarga SisingamangarajaXII?

Istri Sisingamangaraja XII ada lima; boru Simanjuntak, boru Situmorang, boru Sagala, boru Nadeak, boru Siregar. Boru Siregar sebenarnya adalah istri dari abangnya, Raja Parlopuk. Dia menikahi boru Siregar setelah Raja Parlopuk meninggal. Keturunannya yang sekarang ini hanya berasal dari dua anak, Raja Buntal dan Raja Barita. Anak laki-laki Sisingamangaraja yang punya keturunan adalah Patuan Anggi, Raja Buntal dan Raja Barita. Ayah saya adalah Raja Barita. Anak Patuan Anggi adalah Pulo Batu. Sebagai pahoppu panggoaran maka Sisingamangaraja XII bernama Ompu Pulo Batu. Pulo Batu meninggal saat berumur tiga tahun. Dia jatuh ke jurang bersama pengasuhnya. Kecelakaan itu terjadi saat rombongan Sisingamangaraja tercerai-berai di pengungsian.

Beberapa kali ada orang datang kepada saya, mengaku-ngaku “Ahu do Pulo Batu” (Sayalah si Pulo Batu). Tetapi, ah, tidak masuk akal. Masih muda mengaku-ngaku Pulo Batu. Kalaulah benar, dia seharusnya sudah lebih tua dari saya. Jadi saya tidak percaya. Cucu Sisingamangara XII yang masih hidup saat ini hanya lima. Sayalah yang paling tua.

Saat ini berapa keturunan Sisingamangaraja XII?

Cucu dan cicitnya yang laki-laki 14 orang. Jika digabungkan dengan keturunan putri Sisingamangaraja, dan berenya langsung tidak sampai seratus orang. Sekarang saya sudah buat silsilah Sisingamaraja XII, karena selama ini banyak yang mengaku-ngaku sebagai keturunannya.

Mengapa Sisingamanagara XII sampai tertangkap?

Menurut cerita, Sisingamangaraja tertangkap karena ada tiga orang yang berkhianat. Ada tiga orang yang setia pada Sisingamangaraja tertangkap oleh Belanda. Mereka disiksa, dipaksa untuk menunjukkan tempat persembunyian Sisingamangaraja. Tak tahan siksaan, dengan tubuh ditanam ke dalam tanah, cuma kepala yang tinggal, mereka menyerah dan menunjukkan di mana Sisingamangaraja berada.Tanpa pengkhiatan tersebut, Belanda takkan tahu di mana Sisingamangaraja berada.

Siapa pengikut setia Sisingamangaraja XII?

Di Samosir ada Ompu Babiat Situmorang. Dia dan pasukannya dengan teguh melawan Belanda. Kalau mereka bertemu Belanda akan mereka bunuh. Kulitnya dijadikan tagading (kulit gendang). Tagading seperti itu sampai sekarang ini masih ada di Ariamboho. Jadi merekalah panglima pasukan Sisingamangaraja XII yang setia dalam melawan Belanda. Di Hutapaung ada Barita Mopul.

Dari mana Sisingamangaraja membiayai pasukaannya?

Katanya, di daerah Dolok Pinapan, antara Parlilitan dan Pakkat, ada tambang emas. Dia tidak memungut pajak.

Tolong ceritakan tentang Si Boru Lopian?

Lopian itu tomboy. Tetapi, dia adalah putri kesayangan Sisingamangaraja XII. Karena itu pula, dia ikut berperang bersama ayahnya. Dulu, beberapa kali roh si Lopian merasuk ke dalam diri orang tertentu, orang itu trance, kesurupan. Sejak kami memindahkan saring-saring (tulang belulang) Sisingamangaraja XII ke Soposurung, Balige. Suara orang kesurupan itu berkata, “Pasombuon muna do holan ahu di tombak i,” katanya, yang berarti ”Tegakah kalian membiarkan aku sendiri di hutan itu.” Pertanyaan yang menyetuh perasaan itu ada hubungannya dengan kenyataan bahwa semua keturunanan Sisingamangaraja XII yang meninggal di pembuangan baik di Kudus, di Bogor, sudah kami satukan di makam keluarga, persis di belakang Tugu Sisingamangaraja XII di Balige. Oleh karena itu, kami pergi ke Dairi, ke Sindias, untuk mengambil tulang-belulang Lopian.

Tetapi, ’kan sudah tidak mungkin lagi diambil! Karena, konon, dia juga ditenggelamkan oleh musuh ke dalam sugai Sibulbulon dan ditimbun dengan tanah. Kami hanya mengambil secara simbolis, hanya segumpal tanah untuk dibawa ke Soposurung. Sejak itu tidak pernah lagi ada orang trance, kemasukan roh boru Lopian.

Saat pengambilan, kami juga mendapat ancaman dari bupati dan masyarakat setempat. Mereka tidak mau kuburuan Lopian dipindahkan. “Sampe adong do istilah tikkini si harungguan ikkon seketton nami angka namancoba mambuat i. ([Kalau di masa penjajahan] kami akan potong jika ada orang yang mencoba mengambil kuburan Lopian).” Setelah kita berikan pengertian, mereka minta kami untuk mangulosi mereka. Ada 43 marga yang harus diulosi. Sebenarnya, mereka mau meminta agar perjuangan Sisingamangaraja XII di Dairi tidak boleh dilupakan. Saya jawab, bukan kami yang menentukan. Tetapi, keluarga tidak keberatan kalau ada masyarakat yang meminta agar Lopian tetap di Dairi. Waktu rombongan yang membawa sejemput tanah dari Dairi ke Balige, aparat di Dolok Sanggul menghadang. Mereka tidak mau Lopian dibawa ke Balige. Namun, karena mobil yang digunakan mengangkut sejemput tanah tadi berbeda dengan mobil yang ditumpangi keluarga, maka loloslah mobil yang membawa sejemput tanah tadi.

Adakah pustaka yang diwariskan dinasti Sisingamangaraja?

Ada. Hanya sekarang berada di perpustakaan Belanda. Sisingamagaraja XI-lah yang menulis pustaha kerajaan, setebal 24 jilid. Semuanya dibawa Belanda. Keluarga pernah meminta ke 24 jilid buku itu, tetapi menurut mereka, syaratnya harus ada fasilitas gedung yang ber-AC. Karena belum ada kemampuan keluarga, maka rencana itu terkatung-katung.

Mengapa jabatan Sisingamaraja XII tidak diwariskan ke Sisingamaraja XIII?

Sebenarnya karena tidak ada yang meminta. Sebab jabatan Sisingamangaraja itu ditentukan oleh enam marga seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Biasanya dilakukan di Onan Bale, di Bakara. Pengangkatan Sisingamangaraja dilaksanakann kalau ada masalah genting; ada penyakit atau musim kemarau panjang.

Bagaimana dengan pendapat bahwa dinasti Sisingamangara tidak hanya berasal dari satu marga? Ada yang mengatakan Sisingamangara itu hanya roh, bisa datang kepada siapa saja?

Bisa jadi. Hanya yang dari satu sampai keduabelas jelas semuanya dari marga Sinambela. Memang, sejak semula kelahiran Sisingamaraja I adalah hasil pernikahan Bona Ni Onan dengan boru Pasaribu. Tetapi, kalau tidak Sinambela, saya kira dia harus dari keturunan Sisingamangaraja.

Apakah benar keluarga Sisingamangaraja dipaksa memeluk agama Kristen?

Tahun 1907 semua keturunan Sisingamaraja XII ditawan di Pearaja, Tarutung. Lalu, ada marga Tobing mengajari mereka untuk belajar agama Kristen. Setelah itu mereka dibabtis. Raja Buntal, Pangkilim, Raja Barita dan yang lain setelah besar, disekolahkan ke tanah Jawa. Sebenarnya mereka dibuang. Taktik Belanda untuk menghindari pengaruh anak-anaknya terhadap masyarakat. Jadi dua orang di Batavia, satu di Jatinegara, satu lagi di daerah Glodok. Lalu di Bogor. Yang di Kudus meninggal di sana, yang satu lagi wafat di Bandung.

Raja Buntal ketika itu lulus dari sekolah hukum. Setelah tamat, mereka kembali ke Tapanuli. Raja Sabidan di angkat menjadi kepala Bank di Padang Sidempuan. Sementara Raja Buntal ditempatkan sebagai wakil keresidenan Tapanuli mewakili Belanda di Daerah Toba. Sementara Ayah saya (Raja Barita) ditempatkan sebagai camat di Teluk Dalam, Nias. Sepulang dari Teluk Dalam, Ayah saya menikah dan ditempatkan di Tarutung. Perkawinannya di Porsea dibiayai oleh Belanda. Pernikahan Raja Buntal juga dibiaya dan dikontrol oleh Belanda. Undangan dan tata cara pernikahan harus dengan persetujuan Belanda.

