Dialog bersama seorang Teolog-Feminis
Anna Garlin Spencer (1851-1931)
Siapa Anna Garlin Spencer
Ia merupakan seorang perempuan yang sukses dalam karir. Ia pernah berprofesi menjadi seorang guru sekolah umum, jurnalis, dan profesor yang mengajar ilmu-ilmu sosial di Universitas Wisconsin, serta mengajar Sosiologi dan Etika di Sekolah Teologi Meadville. Ia menikah dengan seorang pendeta bernama William H. Spencer pada tahun 1878.
Sebagai seorang feminis, ia diidentikan dengan pendiri organisasi gerakan perempuan, gerakan perdamaian dan sebagai pembicara rutin di seminar-seminar Nasional Amerika. Kemudian Anna juga memiliki hubungan dengan New York Society for Ethical Culture pada tahun 1903 hingga 1909 dan New York School of Philanthropy pada tahun 1903-1913. Ia merupakan perempuan pertama yang menjadi pendeta di Rhode Island-New York, yang melayani satu kapel tersendiri.
Karya Anna yang paling penting adalah Woman’s Share in Social Culture, yang menunjukkan keluasan kapasitas intelektualnya. Dalam buku tersebut Ia memaparkan kontribusi-kontribusi perempuan, mulai dari jaman primitif hingga modern, dalam suatu evolusi peradaban, serta peran perempuan dalam bidang industri, pendidikan, seni dan aspek-aspek kehidupan lainnya.
Peran Penting Perempuan
Dalam buku itu Anna juga menekankan bahwa tanggung jawab domestik perempuan seharusnya tidak diserahkan atau diambil alih oleh profesional, untuk konteks ini misalnya pengasuh anak. Anna yakin bahwa hal tersebut tidak praktis dari segi ekonomi dan tidak bermanfaat dari segi sosial. Menurutnya rumah dan keluarga merupakan suatu titik pusat yang penting bagi perkembangan kepribadian dan sosialisasi bagi anak-anak.
Hal lain yang menjadi fokus perhatiannya, adalah permasalahan yang dihadapi oleh para perempuan yang memiliki bakat di dunia yang lebih luas di luar lingkungan rumah. Ia menjelaskan tentang banyak hambatan yang disebabkan oleh budaya yang didominasi oleh kaum laki-laki di berbagai jaman, yang mencegah perempuan berbakat untuk mewujudkan potensi mereka untuk meraih kesuksesan dan menjadi setara dengan laki-laki.
Sebagai contoh bahwa perempuan sebenarnya bisa berperan banyak, Catherine Hall pada tulisannya yang berjudul “The History of The Housewife” menunjukkan bahwa pada sekitar abad ke-14 di Inggris, perempuan memainkan peranan penting dalam bidang produksi. Meskipun posisi mereka masih tidak setara dengan laki-laki, namun mereka memainkan peran ekonomi yang besar di pedesaan, mereka menjadi koordinator dan penjaga kestabilan proses produksi. Perempuan mampu memainkan peran yang relatif independen dalam kehidupan ekonomi sehari-hari. Secara umum tidak ada batasan antara kehidupan bisnis dan kehidupan privat, dengan kata lain tidak ada pembedaan antara wilayah domestik dan publik bagi perempuan.
Perempuan melakukan pekerjaan yang berbeda-beda, seperti memintal benang dan membuat pakaian, memerah susu dan mengolahnya menjadi keju, pengobatan, bekerja di ladang bersama laki-laki, dan lain-lain. Selain untuk konsumsi keluarga, hasil produksi tersebut kemudian dijual dan menghasilkan pendapatan bagi keluarga. Keluarga di masa pra-kapitalis adalah keluarga yang merupakan suatu kesatuan unit ekonomi, yang artinya laki-laki, perempuan, dan anak-anak mengambil bagian dalam peran produksi.
Kritik Atas Gereja
Anna dalam esainya yang berjudul “The Social Use of the Post-Graduate Mother”, selain mengangkat soal dominasi kaum laki-laki atas perempuan dalam berbagai bidang, juga mengangkat tentang penyiksaan dan pembunuhan terhadap perempuan atas nama perburuan penyihir (witches) . Pada jaman pertengahan di Eropa para perempuan tersebut mengalami kesengsaraan atas tuduhan melakukan praktek ilmu sesat dan perbuatan yang dianggap menistakan Tuhan, sedangkan di awal abad-19 di Amerika tuduhan yang sama dijatuhkan pada para perempuan karena aktifitas dan pemikiran mereka yang dianggap tidak sesuai dengan norma yang berlaku di lingkungannya.