Siapa Raja Tobing yang mengajari keluarga agama Kristen?

Raja Henokh Tobing. Sebagai tanda terima kasih dari Ompung boru Sagala atas kebaikan Raja Henokh Tobing itu, diberikanlah putrinya, Sunting Mariam, menikah dengan putranya.

Apakah Henokh Tobing keturunan Raja Pontas?

Bukan. Raja Pontas Tobing adalah orang yang memberikan tanah yang digunakan sebagai tahanan keluarga di Pearaja,Tarutung.

Raja Pontas Tobing dianggap menghianati Sisingamagaraja XII dan bersekongkol dengan Belanda. Satu waktu, Raja Pontas memanggil Sisingamangara XII untuk mendamaikan Raja Pontas dengan saudaranya. Begitu Sisingamangaraja muncul, maka yang datang ternyata Belanda.

Sebenarnya, bukan masalah misi zending, tetapi karena ia menjadi mata-mata Belanda. Dengan Raja Pontas Tobing-lah Sisingamangaraja XII bermasalah. Sekarang, keturunan dari Raja Pontas ini meminta tanah tadi kembali melalui gugatan. (Lokasinya bersebelah dengan Pusat HKBP, di Tarutung). Saya bilang, itu tanah sudah diberikan Belanda kepada keluarga, dan kami yang mengelola. Pemerintah memutusakan bahwa yang menempatilah yang memiliki hak kepemilikan atas tanah itu. Maka itu hak kami.

Sejak kapan Sisingamangaraja melakukan perang terhadap Belanda?

Setelah Belanda menjadikan Tarutung sebagai daerah jajahan tahun 1876. Setahun kemudian, berlangsung rapat raksasa di Balige, di mana Sisingamangara XII dan raja-raja di Balige, mengumumkan pulas (maklumat perang) menentang Belanda. Semua raja-raja Toba berkumpul. Keputusan rapat tersebut ada tiga. Pertama,perang terhadap Belanda. Kedua, tidak menolak zending. Ketiga, membuka hubungan diplomatik dengan suku bangsa yang lain. Ketika itu Barita Mopul dan Raja Babiat ikut dalam rapat itu.

Dari sanalah perang terhadap Belanda dimulai. Dimulai di Bahal Batu, di Humbang, di Lintong Nihuta. Dilanjutkan Tangga Batu, Balige. Dalam pertempuran pertama Sisingamangara XII masih bisa menahan gerak maju pasukan Belanda. Lalu perang di Balige Sisingamaraja mundur, dan mengubah taktik menjadi perang gerilya. Tahun 1883 hampir seluruh daerah Toba dikuasai Belanda. Menyingkirkanlah Sisingamaraja ke wilayah Dairi.

Tempat-tempat kramat Sisingamagaraja masihkah dilestarikan?

Hariara parjuaratan (sejenis beringin), pohon di mana Sisingamangara I dulu bergantungan, masih ada. Di bawahnya itu ada kompleks kerajaan Sisingamangaraja. Di bawahnya lagi ada Batu Siukkap-Ukkapon, sebuah lubang yang dalam yang ditutup dengan batu, di mana Sisingamangaraja selalu mengucurkan darah binatang persembahan. Karena dia berpantang makan darah.

Jepang pernah mencoba menyelidiki dan mengukur kedalaman lubang itu. Dua gulung tali diulurkan, tapi tidak menyentuh dasar lubang. Sementara tombak (hutan) Sulusulu berada di lokasi perkampungan marga Marbun. Saat ini, di sana sudah ada penandanya. Hutan ini adalah tempat pertama kali Boru Pasaribu, ibunda Sisingamangaraja I, mendapat wangsit bahwa dia akan memperoleh anak yang di kemudian hari akan menjadi raja. Di situlah dia sering marpangir (keramas), menyisir rambutnya dengan menggunakan jeruk purut. Boru Pasaribu acapkali berjemur dan bersemedi di atas batu.

Lalu dekat pantai Danau Toba ada Aek Sipangolu (air kehidupan). Di dekatnya terhampar Batu Hudulhundulan, tempat istirahat Raja Sisingamangaraja. Tak jauh dari situ ada hariara na marmutiha (beringin). Katanya, kalau cabangnya patah menandakan Sisingamangaraja yang telah digantikan wafat. Kalau ratinganya yang patah, berarti ada keturunannya yang meninggal. Kalau ada dari keluarga raja ini berpesta, maka daun-daunya akan ikut menari-nari. Makam Sisingamaraja XI ada di Bakara.

Apa arti lambang di bendera Sisingamangaraja itu?

Kalau yang putih menggambarkan partondi hamalimon, tentang agama. Yang merah parsinabul dihabonaran, artinya menjungjung tinggi kebenaran. Yang bulat menggambarkan mataniari sidompakon, artinya matahari tidak bisa ditantang, mengambarkan kekuasaan Sisingamangaraja. Sementara delapan sudut melambangkan delapan penjuru angin. Pisau kembar mengambarkan keadilan sosial. Capnya menggunakan aksara Batak dan Arab, terbaca ”Ahu Sahap Ni Omputta Sisingamangaraja Mian di Bakkara” (Saya adalah cap raja kita Sisingamangaraja yang bermukim di Bakkara).

Piso Gajah Dompak, di mana dia sekarang?

Di Museum Nasional. Tahun lalu, saya ke sana melihat Piso Gajah Dompak itu. Dulu, sebelum diberikan kepada negara, Gajah Dompak disimpan oleh Sunting Mariam, putri Sisingamangaraja XII. Saya ingat cerita namboru Sunting Mariam, di pangkal pisau itu ada delima merah merah, dan itu juga saya buktikan di museum.

Ada foto asli Sisingamangaraja XII?

Tidak ada foto aslinya. Waktu Sisingamangaraja tertembak bersama kedua anaknya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi, Belanda membawa jenazah mereka melalui Salak, Sionomhudon, Parbuluan, Paropo, Panguruan, Balige sampai ke Tarutung. Di Balige, sebelum sampai ke Tarutung, penutup jenazah dibuka, kondisinya sudah bengkak. Jenazah dipotret, tetapi tidak berhasil, hangus. Yang ada foto Sisingamangaraja XI, ayah Sisisingamangaraja XII.

Tidak inginkah keluarga, pemugaran di Bakkara itu biayanya dari pampasan perang/Belanda?

Soal pampasan perang sudah diserahkan kepada pemerintah pusat. Semua dana pampasan sudah diserahkan kerajaan Belanda kepada pemerintah Republik. Tetapi, dana tersebut tidak ada yang disediakan khusus untuk pemugaran Bakkara. Kalau keluarga ingin mengajukan tuntutan pampasan perang secara langsung kepada Belanda, harus melalui persetujuan pemerintah.***

Wawancara Prof Bungaran Saragih

Kalau Batak tak menerima kenyataan pahit ini,

makin mundurlah mereka

Bungaran Saragih, 63 tahun, memulai debutnya sebagai mahasiswa bidang sosial ekonomi di Institut Pertanian Bogor tahun 1971. Kemudian, dia melanjutkan pendidikan di North Carolina State University, Amerika Serikat, dan menyelesaikan pendidikan tingkat doktoral tahun 1980. Kembali ke Indonesia, dia diangkat menjadi guru besar IPB. Puncak pencapaiannya adalah ketika tahun 2000 dia ditunjuk menjadi Menteri Pertanian pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, dan posisinya itu mantap bertahan ketika Megawati Soekarnoputri menempati kedudukan Orang Nomor Satu sampai tahun 2004.

Ramah, hangat, antusias dalam membicarakan sesuatu masalah, dan berterus terang, sebagaimana kebanyakan orang Batak. Itulah kesan yang tertangkap ketika Dolorosa Sinaga, Martin Aleida dan Hotman J. Lumbangaol martandang ke rumahnya yang asri dibilangan Bogor, awal Juli lalu.

Yang membukakan pintu untuk TAPIAN adalah istrinya, wanita Jepang, yang mempersembahkannya seorang anak putri satu-satunya. Bungaran sendiri, menurut pengakuannya, tak bisa berbahasa Jepang. Mengapa? ”Bahasa kami adalah cinta, kami menggunakan Inggris,” katanya berderai tawa.

Ruang tamunya didominasi sebuah lukisan yang menampilkan tokoh teladan dari Sidamanik itu, yang sedang menggendong seekor orangutan, sebesar badan tuannya. Bungaran berbicara dan banyak tahu tentang orangutan. Tak heran, karena kedudukannya yang terakhir adalah Ketua Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo. ”Jadi menteri, sudah. Mau jadi presiden, berat. Saya kira, sekarang, penggilan hidup saya mengurusi orangutan, karena sudah capek mengurusi manusia,” lagi-lagi dia tertawa.

Meskipun dia seorang profesor, Bungaran mengaku tidak ahli mengenai pendidikan. Namun, pengalaman pribadi dan pengamatannya mengenai paradigma budaya Batak, terutama di bidang pendidikan, menarik untuk disimak. Berikut petikannya:

Batak termasuk etnis yang menempatkan pendidikan pada posisi yang sangat penting dalam membangun tatanan kehidupan mereka. Hasangapon (kehormatan), hamoraon (kekayaan), hagabeon (keturunan) sebagai nilai, menurut orang Batak, hanya akan bisa dicapai melalui jenjang pendidikan. Apakah Amang melihat munculnya orientasi baru pada orang Batak dalam upaya mereka untuk mencapai ketiga nilai tersebut?

Memang, telah terjadi perubahan paradigma pendidikan di kalangan orang-orang Batak. Dulu, orang Batak mendapat pendidikan melalui zending, yang datang tidak hanya membangun gereja, tetapi juga sekolah. Belakangan, sesudah merdeka, ketika mucul ilusi mengenai Republik yang bisa mengerjakan apa saja, maka orang Batak mendapat pendidikan secara massal, karena dilaksanakan dengan menggunakan satu sistem dan dilaksanakan secara nasional.

Dulu, sekolah-sekolah gereja lebih bagus dari sekolah pemerintah. Sekarang, sekolah pemerintah lebih kaya dari sekolah-sekolah gereja. Tetapi, sekolah gereja dulu lebih bagus dari sekolah pemerintah sekarang. Mutu dan paradigmanya juga berbeda.

Bisakah Amang uraikan lebih rinci?

Kalau dulu, di sekolah-sekolah zending itu orang diajar untuk pintar dan berkarakter. Pintar dan berkarakter! Makanya orang Batak yang lulus dari sekolah zending menjadi pemimpin-pemimpin nasional di Republik ini. Sumbangsih dari sekolah zending sangat besar dampaknya.

Nah, intinya, dulu, anak-anak dididik menjadi pintar dan berkarakter. Pintar dan menguasai ilmu pengetahuan. Karakternya itu apa? Karakter untuk maju dan kerja keras. Karakter jujur, karakter untuk berani karena benar. Oleh karena itu, anak-anak orang Batak yang mendapatkan pendidikan pada tahun 1920-an sampai awal 1960-an menjadi manusia yang memiliki karakter. Mereka ahli matematik. Dan memang orang Batak suka matematik. Dengan pengetahuan matematika mereka mudah mengerti sains, teknologi, juga seni, karena logika mereka yang bagus.

Dengan berkarakter baik mereka bisa menguasai diri dan mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi. Sesudah tahun 1960-an, setelah negara mengambil-alih pendidikan, maka sekolah negeri ada di mana-mana. Karena negeri berpenduduk begitu besar, yang ingin membangun, maka diciptakanlah sistim pendidikan yang massal.

Apakah Amang melihat perubahan sikap pada orang-orang Batak dalam kaitannya dengan pemahaman tentang pendidikan yang seharusnya menghasilkan orang-orang yang pintar sekaligus berkarakter? Bukan asal lulus saja dari jenjang pendidikan tertentu.

Kalau dulu, orang Batak menyekolahkan anaknya supaya pintar. Belakangan mereka mengirimkan anak ke sekolah untuk dapat bekerja. Asal dapat kerja! Dan ini perubahan yang sangat mendasar sekali. Padahal, yang berpendidikan dan berkarakter, nanti juga secara otomatis akan mempunyai pekerjaan. Tetapi, kerja bukan tujuan.

Nah, orang Batak langsung pada out put-nya. Proses menjadi tidak penting. Pokoknya hanya bagaimana supaya mendapat kerjaan. Pintarnya nomor dua, karakternya nomor dua. Karena tujuannnya setelah lulus bagaimana mendapat pekerjaan. Bukan untuk berkarakter, maka untuk lulus membayar pun mereka mau. Dan itu ’kan yang terjadi di kampung kita, yang membuat orang Batak rusak.

Saya masih ingat, waktu itu saya di SMA. Orang takut tidak lulus, lalu mereka membeli ijazah. Saya nggak mau! Kawan-kawan saya yang memulai itu, sebelumnya kita tidak pernah tahu yang seperti itu. Ya, nggak ada budaya seperti itu. Karena waktu itu tidak perlu tes masuk ke perguruan tinggi negeri. Pokonya ijazah cukup.

Ijazah menjadi sangat penting supaya mendapat pekerjaan. Untuk dapat pekerjaan, beli juga tidak apa-apa. Ya, ijazah bisa dibeli, tetapi prestasimu di masyarakat tidak bisa dibeli kan!?

Kalau begitu filosofi Anakkhon Hido Hamoraon Di Ahu masih dipengang orang Batak?

Memang. Memang, justeru karena itulah dia mau menyogok. Nggak mau ketinggalan anaknya itu ’kan? Itulah basic orang Batak.

Sampai-sampai untuk menjadi bupati saudara-saudara si calon bupati mengumpulkan uang supaya jadi, ya?

Jangankan jadi bupati mau menyogok, jadi guru saja harus menyogok. Itulah yang merusak sistim pendidikan, dan itulah yang merusak orang Batak!

Sekarang orang tidak merasa janggal ataupun salah kalau menyogok supaya lulus dan mendapatkan ijazah. Orangtua juga mendidik anak-anak mereka, kalau mau dapat pekerjaan harus menyogok. Itulah budaya yang muncul di kampung kita. Dan, itu tidak dipersoalkan orang lagi. Sudah biasa… Memang begitulah. Kalau tidak begitu mereka tidak dapat apa-apa.

Nggak tahu kapan datangnya sikap seperti itu. Mungkin disebabkan persaingan yang berat. Jadi, hasil jangka pendek yang dipikirkan, tanpa menghiraukan akibat jangka panjang. Barangkali orang Batak tidak sabar untuk menempuh proses yang panjang. Mereka ingin yang cepat.

Kalau pernah Amang renungkan, apa yang telah mengubah paradigma pendidikan tersebut? Atau memang ada yang salah dalam filosofi tentang tiga nilai yang dijunjung dalam budaya Batak? Mungkin, memang semangat zaman sekarang yang menuntut jadi begitu.

Saya juga tidak mengerti. Mungkin karena kompetisi yang makin ketat, karena tututan hasangapon, hamoraon, hagabeon itu.

Kalau dibandingkan dengan etnis lain, boleh dikatakan orang Batak memberikan perhatian yang lebih tinggi pada bidang pendidikan? Bisa Amang uraikan mengapa?

Saya tidak tahu. Saya tidak tahu. Saya tidak bisa menjelaskan hal itu.

Ada yang mengatakan paradigma itu lebih terdorong dengan kedatangan Nommensen, yang dianggap sebagai pembawa budaya baru ke Tanah Batak?

Ya pastilah itu. Pastilah karena Nommensen. Cuma, bagaimana kaitannya, saya nggak tahu menjelaskannya. Saya pikir, ya, itu, kembali yang tadi. Keinginan untuk sekolah. Dulu pintar-pintar. Saya kira saya sekolah pada masa transisi, di tahun 1960-an. Jadi, setelah Orde Baru-lah, pemerintah menyelenggarakan pendidikan massal. Sampai tahun 1964 sekolah bagus. Jadi, sejak zaman saya, mulailah terjadi pengrusakan. Begitulah yang saya lihat. Ya, memang begitulah keadaan di seluruh Indonesia.

Dulu, orang Batak agak menonjol, sekarang tidak lagi ’kan!? Makin mundur, mundur terus. Anak-anak kita dulu, kalau datang ke Universitas Indonesia, kalau datang ke Institut Pertanian Bogor adalah orang-orang yang dihormati kemampuannya. Karena mereka belajar tidak hanya untuk pintar tetapi juga berkarakter.

Kalau orang Batak ingin menojol lagi, pertama-tama harus ditekankan pentingnya pendidikan di keluarga. Pendidikan yang benar untuk pintar dan berkarakter itu diperoleh di rumah. Untuk pintar dan berkarakter itu tidak bisa dipompa, dipercepat, apalagi lewat pembelian.

Bolehkah Amang ceritakan sekilas, bagaimana Amang menempuh pendidikan semasa masih di kampung dulu, di Sidamanik, Pematang Siantar?