Dia menyayangkan bahwa Reformasi gereja ternyata tidak membawa perubahan atas bentuk penyiksaan dan hukuman terhadap perempuan, dalam banyak kasus peristiwa kekerasan itu malah semakin meningkat. Di Jenewa saja ada sekitar 500 korban kehilangan nyawa hanya dalam jangka waktu tiga bulan, dan Luther mendeklarasikan bahwa dia tidak akan memberikan ampunan bagi para penyihir-penyihir (witches) serta akan membakar mereka semua. Di Skotlandia, akibat aliran mistik dan teologi yang gila, penghukuman dan penyiksaan yang terjadi umumnya mengerikan sekali. Peristiwa tersebut kemudian dikenal luas bahwa kepercayaan pada tahyul masih merentang sepanjang lautan dan mencoreng Protestanisme di Inggris. Kekerasan masih terjadi ketika seorang yang terkenal bernama Sir Matthew Hale menggantung dua orang perempuan yang dituduh sebagai penyihir pada tahun 1664, hingga eksekusi terakhir di Inggris terjadi pada tahun 1712.
Menurutnya ada dua alasan mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Pertama, ada suatu kebencian terhadap perempuan yang dikembangkan dan dibangun terus menerus secara keji. Para pemimpin gereja di masa-masa awal menyatakan bahwa perempuan merupakan titik pusat aktif dari pengaruh jahat. Untuk itulah masyarakat di masa itu memandang perempuan sebagai mahluk yang berbeda dan menempatkannya dalam suatu halusinasi yang maniak. Kebencian terhadap perempuan ini kemudian bertahan hingga abad keenam, setidaknya satu provinsial gereja melarang para perempuan untuk menerima Ekaristi dengan tangan mereka secara langsung karena alasan ketidaksucian.
Padahal sebagian besar peradaban di muka bumi yang percaya pada hal-hal yang supranatural dan mempersonifikasi dewi-dewi yang dipuja, seperti misalnya Hestia, kakak dari Zeus, Venus di peradaban Roma, Aphrodite di peradaban Yunani, Astarte di peradaban Phoenician, Istar di peradaban Assiria, Hathor di peradaban Mesir. Semua dewi-dewi tersebut melambangkan kekuatan dari cinta yang mengikat manusia secara bersama dan menghancurkan perbedaan antara mereka. Belum lagi tentang mitos Demeter dan Athena yang melambangkan sifat-sifat luhur perempuan yang berasal dari kebaikan bumi, serta lambang dari kedamaian tatanan kehidupan sosial.
Kecenderungan untuk memberikan penghormatan terhadap kekuatan perempuan melalui perlambangan dewi-dewi kemudian berakhir ketika era Kekristenan mulai berkembang dan melahirkan obsesi yang keji sehingga merubah semua bentuk pengagungan tersebut menjadi sesuatu yang kemudian dianggap berkaitan dengan pemujaan hal-hal yang jahat.
Tubuh Perempuan yang Ditakuti
Sedangkan alasan kedua yang diberikan oleh Anna lebih pada persoalan biologis. Menurut fakta-fakta yang berhasil dikumpulkannya, perempuan ternyata memiliki kekuatan fisik dan mental yang lebih dari laki-laki. Sebagai contoh, fakta menunjukkan bahwa jumlah penderita kematian akibat kelahiran prematur lebih banyak bayi laki-laki alih-alih bayi perempuan. Fakta juga menunjukkan bahwa jumlah manusia yang mampu bertahan hidup lebih lama kebanyakan adalah perempuan alih-alih laki-laki.
Mereka tidak hanya bisa bertahan hidup namun juga memiliki kesehatan dan daya tahan yang baik meskipun laki-laki memiliki otot yang kuat dan bisa diandalkan untuk urusan yang sifatnya mendesak dengan kekuatan yang meledak-ledak, serta susunan dan tegangan syaraf yang lebih stabil. Dengan hal-hal seperti itu secara tidak disadari ada semacam ketidaksukaan dan ketidakmengertian atas tubuh perempuan yang kemudian berubah menjadi sesuatu yang ditakuti.