Yang mengajar saya adalah ibu saya dan ayah saya. Peranan ibu jangan diabaikan. Pendidikan dimulai dari rumah. Yang salah pada kita adalah kita serahkan pendidikan anak kita ke sekolah. Saya termasuk yang beruntung. Saya mendapat pendidikan langsung dari orangtua saya.

Saya ambil contoh. Bapak saya begitu pulang dari kantor, dia kerani di kantor kecamatan, dia bawa koran, Waspada dan Mimbar Umum. Sebelum makan siang, kita bertiga berebutan membaca koran itu. Bapak saya juga yang mengajari kami musik.

Habis makan siang, kami diajak ke ladang, sumber utama penghasilan keluarga. Karena penghasilan ibu saya sebagai guru, dan gaji Bapak saya sebagai kerani, tentu tidak cukup untuk menyekolahkan kami. Ada proses pendidikan di sini. Saya diajari bertani, yang intinya memahami tentang perlunya proses untuk mencapai hasil. Kalau mau panen tunggu delapan bulan untuk singkong, tunggu empat tahun untuk cengkeh. Tunggu enam minggu untuk kangkung. Ada perjuangan di situ, dan ada cita-cita di situ.

Jadi, harus ada proses untuk mencapai hasil. Kalau sekarang jarang ada yang begitu. Mau panen tanpa pernah mau menanam. Ada proses yang dilangkahi, misalnya, untuk mendapatkan ijazah, dengan membeli. Ini yang salah, terlalu mengharapkan hasil dengan mengabaikan proses. Entah bagaimana, sejak anak-anak saya tidak setuju itu. Ibu saya guru. Saya kira dia takkan mau menerima keadaan itu. Jadi, pendidikan yang utama ada di dalam keluarga. Kalau di keluarga sudah solid maka di tengah masyarakat akan mudah mengadaptasikan diri. Bersekolah itu untuk mendapatkan kemulian.

Sekarang, orang-orang kita yang maju, adalah yang bersekolah di Kalimantan, di Papua. Mereka masuk ITB. Masuk UI. Bukan lagi dari kampung kita. Dari kampung kita jumlahnya makin lama makin sedikit. Karena tujuan bersekolah di sana sekarang ini adalah untuk bekerja. Bukannya bersekolah untuk pintar, berkarakter yang mulia. Kampung kita semakin berubah. Mau jadi guru harus bayar. Budaya bayar itu tak boleh dibiarkan. Orang tidak mau membicarakan soal ini. Tetapi, saya mempersoalkannya.

Sekarang, orang lain sudah lebih menonjol dari orang Batak. Sebab mereka merupakan produk dari satu sistim pendidikan yang disamaratakan. Karena jumlah kita lebih kecil, maka secara kuantitatif kecil pula lah kita. Sedangkan dulu, sekalipun yang dipersiapkan gereja jumlah kecil, namun pengaruhnya secara nasional relatif besar. Sekarang kita jadi lain.

Makanya orang-orang yang cemerlang dari Batak, termasuk kampiun-kampiun catur juga sudah hilang.

Sudah hilang! Ahli matematika kita juga sudah hilang. Sekarang pendidikan sudah kacau. Menurut pendapat saya ini satu kenyataan, jangan menutup diri.

Nggak ada pendidikan yang baik lagi. Tidak ada lagi pendidikan karakter. Kenapa kita bisa mengatakan seperti ini, karena dulu kita pernah memiliki sistem pendidikan yang bagus. Kita yang merasakan itu, kita juga merasakan yang sekarang ini. Orang lain mungkin juga merasakannya, tapi mereka menganggapnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tetapi, saya harus mempertanyakannya.

Mungkin ada yang tersisa dari pengalaman Amang sebagai Menteri Pertanian dan kaitannya dengan merosotnya karakter orang-orang di Tanah Batak, yang bisa dibagi dengan publik?

Waktu saya jadi menteri, saya tidak populer di kampung saya. Kenapa? Karena saya tidak bisa dan tak boleh memberikan proyek dengan sembarangan. Ada yang bilang begini: “Kapan lagi kau, sudah menteri kau…” Lalu saya bilang saya tidak punya uang. Maksud orang itu agar saya memberikan sumbangan yang besar-besar ke gereja, hasil korupsi saya. Saya bilang, kalau mau punya uang, saya harus korupsi. Orang itu dengan cepat menjawab: “Hasil korupsi juga nggak apa-apa…” katanya. Mau bangun gereja dari hasil korupsi… Bagaimana ini? [Bungaran menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir.]

Begitulah budaya kita, yang kita sebutkan karakter tadi. Itu yang mereka lakukan. Dan pemimpin yang disenangi orang Batak supaya melayani yang seperti yang tadi itu. Karakter yang sudah rusak itu. Supaya jangan diomelin, dilayanilah apa yang dimaui orang itu ’kan?

Saya mengatakan yang benar. Saya tidak peduli, sebab saya berpikir untuk jangka panjang. Sumbangan saya kepada keluarga saya, kepada kampung saya, adalah dengan memberikan contoh. Orang Sidamanik yang 22 kilometer dari Pematang Siantar bisa menjadi menteri. Saya bilang di kampung halaman saya, kalau Bungaran Saragih bisa, maka kau juga bisa. Apa bedanya Bungaran Saragih dengan yang lain, kalau mereka juga mau menempa diri. Saya telah memberikan contoh, contoh yang baik. Menjadi orang yang pintar dan yang berkarakter itulah yang harus dikejar.

Kalau kita melihat dari sisi strategis, bisa nggak menurut Amang pendekatan pendidikan lewat budaya?

Bisa, kenapa nggak bisa!? Saya bilang, kita bisa memberdayakan gereja. Kita juga bisa memanfaatkan lembaga-lembaga marga. Ngomong soal lingkungan dulu, marga tidak kita pakai. Sekarang mari kita pakai. Misalnya, marga Sinaga mempunyai lembaga pendidikan bukan untuk Sinaga saja. Yang lain kan tak ada alasan untuk menolak. Yang harus ditanamkan adalah bahwa tak ada jalan gampang menuju sukses. KM Sinaga sudah tunjukkan itu dengan rencananya mendirikan Universitas Nehemia. Proses sukses itu sangat sulit. Kalau orang Batak tidak menerima kenyataan yang pahit ini, maka makin mundurlah mereka.

Di masa lampau, gereja memainkan peran penting. Apakah Amang beranggapan bahwa gereja bisa mengambilalih perannya yang sudah sudah hilang itu? Untuk itu gereja memerlukan pemikiran ulang, rethinking, mengenai perannya. Pendapat Amang?

Gereja merupakan salah satu institusi yang kita miliki. Pendidikan butuh organisasi. Organisasi yang bergerak secara sisitematis. Organisasi yang memiliki resourses. Pendidikan itu mahal. Kalau bekerja secara individual berat. Karena itu, harus ada yang mampu mengorganisir. Marga-marga juga bisa, walau belum terbiasa untuk itu. Karena selama ini marga hanya berperan sekedar kumpul-kumpulan saja. Peran marga perlu ditingkatkan. Kalau melalui marga, kita bisa membina kekompakan. Dan berkelahinya juga kurang ’kan? Ada yang berkelahi, tetapi kalau dibadingkan dengan gereja atau partai, relatif lebih damailah.

Di dalam marga konflik relatif kecil. Di dalam marga ada istilah “lokma ibana majo”(dialah dulu yang kita dukung) ’kan gitu? Kalau di partai politik dan di gereja ada kebiasan menantang,“Boasa ibana, boasa dang ahu”(Mengapa harus dia kenapa bukan saya) yang membuat keadaan jadi sangat sulit. Kita harus elakkan konflik. Banyak energi kita habis hanya untuk menyelesaikan pertengkaran yang tidak bermanfaat.

Jadi, harapan saya pada marga. Ini kita belum coba. Kalau individu-individu ’kan sudah ada TB Silalahi, Luhut Panjaitan, dan KM Sinaga. Kalau individu, jangan-jangan nanti sudah gogo (habis tenaga). Supaya upaya ini sustainable kita harus balik kembali pada keluarga. Karena pendidikan yang tepat adalah yang bertumpu pada keluarga. Kita harus bilang ini. TAPIAN harus katakan ini! Lebih baik orang sakit hati pada saya sekarang. Tetapi, nanti, mereka dengan sadar akan mengatakan ”benar yang di katakan si Bungaran.” ***

Cerpen (2)

SURAT WASIAT HUTA BOLON

Cerpen: Sihar Ramses Simatupang

Mulanya saya tak ingin menyebarkan surat ini pada kalian,
sepenggal surat lontar beraksara batak karya moyang kami;
diterjemahkan kembali oleh kakek saya dalam ejaan van Ophuysen
(1900-1947). Saya sempat dilanda perasaan takut dan khawatir.
Kini saya menulisnya ke dalam ejaan yang disempurnakan.
Maafkan saya, Opung… Semua demi khasanah kebudayaan Nusantara kita.
(Richard Simabana, keturunan Tuan Opparan ke-6)

# # #

Akulah, Tuan Opparan, leluhur suku marga Simabana, yang dulu pernah
menjadi penguasa tanah beratus hasta dari sisi timur angin Danau Toba:
Huta Bolon.
Itu wilayah yang luas. Tapi tak akan aku sebut huta kecil asal tanah
moyangmu itu. Biarlah menjadi rahasia selamanya, sampai aku mati.
Akulah salah satu penghalau utusan penguasa Onderneming Gubernur Van
den Bosch, si mata biru, di Batavia. Utusannya itu, Kolonel Elout,
ingin menguasai Minang tahun 1840, hendak masuk pula ke tanah Batak.
Ahu, na manurat wasiat on tu hamuna, angka pahompu pomparan Tuan
Opparan, sian marga Simabana *). Moyang dari kalian, yang mewariskan
catatan ini, dari kitab lontar, beberapa ratus malam sambil menatap
bening air di Tao Toba, harta kita, yang dianggap juga harta dari
marga lain, pomparan halak Batak.
Tao Toba yang rahasia, sampai ratusan tahun kemudian orang-orang pasti
akan mendengar, menjelajah dan menjajahnya!
Akulah ompung dari satu marga yang kubuat sendiri setelah terbuang
oleh sebuah keturunan marga besar. Sesekali pun, jangan menaruh dendam
kepada marga besar itu. Justru karena dosa-dosa di darahku aku
terbuang, dan karena terbuang itu, aku pergi dari huta mereka,
menemukan tanah ku sendiri, tanah kita.
Tahukah kalian Tano Panombangan? Tanah terbuang buat keturunan yang
dikutuk karena berhubungan cinta dan berhubungan terlarang dengan
orang semarga.
Ya, tak akan kusebutkan kepada kalian dari marga mana aku berasal.
Sebab kurahasiakan juga hubunganku dengan seorang gadis semarga yang
berarti itoku sendiri, adikku, agar tak diketahui orang banyak soal
aib ini.
Bah! Mana aku tahu dia perempuan semargaku!
Biarlah sejarah Simabana**) menjadi garis sendiri yang tanpa asal-usul
seperti silsilah yang terputus, hanya berpuncak dan berbapak pada satu
marga: diriku.
Telah kutelusuri lekuk sungai dari puluhan mata air sebagai orang yang
terusir. Kutarik opung borumu, moyang kalian, seorang gadis berkulit
kuning yang langka di kalangan masyarakat Batak. Perempuan yang tak
pernah kukenal, karena masih berkilo-kilo meter jaraknya dari
kampungku sendiri.
Sudah kukatakan tadi, siapa yang menyangka bila dia masih satu marga
denganku? Alih-alih, ternyata sama menjunjung satu garis keturunan
yang diakibatkan simpul dan darah dari klan yang sama..
Kami mabuk, mabuk asmara . Hingga tanpa sengaja, sebuah binanga
menjadi rahasia tentang terciptanya seorang manusia di dalam rahimnya.
“Aku akan mengikutimu sampai akhir hayatku, ito…” katamu ketika itu,
menahan tangis yang tak tertahankan.
Di antara kelelahan melintasi beberapa onan, puluhan binanga, beberapa
dolok, mengitari putaran tao toba dan pergi ke arah mata angin yang
tak pernah kami kenal dan kami datangi sebelumnya.
Sepanjang perjalanan, aku memuja keteguhan hatinya.
Cerita yang diungkapkan perempuan itu kepadaku memang terbukti. Dia
seperti membaca kekerasan hatiku. Menguji kenistaanku sebagai mata
rantai pertanggungjawaban yang tak ada habis.
“Pada kita, tak ada lagi sumpah leluhur, sejarah marga dan doa
datu-datu. Betapa marahnya Ompung kepada kita,” ujarmu, setiap waktu.
Opungmu itu selalu mengucapkannya dengan terisak, setiap malam tiba.
O, segenap keturunanku!
Dia, ompungmu, melafalkan kata mantera. Kutatapi dirinya yang seperti
disusupi roh masa lalu. Roh nenek moyang, para datu-datu. Akh mungkin
datu dari negeri dunia lain, ya datu negeri lain. Karena datu dari
nenek moyang kita sendiri, tentu sudah tak mau dan tak sudi menyertai
kami lagi saat ini.
Pernahkah kalian mengerti tentang kesedihan kami, yang ditinggalkan
oleh dalihan natolu ***), dan kini semata-mata diikat oleh pertalian
cinta. Cinta yang dianggap tabu. Bukan, bukan tubuhnya semata yang
menarik perhatianku, tapi rasa suka yang mendalam pada suara, pada
gerakan, pada tatapan mata, pada tiap helai rambutnya.
Hingga, saat memasak air dan menanyakan daging yang barusan aku dapat
dari berburu pun, suaranya, suara ompung borumu itu, kedengaran parau,
terasa kepedihan begitu membebani punggung dan kepalanya. Suara yang
menggelisahkan di tengah malam di hutan yang gelap, di rumah panggung
dari kayu yang baru kudirikan beberapa hari ini.
Kami tak menyalakan obor di atas tanah, seperti menghayati kedukaan
kami yang tak akan pernah padam. Selain kami tak ingin pelarian kami
diketahui.
Dengan jejak langkah seekor kuda, kami pergi dari huta kami, beratus
kaki dari Danau Toba. Dengan jejak kaki, kami juga bersunyi tanpa suara.
Tak ada tortor, tak ada sarune, tak ada gondang, sebab yang kami bawa
hanyalah ulos lusuh yang dipakai sebagai penutup badan dan telah kami
kenakan selama berhari-hari di tanah pengembaraan, tanah perantauan.
Dimanakah tepatnya tanah yang kupijak ini? Pada mata angin arah utara
kami telah berangkat, pada satu titik tanah di hutan yang terbungkam
mulut kesunyian ini kami telah memilih tempat tinggal.
Kami yang tinggal dan menetap, beberapa hari kemudian berusaha
mematahkan kayu untuk tombak dan mengasah batu sebagai mata tombak
supaya tajam. Batu runcing beradu dengan batu di pinggir binanga.
Menjadi alat berburu dari ompung kalian ini. Ompung angka pomparan
dari marga Simabana.
1842, aku memang seorang yang berbeda setelah kudengar tentang dunia
lain di luar Danau Toba. Setelah kudengar tentang si mata putih yang
bisa berbicara dan berkuasa di dunia luar.
Aku bukan salah satu pendukung dari Sisingamangaraja, raja dari marga
Sinambela yang beristrikan boru Situmorang itu. Tapi aku paham tarombo
mereka.
Aku memang tak pernah tercatat di dalam sejarah karena margaku bukan
dari marga besar seperti para marga keturunan Lontung atau Silahi
Sabungan. Tapi aku paham tarombo mereka.
Tapi apakah itu penting? Aku sendiri yang akan mendirikan marga, aku
sendiri yang akan menarik garis keturunanku ini kelak, berhasil atau
tidak berhasil, sampai atau tidak di tangan kalian, para cucu-cucuku
kelak.
Atau kitab ini hanya akan hilang digerogoti rayap, karena terbuat dari
daun lontar. Bisakah kalian menyalinnya, setiap kali generasi
berganti? Harus ada orang yang mampu menyalin dalam setiap keturunan,
dalam setiap generasi marga kita…
Aku hanyalah salah satu pemuda paling belakang dari barisan marga
termuda yang tak akan kusebutkan pada kalian.
Karena itu, generasi keturunanku, simpanlah kitab ini seperti kitab
rahasia keluarga dan jangan pernah bocor dan diketahui oleh marga lain
yang ada sebelum marga kalian ini. Jangan sampai jatuh ke tangan yang
salah, ke pomparan yang tak ada pertalian darah dengan marga kita.
Marga kita, bahkan tak beriring dengan marga-marga yang terbuang
lainnya. Marga kita, marga yang tersisihkan karena mengawini lelaki
atau perempuan dari satu marga atas dasar ketidak tahuan. Ketidak
tahuan, camkan itu! Di tengah penyesalan, kami tetap berkeras, mana
kami tahu kami satu marga!
Kami berdua tak mau bergabung satu kampung dengan mereka.
Telah kusisihkan sejarah marga kita di sebuah tempat terasing dari
yang terasing, terkucil dari yang terkucil, terpencil dari yang
terpencil, untuk menciptakan sebuah sejarah yang baru. Sejarah yang
penuh resiko karena kita baru menarik garis keturunan di antara yang
terdahulu. Mungkin garis ini juga tak akan pernah diketahui oleh
seorang pun dari marga lain itu kelak.
Kalau ada di antara marga-margaku yang kemudian diburu oleh
marga-marga besar itu, larilah kalian ke perbukitan atau ke tengah
hutan. Namun teruskanlah marga kita ini, sekali pun kalian berbaur
dengan marga-marga Batak lainnya, atau dengan keturunan darah manusia
dari dunia lain.
Selain itu, sebut saja ompungmu itu: Si Boru Panombangan. Sebab,
seperti ompung boru dari marga yang terbuang lainnya, dia tentunya tak
ingin diketahui asal-usul, dari ompung marga besar mana, dan dari
garis silsilah yang mana.
Lagi pula, tugasnya hanya meneruskan darahku kepada kalian. Mengandung
dan merawat cikal marga baru saat fajar mulai merekah dan malam
sungguh telah bergelincir.
Holong do rohangku tu ho ****), boru Panombangan.
Kami semakin jauh meninggalkan tradisi keturunan di kalangan marga
Batak. Kami temui beberapa zending *****) dalam pengembaraan
spiritualnya ke tanah utara; di sekitar Danau Toba. Kami resapi juga
para ompu dengan kepercayaannya. Kami singgahi para pedagang yang
datang dari atas angin, dibawa oleh perahu dari mata dunia: Samudera
Pasai membawa kabar ke sisi selatan Batak.
Telah kami dengar lantunan syahdu yang ditakbirkan saudara kami, dari
negeri Aceh dan Padang .
Simabana, kitalah marga yang terbuang sekaligus peraih kemajuan. Kita
berani melintasi ujung dunia yang ternyata tak pernah berujung ini.
Sebuah peradaban, ujar seorang datu.
Begitulah budaya yang dibawa oleh si mata putih, yang begitu
berkuasanya di segenap tanah Jawa dan wilayah lain di Sumatra. Aku
bentangkan seluruh sejarah ini agar ada yang bisa kalian percayai
lebih dari sekedar silsilah induk marga-marga Batak besar yang pasti
akan bersinggungan dengan kalian, suatu saat nanti, pada suatu masa
yang berbeda.
Pernah kalian saksikan bangunan yang terbuat dari batu, bukan seperti
rumah-rumah kayu yang berkaki seperti rumah kita? Rumah-rumah yang tak
pernah didirikan oleh moyang kita, yang bukan didirikan bersama
kandang kerbau atau kandang babi seperti di rumah nenek moyangmu dulu?
Aku tahu tentang batu pemujaan di puncak Gunung Pusuk Buhit, namun
ketercenganganku tak pernah berkurang pada bangunan semen yang
panjangnya lima kali lebih tinggi dari badanku sendiri. Di dalamnya,
orang-orang mata putih itu tinggal dan berkuasa dengan kejamnya.
Dari bangunan tinggi itulah, suara berdebam terdengar.
Rumah-rumah penduduk disana pun porak-poranda. Dan segenap kesaktianku
pun seperti tanpa daya menandingi kehebatan mereka. Orang-orang yang
dengan tongkat bercampur besi, ternyata lebih mengerikan daripada
sebuah pisau yang kita miliki. Orang bilang mereka punya senjata yang
berbunyi dan mendentum: namanya meriam.
Si mata putih yang ini, mereka memakai meriam dengan senjata berdentum
dan berlari dengan derak kereta kuda. Besi berasap tergenggam di
tangannya. Yang kumaksud tentu saja bukan para zending yang membawa
persahabatan di sorot matanya dan kitab suci di tangannya. Ya, ya, aku
tahu mereka. Mata putih yang kusebut dengan besi berasap justu membawa
permusuhan di dalam hati mereka dan niat memperbudak kita sebagai
hatoban ****** di tanah sendiri.
Seandainya mereka tahu di tengah huta kita ada sebuah danau, sebuah
tao: Tao Toba. Tentu mereka akan berbondong-bondong kesana, menghirup
mata airnya, mengaduk isinya, mengeduk ikannya dan memporak-porandakan
tanah di sekitarnya.
Mereka bukan berseorang, berdua-dua atau bertiga saja. Untuk itu,
pertahankanlah tanahmu sendiri-sendiri!
Kitab ini jangan sampai jatuh ke tangan mata putih bersenjata api itu.
Sampai kapan pun kelak! Atau mereka akan menguasai semua generasi
keturunan kita dan tanah yang baru saja kita temukan ini.
Pada mata putih yang berhati hitam, atau mata hitam berhati hitam,
atau yang mempunya kedua sifat itu, pertahankan tanah kita dari mereka!