Dari hasil pengamatan di jamannya, perempuan dipersulit dan seringkali ditolak ketika berusaha untuk belajar di dalam lembaga pendidikan. Hanya perempuan yang sudah membuktikan dirinya ’jenius’ atau punya kemampuan lebih yang diperbolehkan. Namun pertanyaannya, bagaimana para perempuan bisa menjadi jenius atau bisa menunjukkan kelebihannya sejak awal jika ia sama sekali tidak mendapat kesempatan? Karena siapapun tidak akan tahu bila perempuan secara umum tidak diberi kesempatan yang setara dengan laki-laki dalam bidang pendidikan, pelatihan dan pekerjaan, serta mendapatkan sambutan secara sosial atas karya-karya intelektual mereka. Karenanya tidak ada hal yang lebih bodoh dari usaha menilai batas kapasitas perempuan secara apriori.
Sebenarnya banyak perempuan yang mencapai kesuksesannya, meskipun namanya tidak begitu bergema sepanjang masa. Hal ini disebabkan salah satunya karena jejak kesuksesan perempuan hilang ketika perubahan nama mereka setelah melalui proses pernikahan karena harus mengikuti nama suaminya. Faktanya, beberapa perempuan tercatat dalam sejarah sebagai orang-orang yang dipuji karena kecerdasan mereka. Misalnya, Sappho yang hidup sekitar 500 tahun sebelum masa kita, yang disebut-sebut sebagai ”the poetess” seperti halnya Homer ”the poet” di Yunani. Kita juga tentu pernah mendengar sekitar lebih dari 30 puluh orang filsuf perempuan dan murid-murid perempuan yang belajar pada jenjang yang tinggi di Sekolah Pythagoras. Peradaban kuno dunia sekiranya juga telah menghasilkan banyak filsuf-filsuf perempuan, seperti Hypatian yang memimpin suatu sekolah dan dengan kapasitasnya Ia bisa didudukan setara dengan Sokrates.
‘Strong Women, Strong Nation’
Pandangan Anna mengenai rumah dan keluarga merupakan titik pusat yang penting. Sedangkan perihal mengurus anak yang sebaiknya tidak diserahkan pada para pengasuh juga menjadi fokus dari Plato dalam proses pendidikan anak-anak calon pemimpin Polis yang sebaiknya ‘dijaga’ relasinya dengan para pengasuh, atau juga budak dalam konteks masa itu, agar sikap para anak-anak tidak terpengaruh oleh mereka.
Meskipun Anna tidak menyinggung soal peranan modal yang turut menindas kaum perempuan seperti halnya para Feminis Marxis, namun bukan berarti dia tidak sadar serta mempersoalkan ketidakadilan yang terjadi di sektor industri terhadap perempuan. Menurutnya perkembangan industri yang semakin kompetitif telah dirancang sedemikian rupa sehingga para perempuan yang telah menikah tidak mampu mendapatkan keuntungan lebih atau layak seperti sebelum mereka menikah. Sedangkan di sisi perempuan sendiri ada suatu kecenderungan yang fatal, yaitu di kalangan perempuan muda yang baru menikah dan hanya memiliki pendidikan rata-rata membuang cita-cita serta profesi yang mereka miliki sebelumnya.
Dengan latar belakang disiplin ilmu sosial, teologi, dan filsafat, Anna Garlin secara mengagumkan menghasilkan banyak analisa dan kritik yang tajam atas realita yang terjadi pada masanya, serta menarik pelajaran dari analisa sejarah peradaban manusia dan Kekristenan. Dengan analisa sosial dan telogi, Anna menunjuk Kekristenan sebagai salah satu biang kerok dan mengkritik tindakan-tindakan gereja dengan menunjukkan kesalahan mereka dan memberikan argumentasi yang menelanjangi kedangkalan dogma-dogma yang digunakan dalam rangka mendiskriminasikan perempuan, kemudian menghubungkannya dengan analisa sosial sesuai dengan konteks.
Ia bicara mulai dari soal ‘tenggelamnya’ nama perempuan ketika ia menggunakan nama suaminya setelah menikah, pembatasan ruang gerak perempuan untuk mengembangkan potensi dan kemampuannya, diskriminasi perempuan di bidang pendidikan serta lapangan pekerjaan, penindasan terhadap perempuan atas nama agama, hingga mengumpulkan banyak fakta-fakta biologis bahwa sebenarnya perempuan tidak lebih lemah dari laki-laki. Kesetaraan adalah sesuatu yang sangat mungkin!
Filed under: Artikel