# # #

Tanah leluhur, menjadi awal dari tanah generasi kita berikutnya…
Kini menggigillah hatiku. Ada dunia yang lebih mengerikan dari
junjungan sejarah di Pusuk Buhit dan huta-huta marga.
Begitu menyeramkankah bercerita padamu tentang kesaksian ini,
anak-anakku? Para cucuku? Banyak orang akan menggempur huta kita. Kita
jauh dari generasi sedarah kita, semarga kita. Kita juga jauh dari
mereka, para makhluk dari ujung dunia dengan asap di dadanya.
Mereka akan tampil dalam jumlah yang begitu besar dan besi yang lebih
aneh. Tak ada piso di tanah kita yang mampu menandingi senjata mereka.
Mereka punya dunia yang begitu mengerikan!
Akulah yang menulis surat yang kuharapkan kelak dapat menjadi sebuah
kitab.
Kitab ini jangan sampai jatuh ke tangan marga-marga lain.
Camkan itu, pahompu…

Depok, 2006

(Semua kisah hanyalah rekaan dan imajinasi pengarang. Marga Simabana
dan nama-nama tokoh di dalam cerita pendek ini, tak pernah ada di
kehidupan nyata. Cerpen ini pernah dimuat di Harian Analisa-Medan)

Keterangan:
*) Aku, yang menulis surat wasiat ini ke kamu, para cucu kekerabatan
Tuan Opparan, marga Simabana (Bahasa Batak).
**) Marga tak pernah ada, dibuat sendiri oleh penulis.
***) Dalihan na tolu, filosofi batak yang diambil simbol tiga batu di
untuk perapian, mengandung makna “Somba marhulahula, elek marboru,
manat mardongan tubu”. (Bersembah kepada hula-hula, membujuk kepada
keturunan perempuan, berhati-hati kepada teman semarga).
****) Aku cinta padamu (Bahasa Batak).
*****) misionaris Nasrani.
******) Bahasa Batak, artinya budak.

Berita Budaya (1)

Kebudayaan

Motif Migrasi Batak Toba Jadi Perdebatan

Kompas Sabtu, 21 Juni 2008 | 00:35 WIB

Medan, Kompas – Migrasi masyarakat Batak Toba ke pantai timur Sumatera, khususnya Medan, menjadi perdebatan. Dua motif yang diberdebatkan adalah migrasi didorong oleh motif kebudayaan, yaitu membangun kerajaan (harajaon), atau karena mencari dan mengejar kemajuan untuk menemukan kehormatan (hasangapon).

Diskusi tentang motif migrasi itu muncul dalam acara pengenalan buku Batak Toba di Medan karya Johan Hasselgren, Jumat (20/6) di Hotel Tiara, Medan.

Penyaji dalam acara itu adalah antropolog dan pengamat sosial, Togar Nainggolan; guru besar antropologi Universitas Negeri Medan, Prof Bungaran Antonius Simanjuntak; Uskup Agung Koajutor Keuskupan Agung Medan Mgr Anicetus B Sinaga OFM Cap, dan mantan ephorus Pendeta HKPB JR Hutauruk.

Di dalam buku itu disebutkan, orang Batak Toba ketika bermigrasi ke Medan membawa misi kebudayaan. Dalam istilah Johan, misi kebudayaan itu adalah membangun kerajaan atau mencari kerajaan.

Akan tetapi, guru besar Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Medan, Prof Bungaran Antonius Simanjuntak, menolak kesimpulan itu. Simanjuntak mengatakan, migrasi orang Batak Toba sejatinya mencari dan mengejar kemajuan untuk menemukan kehormatan (hasangapon).

”Itu sebabnya mereka memakai semboyan tole yang artinya ajakan kepada semua orang Batak Toba untuk mengejar kemajuan. Ini merupakan suatu upaya memperbarui kualitas hidup sosial,” katanya.

Nainggolan juga berpendapat sama dengan Simanjuntak. Ia mengatakan, alasan migrasi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup yang dirumuskan dalam humajuon.

Ia juga mendapatkan motivasi yang sama ketika melakukan studi mengenai migrasi orang Batak Toba ke Jakarta pada tahun 2006.

Sementara itu, Mgr Sinaga lebih mencirikan etnis Batak Toba di Medan. Ia menyebut mereka ini dengan identitas Batak Toba tahap kedua atau Batak Toba modern.

Cerpen (1)

Ompung dan Si Pematung


Martin Aleida

Sembilan puluh satu dia sekarang. Yang dia rencanakan untuk hidupnya, semua sudah tercapai. Yang tak pernah dia bayangkan pun malah sudah dia nikmati. Sebuah kuburan sudah dia persiapkan di atas bukit. Dan dia membayangkan, patungnya, patung setengah badan, akan diletakkan hati-hati di atas penampang marmer Italia yang dikirimkan anaknya dari Turino. Patung itu akan ditempatkan hanya selangkah dari gerbang kuburannya.

Dirinya, yang diabadikan dalam batu berwarna perak itu, akan kelihatan seperti hidup, melayangkan tatapan abadi mensyukuri lembah, memuliakan teluk, dan seakan-akan tak pernah berhenti memuja pulau yang membentang di mulut teluk, nun di sana. Pulau yang tercipta untuk menjinakkan gempuran obak Samudra Hindia. Setinggi apa pun. Hatta sedahsyat tsunami. Karena itulah, kota kecil yang menyusu di teluk itu akan abadi. Dia hanya akan lebur kalau seluruh daratan sudah binasa.

Sehari dalam seminggu, dia menapaki kaki bukit, berdiri dengan kaki terpacak kuat-kuat di atas lahan di mana tubuhnya suatu ketika akan diabadikan. Dia bayangkan dirinya yang sudah jadi batu, dengan mata yang tiada kenal lelah, menatap jauh untuk memastikan kaki langit masih menjadi penyekat samudra, pulau masih berjaga-jaga, gelombang yang membantai pantai masih berdebur, dan kota di bawah sana tetaplah sebuah pusat kehidupan yang merangsang dan heroik, walau kecil.

”Amang oi, Amang,” Emak, aduhai Emak oi.., desis suaranya bertarung dengan angin yang menggerbang-gerbangkan janggutnya. ”Sudah kutatap New York dari Twin Towers. Telah kulihat deretan gunung disaput es yang tak pernah cair dari penginapan tertinggi di Paro, Bhutan. Tapi, yang di bawah hidungku ini… Ah… tiada taranya. Alangkah elok pemandangan dari sini,” Ompung yang berdiri dengan kokoh di atas lututnya, di pucuk bukit kematiannya itu, berkusip meyakinkan bukan siapa-siapa kecuali dirinya sendiri.

Perlahan dia menarik napas, tetapi dalam. Bersama tarikan napas itu dia menelan keinginannya yang terakhir. Hatinya begitu menggumpal. Seakan-akan minggu depan dia sudah akan mati. Karena itu, dengan jalan apa pun dia ingin patungnya sudah diletakkan persis di mana dia berdiri sekarang, dengan mata nanap menikmati panorama alam leluhurnya. Di dalam khayalnya, dia bayangkan, kalau dia sudah menemukan ajal, rohnya akan bersemayam di tubuh si patung. Dengan begitu, mata dan hatinya takkan lekang-lekang dari hamparan daratan di bawah, kota kecil di mana dia lahir, teluk dan ombak tempatnya bercengkerama di masa kecil, juga pulau yang jadi juru selamat.

Bukan karena matahari sudah sepenggalah, makanya sekarang, dengan gontai dia menyeret langkah menuruni bukit itu. Ada yang mengganjal di hatinya. ”Rosa…,” dia menumpahkan setumpuk kekecewaan pada yang punya nama. ”Kusembah kau, kerjakanlah patungku itu. Tolonglah. Ini permintaanku yang terakhir. Tunjukkanlah bahwa kau memang mencintai aku, Amangmu ini. Aku mau melihat patung buatanmu itu sebelum aku mati. Anakku manis, mengapa tak kau kerjakan juga…?” Bujukan itu dia ulangi, dan ulangi lagi, pada setiap langkah kakinya mengikuti anak tangga menuruni pinggang bukit.

Kerasnya batu yang dia pijak, lebih keras lagi hati anaknya itu. Pada pertemuan terakhir, di meja makan, Rosa tetap menolak mengerjakan patung sang ayah. ”Papi tidak adil padaku. Jauh-jauh aku disekolahkan. Apa yang kudapat dari sekolah, dari pengalamanku, juga penghayatanku, hanya disia-siakan.”

Orang baik-baik barangkali menganggap kata-kata itu sebagai pemberontakan anak terhadap ayah. Jangan begitu. Lihatlah tadi, bukankah Rosa berdiri dan mengecup pipi ayahnya sebelum menyatakan penolakan. Bibir sang ayah sedikit menyungging dibuat kecupan itu. Rupanya, dia menikmati cinta anak perempuannya itu yang singgah dengan hangat di pipinya. Sehangat air teluk.

”Tidak memaksa, Rosa. Jangan begitu kau. Jangan salah sangka,” pojok bibirnya merekah. ”Aku hanya ingin yang kau kerjakan tak ada yang salah. Begitu melihat patung itu, ’kan kau juga yang akan dipuji orang nanti.”

”Aku tak bisa mengerti, dan tak bisa menerima cara Papi memahami penghargaan orang pada Papi. Bagaimana aku membuat patung itu, bagaimana hasilnya, begitulah aku menghargai Papi. Itu bukan karya Papi. Tapi, begitulah ungkapanku memuji hidup Papi,” Rosa merapat ke pangkuan ayahnya. ”Pujian tak pernah salah, Pi,” mmmh… sekuntum kecupan didaratkan Rosa lagi di pipi ayahnya.

”Maksudku jangan sampai ada raut muka yang keliru. Jangan sampai ada jurai helai janggutku yang dikacaukan angin. ’Kan kau tahu apa arti sebuah garis pada sebuah patung. Sekecil apa pun dia bisa memberikan gambaran buruk pada sifat seseorang.”

Rosa bangkit mengambil asbak seraya menenteng sebatang rokok di antara jarinya. Jari yang sama sekali tidak romantis, kehalusannya habis dikikis semen, baja antikarat, perunggu, atau serat gelas. Saat anaknya membelakanginya itulah Ompung, seperti seekor induk ayam melihat cacing, dengan ligat mengais tissue di mana terlukis potret sang ayah dalam guratan spidol.

Duduk kembali di kursinya, Rosa sedikit pun tidak menunjukkan gelagat kehilangan kertas di mana dia tadi menarik-narik garis dengan cepat untuk membentuk wajah ayahnya. Dia tahu kertas itu pasti sudah disembunyikan ayahnya. Dijepitnya di antara dua pahanya untuk kemudian nanti dia simpan serapi-rapinya di sebuah brankas di dalam kamar tidurnya. Itu adalah tissue kedua puluh tujuh berisi sketsa sang ayah. Cerita maminya, tengah malam, tissue-tissue itu diterawang si ayah helai demi helai sampai dia tertidur lelap dibuatnya.

Ompung seperti mau mencebur ke dalam hati anaknya itu, dia tatap matanya, dan ungkapnya: ”Puluhan sketsa yang sudah kau buat mengenai diriku, tak satu pun yang meleset. Ketekunan, bukan keberanian, itulah aku. Aku melihat itu dalam semua sketsamu. Janggutku hanya diwakili dua garis tipis, tapi justru garis itulah yang memperkuat kepribadianku. Dan, sekalipun tidak ada tarikan garis yang tegas, tahi lalat di daguku terasa selalu hadir,” dia berhenti, mendehem. ”Tapi, itu cuma sketsa. Patung ’kan lain lagi soalnya. Apalah salahnya, kalau kau mulai mengerjakannya sekarang. Aku yang punya badan. Aku yang tahu. Berilah aku kesempatan bersaksi atas diriku sendiri.”

Rosa diam seribu bahasa, membiarkan rokok terus menganggur, tetapi berasap di antara dua jarinya. Dia sudah tak mau mengulang, dan mengulang lagi alasannya menolak keinginan sang ayah untuk memberikan otoritas kebenaran pada karyanya. Buat dia penghargaan adalah haknya, dengan cara bagaimanapun. Tidak diperlukan pembenaran atau koreksi.

Berulang kali ayahnya meminta supaya patung yang dia kerjakan, sebelum dinyatakan selesai, ditilik dulu olehnya. Tapi, Rosa menampik. Kalau hati anak perempuan itu adalah hati seorang pelaut yang mudah terbakar, maka Rosa akan menutup perdebatan dengan ayahnya itu dengan hentakan, ”Sip babam!” Tutup mulutmu! Tapi, itu tak mungkin dia lakukan. Itu sama saja dengan memenggal air. Mana mungkin memutuskan hubungan lantaran perbedaan pandangan. Apalagi ayah sendiri.

Sebutkanlah apa yang tidak dilakukan orangtua itu dalam membesarkan anak perempuannya itu. Sama seperti kesembilan saudaranya, Rosa juga disekolahkan ke Eropa. Sebagai anak paling bungsu, dia diberikan kesempatan menyaksikan mural realis Siqueiros, termasuk lukisan termasyhur ”Kematian dan pemakaman Cain,” yang menggambarkan prosesi kematian petarung yang mendebarkan itu. Juga belajar seni rupa beberapa tahun di Meksiko.

Setelah perjalanan terakhir ke puncak bukit hari ini. Setelah membujuk Rosa selama tiga tahun dan gagal. Setelah sketsa di atas tissue yang kedua puluh tujuh itu, si pematung tetap tak terbengkokkan, tibalah saatnya Ompung menempuh jalannya sendiri. Dia temui istrinya.

”Sudah ribuan kali kubujuk si Rosa, dia tetap tak sudi memulai pengerjaan patungku. Aku dapat akal. Tapi, jangan kau bocorkan, da! Kau bantulah aku. Ini permintaanku yang penghabisan.” Istrinya bingung. Apa yang bisa dia lakukan? Enam puluh enam tahun menyertai Ompung, dia tak pernah mengecewakan suaminya itu.

”Berbohong untuk kebaikan. Untukku. Patungku….”

”Bah, berbohong…. Kapan kau pernah mengajari aku berbohong?”

”Ini permintaanku yang terakhir. Kusembah kau, tolonglah.”

Keesokan harinya, manakala matahari belum marak di kaki langit, Ompung, menggunakan perahu layarnya sendiri bertolak ke pulau. Ditemani pembantu yang bekerja dengannya sejak puluhan tahun yang silam. Pembantu itu diperintahkannya pulang dan hanya boleh kembali kalau diminta.

Kota kecil di mulut teluk itu menggigil. Pada hari kedua menghilangnya Ompung, keluarga yang ditinggalkan benar-benar gempar kehilangan induk. Seluruh pojok kota diselidiki, bukit- bukit dipanjati mencari orangtua yang hilang. Kesetiaan istri Ompung tiada duanya walaupun dia harus menanggungkan penderitaan yang tak pernah dia junjung, yaitu berdusta. Kepada siapa pun yang datang bertanya, sepandai paropera tilhang, dia tetap mengatakan tak tahu.

”Bah, manalah kutahu itu. Dia suamiku. Lebih enam puluh tahun. Akulah yang paling sedih dari semua yang ada di sini,” katanya meyakinkan anak-anaknya yang datang dari berbagai kota besar dari semua penjuru angin.

Pada hari kesembilan menghilangnya Ompung, rapat keluarga memutuskan supaya semua naik ke pemakaman di atas bukit, membuka pintu gerbangnya. Siapa tahu Ompung sudah membujur kaku di dalam. Seluruh anggota keluarga dan penduduk kota menyemut menaiki bukit. Pintu gerbang yang terbuat dari batu dikuakkan. Pembaringan jenazah yang ditatah dari pualam tetap kosong. Nama lengkap Ompung diserukan bertalu-talu. Yang menjawab cuma sipongang.

Hari kesebelas, datanglah Rosa membawa mukjizat. ”Apa pun yang terjadi pada Papi, aku harus memenuhi permintaannya. Permintaan penghabisan. Sekaranglah saatnya. Sekarang! Aku minta maaf untuk sikapku terhadapnya selama ini. Patung yang sejak bertahun-tahun dia minta supaya kukerjakan sebenarnya sudah kutatah. Sudah jadi. Aku timbun di bukit pasir, kusembunyikan di pulau. Besok aku ke sana, dan akan membawanya kemari. Langsung saja kita tempatkan di pemakaman Papi,” katanya membuat mulut semua yang hadir nan sedarah terdiam tetapi menganga. Istri Ompung tak terkecuali. Tetapi, dengan sigap, diam-diam dia perintahkan pembantu setianya menjemput Ompung ke pulau, saat itu juga.

Tengah malam, dengan kelihaian seorang bekas pejuang, Ompung menyelinap ke dalam kamar tidurnya. Di situ, dia ciumi istrinya habis-habisan. Tak pernah dia berterima kasih serupa itu, sampai-sampai istrinya gelagapan. Dia malah ingin mencium lututnya, menyembahnya pula.

Sebelum matahari merangkak sepenggalah, dari arah pulau sebuah perahu layar menghunjamkan haluannya ke arah pantai. Tiga perahu lebih besar menguak ombak mengiringi dari belakang. Rosa, dengan mata yang tak lepas dari lunas, duduk di haluan. Di lunas itu, di atas hamparan kain putih, terduduklah patung Ompung. Sementara di pantai berjibun sanak saudara dan penduduk kota yang menanti. Kota kecil itu menggigil. Namun, tak ada tangis. Yang ada adalah hasrat ingin tahu bagaimana nian rupa Ompung dalam batu yang ditatah anaknya sendiri, si Rosa, sang pembangkang.

Begitu menginjakkan kaki di pantai, patung langsung di letakkan di atas keranda panjang, terbuka menengadah ke langit. Ada sepuluh orang yang maju mengusung patung yang terduduk di atas keranda itu. Prosesi mengingsut. Menyemut manusia mengikuti patung itu menuju bukit. Kota kecil di mulut teluk itu menggigil. Tak terdengar tangis, yang mengapung cuma gumam ingin tahu di mana gerangan Ompung yang sudah dijadikan batu itu. Berpakaian serba hitam, Rosa, si pematung, berjalan paling depan, dada paling membusung, melangkah seperti ujung tombak menguakkan jalan untuk gelombang manusia di belakangnya.

Juga tak ada air mata yang titik ketika patung Ompung didudukkan di penampangnya, selangkah dari pintu kuburannya. Dan, persis seperti kehendak yang punya badan, mata patung itu nanap memandang ke lereng, ke kota di bawah, dan ke ombak di teluk yang tiada henti menghempaskan diri. Terdengar gumam yang berpindah dari mulut yang satu ke mulut yang lain. Pucuk bukit menggigil tak bisa menjawab di manakah Ompung gerangan. Tak dinyana, tak disangka, di pinggang bukit tiba-tiba tampak sosok laki-laki berpakaian serba putih, menapak perlahan.

”Oi… siapa itu?” mengaum suara di pucuk bukit.

Sosok berpakaian putih itu tidak peduli.

Istri Ompung mendekati bahu Rosa, menempelkan bibirnya di kuping anak bungsunya. ”Papimu!”

Disaksikan ribuan pasang mata, Rosa, menuruni tangga, menjemput ayahnya. Diulurkannya jarinya. Yang dia terima adalah penolakan. ”Tak usah, aku kuat. Aku mau lihat seperti apa aku kau buat.”

Ompung mengelilingi patung dirinya. Tiga kali menurut arah jarum jam. Tiga kali dari arah berlawanan. Lama dia menyimak lambaian janggutnya. Tersentak dia melihat bayangan tahi lalatnya di balik janggut yang tipis. Tanda lahir itu ada tapi seperti tiada, serupa perempuan pujaan yang menyembunyikan arnal emas di dalam sanggulnya.

Lebih merapat, Ompung nyaris menyenggol bahu si patung. Dia melayangkan pandang ke arah mana patungnya mengarahkan mata. ”Amang oi… Amang, indahnya laut kau lihat dari sini,” pujanya di kuping patung.

”Papi, yang mana yang salah?” Rosa menghampiri, menekan.

Tak ada jawaban untuk si pematung, kecuali tubuh ayahnya yang mendekat. Di pelupuk mata orangtua itu tersekat air. Ompung memeluk anaknya, mencium ubun-ubunnya berkali-kali, hingga air matanya tetes di situ. Ribuan mata, angin, dan ranting menyaksikan syahdunya pelukan itu. Membangkitkan cemburu.

”Bah, mengapa aku tidak?” protes istri Ompung. ”Padahal aku sudah berbohong.” Ribuan mata, angin, ranting, dan lembah menunggu Ompung merentangkan kedua tangan dan mendekapkannya erat-erat pada tubuh istrinya. ***

Sumber:Kompas 5 Oktober 2008

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.